
Pemotretan tengah berjalan. Ken datang untuk memantau timnya. Ia duduk dibawah pohon rindang dengan sebuah kursi lipat yang sudah disiapkan sejak tadi.
Matanya memperhatikan setiap pose yang model itu tunjukan ditengah lokasi. Fotografer sudah memberi aba-aba, flash dan bunyi tangkapan kamera berlensa berkali-kali terdengar.
Jeda.
Make up artist segera memasuki area, membenarkan tatanan make up yang menurutnya sudah sedikit luntur. Make up artist harus teliti, karena make up mempengaruhi hasil foto sang model.
Sang fotografer tengah memeriksa hasil tangkapan foto yang ia lakukan. Menggeser ke kanan, tak jarang memperbesar hasil foto tersebut. Puas tentu saja karena tak ada ekspresi kecewa yang di tunjukkan sang fotografer dari hasil foto yang ia ambil.
Memakan beberapa jam untuk selesai melakukan pemotretan. Ken berdiri, bersiap memesan tiket pesawat. Mungkin ia akan pulang nanti malam, jika pulang besok, ia tidak akan tenang dan yang ada ia malah gundah seharian. Sudah bisa di pastikan apa alasan ia gundah.
"Pesan tiket pesawat sore ini saja, sehingga malamnya kita bisa pulang." Ucap Ken kepada sekertarisnya.
"Tapi Boss? Saya sudah memesan tiket untuk penerbangan besok pagi."
"Tiket penerbangan pagi berikan saja pada tim."
"Apa ada masalah penting yang harus di selesaikan sehingga anda terburu buru pulang boss?"
"Aku hanya takut istriku diambil orang."
Sekertaris Ken mengerutkan kening tak mengerti dengan ucapan bossnya. Ken sendiri tak mau ambil pusing. Jika ia tidak pulang malam ini, sama saja, ia tak akan pernah bisa tenang dan ujung-ujungnya tak bisa tidur memikirkan istri ciliknya yang hidupnya akan tenang jika tak ada dirinya. Ken tahu, Dara tertekan dan tak pernah bisa tenang jika ada dirinya, Dara akan gugup. Tak jarang ia juga takut saat Ken membentaknya. Ekspresi itu yang harus Ken saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Memastikan wanita itu tetap berada di bawah pengawasannya.
"Saya akan pesankan tiketnya malam ini boss."
Sekertaris Kenan mengotak atik ponselnya. Beberapa saat kemudian ia kembali bersuara.
"Jam penerbangan pukul setengah sebelas malam, perkiraan sampai besok subuh, apa saya jadi pesankan?"
"Tentu saja."
"Baik boss.."
Kenan lega, masih ada jam penerbangan malam untuk hari ini. Ia kembali berdiri dari duduknya. Menghampiri fotografernya untuk di mintai keterangan tentang pemotretan hari ini.
"Bagaimana pak? Apa sudah beres?" Tanya Kenan pada fotografernya. Usia mereka terpaut cukup jauh. Oleh karena itu Kenan memanggilnya dengan sebutan 'Pak'
"Boss Adam, lancar boss, hasilnya memuaskan. Cuaca hari ini mendukung pencahayaannya." Ujar Tidar. Fotografer senior andalan agensi Ken.
"Baguslah, saya akan pulang malam ini pak, sepertinya tidak bisa ikut makan malam bersama tim. Sebagai gantinya saya bayar semua makanannya pak. Lewat sekertaris saya nanti."
"Boss mau mentraktir kami?"
"Ya anggap saja seperti itu." Balas Kenan.
"Terimakasih boss Adam."
"Iya pak, santai saja. Kalau begitu saya ke hotel dulu."
"Oh ya Boss Adam, sebelum itu, saya ingin mengenalkan keponakan saya, dia baru menjadi model hari ini menggantikan Tiara karena berhalangan."
"Oh tentu."
Tidar memanggil keponakannya yang sudah selesai mengganti gaun. Siska, nama keponakan Tidar. Umurnya tidak jauh berbeda dengan Kenan. 28 tahun.
"Selamat sore pak Adam." Sapa Siska.
"Sore. Saya dengar kerja kamu bagus? Tetap pertahankan." Balas Kenan.
"Baik pak.."
"Kalau begitu saya pamit. Pak Tidar sekali lagi maaf tidak bisa datang di makan malam tim."
"Tidak apa-apa boss, terimakasih sudah mempercayai saya memilih model dan mengatur acara."
"Selama itu memuaskan, tidak masalah pak."
Keduanya melempar senyum, Siska juga tak berhenti memperhatikan Kenan yang seumuran dengannya. Ia belum tahu, jika Kenan sudah beristri. Sudah dipastikan ia sama seperti model lainnya. Menyukai sosok Kenan yang tampan dan mapan.
_______
Dara termenung. Ia tak bisa diam, sudah pukul sebelas malam namun ia tak bisa tidur. Pekerjaan rumah sudah selesai sore tadi sehingga ia tidak tahu harus melakukan apa selain diam dan menonton acara televisi yang membosankan.
Besok malam ulang tahunnya, dan besok juga Kenan sudah pulang dari luar kota. Dara sudah menyiapkan sebuah kado untuk suaminya. Siang tadi, Dara diam-diam keluar dari rumah, tanpa mengabari Kenan tentu saja. Ia terpaksa berbohong untuk memberi kejutan kepada suaminya itu. Kue ulang tahun juga sudah Dara beli, ia simpan di dalam lemari es.
