Anemone

Anemone
01 - Tentang Kita



Masakan di atas meja sudah terhidang, satu jam yang lalu wanita berusia dua puluh dua tahun itu usai menyiapkan makanan untuk suaminya Kenan. Usia pernikahan mereka hampir menginjak bulan ke lima. Desember lalu mereka menikah setelah mengenal beberapa bulan. Semoga saja suka, doa itu selalu menjadi doa Dara.


Pintu utama ruang tamu terketuk, Dara terdiam cukup lama, seperti biasa ia merasa gugup saat sang suami pulang. Ia berjalan kearah pintu utama. Meski kakinya sedang sakit, ia berusaha untuk menutupinya, ia tak ingin Kenan tahu jika kakinya bengkak.


Cklek, pintu terbuka setelah Dara memutar kunci lalu membuka kenop pintu. Sosok pria tegap ada di hadapannya. Kenan Adam, pria yang biasa di panggil Ken olehnya, meski Ken berjarak lima tahun lebih tua dibanding dirinya, tak ada embel embel kak, mas, atau abang yang di ucapkan Dara. Karena saat pertama kali bertemu ia sudah terbiasa dengan panggilan Ken.


"Lama banget buka pintunya!"


Sudah biasa, bentakan itu sudah biasa Dara terima.


Dara tersenyum, ia mengambil alih tas Ken yang di dalamnya berisi laptop serta kamera yang selalu Ken bawa ke tempat kerjanya. Ken adalah seorang pemilik agensi entertaiment bergengsi di ibu kota. Meski belum sukses besar, namun agensi milik Ken sudah terbilang lancar meski setahun berjalan.


"Iya tadi habis dari dapur."


Ken masuk dengan kesal, ia duduk di sofa untuk sekedar menyenderkan punggungnya. Handphone menjadi mainannya saat ini. Namun matanya menatap sinis wanita yang tengah berdiri dengan menenteng tasnya tepat di hadapannya. Isterinya Dara.


"Ngapain masih disini? Gamau pergi? Mau ganggu saya?"


"Bukan Ken, saya tadi masak makan malam. Kamu gak lapar?" Tanya Dara.


Tidak heran percakapan mereka terlihat aneh. Karena memang Ken dan Dara menyebut dirinya sendiri dengan sebutan 'Saya'. Hubungan mereka tak dekat meski mereka sepasang suami isteri. Bahkan mereka tidak tidur satu ranjang bahkan satu kamar yang sama karena perintah Ken. Pernah mereka satu ranjang, saat malam pertama mereka, saat Ken adalah orang pertama bagi Dara. Namun setelah itu Dara tak mendapat sentuhan lagi dari Ken, hingga sekarang.


Jika ditanya benarkah mereka tak pernah dekat? Tentu saja jawabannya pernah, sebelum Ken menyunting Dara sebagai isterinya, mereka pernah sedekat nadi, Ken tak seburuk sekarang kepada Dara. Ia tak pernah berbuat kasar kepada Dara, tak pernah berkata kasar, seperti bukan Ken yang dulu, seperti Ken berubah menjadi orang lain. Namun Dara yang sudah berikrar, ia dengan naifnya beranggapan bahwa suatu saat Ken pasti kembali seperti dulu. Dara tetap menunggu.


"Saya sudah makan sama tim tadi. Kamu ke kamar saya aja, taruh tas, siapin air hangat buat saya mandi." Ucap Ken dingin.


Cukup kecewa, makanannya tak akan tersentuh Ken. Dara menelan rasa kecewa itu. Lagi bibirnya tersenyum. Ia mengangguk dan pergi dari hadapan Ken. Ia menaiki tangga untuk menuju kamar Ken. Kamar Ken terletak di lantai dua. Dara berani memasuki kamar Ken saat pagi dan malam, karena saat pagi jika Ken belum bangun karena alarm yang di setelnya, Dara yang bertugas membangunkan Ken, kalau malamnya, ia yang menyiapkan air mandi Ken dan manaruh tas kerja pria itu. Hanya sebatas itu, pagi saat Ken mandi, Dara menyiapkan pakaian pria itu sambil membersihkan kamarnya. Dara akan sangat senang jika Ken melewatkan alarmnya, karena itu kesempatannya untuk membangunkan Ken. Hanya itu saja sudah membuat Dara sangat bahagia. Menyedihkan, namun Dara bisa apa? Ia tak bisa melakukan apa-apa selain diam dan menunggu keajaiban datang padanya.


