Anemone

Anemone
05 - War



Dara terpaku, ia sulit bersuara. Kejadian tahun lalu sangat berbeda dengan sekarang. Bentakan Ken benar-benar membuat Dara sadar. Ken telah berubah begitu banyaknya.


"Kapan kamu keluar dari rumah tanpa izin? Dan menyiapkan itu semua hah?!" Bentak Ken lagi.


"I..itu..."


"Jawab!"


Dara memundurkan satu langkahnya lagi. Ia harus menghindar sejauh mungkin. Tangannya ia sembunyikan di balik badan, ia tidak mau Ken tahu kalau tangannya sudah bergetar tak karuan.


"Pas kamu ke luar kota. Saya bohong, saya keluar buat beli Cake sama jam tangan itu. Saya mau kasih kejutan Ken, makanya saya gabilang kamu." Jelas Dara pelan. Ia sangat berusaha untuk bersikap wajar. Meski tangan yang ia sembunyikan di balik punggungnya sudah basah akan keringat dingin.


Ken semakin marah, ia tidak tahu bahwa Dara mulai berani berbohong padanya. Dan sialnya ia tidak tahu hal itu. Ken tertawa sinis, Dara sudah melukai harga dirinya. Tawa sinisnya berubah, hanya beberapa detik sebelum ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin kembali. Mat-matian Ken menahan marahnya, terlihat dari rahang yang mengeras itu.


"Dari mana kamu dapat uangnya?! Tidak ada laporan kamu pakai uang yang saya kasih ke kamu!! Oh! Kamu sudah dapat laki-laki baru buat beliin jam tangan sama cake buat saya?! Gitu! Pintar bohong kamu sekarang!" Teriak Ken marah-marah seperti sedang kerasukan.


Jangan takut.. semua akan baik-baik saja. Ucap Dara dalam hati. "Saya gapernah kenal sama laki-laki lain. Kamu tahu, kamu pacar pertama saya, sekaligus suami saya. Saya juga gak berani. Uangnya dari celengan saya, uang sisa belanja yang saya tabung. Sengaja saya pakai itu biar kamu ga curiga pas saya mau kasih surprise kaya sekarang."


"Bohong!"


"Saya gak bohong.." ucap Dara meyakinkan, meski dirinya sudah putus asa menjelaskan semuanya.


"Kamu pikir saya suka kamu kasih kejutan dengan kebohongan kamu seperti ini?! Saya sudah muak ya sama kamu! Saya bukan Ken yang dulu, yang akan mengucapkan terimakasih. Kamu tahu pasti saya benci kamu keluar tanpa izin saya! Kamu juga tahu aturannya, setiap kamu melangkah keluar dari sini kamu harus hidupin GPS kamu, kirim lokasi kepada saya dan tentunya harus mendapat izin dari saya!"


Dara menunduk, ia menjerit dalam hati. Benar, harusnya ia sadar Ken sudah berubah. Harusnya ia paham Ken, harusnya ia menerima kenyataan bahwa Ken bukan Kenan yang dulu ia kenal. Bodohnya ia selalu berpikir bahwa Ken masih sama. Ken yang dulu tidak akan pernah membentaknya, membuatnya bergetar takut, dan bahkan, Ken tidak akan pernah membiarkan setetes air mata jatuh membasahi pipi Dara.


"Maaf.. saya tidak akan mengulanginya lagi Ken.." akhirnya hanya kata itu yang bisa Dara ucapkan. "Maaf sudah membuat kamu bangun malam-malam begini." Tambahnya.


"Ya! Kamu benar-benar mengganggu jam tidur saya! Sudah tahu saya capek!"


"Maaf."


"Kamu tahu apa yang akan saya lakukan kan kalau kamu berani membantah saya?" Tanya Ken dengan nada sedikit mengancam.


"Maaf Ken maaf, saya tidak akan berbohong lagi. Jangan hukum saya." Ucap Dara cepat.


"Kamu tahu, saya tidak pernah menyakiti kamu Dara. Hukumannya cukup kamu berada di ruangan gelap. Seperti terakhir kali, kamu pingsan dan membuat susah saya harus membawa kamu ke rumah sakit. Hukuman untuk seorang Dara pembangkang." Balas Ken menertawakan perilakunya dulu. Ken benar-benar tidak menyangka bahwa Dara sangat takut berada di ruang kosong yang gelap sendirian. Wanita itu sampai pingsan Ken kurung beberapa menit. Suatu kesenangan bagi Ken, bahwa ia tahu kelemahan Dara tanpa harus menyakiti wanita itu.


"Jangan... Saya gaakan ulangi lagi.. jangan.. saya salah Ken maaf." lirih Dara menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali. Ia sangat takut Ken akan menghukumnya malam ini.


"Kali ini saya harap kamu benar-benar pegang ucapan kamu itu."


Dara mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ia bersyukur jika Ken tidak akan menghukumnya dengan cara kejam itu lagi.


