Anemone

Anemone
17 - PTSD



Ken menghampiri Dara yang membaca sebuah novel di balkon lantai dua. Dara duduk di kursi ayunan berbentuk setengah lingkaran di pelataran itu. Menyandarkan tubuhnya dengan kaki setengah bersila.


"Nanti malem ikut saya. Pak Kuncoro dan istrinya ajak saya dinner. Saya disuruh bawa kamu." Ucap Ken tiba-tiba tanpa kata permisi dan sebagainya.


Dara mendongak kemudian hanya menjawab, "Iya.."


"Nanti gaunnya saya taruh di kamar kamu." Ucap Ken lagi.


Dara membalas dengan anggukan. Melihat hal itu membuat Ken merasa terganggu. Ia seperti diacuhkan oleh jawaban singkat Dara. Padahal biasanya Ken seperti itu pada Dara. Namun orang egois mau memperlakukan, bukan diperlakukan sehingga wajar saja Ken merasa kesal jika di perlakukan demikian oleh Dara.


"Baca apa sih serius banget?" Tanya Ken dengan nada kesal.


Dara kembali mendongak menatap Ken, menunjukkan sampul bukunya yang berjudul 'Hujan' di depan Ken. "Baca ini Ken." Balas Dara pelan.


"Apa sepenting itu sampai kamu acuhin saya?" Tanya Ken menatap tajam Dara.


"Saya gak acuhin kamu Ken." Balas Dara tak setuju Ken menuduhnya mengacuhkan. Padahal Dara menjawab setiap ucapan Ken.


Ken semakin kesal, "yaudah lanjutin bacanya." Balas Ken pergi dari balkon. Meninggalkan Dara yang kembali asik dengan novel yang ia pegang.


Merasa ada yang aneh, Dara menutup bukunya. Turun dari kursi yang menjadi tempat favoritnya akhir-akhir ini saat sore hari. Dara menghampiri Ken yang duduk di sofa lantai dua. Bersandar dengan pandangan lurus ke depan.


"Ken kamu butuh sesuatu?" Tanya Dara.


Ken hanya melirik, namun tak menjawab. Ia kembali menatap lurus ke depan.


"Kalau butuh apa-apa bilang saya aja. Saya di balkon ya." Tambah Dara karena Ken terlihat enggan menjawab pertanyaannya. Namun saat Dara hendak kembali ke balkon, Ken malah memanggilnya.


"Sini duduk disamping saya. Saya mau ngomong." Ujar Ken menepuk tempat di sampingnya.


Dara berjalan ke arah yang Ken suruh, duduk disamping pria itu dengan kaki bersila. Menunjukkan kaki jenjangnya yang tengah memakai hotpans. Mencuri perhatian Ken dalam beberapa detik. Dara menatap Ken, menunggu suaminya bersuara kembali.


Saat di balkon tadi pakai selimut, disini malah engga pake. Mau goda saya? Batin Ken berseru.


"Ada apa Ken?" Pertanyaan Dara membuyarkan lamunan Ken.


"Pijetin kepala saya ya?"


Dara menurunkan kakinya, menaruh bantal sofa pada pahanya dan menyuruh Ken tidur di atas bantal sofa itu dengan isyarat menepuk nepuk pelan bantal Sofa. Ken bersemangat, ia merebahkan tubuhnya dan tidur di atas paha Dara.


Tidak mau mengelak bahwa Ken sangat suka dengan pijitan Dara, saat ia pusing ia selalu meminta Dara untuk memijit kepalanya. Entah sugesti atau memang pijitan Dara membuahkan hasil, pusing Ken selalu hilang setelahnya.


Dara memulai pijitannya di pelipis Ken. Tangan kecilnya lihai menekan bagian tertentu. Ken memejamkan mata reflek karena terlalu nyaman. Pelipis Ken terasa ringan.


"Kamu tahu acara dinner-nya di luar kota?" Tanya Ken.


"Engga tahu."


"Tapi kenapa kamu mengiyakan?"