Dara kembali fokus pada tayangan televisi. Ia benar-benar mati bosan, matanya memandang lurus televisi, namun otaknya berpikir di luar itu, hingga matanya berat, dan ia tertidur di sofa ruang TV.
Hingga jam menunjukkan pukul empat subuh, Dara terbangun, ia terkejut saat mendengar suara ayam berkokok di pagi hari.
"Uhuk..uhuk..."
Tersedak tentu saja karena terkejut. Dara meletakkan gelas jusnya dan mengarah pada Ken.
"Udah pulang Ken?" Tanya Dara. Ia menyalimi Ken, mencium tangan suaminya itu.
"Kamu gak tidur?"
"Kebangun, tadi ketiduran di sofa."
Dara mengambil alih koper Ken, namun pria itu merebutnya kembali dan memberikan tas kerjanya.
"Berat, ini aja." Ucap Ken.
Dara mengangguk, mengambil tas kerja Ken. Mengikuti Ken dari belakang untuk naik ke lantai dua, letak kamar Ken.
"Gimana urusan kerjanya Ken? Lancar? Ah tapi bukan urusan saya ya buat tanya." Tanya Dara dan ia jawab sendiri, seperti sudah tahu Ken akan menjawabnya seperti itu.
Tak ada jawaban dari Ken, pria itu tetaplah dingin bersama Dara, berbicara seperlunya. Kadang Dara merasa sangat senang hanya karena Ken mau berbicara panjang dengannya, namun itu kejadian yang sangat langka. Mereka akan berbicara panjang saat bertengkar saja. Itupun Ken yang memulai pertengkaran. Dara? Ia jadi pendek bicara saat mereka bertengkar. Menunduk, dan mengakui kesalahannya meski ia tak sepenuhnya salah.
Sesampainya di kamar, Dara meletakkan tas kerja Ken dan koper pria itu menjadi satu. Sedangkan Ken membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Air hangat ya Ken?"
"Hm.."
"Tunggu sebentar."
Dara memasuki kamar mandi seperti biasa, menyiapkan air hangat untuk suaminya. Setelahnya ia keluar.
"Lapar?" Tanya Dara lagi.
"Engga, saya capek. Pijetin aja habis mandi."
"Iya.."
"Tunggu sini."
"Iya.."
Ken mandi, sedangkan Dara sudah gugup karena untuk pertama kalinya Ken meminta di pijatkan olehnya. Mengurangi kegugupan, Dara mengatur isi di dalam koper Ken. Memilah baju kotor dan baju yang masih bersih, kemudian meletakkannya di dalam keranjang baju kotor. Setelah koper bersih, ia meletakkannya di walk in closet kamar Ken.
Tak lama, suaminya itu keluar dari kamar mandi. Memasuki walk in closet dan mengganti bajunya.
Ken menuju ranjang setelah mengganti pakaiannya. Kemudian berbaring tengkurap.
"Pijetin bahu saya."
Dara duduk ditepi ranjang, mengulurkan kedua tangannya ragu-ragu, ia memijat pundak Ken amatir, takut-takut pijatannya tidak enak. Namun melihat Ken memejamkan mata tanpa berkomentar membuat Dara sedikit puas.
"Kamu mau lanjut tidur?" Tanya Ken masih memejamkan mata.
"Iya Ken."
"Tidur sama saya disini."
"Hah?"
"Besok pagi mama bakal kerumah, saya dapat pesannya barusan. Gak lucu kalo mama tahu kita pisah ranjang."
"I..iya.."
Kecewa, ternyata Ken hanya menyuruhnya tidur sekamar jika ada orang tua mereka saja. Dara menunduk, kembali memijit pundak, hingga punggung pria itu.
____
Ken sudah tertidur dengan lelapnya. Dara? Ia tidak bisa tidur karena merasa gugup. Dara menatap wajah Ken dari samping. Garis wajah pria itu tak pernah bosan Dara pandangi, ia jatuh cinta lagi, lagi, lagi, pada orang yang sama meski pria itu berubah sedrastis itu.
Apa yang membuat Ken berubah? Dulu Ken selalu memperlakukannya sangat lembut, mengatakan cinta, tersenyum, menggenggam tangannya, semuanya terasa indah sebelum mereka menikah. Dara tidak percaya dengan berubanya Ken sekarang.
Ken merubah posisinya menjadi miring ke arah Dara. Membuat wanita itu terkejut beberapa saat. Ia bahkan lupa untuk bernapas, namun melihat Ken tenang kembali, Dara bisa bernapas dengan lega. Ia bisa melihat jelas wajah Ken. Ia rindu Ken. Sangat.
"Aku rindu kamu ken, rindu kamu yang dulu. Aku gatahu sejak kapan hubungan kita sejauh ini, aku bahkan lupa sejak kapan kita ngomong pake bahasa formal yang buat aku mikir kita gapernah kenal sebelumnya." Bisik Dara nyaris tak terdengar.
"Bahkan seperti mimpi kita seranjang lagi setelah malam itu. Aku rindu kamu Ken.." bisik Dara hingga akhirnya ia memejamkan mata dan tertidur.
- To be continue -