Dara berjongkok, mengambil jam tangan rusak yang tadi Ken banting serta membawa pergi cake yang sudah hancur dari atas lantai itu.


Dara pergi, tanpa mau menoleh lagi. Membuang kedua barang yang awalnya ia bawa utuh menjadi tidak berbentuk lagi saat keluar dari pintu yang ia masuki beberapa menit lalu.


"Kenan, kamu tahu kamu jahat? Harusnya dulu, saya gak kasih tahu kamu kalau saya takut gelap, harusnya, saya gak kasih tahu itu dan biarin kamu nekan ketakutan saya itu..." Lirih Dara. Punggungnya bergetar hebat. Ia menangis sesenggukan di depan tempat sampah.


Tanpa ia sadari, Ken melihat punggung bergetar itu. Namun tak ada ekspresi yang ia tunjukan selain datar. Ada makna tersirat dibalik semua ini.


_____


Sarapan pagi di meja benar-benar sunyi. Dara tak mengucapkan satu patah kata pun saat menyiapkan makanan untuk Ken. Bahkan saat Ken menyuruh Dara membuat susu, gadis itu hanya mengiyakan tanpa bertanya embel-embel untuk memperpanjang obrolan mereka.


"Ini susunya.." ucap Dara meletakkan segelas susu hangat dengan satu sendok madu kesukaan Ken.


"Duduk.."


Dara beralasan untuk menghindar, "Saya harus cuci piring, saya..." Namun ucapannya terpotong.


"Duduk!"


Dara terkesiap, ia menarik kursi makan kemudian duduk. Menyatukan jari-jari diatas pangkuan. Tak berani menatap Ken, hanya menunduk memainkan jari-jarinya yang terpaut.


"Nanti malam ada acara peresmian film dari produser yang mensponsori kantor saya. Kamu nanti ikut. Gaun udah saya siapkan, nanti dikirim sekertaris saya."


"Hari ini kan ulang tahun kamu, gak kerumah mama sama papa aja Ken? Makan malam disana?"


"Papa sama mama ke rusia? Kamu gatahu? Makanya jadi menantu itu sering-sering hubungi mama. Jangan cuma mama aja yang hubungin kamu." Sinis Ken.


"Ke Rusia?" Tanya Dara mengulang.


"Mama bilang udah telepon kamu, tapi gak aktif, akhirnya dia kirim pesan. Dan telepon saya."


"Saya lupa charger hp saya. Maaf."


"Selalu saja, maaf, lalu diulangi lagi. Itu kamu Dara. Makanya tidak ada lagi keahlian kamu selain menggoda laki-laki lain." Ejek Ken.


"Saya gapernah menggoda laki-laki Ken."


"Dasar munafik. Di belakang saya, siapa tahu?"


Dara menahan kesalnya. Bagaimana bisa Ken menuduhnya tanpa bukti? Tahu Dara keluar tanpa izin saja membuat Ken marah besar, meski alasannya untuk Ken pribadi. Bagaimana Dara berani menggoda pria lain? Memangnya siapa yang hendak ia goda? Penjaga toko cake tempatnya membeli cake kemarin? Pejalan kaki yang tak sengaja berpapasan dengannya? Atau sopir Ken yang sudah punya cucu? Dara tidak mengerti jalan pikiran Ken. Namun ia tak mau ambil pusing, toh bukan sekali Ken membuatnya sakit hati. Dara tidak akan mempermasalahkan rasa sakit hatinya lagi.


"Saya mau cuci piring."


Dara berdiri, meninggalkan Ken yang masih menyantap sarapan paginya.


"Cari di internet, nonton video tutorial make up kalo ada waktu. Ini acara penting. Kamu harus tampil cantik. Jangan malu-maluin saya. Saya juga gapunya waktu sewa MUA buat dandanin kamu." Oceh Ken.


"Beliin make upnya, mana bisa saya dandan kalo make upnya gaada? Saya gapernah beli make up." Jelas Dara yang sedikit kesal mendengar kata 'malu-maluin' dari bibir Ken.


"Kamu menghina saya? Kamu pikir saya nyuruh kamu cantik tanpa modal? Udah saya beliin semua keperluan make up. Tinggal pakai aja."


"Iya.."


"Kedepannya saya bakal sering ajak kamu ke acara resmi."


"Maksudnya kenapa apa? Ya kan kamu istri saya, lucu kalo bukan kamu yang saya ajak. Apa mau saya terang-terangan selingkuh di depan kamu?"


Deg...


Dara terkejut bukan main. Jantungnya berdetak lebih cepat dari detak normalnya. Mendengar kata selingkuh membuat desiran aneh pada diri Dara. Sedetik, jantung Dara rasanya mau berhenti karena tidak mau mendengar hal itu terlontar dari bibir Ken.


"Kamu selingkuh?" Tanya Dara pelan.


"Menurut kamu?" Tanya balik Ken dengan senyum menantangnya.


