Anemone

Anemone
12 - Kesalahan



Ken bangun lebih awal, ia sempat tidur dua jam karena kepalanya pening. Kini air shower membasahi tubuhnya. Bukannya amnesia, Ken ingat dengan jelas apa yang ia lakukan subuh tadi dengan Dara istrinya. Tak bisa Ken lupakan hal itu, desahan, erangan, suara tertahan, bahkan napas lembut Dara yang menerpa dadanya saat ia menindih gadis itu. Semuanya nikmat. Munafik jika Ken memungkirinya karena hingga kini, percintaannya dengan Dara adalah yang terbaik.


Ken juga bisa ingat jelas percakapannya dengan Dara subuh tadi.


"Ken saya takut.."


"Takut kalau kamu sadar kamu marah, takut kamu maki saya karena saya gak pergi saat kamu mabuk dan seperti ini. Saya yakin kalau kamu sadar kamu pasti jijik banget ngelakuin ini sama saya Ken. Kamu harus sadar Ken."


Bibir Ken tersenyum mengejek jika mendengar penuturan Dara. "Selama ini saya nahan. Semua laki-laki selalu tergoda akan kamu Dara, meski saya benci kamu, tidak bisa saya pungkiri saya juga tergoda dengan kamu. Itulah yang membuat saya semakin benci kamu. Kenapa saya harus tergoda? Padahal ada gadis yang saya tunggu dan saya cintai." Ucap Ken.


Selesai mandi, Ken keluar dari kamar, bersamaan dengan Dara yang juga baru saja menutup pintu yang tepat berada di samping kamar Ken. Keduanya kompak terdiam untuk beberapa saat. Apalagi Dara yang langsung terlihat bingung.


"Kenapa dengan mata kamu? Kenapa bengkak gitu?" Tanya Ken. Dara menyentuh salah satu matanya, kemudian menunduk lebih dalam. Ia enggan untuk menjawab pertanyaan Ken. Seolah tahu, Ken kembali bersuara. "Nangis lagi? Kamu sering banget nangis? Cengeng." Ejek Ken. Meski dalam hati Ken bertanya-tanya alasan Dara menangis. Apa karena dirinya? Karena kejadian tadi? Sudah jelas iya!


"Udah sarapan?" Tanya Ken karena sedari tadi Dara hanya bungkam seolah Ken berbicara pada patung hidup.


"Belum." Balas Dara akhirnya mau bersuara.


"Yang bantu kita namanya bu Anis. Mungkin dia udah beres bikin sarapan. Kita sarapan, setelah itu kamu ikut saya beli lensa kamera."


"Kamu ajak saya sarapan bareng?"


"Saya gak mau bu Anis tahu keadaan rumah tangga kita. Gausah besar kepala." Cetus Ken. Kecewa tentu saja, terlihat jelas pada garis wajah Dara. "Kecuali kamar, bu Anis ngerjain semua pekerjaan rumah selama dua minggu, sampai kamu sembuh total." Jelas Ken dan langsung mendapat anggukan dari Dara. "Ayo sarapan." Lagi Dara hanya mengangguk.


Langkah Ken pelan diikuti Dara dari belakang. Sikap Ken seolah tak ada yang terjadi, cukup melegakan bagi Dara karena jika sampai Ken ingat apa yang mereka lakukan, pasti Ken akan marah-marah dan mencaci maki dirinya. Sejauh ini itulah yang di pikirkan Dara. Ia tidak tahu bahwa Ken ingat semuanya, tak ada yang Ken lupakan hanya karena mabuk. Ia tak mabuk berat subuh tadi sehingga semuanya masih jelas terekam di otak pria itu. Karena saat ia putuskan untuk melakukannya bersama Dara, Ken sudah sadar.


Anis, asisten rumah tangga mereka merasa aneh dengan tingkah laku sepasang suami istri di meja makan tersebut. Tak ada perbincangan antara keduanya. Hanya sesekali suara dentingan sendok dan piring. Anis sesekali memperhatikan keduanya dari dapur yang langsung terhubung dengan meja makan. Ia tengah mengelap piring dan gelas yang baru ia cuci barusan.