"Saya diajak kamu mana bisa bilang enggak Ken. Di luar kota sama kamu kan? Jadi gak masalah buat saya." Balas Dara.


"Tapi nanti kita nginep di hotel yang udah disiapin sama pak Kuncoro. Sekamar."


"Terus kenapa?" Tanya Dara dengan polosnya. Ia masih tidak mengerti maksud terselubung Ken mengucapkan hal itu.


"Ngapa-ngapain gimana maksudnya Ken?"


Ken menjadi gemas sendiri. Ia membuka matanya dan berucap secara blak-blakan. "Nidurin, emm ya seperti yang saya lakuin tempo hari."


Dara tak langsung menjawab, hatinya berseru. Sebenarnya tidak apa-apa mereka melakukan hal itu karena mereka suami istri. Namun yang membuatnya rumit adalah mempermasalahkan kenapa mereka melakukan itu. Hal itu umum dilakukan suami istri. Dan sayangnya pada hubungan Ken dan Dara, hal itu tidak umum.


"Saya bisa tidur di sofa kok." Balas Dara akhirnya.


"Ide bagus, dengan begitu kita gakperlu satu ranjang dan nimbulin hal yang enggak-enggak." Balas ken.


"Segitu jijiknya ya Ken sama saya?" Ucap Dara sangat pelan, hanya gumaman yang Ken sendiri tidak bisa dengar dengan jelas.


"Apa?"


"Enggak papa."


"Yaudah saya mau tidur dulu, nanti jam empat sore bangunin. Kita harus siap-siap berangkat."


"Gak tidur di kamar?" Tanya Dara.


"Posisi saya lagi enak. Pijitin aja sampe saya tidur." Balas Ken tanpa peduli jika Dara mungkin akan lelah jika harus menumpu kepala Ken hingga jam empat sore nanti. Namun Dara tak mempermasalahkan hal itu. Ken lebih lelah darinya, pria itu harus bekerja dan baru hari ini punya waktu luang. Tak ada salahnya Dara memanjakan suaminya.


Napas Ken mulai teratur, matanya yang terpejam dari awal mulai lebih rileks. Sudah bisa ditebak kalau Ken beralih ke dunia mimpi.


Mata Dara tak lepas memandang suaminya. Hidung mancung, bibir tebal, dan rahang yang kokoh. Wajah yang terlihat menyeramkan setiap kali marah saat Dara melakukan kesalahan sekecil apapun. Namun Dara bersyukur Ken tak pernah melakukan kekerasan fisik terhadapnya. Ia tak ingin hal itu terjadi, semarah apapun Ken. Dara percaya Ken tidak akan melakukan kekerasan fisik kepada Dara sehingga wanita itu masih bertahan sejauh ini meski suaminya tampak asing di matanya.


Kejadian di rumah sakit yang mengatakan Ken berselingkuh secara terang-terangan nyatanya tak terjadi seperti yang ada di otak Dara. Ken tidak pernah membawa selingkuhannya ke rumah, bahkan tak pernah memperlihatkan bahwa ia selingkuh. Tapi Dara tidak bisa pastikan bahwa Ken tidak selingkuh. Ken pria normal seperti apa yang dikatakannya, dan kenyataannya Dara tak bisa memuaskan Ken.


Banyak yang tengah Dara pikirkan. Ia tahu dirinya bodoh bertahan pada orang yang setiap hari tak bisa absen untuk memarahi bahkan bertengkar dengannya. Orang yang selalu menatapnya jengkel, mengucapkan kebencian dengan nada tinggi. Hati Dara sakit bukan main menerima perlakuan itu. Tapi anehnya yang Dara pikirkan adalah Ken tak bersungguh-sungguh membencinya. Bimbang, kadang ia percaya Ken memang sudah tidak peduli, namun kadang ia juga percaya Ken tidak bermaksud membuat Dara terluka. Dara hanya pintar menampik semua perasaan sakit itu.


Namun sama, saat di dekat Ken tetap pria itu yang paling membuat Dara nyaman. Hatinya tak pernah bisa bohong. Meski Ken berubah sedemikian rupanya, Dara merasa terlindungi setelah sekian lama mengalami ketakutan.


