Anemone

Anemone
10 - Who



"Loh pak? Bukannya tadi taxinya nunggu ya?"


"Iya non, saya suruh pergi, sudah saya bayar ongkosnya non."


"Aduh maaf ya pak, saya kelamaan ya ambil uangnya?" Tanya Dara merasa tidak enak.


"Non istirahat non, udah gak usah dipikirin, udah bapak bayar kok ongkos taxinya." Ucap Supri, sopir keluarga mereka.


"Yaudah ini ya pak gantinya. Saya ke kamar dulu, masih lemes soalnya. Makasih banyak pak."


"Iya non sama-sama, non saya anter ya?"


"Enggak usah pak, bapak lagi sibuk. Saya bisa sendiri kok."


"Baik non kalo gitu. Hati-hati non.."


"Iya pak.."


Supri pergi setelah melihat Dara masuk ke rumah dengan langkah pelan.


Hati supri begitu miris menyaksikan majikannya. Bagaimana tidak? Supri tahu semua yang terjadi di dalam keluarga itu. Namun ia tak punya hak untuk bersuara mengingat watak tuannya yang sangat keras.


Dara sudah Supri anggap sebagai putrinya sendiri karena Dara seumuran dengan anaknya yang ada di kampung. Seminggu sekali supri bisa pulang karena ia harus menjadi sopir keluarga itu sekaligus satpam yang menjaga gerbang. Memang pekerjaan yang mudah karena ia hanya menjadi sopir saat dibutuhkan, saat kenan menyuruhnya mengantar Dara. Selebihnya ia menjaga keamanan rumah itu.


Supri tahu apa yang kini di alami Dara. Suaminya tak pernah memperhatikannya, selalu berlaku kasar meski Ken tak pernah melakukan kekerasan fisik kepada gadis itu.


Supri tidak tahu terbuat dari apa hati Dara. Selalu sabar, ia bahkan tak pernah bisa marah kepada suaminya. Yang bisa ia lakukan hanya menangis, itupun tak Dara tunjukkan secara terang-terangan di depan Kenan. Alasan Kenan bersikap tidak selayaknya kepada istri sahnya sendiri masih menjadi tanda tanya besar di benak Supri.


Apa yang kurang dari Dara? Hanya pertanyaan itu yang selalu Supri bingungkan ketika melihat Kenan selalu memarahi Dara karena hal kecil sekalipun. Dara orang paling sabar yang Supri kenal, gadis itu berparas cantik, tak pernah memiliki pikiran buruk sekalipun. Supri tidak mengerti kenapa Kenan begitu tega kepada istrinya. Bahkan sampai saat ini Ken tidak mengerti penyakit apa yang diderita Dara. Penyakit yang seharusnya Ken tidak buat lelucon.


Khawatirpun tak pria itu lakukan. Saat Supri hendak menjelaskan apa penyakit yang di jelaskan dokter kepadanya, Ken malah sibuk menerima telepon dan bahkan mengucapkan bahwa itu tak penting ia dengar, Supri tidak perlu menjelaskannya. Meski bukan Supri yang diperlakukan seperti itu, hatinya sangat sesak mendengarnya. Tidak bisa bayangkan jika putrinya sendiri mengalami hal itu.


Supri tidak tahu kenapa Dara bertahan, kenapa gadis itu masih bersikap semua akan baik-baik saja. Ken memang tak pernah menyakiti fisiknya, namun batinnya, Dara sangat tersiksa karena hal itu. Supri mengerti, karena pernah Dara seketika bertanya padanya. Pertanyaan yang benar-benar menusuk hatinya.


"Ken kenapa ya pak ke saya? Sampai sekarang saya gatahu salah saya apa sampai dia benci banget sama saya. Apa saya kurang baik ya pak? Saya udah berusaha sebaik mungkin, tapi kenapa dia masih benci saya? Udah minta maaf berkali-kalipun gaada gunanya. Apa saya bener istrinya ?" Ucap Dara yang sesekali bertanya-tanya apa yang salah pada dirinya. Miris tentu saja mendengarnya. Kala itu Supri hanya diam, ia tak berani bersuara, takut jawabannya salah dan malah membuat nonanya itu merasakan sakit lagi.