Anis kira keduanya tidak akan berbicara, namun setelah makanan habis, baru Ken bersuara. Mungkin sudah tradisi bagi mereka untuk tidak berbicara saat makan. Pikir Anis. Kecurigaan itu lenyap seketika.


"Ikut saya beli lensa kamera." Ucap Ken to the point.


"Iya." Balas Dara yang bingung Ken mengajaknya. Namun Dara hanya mengiyakan saja. Toh ia bosan berada dirumah.


"Nanti beli lensa kamera pake motor." Ucap Ken lagi.


"Iya Ken." Balas Dara sambil menyodorkan segelas air untuk Ken.


"Kamu gapapa? Nanti kepanasan? Saya engga bawa mobil karena lagi di service sama pak Supri. Makanya saya ajak kamu biar ada yang megangin lensanya nanti." Jelas Ken.


"Gapapa kok."


"Yaudah siap-siap."


"Sepagi ini? Apa udah buka? Bukannya bukanya jam 10?"


"Sekalian jalan-jalan. Mau motret. Udah lama gak megang kamera." Jelas Kenan


Dara ber oh ria, ia buru-buru naik ke tangga untuk menuju kamarnya yang baru saja pindah. Begitu bersemangat untuk pergi bersama Ken, padahal subuh tadi ia menangis karena pria itu. Namun setelah Ken mengajaknya pergi jalan-jalan, ia sangat senang seolah lupa telah menangis. Mungkin karena ia jarang menghirup udara luar semenjak menikah dengan Ken.


Celana jeans dan kaos pink oversize menjadi andalan Dara untuk bersantai. Ia juga memilih jaket putih untuk ia pakai karena mereka berkendara motor. Digelungnya rambut panjang Dara hingga berbentuk cepol. Tak lupa memakai bedak dan lipstick untuk mewarnai bibirnya. Meski tanpa lipstickpun bibir Dara sudah merah, namun apa salahnya ia dandan? Ia tak ingin mengecewakan Ken membawanya jalan-jalan dengan wajah kucel. 


Selesai mengganti pakaian, Dara keluar kamar, bersamaan dengan Ken yang usai menyiapkan tas kameranya. Ia dan Dara saling berhadapan, lagi Ken mengumpati dirinya sendiri. Kenapa? Kenapa Dara secantik ini? Dara hanya melakukan perubahan pada dirinya. Lagi-lagi Ken berseteru dengan hatinya.


"Udah Ken?" Tanya Dara dengan riangnya.


"Kenapa girang gitu?" Tanya balik Ken.


"gapapa, seneng aja bisa jalan-jalan. Soalnya saya bosen dirumah terus." Balas Dara.


Tentu saja bosan, karena kemana-mana Dara harus minta izin Ken, itupun jika Ken mengizinkan. Jika tidak, Dara hanya bisa diam. Jarang-jarang Ken mengizinkannya keluar rumah. Dara mendapat izin Ken keluar rumah dalam sebulan saja bisa dihitung dengan jari.


"Yaudah ini pegang tasnya." Ucap Ken menyerahkan tas kamera kepada Dara.


Dengan senyum yang tak pudar, gadis itu menerima tas yang Ken berikan. Mengikuti langkah Ken dari belakang.


Setelah berpamitan dengan bu Anis, keduanya keluar dari rumah. Motor Ken sudah terparkir di pelataran karena pak Supri sudah menyiapkannya sejak Ken meminta tolong padanya. Ken menyerahkan helm kepada Dara, karena sibuk memegangi tas kamera Ken. Tanpa aba-aba pria itu memasangkan helm tersebut ke kepala Dara. Menutup kacanya saat mata Dara tak berkedip menatapnya. "Gausah melotot gitu liatin saya." Ucap Ken ketus.


"Saya enggak melotot kok." Balas Dara mengelak. Sebenarnya ia sangat gugup.


"Udah naik! Bisa enggak?"


"Bisa."


