Anemone

Anemone
09 - Don't care



Sudah dua hari Dara di rawat di rumah sakit. Dan Ken belum menjenguknya lagi, hanya sopir mereka yang selalu menunggui Dara. Bohong saat suster mengatakan bahwa Dara boleh pulang setelah satu hari istirahat. Sudah dua hari ia menginap di rumah sakit.


Dokter mungkin sudah menjelaskannya kepada sopir mereka mengenai Dara, namun Dara tidak tahu apa sopir mereka sudah memberitahu Ken atau belum. Karena sejak terakhir Dara melihat Ken, ia tak pernah lagi melihat batang hidung suaminya.


Jangan tanya betapa stresnya Dara saat tahu Ken berselingkuh. Ia tak berhenti menangis, hingga berkali kali suster mengganti bantal Dara, berkali kali pula dokter menyuntikkan cairan untuk Dara karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Mata Dara begitu mengenaskan, sembab karena terus menangisi suaminya. Dan lebih bodohnya, ia menyalahkan dirinya sendiri.


Ken berselingkuh karena Dara kurang baik, Dara belum bisa membahagiakan Ken makanya Ken mencari kebahagiaan lain di luar sana. Betapa bodohnya gadis itu. Jelas-jelas Ken salah, namun ia masih menyalahkan dirinya sendiri.


Dara hendak pulang karena dokter sudah membolehkannya pulang setelah menghabiskan cairan infus. Menunggu cairan infusnya habis, Dara membereskan beberapa perlengkapannya, memasukkan baju gantinya kedalam tas dan membereskan tempat tidurnya. Meski badannya masih lemas, namun ia sudah bisa kembali beraktivitas.


Baru saja Dara selesai menutup resleting tas, pintu terbuka, menampakkan Ken yang rapi dengan setelan jas namun dasinya sudah hilang entah kemana. Dara tak buru-buru menyapa mengingat dua hari lalu mereka bertengkar. Ia diam duduk ditepi ranjang menunggu cairan infusnya.


"Ada apa dengan matamu itu?" Tanya Ken.


Dara menggeleng, "enggak papa."


"Dasar cengeng." Ejek Ken, namun Dara tak bersuara selain diam. Ia tak peduli lagi Ken menghinanya.


"Kenapa masih diam? Gamau pulang?"


"Kata dokter nunggu cairannya habis, nanti kalo habis panggil suster buat copot infusnya." Jelas Dara memperlihatkan tangannya yang masih terinfus.


"Ck!" Ken membalasnya dengan decakan. Ia menyusul Dara, ikut duduk ditepi ranjang.


Hening, tak ada percakapan diantara mereka. Dara juga kembali menahan sesaknya. Ia tak peduli jika ia di cap sebagai gadis cengeng. Bagaimanapun, hatinya benar-benar sesak dengan pengakuan Ken yang terang-terangan selingkuh. Mengingatnya saja sudah seperti menusukkan pisau ke jantungnya sendiri.


"Tadi saya di telepon sama Pak Kuncoro, rekan kerja yang begitu penting. Dia minta kamu dan saya makan malam bersama beliau dan istrinya. Lusa." Ucap Ken.


"Iya Ken."


"Kamu gaboleh pasang wajah mengenaskan itu lagi."


"Iya.."


"Bagus, kamu emang harus tetep nurut sama saya."


Hening, tak ada percakapan lagi diantara mereka. Harus nurut? Meskipun Ken terang terangan selingkuh? Gila? Memang, namun Dara bisa apa?


Hening, benar-benar tak ada lagi percakapan diantara mereka hingga kali ini Dara yang bersuara.


"Kamu udah makan?" Tanya Dara.


"Udah tadi." Balas Ken. "Kamar kamu udah saya pindah di kamar tamu. Kamu gausah lagi nempatin ruang pembantu itu." Tambah Ken.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Ya biar gak ribet kalo ada tamu kerumah, ada mama, tinggal kamu pindah ke kamar saya."


Dasar bodoh! Masih berharap Ken peduli? Masih berharap Ken khawatir?


Batin Dara lagi-lagi bersuara. Menghina kebodohannya sendiri.