Supri tidak tahu sampai kapan Dara bertahan. Karena suatu saat, Supri yakin, Dara akan sampai pada titik lelahnya. Titik dimana ia akan merasa sakit yang luar biasa, hingga ia sadar bahwa suaminya tak baik untuk dirinya. Entah kapan namun Supri yakin jika Ken tak bisa merubah perilakunya. Dara akan punya keberanian untuk pergi dari hidup suami yang sama sekali tak pernah merasa khawatir padanya.


_____


Ken keluar dengan wajah masam, Pekerjaannya kali ini terhambat karena ia tak fokus dalam rapat sehingga memutuskan untuk membubarkan rapat sebelum usai dengan alasan Ken tengah pening.


Ken duduk di kursinya. Membuka laci dan mengambil selembar foto yang selalu ia simpan. Ia tatap lekat-lekat foto tersebut. Ia menjadi bingung dengan dirinya sendiri. Gadis yang ia temui saat hujan, yang ia potret dengan cantiknya itu kini menjadi istrinya. Namun ia tak bisa mencintainya. Tak bisa.


Foto yang dipegangnya adalah foto Dara yang ia potret untuk pertama kali. Cantik, tak bisa Ken pungkiri bahwa istrinya sangat cantik. Siapapun pasti berebut untuk mendapat cintanya. Namun Ken menyayangkan itu semua.


"Kenapa harus kamu? Kenapa harus kamu yang menyakitinya? Kenapa bukan gadis lain Dara? Kenapa?"


"Dan bodohnya aku sempat tertarik padamu, sempat melupakannya. Aku tidak tahu apa yang ada dipikirku saat itu. Seolah tersihir oleh kecantikan dan sikap bertopeng kamu. Dara. Kamu cantik tapi kamu licik. Aku selalu tergoda pada rubah cilik sepertimu, tapi cintanya, aku menunggu. Dan kamu harus ada di dalam permainan ini. Sampai saatnya aku harus melepas kamu. Melepas rubah cantik yang mungkin akan di perebutkan diluar sana."


"Sial! Aku masih tidak bisa melepas kamu."


Ken menuju kamar mandi dengan membawa foto istrinya. Ia memuaskan dirinya sendiri di dalam kamar mandi, memandang foto Dara yang sama sekali tidak menggoda. Dara memakai atasan kemeja putih dan rok hitam selutut. Terlihat sangat rapi karena ia hendak melamar kerja waktu itu.


Ken mencapai puncak saat ia mengingat jelas malam pertama mereka. Malam yang tidak bisa Ken tahan. tidak disangka ia yang pertama untuk Dara.


"Ken pelan, sakit..." Ringis Dara. Suara itu tak bisa Ken lupakan dari benaknya.


Ken pikir Dara sudah tidak lagi virgin sehingga ia kasar waktu itu. Meski merasa aneh karena Dara sangat sempit. Tapi tak disangka saat mereka usai melakukannya, Ken melihat banyak darah yang ada di atas sprei putih mereka.


Melihat Dara tergeletak lemas dengan wajah lelahnya,  dan mata yang sembab karena menangis. Ken tidak berhenti bersikap kasar saat bercinta dengan Dara karena ia melakukannya sama seperti saat ia melakukannya dengan wanita lain. Namun karena Dara virgin lah yang membuat Ken sangat marah.


Hembusan napas Ken karena ia sudah mencapai klimaks benar-benar membuatnya lega.


"Bodoh! Kenapa aku harus melakukan ini? Banyak gadis yang mau ku tiduri. Dan kalau mau aku harusnya tinggal meniduri kamu tanpa harus bersikap bodoh seperti ini. Rubah cilik! Kamu tidak boleh menang! Kamu tidak boleh tertawa karena kebodohanku Dara." Ucap Ken tak berhenti menatap foto yang ia genggam.


"Hanya aku yang boleh menikmati kamu, menikmati wajah cantik gadis licik yang harusnya kutiduri saja sampai puas."


"Sial! Lagi-lagi aku klimaks dengan sebuah foto dan fantasi gilaku."


______


Bandara yang ramai dengan lalu lalang penumpang menjadi perhatian seorang gadis dengan rambut coklatnya. Kaca mata hitam dan koper yang ia bawa menjadi bukti bahwa ia baru saja melakukan penerbangan.


Senyum terukir di bibirnya. Gadis itu mendecak.


"Waktunya untuk bermain. Let's start." Ucap gadis itu.


- To be continue -