
"Mom, kamu mau kemana?" tanya Bian pada istrinya itu yang terlihat rapi pagi ini.
"Aku mau keluar sebentar, aku ingin menemui Elena, aku takut jika anak kita menyakiti nya,"
"Tidak mungkin Juan melakukan hal itu, kau tidak lihat bagaimana kesungguhan nya kemarin?" ingat Bian pada kejadian kemarin.
"Tetap saja aku tidak tenang mengingat bagaimana marah nya Juan kemarin, aku hanya ingin memastikan keadaan nya saja," sambung Rahel.
"Padahal aku ingin kau menemani ku hari ini," ucap Bian.
"Kemana?" tanya istri nya tersebut.
Pria itu sudah tidak bekerja lagi karena semua nya sudah dia serahkan pada Juan.
Dia ingin menghabiskan masa tua nya dengan istri nya tentu saja tanpa ada beban lagi yang harus dia kerjakan.
"Memancing lah, seperti biasa."
Hal yang selalu dia lakukan setiap Sabtu pagi seperti ini dan malam Minggu nya akan dia habiskan bersama dengan istrinya dengan memanggang hasil tangkapan nya.
"Kau dulu saja, aku harus ke rumah Elena dulu," ucap Rahel pamit pada Bian.
"Huft, baik lah terserah mu saja. Hati-hati dan kabarin aku jika ada apa-apa," ucap Bian yang akhirnya mengalah.
Mau bagaimana pun dia melarang jika Rahel kekeh seperti ini maka dia pasti akan tetap pergi tanpa izin nya sekalipun.
"Hem, aku akan menyusul mu nanti," ucap Rahel dengan mengecup sekilas pipi Bian.
Bian tersenyum memandang kepergian Rahel. Tak dia sangka bisa bertahan sampai sekarang. Banyak masalah yang diri nya dan istrinya telah hadapi selama ini.
"Kuharap Juan akan merasakan hal yang sama seperti ku, menua bersama dengan pasangan yang dia inginkan," doanya.
Rahel di temani dengan supir pribadi nya akhirnya segera menuju ke arah rumah Elena.
Untung saja dia masih mengingat di mana rumah nya meski samar untung saja ada maps jika tidak sudah dipastikan dia takkan menemukan nya.
"Kita berhenti disini kemarin kan?"
"Betul nyonya," ucap supir tersebut membenarkan, karena dialah yang menemani nyonya nya itu saat kemari.
"Aku tidak tau yang mana rumah Elena, dia turun disini kemarin-kemarin," ucap Rahel yang bingung sekarang.
"Kita jalan saja ke dalam nyonya, kita bisa menanyakan pada orang disana siapatau ada yang mengenal nona Elena," balas nya.
"Kau benar, baiklah jika begitu," ucap Rahel yang turun dari mobil.
Kedua nya akhirnya masuk ke dalam yang kecil yang hanya bisa dilintasi oleh pemotor dan orang yang berjalan kaki saja.
Rahel mengikuti supir nya yang berjalan di depan. Dia yang meminta nya karena tidak tahu menahu akan jalan sini.
"Hati-hati nyonya ada lubang di sana," ucap supir tersebut.
"Jalan nya seperti ini sekali, banyak genangan air disini," ucap Rahel.
"Tidak, kita sudah sejauh ini," ucap Rahel.
Kedua nya akhirnya melanjutkan langkah mereka dan menemukan ibu-ibu yang sedang berbicara di sana.
"Coba kita tanyakan pada mereka," ucap Rahel.
"Permisi Bu, maaf kami mau numpang nanya, apa ibu-ibu tau rumah Elena?" tanya Rahel pada mereka.
"Elena? maaf Bu tapi sepertinya tidak ada yang bernama Elena di komplek ini Bu," ucap salah satu ibu-ibu disana dan yang lain nya ikut membenarkan.
"Ah begitu ya? apa memang tidak ada yang mengenali nya ya Bu, mungkin dia jarang keluar rumah," lanjut Rahel.
"Waduh gak tau Bu, tapi setau kami emang gak ada Bu, tapi coba aja ibu tanya saja sama RT siapa tau ada datanya Bu," ucap ibu tersebut.
"Rumah nya dimana ya Bu, kalo boleh tau," ucap Rahel.
"Dari sini ibu sama mas nya nanti lurus saja Bu, terus belok ke arah kanan dan nanti rumah nya disitu Bu yang warna ijo,"
"Baik, terimakasih banyak ya ibu-ibu," ucap Rahel ramah.
"Sama-sama Bu," jawab mereka serempak.
Rahel dengan Tino supirnya tersebut akhirnya langsung segera menuju ke rumah RT yang di sebutkan oleh ibu-ibu tersebut kepada nya.
Namun Rahel harus merasakan kecewa karena jawaban dari RT tetap saja sama. Tidak ada warga yang bernama Elena di sana sama sekali.
Padahal seingat nya dia benar-benar mengantarkan Elena ke sini.
"Elena kamu dimana sayang?" gumam nya.
"Apa dia membohongi ku,"
Rahel memejamkan mata nya saat kemungkinan itu bisa terjadi.
Rahel mengambil ponsel nya untuk menghubungi nomor yang pernah di berikan oleh Elena pada nya.
Dan ternyata benar saja, Elena memang membohongi dirinya karena nomor yang sedang dia panggil sekarang adalah nomor pembersih AC.
Seperti nya Rahel tau sekarang jika Elena memang benar-benar ingin menjauh dari segala hal yang berhubungan dengan Juan. Ternyata wanita itu tidak main-main dengan ucapan nya saat itu.
"Kita kekantor Juan sekarang, aku harap anak itu ada disana," ucap Rahel sembari memijit kepalanya pusing.
Sejak bertemu dengan Elena, dia sama sekali tak bisa tidur dengan tenang.
Dia selalu saja memikirkan bagaimana nasib wanita itu dan tentu nya dengan Juan yang sebagai pelaku utama nya disini.
"Aku berharap dia baik-baik saja,"
TBC