Anemone

Anemone
08 - Past (1)



#Dua tahun lalu.


Musim hujan di bulan desember begitu deras, angin juga berhembus sangat kencang merusak pohon-pohon. Cuaca desember kali ini sangat buruk.


Dara baru saja lulus dari kuliah, saat ini ia tengah mencari pekerjaan. Namun nasib sial menimpanya saat turun hujan. Map coklatnya basah, baju putihnyapun demikian. Ia malu tentu saja karena belahan dadanya terlihat sekalipun ia memakai dalaman. Tak habis akal, Dara menutupinya dengan map yang ia peluk. Cerobohnya ia tak membawa payung.


Ia tak sendiri berteduh di latar toko orang yang tengah tutup. Ada sepasang kekasih yang juga tengah berteduh disana, dan seorang pria yang membawa kamera ditangannya.


Dara masih terdiam, menatap hujan yang kali ini turun sangat lebat. Berpikir kapan hujan akan berhenti? Satu jam lagi? Dua jam? Atau bahkan lima jam? Kadang juga ia berfantasi, kira-kira berapa orang yang ikut menangis seperti hujan? Dara berdoa semoga orang itu cepat sembuh jika hatinya sedang terluka.


Hujan memang memiliki banyak cerita. Kenangan, cinta, patah hati, bahkan rasa sakit seperti hujan tahu hal itu. Aromanya saja selalu tak berubah, menenangkan hati siapa saja. Namun bersamaan melukai hati siapa saja. Hujan tak pernah bohong dalam hal apapun.


"Sayang kayanya hujannya lama berhentinya deh." Ucap gadis yang tengah berteduh dengan kekasihnya itu. Dara tak sengaja mendengar.


"Yaudah hujan hujanan, Mau?" Tanya sang pria.


"Oke ayo."


Sekejap, sepasang kekasih itu pergi, dan sekarang tersisa dirinya dan pria yang masih sibuk dengan kamera yang ia genggam. Dara tak sengaja menoleh setelah mendengar suara jepretan. Dan ia terkejut saat pria itu memotret dirinya.


"Maaf.." ucap pria itu saat tahu Dara menyadari bahwa dirinya memotret Dara tanpa izin.


Dara was was, gadis itu berjalan agak menjauhi pria itu tanpa membalas ucapan maafnya. Takut tentu saja. Bagaimanapun ia perempuan, ada pria asing yang memotretnya tanpa izin, dan keadaan di luar sedang hujan lebat. Jika meminta pertolongan saat terjadi apa-apa pada Dara akan sangat sulit mengingat diluar sangat sepi. Orang-orang sibuk berteduh.


"Saya tidak bermaksud memotret tanpa izin, siluet wajah kamu terlihat sangat cantik." Ucap pria itu lagi.


Dara semakin takut, ia semakin menghindar hingga posisinya pun sangat terpojok. Namun pria itu malah menjulurkan tangannya di depan Dara.


"Saya Kenan Adam. Fotografer."


Ragu ragu Dara menerima juluran tangan Ken.  "Dara." Balasnya singkat. Mata bulat Dara masih memperhatikan Ken dari atas hingga bawah, mencari hal aneh yang mungkin membahayakan dirinya. Namun tak ada yang aneh. Ken hanya seorang pria yang berteduh dengan kamera di genggamannya.


Ken tertawa manis, pria itu melepas tautan tangannya dan menatap layar kamera. Kemudian mendekat kearah Dara, menunjukkan hasil fotonya.


"Bagus kan? Kalo kamu gak mau saya foto, saya bisa hapus fotonya."


Dara mengangguk setuju, hasil fotonya memang bagus. Dara terlihat cantik di kamera, dan kini ia berani memuji dirinya sendiri.


"Gak usah di hapus gapapa, bagus kok." Balas Dara dengan senyumnya. Rasa takutnya hilang entah kemana.


"Kamu cantik, apa gaada niatan jadi model?" Tanya Ken.


"Saya pendek, dan saya gapunya bakat di bidang itu." Balas Dara singkat.


"Gamau belajar?"


"Saya gak tertarik sama dunia itu."


"Gitu rupanya, sekarang kamu lagi cari kerja ya?"


"Kok tahu?" Tanya Dara kembali was-was. Matanya menyipit menatap Ken penuh curiga.


"Dari map coklat yang kamu pegang, rok span hitam, dan kemeja putih, itu sudah bisa jelasin semuanya. Jangan curiga gitu, ketahuan banget banyak yang suka." Jelas Ken dengan senyuman manisnya. Dara menelan ludahnya susah. Apa ia ketahuan mencurigai Ken seperti pria lain yang sering menguntit dirinya?


