Anemone

Anemone
18 - Past (2)



Januari, 2 tahun lalu.


"Kamu dimana? Aku udah deket pohon yang kamu bilang." Ucap Dara melihat kekanan dan kekiri mencari sosok pria yang membuat janji bersamanya. Kenan Adam tentu saja. Fotografer yang beberapa hari lalu meminjamkan hoodie kepadanya. Mereka ada janji temu hari ini di taman kota karena Dara mau mengembalikan hoodie yan Ken pinjamkan kepadanya.


"Aku disini.." saut suara dadi belakang tubuh Dara. Dara berbalik dan langsung tersenyum kearah pria yang jauh lebih tinggi dibanding dirinya itu. Ken ikut tersenyum kemudian menghampiri Dara lebih dekat setelah keduanya sama sama mematikan sambungan telepon.


"Nunggu lama?" Tanya Ken.


"Engga kok, baru aja."


"Untung aja aku gak telat. Kalo telat nanti kamu di culik sama cowo genit disini."


"Mulai deh Ken."


"Ih bener tahu."


"Udah ah, ini hoodie kamu. Udah aku cuci, udah disetrika juga. Makasih ya mas fotografer." Ucap Dara memberikan paperbag kepada Kenan.


Kenan menerimanya, "Kamu mau kemana bentar lagi? Masa kita ketemu cuma mau COD hoodie sih."


"Kok COD?" Tanya Dara sambil tertawa lucu.


"Ya karena cuma ngasih barang gini langsung cabut. Jalan yuk? Biar gak disangka lagi COD-an." Balas Kenan yang lagi-lagi memecahkan tawa Dara.


"Ih masnya kalo mau ajak jalan cewe beda ya. Pasti banyak nih ceweknya." Goda Dara.


"Sok tahu banget mbaknya, gak semua fotografer itu playboy mbak."


"Yang bilang playboy siapa mas?"


"Udah ah, jalan yuk. Ada cafe yang biasa buat nongkrong deket sini. Es krimnya enak banget."


Dara mengangguk setuju, mereka berdua berjalan bersama di trotoar taman layaknya sepasang kekasih. Berjalan berdampingan, bahkan Ken rela menyamakan langkahnya supaya bisa sejajar dengan Dara.


Saat itu Ken tak bawa motor. Dara juga, karena ia sudah biasa naik angkutan umum atau ojek online. Ken memang sengaja tidak naik motor karena ingin berjalan berdua dengan Dara. Gadis yang beberapa hari lalu ia kenal namun berhasil mencuri perhatiannya.


"Pasti orang yang liat kita pada salah paham." Ucap Ken disela-sela mereka berjalan.


"Salah paham kenapa?" Tanya Dara bingung.


"Iya disangka aku pacar kamu. Liat tuh cowo-cowo yang liatin kita. Pasti mereka mikirnya. Apaan sih tuh cowo! Songong banget bisa jalan di samping cewe cantik. Kok bisa sih ceweknya mau? Kan cowoknya dekil, keliatan kere juga. Apalagi bawa kamera, pasti fotografer yang playboy mata keranjang." Oceh Ken seolah tahu dan menirukan kata hati pria yang menatap mereka. Padahal belum tentu mereka berpikir seperti itu.


"Jangan berprasangka buruk gitu Ken. Dosa tahu."


"Tapi kalo beneran mereka mikir gitu gimana?"


"Ya biarin, kan aku yang jalan sama kamu."


"Gak malu? Aku dekil loh, celana aja sobek-sobek gini. Keliatan kere gabisa bawa kamu naik mobil."


"Aku gak peduli. Yang penting kamu lucu dan buat aku ketawa terus. Lagian aku udah biasa jalan kaki."


Ken tersenyum mendengar jawaban gadis disampingnya. Ingin sekali merangkul tubuh kecil itu agar tidak jauh-jauh dari posisinya saat ini. Menjaganya agar tak ada satu orang pria yang berani menatapnya lapar. Baru kali ini ia melihat gadis yang berbeda dari gadis kebanyakan. Siapapun pasti akan jatuh cinta pada Dara.


