Anemone

Anemone
11 - Alasan



Bel berbunyi berkali-kali. Dara yang awalnya istirahat kini terpaksa bangun. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Buru-buru Dara turun dari ranjang, pasti Ken. Pikirnya.


Dara tak menunggui Ken seperti biasa karena ia harus istirahat total atas perintah dokter. Tubuhnya benar-benar lemas saat ia baru pulang dari rumah sakit tadi, dan untungnya sekarang semua menjadi sedikit lebih baik setelah ia habiskan waktunya untuk tidur.


Dara menuruni tangga dengan langkah teratur, sedikit berlari karena pening dengan suara bel yang berkali-kali terdengar. Jelas orang yang ada di luar pintu tidak sabaran. Benar-benar Kenan Adam yang memiliki sifat tidak sabaran itu.


Cklek..


Seperti tersengat listrik, Dara terkejut melihat Ken berada dirangkulan seorang perempuan. Cantik dan tinggi, hampir sama dengan tinggi Ken, rambutnya berwarna coklat tua dengan riasan yang mencolok.


"Kenapa lama sekali bukanya?" Tanya Ken.


Mabuk, Dara mencium aroma alkohol saat Ken bersuara tadi. Namun Dara masih tak berkutik selain diam di tempat. Apa dia selingkuhan Ken? Berbagai macam dugaan terpikirkan oleh Dara.


"Kamu pulang! Istriku yang cantik sudah ada disini. Terimakasih sudah menemaniku minum ya." Ucap Ken kepada perempuan itu.


"Tentu pak Adam. Hubungi saya jika anda memerlukan waktu saya." Ucapnya.


Dara semakin tak bisa berkata-kata, ia masih mengatur kesadarannya karena shock.


Melihat perempuan itu pergi beberapa langkah dari hadapannya, Dara baru bersuara. Ia tidak mau penasaran dan ujung-ujungnya tidak bisa tidur jika tidak bertanya langsung. "Kamu siapa?" Tanya Dara serak. Ada rasa sedikit takut.


"Nona Adam, saya Siska salah satu model di agensi pak Adam. Maaf mengganggu malam-malam. Saya hanya mengantar pak Adam. Permisi." Jelas perempuan bernama Siska tersebut. Singkat, padat, dan jelas.


Dara menggigit bibir bawahnya. Ia menahan rasa kesal karena sikap gadis bernama Siska itu membuatnya berpikir yang tidak-tidak. "Jadi kamu selingkuhan suami saya?" Tanya Dara memberanikan diri menuduh tanpa bukti. Karena ia tidak tahan jika tidak bertanya.


"Dara... Dara diam..." Oceh Kenan. Ia yang masih pusing tiba-tiba jatuh ke pelukan Dara. Kepalanya bertumpu di pundak gadis itu. Spontan Dara memeluk pinggang Kenan agar pria itu tidak jatuh.


Percakapan mereka yang terjeda karena pergerakan Kenan kembali berlangsung. Siska tertawa melihat sikap naif Dara istri bossnya itu. Siska tak berhenti memperhatikan gadis itu. Cantik. Tak bisa Siska pungkiri hal itu. Pantas saja Adam bossnya selalu panik jika mendengar istrinya meninggalkan rumah bahkan untuk sekedar ke supermarket. Bossnya ingin menikmati istrinya seorang diri. Pikir Siska.


"Boss tidak pernah punya selingkuhan nona. Yang menemani boss di luaran banyak. Bukan cuma saya, banyak model lain yang bermalam bahkan bermain dengan boss Adam." Balas Siska yang jawabannya benar-benar membuat Dara berkali-kali lebih sakit dibanding tahu jika Siska satu-satunya selingkuhan Kenan.


"Kenapa kalian mau? Apa gak tahu Ken udah punya istri? Kalian gak mikirin perasaan istrinya?" Tanya Dara menahan tangisnya. Malu jika ia harus menangis di depan perempuan yang mengantar Kenan pulang itu.


"Bagaimana kami bisa menolak? Boss Adam pria tampan dan kaya. Dan lagi mana berani kita menolak ajakan atasan nona? Anda tahu, kenapa anda tidak bicara kepada suami anda? Saya lelah, saya permisi dulu." balas Siska yang kemudian berbalik hendak pergi. Siska lelah berurusan dengan Dara yang benar-benar naif, bukan levelnya. Siska lebih tertarik dengan gadis bar-bar yang berani menjambak rambutnya dibanding gadis lemah lembut yang tak berani membunuh seekor lalat sekalipun.


"Siska terimakasih udah antar Ken." Ucap Dara sedikit berteriak, namun sang empu tak merespon. Ia tetap berjalan angkuh meninggalkan rumah itu.