"Enggak kok, gak banyak. Masnya sok tahu." Balas Dara jutek.


Tak ada balasan selain senyum yang Ken tunjukkan. Setelah itu Ken kembali fokus pada layar kameranya. Sesekali Dara melirik untuk melihat Ken, baru Dara sadari bahwa pria fotografer bernama Ken ini sangat tampan dimata Dara. Baru pertama kali ia bersama dengan pria baru yang tidak berlebihan saat bersama dirinya. Tidak memujinya cantik secara berlebihan, tidak kurang ajar bertanya di mana rumahnya, sudah punya pacar atau belum.


Dara dan Ken sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hujan menyaksikan kecanggungan mereka. Hingga tak lama hujan mulai reda.


Telapak tangan Dara terjulur kedepan, memeriksa apakah masih ada air yang menetes dari atas langit, sambil mendongak memperhatikan awan. Setelah ia periksa, ternyata keadaan sudah tidak memperbolehkan ia lama-lama berteduh bersama pria bernama Kenan itu.


"Saya pergi dulu. Hujannya udah reda."  Ucap Dara berpamitan. Karena tidak sopan jika pergi begitu saja setelah mereka melakukan obrolan singkat beberapa saat lalu.


"Tunggu bentar." Ken menahan lengan Dara, kemudian kembuka jaket hoodie hitamnya,menyisakan kaos maroon yang dikenakannya. Memberikan jaket itu kepada Dara. "Pakai ini," suruhnya.


Dara tak langsung menerima, "Tapi.."


"Kemeja kamu putih dan basah, kamu masih mau nolak bantuan saya? Mau jadi pusat perhatian laki-laki?" Tanya Ken. Dara masih ragu, tapi ia butuh hoodie itu. Namun Dara tak mengenal pria bernama Kenan itu. "Hoodienya baru saya cuci kok, masih bersih." Tambah Ken.


"Terimakasih." Akhirnya Dara menerima jaket hoodie yang Ken sodorkan padanya. Menaruh mapnya dan segera memasang jaket tersebut. Meski sangat besar, Dara bersyukur bisa menutupi tubuhnya karena kemeja putih tersebut. Hoodie Ken hampir menyentuh lututnya, rasanya tubuh Dara benar-benar tenggelam di dalamnya.


"Kalo saya mau ngembaliin ke kamu gimana?" Tanya Dara..


"Ambil kamu aja gapapa." Balas Ken.


"Eh jangan.. masa saya ambil. Boleh minta nomor handphone? Nanti saya kembalikan setelah saya cuci."


Ken tersenyum, "ciyee minta nomor handphone." Godanya.


"Yaudah kalo gaboleh, saya minta alamat rumah kamu aja, nanti saya antar."


"Bercanda kali. Ini catat nomor handphone kamu." Balas Ken memberikan handphonenya kepada Dara. Tanpa babibu Dara mengetikkan nomor handphonenya, setelah itu memberikannya kepada Ken. "Nanti saya hubungi kamu ya." Ucap Ken.


"Iya.. sekali lagi terimakasih. Saya pergi dulu. Permisi."


"Hati-hati.."


Melihat Dara menjauh dari pandangannya membuat Ken sedikit tersenyum. Ia kembali menatap layar kameranya. Memperhatikan wajah Dara dengan saksama.


"Dia benar-benar cantik." Puji Ken.


_______


Malamnya, Ken tak berhenti sampai disana untuk memandangi foto Dara. Ia bahkan mencetak foto itu, menjadikan foto Dara sebagai salah satu koleksinya dalam memotret.


Ken sangat jarang menjadikan obyek fotonya manusia, biasanya ia memotret bunga, pemandangan, bahkan hewan atau bangunan. Untuk pertama kalinya ia tertarik dengan siluet wajah Dara.


Sudah berulang kali ia bertemu para model, mereka sangat cantik. Namun kali ini, Ken benar-benar menemukan gadis cantik yang terlihat sangat polos dengan kecantikan yang ia miliki. Tak bisa Ken pungkiri bahwa dirinya tertarik pada gadis itu.


Seketika Ken melupakan hatinya, hati yang sudah ditentukan milik siapa.


Ken mengambil handphonenya, mengirimi Dara sebuah pesan.


To : Dara


Dara? Ini Ken.


Tak lama kemudian pesan singkatnya di balas. Ken sangat senang dibuatnya.