Mereka sampai di cafe yang Ken maksud. Saat di dalam, Ken bertemu dengan pemilik cafe tersebut. Berbincang sebentar hingga kemudian kembali menemui Dara.


"Kamu duduk disana dulu aja, aku udah pesen es krim buat kamu. Aku mau motret dulu bentar. Gapapa kan?" Tanya Ken. Dibalas anggukan Dara. "Kamu gak marah? Aku bilangnya nongkrong, tapi aku malah kerja. Tapi gak lama kok beneran. Selesai motret aku.."


"Gak papa Ken. Gausah keburu-buru juga biar hasilnya bagus. Aku tunggu sini."


Ken mengelus puncak kepala Dara pelan, "pengertian banget sih." Ucap Ken. "Kalau gitu aku motret dulu ya. Es krimnya masih dibuat sama mbaknya."


"Siap mas fotografer. Udah sana kerja. Aku tunggu sini."


Ken pergi setelah mengeluarkan kameranya dari dalam tas. Pria itu kini sangat fokus dengan makanan yang menjadi objek utamanya. Dari tempat duduk, Dara memperhatikan Kenan, senyum tak lepas dari bibir gadis itu kala melihat keseriusan Ken. Pria itu menekan shutter button berkali-kali setelah menemukan spotlight yang pas, salah satu matanya juga tepat meneropong view finder, tak kala juga memutar lensa untuk mencari titik fokus. Dilihat dari cara Ken bekerja membuat Dara tahu bahwa Ken sangat menikmati profesinya.


Cukup lama menunggui Kenan selesai memotret. Es krim Dara juga sudah kandas, sisa gelas dan sendok kayunya saja. Gadis itu mati gaya hingga akhirnya Kenan menghampirinya. Rupanya pria itu baru selesai dengan kameranya.


"Bosen ya?" Tanya Ken dibalas anggukan Dara. "Masih lapar? Ada roti bakar matcha cream di menu. Kayanya enak, mau?" Tawar Ken.


"Kamu mau?"


"Kalau aku mau. Aku pesen dua ya? Kamu masih betah kan? Bareng aku disini?"


"Motretnya udah emang?"


"Udah kok, tinggal edit aja. Tapi editnya di rumah nanti." Ken memasukkan kameranya ke dalam tas. "Kalau emang bosen habis makan aku anter pulang mau?"


"Kenapa? Kelihatan ganteng ya?"


"Ih! Apaan muji sendiri gitu hahaha.."


"Ya sekali-kali iyain biar seneng nih ati."


"Iya deh Ken ganteng."


"Yang ikhlas dong ngomongnya."


"Udah ikhlas. By the way, kamu kelihatan seneng banget ya jadi fotografer. Kamu nikmatin kerjaan kamu."


"Tentu, fotografer itu cita-cita aku dari kecil. Jadi meskipun gaji gak seberapa. Tapi aku nikmatin. Kayak gak lagi kerja kalau kamu ngelakuin pekerjaan yang kamu suka." Jelas Ken. "Kalau kamu? Cita-cita kamu pas kecil apa?" Tanya Ken.


"Aku gapunya keahlian khusus, dari kecil cita-cita aku cuma pengen punya taman bunga. Aku pengen jual bunga yang aku rawat sendiri. Biar orang yang beli bunga aku seneng." Balas Dara.


"Lucu banget sih kamu." Puji Ken mengaitkan rambut Dara kebelakang telinga. Perlakuan itu tak sadar membuat Dara malu, ia terlihat gugup sekeras apapun ia mencoba bersikap biasa. Ini pertama kalinya Dara membuka diri kepada pria. Dan pertama kali juga Dara jatuh cinta pada Pria.