"Selama dua minggu saya sewa pembantu buat urusin rumah. Kamu istirahat aja."


Lagi Dara mengangguk.


"Itu cairan infusnya udah abis." Ucap Ken menunjuk cairan infus Dara yang sudah kosong. Dara turun dari ranjang, ia hendak memanggil suster namun dihentikan Ken. "Biar saya aja yang panggil, kamu duduk."


Tak lama suster datang, ia tersenyum kepada Dara, tentu saja Dara membalas senyuman itu.


"Akhirnya dibolehin pulang." Ucap suster ramah.


"Iya sus." Balas Dara.


Suster dengan hati-hati melepas infus Dara, menutup bekas jarum infus tersebut dengan plester.


"Dokter berpesan, jangan terlalu stress, juga nona Dara jangan terlalu panik, sebenarnya kalau nona Dara bersikap tenang, pasti bisa melawan ketakutan itu." Ucap suster.


"Saya juga maunya gitu sus, tapi gabisa." Balas Dara dengan senyum terpaksanya.


"Apa engga sebaiknya ke psikiater? Terapi?"


Dara tak menjawab, ia hanya tersenyum dan menggeleng. Ken? Seolah tak peduli ia malah sibuk dengan handphonenya. Tak penasaran dengan apa yang mereka berdua perbincangkan, meski perbincangan mereka terbilang serius. Dara sempat melirik Ken, dan lagi-lagi ia menelan kekecewaan.


"Kalau gitu saya pulang dulu ya suster, terimakasih sebelumnya. Sampaikan salam saya ke dokter."


"Iya, jaga kesehatan."


Dara turun dari ranjang dengan membawa tasnya. Namun saat menghampiri Ken, pria itu meletakkan handphonenya kedalam saku, membawakan tas yang Dara tenteng tanpa mengeluarkan satu patah katapun seperti orang sariawan.


"Hati-hati di jalan tuan Adam dan nona Dara."


Di lorong rumah sakit Ken berjalan di depan Dara, gadis itu tidak bisa berjalan cepat-cepat karena masih merasa lemas, namun Ken tidak ada sedikitpun niat untuk menunggunya. Berjalan pelan di sampingnya.


"Sampai kapan aku natap punggung kamu terus? Aku pengen ada di samping kamu. Sejajar, membentuk garis horizontal, bukan vertikal." Bisik Dara. Ia tertawa lucu, bagaimana Ken bisa mendengarnya? Jarak mereka terlalu jauh, apalagi suara Dara begitu kecil.


"Kenan, tunggu, jalan kamu terlalu cepat, aku takut gabisa ngejar kamu, takut jatuh, takut lelah," bisik Dara lagi.


Seolah mendengar apa yang Dara ucapkan. Ken berhenti, membalikkan badannya 180°. Pria itu memutar bola matanya lelah. Apa karena jarak mereka terlalu jauh? Ken tidak suka menunggu Dara yang berjalan sangat lama?


"Dara jangan lelet!" Ucap Ken.


"Saya gabisa jalan cepet-cepet, masih lemes." Balas Dara hingga jarak mereka kembali dekat.


"Harusnya tadi bilang, kan bisa pake kursi roda. Kamu gatahu saya harus ke kantor? Saya masih ada kerjaan. Dan kamu buat molor jam kerja saya tahu! Nyusahin banget!" Omel Ken.


Dara mengambil alih tas yang ada di tangan Ken. "Kamu balik aja ke kantor, saya gapapa kok naik taksi Ken. Saya gamau ngerepotin kamu." Balas Dara.


"Kamu gapernah tahu rasa terimakasih ya?! Udah saya peduliin juga!"


"Kalo kamu sibuk gausah. Saya gapapa, saya bisa kok, saya bisa pulang sendiri naik taksi." Balas Dara.


"Emang bawa uang? Mau bayar pake daun naik taksi?"


"Ya kan bisa bayar di rumah."


"Kamu emang nyebelin ya Dara! Gapernah berhenti bikin saya muak! Terserah kamu, saya balik ke kantor. Urus diri kamu sendiri!" Kesal Ken.