Siska benar-benar mengumpati kebodohan Dara dalam hati. Tidak menyangka ada seorang gadis baik tersisa di bumi ini. Mengucapkan terimakasih kepada perempuan yang menemani suaminya mabuk. Pantas saja Ken tidak ingin membaginya. Dara berbeda, jika istri yang lain mungkin mereka akan mengamuk, mencakar bahkan mengumpat jika bisa meludahi wajah gadis yang pulang dengan suaminya. Tapi Dara berbeda. Lalu kenapa Ken harus bermain dengan wanita lain jika seharusnya beruntung memiliki istri seperti Dara? Pikir Siska.


Melihat Siska sudah pulang, Dara menepuk punggung Ken pelan.


"Ken bangun. Masuk dulu." Bisik Dara.


"Aku pusing.." balas Ken masih memeluk Dara.


"Iya masuk, saya buatin kopi ya? Kamu kenapa juga harus mabuk? Nanti dimarahi mama kalo ketahuan Ken."


"Dara kangen, tapi aku pusing. Aku capek khawatir kamu sama cowok lain. Kamu jangan pergi kemana-mana. Tetep sama aku ya Dara." Oceh Ken sedikit tidak jelas namun Dara bisa mendengar jelas bahwa suaminha mengucapkan kata kangen padaya.


"Kalau kamu sadar, apa kamu bakal ngomong gini Ken?" Tanya Dara miris. Ken mabuk, jelas ia tak sadar dengan apa yang diucapkannya. "Ayo masuk," ucap Dara.


Pelan-pelan Dara membantu Ken berjalan. Bagian tersulitnya adalah saat menaiki tangga. Pelipis Dara sampai berkeringat karena menuntun tubuh Ken untuk naik.


Sampai di kamar, Dara menidurkan pria itu. Membuka sepatu beserta kaos kakinya.


"Panas..." Oceh Ken.


"Aku buatin kopi ya Ken? Atau sup? Biar mabuknya sedikit hilang?" Tanya Dara.


Ken tidak mempedulikan pertanyaan Dara. Ia malah menarik pergelangan tangan Dara. Menarik gadis itu untuk ia tindih di bawah kuasanya. Dara langsung gugup bukan main. Ia bahkan berhenti untuk bernapas, seolah lupa bagaimana caranya bernapas. Saking dekatnya posisi mereka saat ini.


Tangan Ken membenarkan letak surai Dara yang menutupi wajah cantik gadis itu. Matanya menatap tajam mata Dara. Mengunci mata itu untuk tidak menatap yang lain selain matanya. Wajah Ken mendekat hingga hidungnya dan hidung Dara bersentuhan. Sampai disana Dara menutup matanya rapat-rapat. Ia benar-benar gugup.


"Apa dosa jika aku meminta hakku sebagai suami?" Tanya Ken.


"Dara aku ingin kamu."


Cup


Ken mengecup puncak kepala Dara, turun ke hidung sampai pada bibir ranum gadis itu. Dara semakin meremas kemeja Ken. Ia takut. Takut saat Ken sadar Ken akan marah. Karena terakhir kali mereka bertemu, hanya pertengkaran. Belum lagi Ken mengatakan kata cerai padanya. Bingung dengan semua yang Ken ucapkan saat ini. Biasanya saat Ken mabuk, pria itu tidak seaneh saat ini.


Awalnya Ken hanya mengecup bibir Dara, hingga kemudian ******* bibir yang semakin terkatup karena kali pertama setelah malam pertama mereka Ken mencium Dara lagi.


Memberanikan diri, Dara mendorong dada Ken pelan hingga bibir mereka terlepas. Mata bening Dara menatap Ken lembut. Ia bersuara pelan nyaris berbisik, "Ken saya takut.."


"Takut apa?" Tanya Ken.


"Takut kalau kamu sadar kamu marah, takut kamu maki saya karena saya gak pergi saat kamu mabuk dan seperti ini. Saya yakin kalau kamu sadar kamu pasti jijik banget ngelakuin ini sama saya Ken. Kamu harus sadar Ken. Kamu..hmpf.."


Bagaimana mungkin Dara bisa melawan dengan keadaannya yang baru saja sembuh itu? Yang bisa Dara lakukan hanya diam membeku saat Ken leluasa menyentuh tubuhnya. Membuka satu persatu penutup tubuhnya. Hingga sampai saat Ken benar-benar menguasainya.


Malam itu adalah malam kedua mereka sebagai sepasang suami istri yang normal.