"Pegang tangan saya, kalo kamu jatuh, kasian kamera saya." Ujar Kenan. Dara manyun mendengar penuturan Ken. Sadar bahwa Ken lebih sayang kepada kamera dibanding dirinya. Perlahan Dara menggenggam tangan Ken untuk bantuannya naik. Setelah posisinya sudah siap, Ken menjalankan motornya pelan.


Di tengah perjalanan Ken berujar. "Pegangan."


"Apa Ken?"


"Pegangan." Ulang Ken sedikit keras. Memang saat mengendara motor, telinga kadang suka budek. Jadi tidak heran saat berbicara harus mengulang-ulang.


Dara ragu-ragu, ia memegang pinggang Ken dengan meremas jaketnya. Namun Ken kembali bersuara, "Pegangan yang bener. Saya gabisa ngebut, takut kamu jatuh." Ujar Ken.


"Ck!" Ken berdecak, dengan sekali tarikan Ken menarik pergelangan tangan Dara untuk melingkar memeluk perutnya. Pipi Dara sampai menabrak punggung Ken. Dan sedetik kemudian Ken mengebut.


Jantung Dara berdetak cepat, bukan karena Ken mengebut. Melainkan karena saat ini ia memeluk Ken secara tidak langsung dari belakang.


"Aku sayang kamu Ken." Bisik Dara yang tentu saja di makan angin, mustahil untuk di dengar.


Tak lama mereka sampai di sebuah taman kota yang terdapat banyak sekali pengunjung. Terbukti dari motor yang terparkir di sana sangat banyak. Mungkin karena hari weekend.


Dara turun dari motor, tidak bertanya kenapa Ken memilih tempat ramai untuknya memotret, Dara hanya diam memperhatikan Ken memarkir motor sportnya, cukup terkejut saat Ken melepaskan helm yang baru disadari juga masih melekat di kepala Dara.


"Gak mungkin kan kamu pake helm masuk kesana?"


Dara membalasnya dengan senyuman kikuk. Ken berjalan lebih dulu, diikuti Dara di belakangnya. Pasangan ini terlihat paling dingin di banding pasangan lain yang juga berkunjung di taman tersebut. Dara sempat iri dengan pasangan yang ada disana.


Ken membawa Dara untuk masuk ke kawasan taman bunga, dan dari situ Dara tahu bahwa objek Ken adalah bunga.


"Ken, ada bunga anemone disana." Tunjuk Dara antusias.


"Sayangnya itu bunga palsu. Saya gamau potret bunga palsu." Balas Ken. Dara mengangguk anggukkan kepalanya mengerti.  "Kenapa kamu suka bunga itu?" Tanya Ken kemudian, ia penasaran kenapa Dara suka sekali bunga itu. Padahal maknanya tak seindah bunganya.


"Gatahu, tiba-tiba suka. Bunganya indah."


"Kamu tahu arti bunga Anemone?"


"Enggak."


"Tapi kamu suka?"


"Kan suka gak berarti harus tahu Ken."


"Itulah kamu Dara, kamu harus kurangi sifat naif kamu. Jangan terlalu percaya sama orang. Orang yang kamu anggap baik belum tentu dia baik sama kamu. Makanya saya selalu bilang, orang naif selalu dirugikan."


"Saya suka bunga Anemone karena kamu yang kasih bunga itu ke saya saat kita nikah. Makanya saya suka. Karena kamu yang kasih."


Mendengar penjelasan terakhir Dara membuat Ken tak lagi bersuara. Ia menghembuskan napasnya dan mengambil kamera dari dalam tas yang Dara pegang.


"Mau jadi model saya hari ini?" Tanya Ken mengalihkan pembicaraan.


"Kamu bukannya mau fotoin bunga? Saya gabisa, dan hari ini saya juga pakai baju biasa gini." Balas Dara memperlihatkan pakaian santainya yang hanya memakai jeans dan kaos oversize.


"Kalo gamau bilang aja, gausah belibet."