Tanpa peduli jawaban Dara, Ken meninggalkan gadis itu. Gadis yang masih terpaku di tempatnya. Terpaku untuk lagi-lagi menatap punggung suaminya yang sayangnya benar-benar pergi meninggalkannya.


"Mau saya bilang jangan pergi pun kamu gaakan pernah denger Ken."


"Huft.. hati saya lagi-lagi sakit. Sesak. Kalau aja ada obatnya, mungkin bakal lebih baik."


Dengan langkah pelan Dara berjalan, meninggalkan rumah sakit. Berjalan ke jalan besar mencari taksi untuk mengantarnya pulang kerumah.


______


Ken tak berhenti membanting setir karena marah, ia bahkan mengumpat kesal. Semakin ia menolak, semakin ia tercekik dengan permainan yang ia buat.


Kenapa Dara selalu diam saat ia tindas? Kenapa gadis itu sangat lemah? Harusnya ia marah, ia berontak. Harusnya mereka bertengkar hebat, tapi kenapa? Kenapa Dara malah bersikap bodoh seperti tadi?


Bohong saat Ken kembali ke kantor, ia kembali ke rumah sakit, membuntututi mobil taxi yang ditumpangi Dara. Tentu saja Ken mengikutinya, kalau tidak ia tidak mengerti Dara langsung pulang atau melakukan hal aneh di belakangnya. Pikiran bodoh itu singgah di otak Ken karena ia tak pernah bisa tenang membiarkan Dara.


Dan saat mobil taxi sudah sampai di depan gerbang rumah mereka, Dara menyangking tas yang tadi sempat di bawa Ken kemudian mengatakan sesuatu kepada sopir. Setelahnya Dara masuk, sudah bisa ditebak, Dara sedang mengambil ongkos taxi.


Ken keluar dari mobil. Menghampiri sopir yang masih berada di dalam mobil.


"Pak, berapa ongkosnya?"


"Enam puluh ribu pak."


Ken memberikan selembar seratus ribu kepada sang sopir. "Kembaliannya ambil aja." Balas Ken. "Langsung pergi aja pak gapapa, istri saya lagi sakit, jadi langsung saya suruh istirahat aja."


"Baik pak, terimakasih banyak."


"Iya.."


Sebelum melihat Dara keluar, Ken menghampiri sopirnya yang mungkin tidak melihat Dara memasuki gerbang mereka. Sopir Ken tengah membersihkan mobilnya.


"Pak."


"Loh tuan Adam.."


"Bapak masuk, Dara suruh cepet istirahat, tadi dia pulang naik taxi, udah saya bayar. Bilang aja bapak yang bayar. Kalo Dara kasih uang ganti ke bapak terima aja. Saya ke kantor dulu pak. Udah telat." Oceh Kenan beruntut tanpa memberi jeda sedikitpun, pria itu bahkan berada di depan gerbang.


"Iya tuan saya langsung masuk."


"Oke makasih pak."


Kenan berlari menuju mobilnya, segera meninggalkan rumahnya untuk ke kantor karena dia benar-benar terlambat.


Sampai saat ini Kenan bahkan tidak mengerti, ia benci Dara, ia tahu betul Dara adalah gadis munafik, gadis yang sangat licik, namun Kenan tidak ingin Dara menjadi leluasa mencari perlindungan sehingga kabur dari permainan yang ia buat. Hanya Ken yang harus menjadi tempat Dara berlindung. Setelah permainan mereka sampai di puncak, baru Ken akan menghempaskan Dara pergi dari kehidupan. Memulai hidup baru yang selalu ia nanti-nantikan selama ini.


Dara, sampai kapan kamu menyembunyikan topeng kamu dari saya? Bersikap pasrah, selalu mengalah, diam saat saya menghakimi kamu, selalu terlihat bodoh dan naif. Itu bukan kamu. Kamu yang asli adalah seekor rubah. Tunjukkan! Agar orang yang saya cintai muncul dan membuat kamu pergi dari hidup saya. Biarkan saya bahagia dengan gadis yang saya cintai Dara!


- To be continue -