Usai melakukan hal itu, Ken berguling dari atas tubuh Dara, bernapas untuk mengatur detak jantungnya yang diatas normal usai melakukan pelepasan. Dara? Ia buru-buru bangun, memungut pakaiannya yang berceceran dan pergi dari kamar Ken untuk menuju kamarnya. Tak peduli ia masih merasa kesakitan.


"Langsung pergi seperti itu? Apa kamu begitu takut sama saya Dara?" Tanya Ken.


Ken sadar dari bibirnya bersentuhan dengan Dara. Terpaksa, terpaksa ia harus beracting mabuk untuk menyentuh gadis itu. Ia harus menghilangkan kesadarannya untuk bisa menguasainya.


"Rasa kamu sama, sialnya saya takut kecanduan."


________


Dara tak bisa tidur setelah ia usai mandi subuh-subuh karena kegiatannya bersama Ken, ia duduk di jendela kamar yang terbuka. Membiarkan udara dingin menembus kulitnya, menerpa rambut dan wajahnya, membiarkan matanya menatap langit yang masih gelap sambil memikirkan banyak hal.


Rambutnya basah, bercak merak menghiasi tubuhnya, dan bibirnya masih terasa bengkak karena gigitan Ken. Sempat berdarah, namun percintaannya bersama Ken malam ini lebih lembut dibanding saat pertama kali. Ken sangat kasar waktu malam pertama mereka. Mustahil bagi Dara untuk tidur setelah kejadian tadi.


Dara tidak tahu ia harus senang atau khawatir. Dilain sisi Dara sangat senang, namun disisi lain ia takut pagi nanti Ken akan sadar apa yang mereka lakukan dan marah pada dirinya. Karena apapun yang dilakukan Dara, ia selalu salah di mata Ken.


"Ibu.. Dara takut, Dara harus gimana?" Tanya Dara.


Tes..


Tangis itu pecah kala mengingat ibunya yang tergelak di rumah sakit. Sudah lebih tujuh tahun, sejak Dara duduk di bangku sekolah hingga sekarang ibunya tak sadar dari koma.


"Ibu kapan sadar? Dara kayak gak punya siapa-siapa buk. Dulu Dara punya Ken, tapi sekarang udah beda. Dara sendirian dan takut ngadepin semuanya. Ibu cepet bangun. Hiks.."


"Dara kangen ibu..."


Tangis itu tak kunjung berhenti, ia ingin memeluk ibunya, ingin bercerita banyak seperti dulu saat ibunya masih sehat, masih ada di sampingnya. Mengingat masa lalu Dara bersama ibunya sangat indah, namun tak semua harus indah pula. Dara juga mengingat jelas masa kelamnya, dan penyebab utama ia takut gelap. Hatinya kembali sesak harus mengulang ingatan itu.


Masa lalunya menuntut Dara untuk membenci seseorang, namun takdir melarangnya untuk tak membenci orang itu. Tidak bisa, Dara tidak boleh melakukannya, ia lebih menurut pada takdir untuk tak membencinya. Namun perlakuan orang itu benar-benar membuat Dara ingin sekali membencinya hingga mati sekalipun. Keadaan itulah yang sampai sekarang membuat Dara tidak bisa bergerak maju. Ia stuck ditempat, terperangkap oleh masa lalu yang tidak bisa ia selesaikan.


Sekarang Dara butuh sandaran, ia ingin mengandalkan seseorang untuk bisa menopang dirinya, untuk bisa memberinya semangat bahwa kini Dara tak sendirian, bahwa Dara punya seseorang bersamanya. Menggenggam tangan Dara untuk bisa melewati semuanya bersama.


Munafik, apa yang di katakan Kenan terhadap Dara ada benarnya. Karena Dara masih berpikir jika Ken ada bersamanya, Ken menyemangatinya, namun semakin ia pikirkan, berulang-ulang hingga tak ada bosannya, ia renungkan, ia pilah, ia resapi, dan hasilnya tetap sama. Semakin ia rasakan, semakin ia sendirian. Kenan berbeda, ia sudah tidak seperti dulu saat mereka masih bisa tersenyum satu sama lain.


Lalu siapa yang harus ia andalkan di dunia ini? Lagi-lagi Dara bertanya.


Adakah seseorang yang akan menariknya dalam penjara ini? Ia takut akan depresi, ia takut jika ia akan gila jika harus tetap diam di tempat. Ia takut ingin mati jika ia selalu di perlakukan layaknya orang tak berguna.


Takut. Banyak yang Dara takutkan dalam dunia ini, dalam hidupnya yang rumit. Takut Ken pergi meninggalkannya, takut ibunya tak kunjung sadar, takut ditinggalkan. Pertanyaan baru muncul di benak Dara.


Jika ia tak punya alasan untuk hidup bagaimana?


- To be continue -