Wangi Ken, Dara betah berada di dalam kamar pria yang tak lain suaminya itu. Dara meletakkan tas kerja Ken di atas meja dan menyiapkan air mandi Ken. Ia tak bisa terus terusan berada di dalam kamar itu jika tidak mau Ken seret.


"Dara sudah disiapkan air mandi saya?" Tanya Ken saat pria itu memasuki kamarnya.


"Sudah Ken." Jawab Dara dari dalam kamar mandi. Ia buru-buru keluar dari kamar suaminya.


"Dara." Panggil Ken sebelum isterinya benar-benar pergi dari kamarnya.


"Iya?"


"Besok saya harus ke luar kota selama dua hari. Pagi pagi sekali siapkan perlengkapan saya."


"Iya."


"Saya juga mau sarapan roti selai kacang."


"Iya."


"Jangan lupa bangunkan saya."


Dara mengangguk. Ken terdiam cukup lama, kemudian mengibaskan tangannya beberapa kali. "Sana pergi."


Dara tersentak, ia langsung berbalik badan dan keluar dari kamar suaminya. Tidak lupa menutup pintunya rapat.


Dara turun, ia memasuki kamarnya yang ada di lantai satu. Kamarnya di lantai satu memang tidak besar karena bukan kamar utama. Bekas kamar pembantu mereka yang hanya sebulan bekerja. Setelah itu Ken memecatnya, dan membuat kamar pembantu itu menjadi kamar isterinya. Memang barang yang ada di dalamnya bukan barang pembantu, melainkan isi barang dari kamar tamu yang ada di lantai dua. Ken menyuruh Dara tinggal di lantai satu karena tidak ingin berada dekat dengan isterinya itu. Awalnya Dara menangis, ia tidak menyangka Ken akan berubah sedrastis itu. Namun karena Dara adalah wanita bodoh, lambat laun ia hanya pasrah dan bersabar.


_____


"Ken bangun, udah pagi." Ucap Dara membangunkan suaminya.


"Ken, Udah pagi."


Pria itu terbangun, Dara buru-buru memundurkan langkahnya takut-takut Ken marah karena jaraknya dan Dara terlalu dekat.


"Saya udah siapin air hangat buat mandi, udah siapin perlengkapan kamu buat keluar kota." Ujar Dara.


Ken tak menjawab, pria itu turun dari ranjang, mengabaikan Dara dan masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri.


Melihat Ken masuk ke dalam kamar mandi, buru-buru Dara menyiapkan pakaian untuk Ken. Setelahnya ia langsung membuatkan roti selai kacang yang sudah di pesan suaminya itu semalam.


Lega saat Dara sudah menyiapkan semua keperluan tepat waktu. Ia harap pagi ini tak mendengar bentakan atau amarah Ken pada dirinya.


Saat hendak berangkat, Dara membantu memasukkan koper Ken kedalam bagasi.


"Saya udah transfer ke rekening kamu. Terserah mau dibuat apa. Kirim lokasi setiap kamu pergi ninggalin rumah ini." Ucap Ken.


"I..iya ken."


"Saya bakal tahu setiap kamu bohong. Jadi jangan coba-coba buat bohongin saya." Tekan Ken sekali lagi.


"I..iya."


Ken berbalik, memasuki mobilnya dan pergi dari halaman depan rumah mereka. Dara tak berhenti menatap mobil hitam milik suaminya. Mungkin selama dua hari ia akan merindukan suaminya itu.


Ia ingin ada Ken di sampingnya saat ia berulang tahun. Umurnya akan menginjak dua puluh tiga tahun sebentar lagi. Ia harap Ken mengingat ulang tahunnya. Karena, Ulang tahunnya dan Ken bersamaan. Dara ingat, tapi entah Ken. Ia masih ingat atau sudah lupa akan ulang tahunnya.