Kenan Adam, pria yang berpenampilan sangat berantakan. Celana robek, kaos polos dan jaket jeans oversize berwarna hitam. Tas kamera lusuh juga selalu ia bawa kemana-mana, mungkin karena profesinya fotografer. Dua kali bertemu dengan Dara, Ken selalu bawa kamera itu. Bukan ingin menjauh, Dara malah ingin mengenal Ken lebih dekat.


__________


Maret, 2 tahun lalu.


Tok tok tok..


Ken mengetuk pintu rumah Dara, topi pada jaket hoodie yang di kenakannya menutupi sebagian wajahnya. Sengaja Ken lakukan itu untuk tak mencuri perhatian orang melihat wajah babak belurnya saat ini.


Dara awalnya siap untuk tidur menggunakan piyamanya, namun karena ketukan pintu rumahnya ia harus membukanya terlebih dahulu.


Sempat terkejut saat membuka pintu dan melihat seorang pria tinggi ada di depannya, apalagi pria itu menenggelamkan wajahnya pada topi hoodie yang ia kenakan. Namun saat mengenali sosoknya Dara menjadi semakin bingung, kenapa Ken bersikap aneh.


"Kenapa Ken malem-malem?"


"Boleh masuk?"


"Tapi kalau tetangga lihat,"


"Please Dara." Ucap Ken membuka topi hoodienya, membuat Dara dengan jelas melihat wajah Ken yang terluka dan memar sana-sini. Dara sontak panik.


"Kamu kenapa?" Tanya Dara,


"Boleh masuk?" Balas Ken dengan pertanyaan juga.


"Yaudah ayo," Dara menarik tangan Ken masuk kedalam rumahnya, tentu saja setelah melihat ke kanan dan kekiri memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat mereka. Tetangga Dara rupanya sedang terlelap tidur.


Ken duduk di sofa, menunggu Dara membuatkan dirinya segelas teh jahe. Setelah Dara kembali, Dara meletakkan cangkir yang ia bawa kemudian duduk tepat di samping Ken, jarak mereka cukup dekat.


"Kenapa luka-luka gini? Kamu berantem?" Tanya Dara mendapat anggukan Ken. "Kenapa Berantem Ken? Kamu kaya anak sma labil aja berantem. Berantem sama siapa?" Tanya Dara lagi.


"Sama papa aku."


"Hah? Kok bisa?"


"Dia lagi-lagi maksa aku buat tinggal dirumah, dan maksa aku buat jadi bonekanya. Disuruh ngurus perusahaan katanya." Jelas Ken singkat.


"Ngurus perusahaan?" Tanya Dara bingung, yang ia tahu Ken tinggal sendiri di kontrakan, Dara juga tidak berani bertanya tentang orang tua pria itu.


"Setelah ngusir, nyita semua aset yang aku punya, mobil, tabungan, kartu kredit bahkan koleksi kamera yang aku beli pake uang aku sendiri hanya karena aku gamau ngurus perusahaan dia. Sekarang dia bahkan kesal karena aku bisa bertahan hidup tidak bergantung sama dia." Jelas Ken.


Dara terdiam menyimak, gadis itu memperhatikan wajah Ken yang hancur karena lebam dan luka. Papanya terlihat sangat marah. Pikir Dara.


"Kamu bilang kamu punya kakak?"


"Dia sama aja, dia malah kabur ke luar negeri buat jadi pelukis profesional seperti yang dia impikan. Tanpa peduli aku yang jadi sasaran utama papa." Jelas Ken. "Maaf buat kamu denger cerita aku."


"Gapapa Ken, aku ambilin kotak obat dulu ya. Abis ini lanjut ceritanya."


Dara berdiri dari duduknya, hendak pergi untuk mengambil kotak obat, namun Ken menarik tangan Dara dan memeluk tubuh itu erat. Tak mengizinkan Dara untuk pergi. Dara sendiri langsung kaku karena shock.


"Aku sayang kamu Dara." Bisik Ken tiba-tiba.


Tidak masuk akal? Memang.


- To be continue -