Semenjak ibunya koma dirumah sakit, Dara diselimuti perasaan takut sehingga ia mengidap Post traumatic stress disorder. Hingga sekarang ia masih mengidap penyakit itu, jika bukan karena bergantung pada Ken mungkin Dara tidak akan mampu bertahan.


Gelap adalah salah satu pemicu PTSDĀ  Dara kambuh. Menurut Dara, gelap selalu mengingatkannya pada kejadian yang ingin sekali ia hapus dari otaknya. Selain itu Dara takut sekali pada kekerasan macam apapun. Hal itu salah satu alasan kenapa ia sangat takut saat Ken marah dan mungkin akan memukulnya.


Seiring berjalannya waktu, Dara bisa mengontrol ketakutannya dengan percaya Ken tidak akan melakukan kekerasan itu kepada Dara. Gelap dan kekerasan seperti satu hal yang berkaitan. Hal yang membuat Dara tercekik, hal yang membuat Dara memilih mati di banding mengalami hal itu. Tak heran kamar Dara tak pernah mati lampu meski malam. Saat ada pemadaman listrikpun ia sudah sedia dengan senter ataupun lampu yang berbasis baterai yang selalu ia isi full.


Gelap membuat Dara selalu merasa sendirian. Dingin dan mencekik. Dara seperti akan menjemput ajalnya. Dara seperti di tarik pada masa di mana ia lebih memilih mati. Di mana ia menangis tersedu-sedu meminta tolong namun tak ada seorangpun yang berniat menolongnya. Ketakutan itu semakin mendarah daging ketika melihat ibunya koma. Dara seperti tak bisa sembuh. Ia rajin konsultasi ke psikolog sebelum ia berpikir semuanya tidak akan berjalan dengan baik serajin apapun Dara mendatangi psikolog jika hatinya tak bisa berdamai. Ia berpikir lebih baik uangnya dibuat untuk biaya rumah sakit ibunya.


Saat itu Ken datang di hidupnya. Mengulurkan tangan untuk membantunya bangkit. Memeluknya untuk melindungi, berucap bahwa semua akan baik-baik saja. Yang Dara rasakan adalah hal itu. Hingga kini Dara percaya bahwa Ken masih malaikatnya, meski sikap pria itu berubah. Tak mudah bagi seorang Dara menemukan tempat senyaman Ken.


Ken sudah berbaik hati melunasi hutang biaya perawatan ibu Dara di rumah sakit dulu, memindahkan ibu Dara di rumah sakit yang lebih memadai. Ken sudah mau bekerja keras sampai ia sukses sekarang. Dari seorang fotografer hingga menjadi seorang CEO agensi.


Dara masih ingat, saat Ken selesai membangun agensinya di ibu kota. Ken menghampirinya, memeluknya erat dan berterimakasih kepadanya. Ken bilang bahwa karena kepercayaan yang Dara berikan, Ken bisa meraih apa yang ia cita-citakan. Ia bilang hanya Dara yang mempercayainya. Dan saat itu Ken berhasil. Dara tersenyum mengingat hal itu. Banyak yang mereka lakukan. Banyak kenangan indah sebelum mereka menikah. Dan Dara tak menyangka bahwa hubungan mereka sekarang sangat jauh berbeda dengan dulu.


Bayangan Dara, saat menikah, hubungan mereka menjadi lebih erat. Mereka akan saling mendukung satu sama lain. Tapi semua yang ada di bayangan Dara sepenuhnya salah. Hingga kini Dara masih tidak menyangka.


Dara menunduk, mengecup kening Ken lembut seraya berbisik. "Aku gak peduli menjadi perempuan bodoh karena masih tetap bertahan. Kamu tetap Ken yang aku kenal. Ken yang dulu sama-sama melalui masa sulit. Ken yang buat aku ngerasa terlindungi. Dan Ken yang mau julurin tangannya ke aku. Cepet kembali Ken. Aku kangen kamu yang dulu." Bisik Dara.


- To be continue -