Rasa tidak enak muncul setelah Ken berucap sinis kepadanya, bola mata Dara bergerak kekanan dan kekiri, berpikir apa yang harus ia lakukan. Sampai Ken hendak pergi memotret, Dara menahan lengan suaminya membuat Ken berhenti dan melirik ke belakang. "Saya mau Ken, tapi kalo hasilnya jelek jangan marahin saya."


"Yaudah ayo ikut."


"Janji jangan marahin saya."


"Iya Dara, jangan cerewet. Buruan."


Dengan semangat Dara membuntuti Ken. Mengelilingi taman yang tampak ramai pengunjung. Ada yang bahkan membawa karpet dengan gambar hewan digelar untuk mengadakan tamasya kecil-kecilan. Ada juga sepasang kekasih memakai pakaian couple dan bersikap romantis satu sama lain. Berpegangan tangan, saling rangkul, tersenyum malu-malu dan bercanda satu sama lain.


Melihat pasangan lain yang terlihat bahagia itu membuat Dara ikut merasakan kebahagiaan mereka juga. Mungkin hanya dirinya dan Ken yang berjalan beriringan, tak berpegangan tangan, tak bercanda atau hal lain yang dilakukan pasangan pada umumnya. Namun Dara tetap senang, ia bisa bersama Ken tanpa harus bertengkar. Berjalan di belakangnya, mengikuti jejak langkah panjang Ken membuat hati Dara bahagia. Kebahagian Dara memang tak mahal, tak menuntut banyak hal, mungkin bahagianya bisa dianggap sangat murah.


Dara terus berjalan hingga tak sadar Ken berhenti mendadak, membuat dirinya menabrak punggung pria itu. Cukup keras membuat ia meringis memegangi keningnya. Karena terkejut, reflek Ken berbalik.


"Kamu gak papa?" Tanya Ken menangkup wajah Dara untuk melihat jelas kening Dara yang baru saja menabrak punggungnya itu. Ken menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dan Dara.


Jarak wajah mereka sangat dekat, hanya butuh beberapa senti lagi untuk hidung mereka saling bersentuhan. Dara menahan napasnya, ia gugup saat memperhatikan mata Ken. Ia perhatikan tak ada yang berubah dari mata itu, tapi tatapannya sangat berbeda dari Ken yang dulu, namun sekarang Dara melihat tatapan mata Ken yang dulu lagi. Sudah tidak bisa di gambarkan betapa gugupnya Dara.


Ken meniup keningnya lembut, lagi-lagi membuat Dara semakin memerah. "Yang nabrak punggung saya itu kening kamu, kenapa pipinya yang merah sih?" Tanya Ken menatap mata Dara.


Ternyata tak hanya Dara, Ken juga merasakan hal yang sama. Mata Dara sangat indah, padahal tidak ada polesan make up pada mata itu, tapi kenapa begitu indah? Untuk sesaat Ken terkunci, betah menatap mata Dara tanpa berkedip.


"Bernapas Dara, sampai kapan kamu nahan napas gitu? Kalo kamu mati saya yang repot." Ucap Ken dengan suara pelan. Dara baru ingat kalau dirinya tak bernapas, ia langsung menghembuskan karbondioksida itu dari lubang hidungnya, menelan ludah karena Ken tidak kunjung menjauh dari wajahnya yang sudah sangat memerah karena malu.


"Hmm Ken, maaf nabrak punggung kamu." Ucap Dara pelan.


"Kenapa minta maaf?"


"Karena saya salah."


"Dasar bodoh." Umpat Ken, Namun tak disangka-sangka, setelah mengumpat, yang dilakukan Ken malah menempelkan bibirnya pada bibir Dara. Mengecup hingga akhirnya *******, Dara reflek meremas hoodie yang dikenakan Ken. Menutup rapat matanya.


Apa ini mimpi? Kenapa lagi dengan Ken? Kenapa tiba-tiba?


Ken melepas ciumannya, langsung menjauhkan wajahnya dari Dara seraya berkata. "Lupakan, ini kesalahan, hanya ciuman biasa." Ucap Ken yang lolos membuat hati Dara terluka.


Kesalahan? Tanya Dara dalam hati.


- To be continue -