_____


Ken melihat lokasi tempat modelnya akan melakukan pemotretan. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya untuk menghalau sinar matahari yang berlebihan menembus indera penglihatan pria itu. Lokasi saat ini berada di outdoor sehingga tidak heran lokasinya sangat panas.


Boss tampan, itulah julukan Ken di dunia kerja. Pria itu sangat populer. Bagaimana tidak? Wajah tampan, dan sikap profesionalnya saat bekerja membuat siapapun bertekuk lutut di hadapannya. Siapa yang tidak mau menjadi pasangan Ken? Dijadikan istri keduapun mereka sanggup. Bukannya tidak mengerti Ken sudah punya istri. Para wanita malah tertantang akan hal itu.


"Lokasinya cukup bagus, segera siapkan propertynya." Ucap Ken kepada sekertarisnya.


"Baik pak Ken."


"Kepada tim berkumpul sebentar." Ucap Ken menepuk tangannya berkali-kali untuk menarik perhatian tim yang masih sibuk sendiri agar memperhatikan intruksinya.


Semua orang berkumpul di hadapan Ken, "Saya hanya dua hari disini, jadi maksimalkan pekerjaan, saya harap besok sore saya sudah bisa pulang." Ucap Ken.


"Siap boss!" Seru tim serentak.


"Saya ke hotel dulu. Urus segala sesuatunya. Jangan lupa makan siangnya." Ucap Ken.


Ken pergi menghampiri mobilnya, ia kembali ke hotel untuk beristirahat. Sudah waktunya jam makan siang.


Di dalam kamar hotel, ia memesan Junk Food sebagai menunya karena ia sedang malas pergi ke restoran. Ia makan sambil memantau handphonenya yang tak ada satupun pesan dari Dara istrinya. Apa ia tak kemana-mana? Pikir pria itu.


Ia mengirimi Dara sebuah pesan.


To : Dara


Kamu dirumah aja hari ini?


From : Dara


Iya Ken, gatahu mau kemana.


To : Dara


Jangan lupa share lokasi kalo keluar dari rumah.


From : Dara


Iya Ken.


Ken melempar handphonenya ke atas sofa sebelahnya duduk. Ia menghembuskan napas lelah. Pekerjaannya hari ini menguras tenaga. Dara, ia memikirkan istrinya. Ia takut Dara keluar tanpa seizinnya. Itu salah satu alasan kenapa Ken buru-buru ingin pulang.


Tidak berhenti sampai sana, Ken kembali meraih handphone yang beberapa detik lalu ia lempar. Ia mencari kontak istrinya dan langsung menggeser tombol berbentuk gagang telephone. Ia tengah menelfon Dara.


"Halo, iya ken?"


"Kamu dimana?" Lagi, Ken memastikan dimana Dara berada.


"Dirumah, emang kenapa Ken?"


"Kamu tahu kan saya gasuka kamu keluar rumah tanpa izin? Tanpa sepengetahuan saya?"


"Iya tahu, tapi sekarang beneran lagi ada dirumah. Bersih-bersih lemari. Nata baju juga."


Ken tidak menjawab, ia cukup lega Dara benar-benar tidak berbohong. Meski Ken tahu Dara tidak berani membohonginya, wanitanya itu takut padanya.


"Kamu gakerja? Udah makan siang belum?"


"Bukan urusan kamu."


Tut


Ken langsung menutup sambungan telephonenya. Ia tidak bisa mendengarkan suara Dara terlalu lama jika tidak ingin segera pulang dan melihat wanita itu.


Ken mencintainya?


Mungkin,


Tapi kenapa ia seperti tidak peduli?


Karena dia sedang berusaha untuk membuang jauh-jauh niat mencintai wanita bernama Dara itu.


Tapi kenapa mereka menikah?


Karena sebuah tuntutan. Ken, harus menikahi Dara. Tapi tidak untuk mencintainya.


- To be continue -