Dara tidak bisa menjawab, ia bingung, hingga Ken menyelesaikan acara sarapannya. Ia berdiri. Meletakkan sendok dan garpu diatas piring kosong dengan menelungkupkannya.


"Saya berangkat, jangan lupa nanti malam."


Dan dengan bodohnya Dara masih bisa berpikir positif. Ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Kenan. Wanita itu terlalu naif. Karena itu Ken gampang untuk membodohinya.


Sudah pasti Ken bermain dengan wanita lain di belakang Dara. Bagaimana ia bisa kuat menahan napsu? Dia pria normal, dan semenjak mereka menikah hanya sekali Ken berhubungan dengan Dara. Setelahnya sudah, tidak ada lagi kata hubungan dalam pernikahan mereka, tidurpun terpisah. Ken berubah 180°.


______


Sore menjelang malam, Ken menghubungi Dara. Panggilan pertama tidak diangkat, namun panggilan kedua juga sama, belum diangkat.


Ken mulai panik, ia curiga, apa yang dilakukan Dara sehingga ia tidak mengangkat telepon darinya? Pikiran negative bersarang di otak Ken. Dara harusnya tahu jika Ken paling tidak suka jika Dara tidak mengangkat telepon darinya.


"Jika saja kali ini kamu tidak angkat teleponnya, saya anggap kamu melanggar perintah saya Dara." Ucap Ken yang sudah bersiap menekan tombol hijau miliknya.


Tutt.. tut...


"Halo Ken, maaf tadi gak diangkat, saya lagi mandi."


"Kamu gak bohong kan?"


"Enggak Ken, saya beneran lagi mandi. Ini aja saya belum bilas denger handphone bunyi. Takut kamu telepon. Bener aja kamu telepon. Makanya saya cepet angkat." Jelas Dara di seberang telepon.


"Jangan lupa, saya pulang harus sudah siap. Saya siap-siap dari kantor." Balas Ken.


"Iya ini saya lagi siap-siap."


"Udah di kirim kan baju sama make upnya?"


"Udah.."


"Satu jam-an saya udah sampai rumah."


"Iya.."


Ken menutup teleponnya tanpa basa-basi atau embel-embel lainnya.


Sejak saat mereka mengakhiri perbincangan melalui via suara. Dara mempersiapkan diri. Merias dirinya seperti apa yang ia pelajari melalui video tutorial yang ia tonton.


Hasil yang sangat memuaskan selama setengah jam lebih Dara merias diri. Dandanannya terlihat natural karena ia yang amatir tidak mungkin langsung bisa berdandan bold. Namun hasil tersebut sangatlah memuaskan bagi Dara. Ia tak terlihat seperti ibu-ibu yang tengah menghadiri acara pernikahan.


Selesai berdandan, Dara segera memasang gaun yang sudah Ken siapkan. Gugup mengingat untuk pertama kalinya setelah sikap Ken yang berubah, suaminya itu mengajak dirinya di sebuah acara yang menyangkut dengan pekerjaan.


Tak terasa waktu cepat sekali berlalu, Ken berbohong padanya. Dia bilang satu jam pria itu akan sampai, tapi buktinya Ken baru telepon setelah hampir dua jam.


Tepat saat Dara selesai mengenakan heels, wanita itu mengangkat telepon dari Ken.


"Iya Ken?"


"Dimana?"


"Di kamar,"


"Udah?"


"Udah tinggal nunggu kamu."


"Saya di depan, cepet."


Dara menuju gorden, membuka gorden tersebut. Benar saja mobil Ken ada di depan gerbang.


"Iya ini jalan ke depan."


Tut...


Cukup susah, heels benar-benar membuat jalan Dara susah. Karena heels yang ia kenakan benar-benar tinggi. Biasanya ia mengenakan heels paling tinggi lima sentimeter. Namun kini, heels yang ia kenakan lebih dari tujuh senti. Ken memang berbakat untuk membuat Dara kesulitan.


Gerbang terbuka, Dara memasuki pintu mobil Ken tanpa harus Ken bantu buka pintu. Lagipula mustahil juga Ken akan membuka pintu untuk Dara. Maka dari itu Dara berinisiatif untuk membuka sendiri pintu tersebut.


"Ayo berangkat Ken." Ucap Dara.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


Empat detik...


Lima detik...


Hanya butuh waktu lima detik untuk Ken terpukau, ia keluar dari pikirannya. Hatinya berkata bahwa Dara cantik, Dara pantas Ken perlakukan seperti porselen yang harus ia jaga dan tidak boleh orang lain tahu. Karena semua orang tahu Dara pantas di perebutkan sampai mati sekalipun. Namun, Dara miliknya, Dara hanya boleh berada dalam kastilnya, Dara juga hanya boleh mencintainya. Itu aturannya. Menikahi porselen itu namun tidak untuk memujanya. Ken tuannya, sampai pada waktunya ia harus membuang Dara.


- To be continue -