From : Dara


To : Dara


Sampai rumah dengan selamat?


From : Dara


Syukurlah iya Ken.


To : Dara


Maaf kirim pesan malem-malem.


From : Dara


Gak papa, lagian belum malem banget.


To : Dara


Telepon boleh?


Cukup lama Ken menunggu balasan Dara, namun setelah beberapa menit kemudian Ken kembali menerima balasan.


From : Dara


Boleh..


"Yesss!!!" Ken meninju udara, ia sangat senang dengan balasan yang Dara beri padanya. Tak menunggu waktu lama Ken langsung menelpon gadis itu.


"Halo.." sapa Ken.


"Halo.."


"Ganggu nggak? Telepon malem malem?" Tanya Ken.


"Enggak kok, ada apa ya Ken?"


"Enggak ada apa-apa sih, cuma pengen telepon aja."


Hanya suara tawa sebagai balasan dari Dara di seberang telepon. Ken begitu damai mendengarnya. Tawa itu terdengar lembut. Hatinya tiba-tiba menghangat. Ken baru sadari, suara Dara memang sangat berbeda, pelan, bahkan begitu menenangkan untuk di dengar.


"Suara kamu lembut banget ya." Puji Ken.


"Namanya juga perempuan, ya pasti lembut, kan gapunya jakun" balas Dara santai.


"Tapi bedanya suara kamu nenangin orang."


"Ada ada aja kamu Ken."


"Eh beneran, tanya deh temen-temen kamu."


"Ngapain?"


"Ya biar kamu percaya, suara kamu nenangin."


"Kamu mah suka gombal Ken."


"Dara, Dara, Dara." Panggil Ken berkali-kali.


"Kenapa Ken?"


"Engga, cuma mikir aja, kenapa ya orang tua kamu namain kamu Dara? Apa mereka suka burung dara? Atau mi burung dara?"


Lagi Dara tertawa dengan apa yang Ken guyonkan padanya. Sangat receh, namun entah kenapa terdengar lucu ditelinga Dara. Mungkin karena humor gadis itu sangat receh.


"Kamu jadi penulis aja Ken."


"Kenapa jadi penulis? Kan lebih keren fotografer?"


"Iya soalnya kamu pinter ngarang sih hahaha."


"Ih suka ngeledek ternyata,"


Ken ikut tertawa karenanya. Malam itu adalah malam yang tak terasa baginya, sudah dua jam mereka mengobrol dan rasanya baru dua menit yang lalu Ken menghubungi gadis itu. Benar-benar menarik perhatian Ken.


"Ken saya udah ngantuk,"


"Yaudah tidur gih."


"Saya tutup ya."


"Boleh, tapi ada syaratnya."


"Kok ada syarat?"


"Gampang kok syaratnya. Mau denger?"


"Apa?"


"Mimpiin saya ya Dara. Selamat malam."


Ken buru-buru memutus sambungan telepon mereka. Ia sendiri tidak mengerti kenapa dia berubah menjadi pria yang suka menggoda perempuan. Sebelumnya ia tak seperti itu. Namun kepada Dara, seperti Ken tidak ingin gadis itu memikirkan hal lain selain dirinya. Meski mereka baru mengenal sekalipun.


Dan Ken tidak tahu, Dara sudah tertawa lucu di kamarnya, pipinya memerah seperti di beri blush on berlebih. Jantung Dara pun tak berhenti berdetak. Ia juga merasa aneh, biasanya ia tidak terlalu peduli kepada pria, apalagi pria yang memujinya cantik. Dara tidak pernah mau mempedulikan mereka. Namun dengan Ken, Dara benar-benar merasa tenang.


Fotografer yang dengan sengaja mengambil siluet wajahnya, meminjaminya hoodie hitam kebesaran untuk menutupi tubuhnya, dan menelponnya malam-malam dengan guyonan yang berhasil membuatnya tertawa.


Jantung Dara berdetak sangat cepat hanya dengan memikirkan nama Ken. Dan membayangkan wajahnya membuat wajah Dara memanas. Ken berbeda, ia tak seperti pria lain. Ken peduli padanya meski mereka baru kenal.


Dan baru Dara sadari pula. Ia tengah jatuh cinta. Pada pria yang meminjaminya hoodie, Kenan Adam. Jatuh cinta untuk pertama kalinya.


Menurutnya hal yang ia lakukan sangat aneh, bagaimana bisa ia jatuh cinta hanya dengan kejadian kecil ini?


Apa yang harus Dara lakukan?


- To be continue -