Anemone

Anemone
20 - Mengenang



Ken melihat Dara tengah terlelap disampingnya dengan selimut yang pramugari beri padanya setengah jam lalu. Diperhatikan lagi dan lagi tak ada yang berubah dari wajah Dara. Seolah wanita itu tak semakin tua. Tak pernah memakai make up, selalu tampil apa adanya, dan yang membuat semua kaum hawa iri adalah Dara tetap cantik dengan wajah polosnya itu. Bibir merah, bulu mata yang lebat, hidung mancung tanpa harus di beri shading dan yang terpenting kulit putih susunya yang entah menurun dari siapa. Kenapa istrinya secantik ini? Dan Ken masih mengkhianati perasaannya yang selalu memuja wanita disampingnya. Dari dulu hingga sekarang.


"Apa anda butuh sesuatu?" Tanya seorang pramugari yang sedang memergoki Ken menatap dalam wanita disampingnya.


Takut Dara terbangun karena suara pramugari itu, Ken memberi isyarat untuk diam kepada pramugari dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir. Sang pramugari tersenyum ramah kemudian pergi. Ken membenarkan selimut yang Dara pakai secara perlahan.


"Kenapa harus kamu yang nyakitin dia Dara?" Tanya Ken pelan nyaris tak terdengar. Ia kembali memposisikan dirinya untuk duduk bersandar. Tak mau tenggelam dalam perasaan yang selalu sama.


Pesawat hendak mendarat, pengumuman untuk memakai sabuk sudah di kumandangkan. Pramugari juga mengelilingi seluruh pesawat untuk mengingatkan para penumpangnya memakai sabuk pengaman. Dara yang kala itu masih tertidur Ken bangunkan pelan.


"Dara bangun, pakai sabuk kamu." Ucap Ken pelan.


Dara terkejut, ia langsung terbangun dan memindahkan selimutnya. Memasang sabuk pengaman dengan susah payah karena ia harus mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu. Melihat itu Ken tidak sabar, ia membantu Dara memasang sabuk pengaman. Tak sampai setengah menit Dara sudah selesai dengan sabuknya.


"Masih pusing?" Tanya Ken. Dibalas anggukan Dara. "Butuh minum engga?" Kembali Dara mengangguk.


Ken menyerahkan botol minum kemasan kepada Dara, membukakan tutup botolnya terlebih dahulu. Dara meminumnya pelan, sampai setengahnya ia meminta tutup botol kepada Ken untuk menutupnya, namun Ken malah mengambil botol yang Dara pegang dan menutupnya sendiri. Meletakkan botol air itu di dekatnya karena tak bisa banyak bergerak dengan kondisi sabuk pengaman yang melilitnya.


Dara cukup heran dengan perilaku Ken yang menurutnya berbeda dari biasanya. Hal itu membuat senyum Dara mengembang, apa sekarang Ken mau memperhatikannya lagi? Pikiran positif menyerang otak gadis itu saat ini.


Setelah pesawat berhasil mendarat dengan selamat, Ken dan Dara turun. Berjalan berdampingan menuju gedung bandara. Sebelum itu mereka harus menunggu koper mereka, mengambilnya dan keluar dari gedung tersebut.


Sebuah mobil ternyata sudah menunggu mereka, mungkin pak Kuncoro yang mengirimkan mobil tersebut untuk mereka tumpangi. Dan sudah pasti tujuan mereka adalah hotel yang sudah di sediakan.


Saat di tengah perjalan, Dara sangat terkejut karena sadar ia ada kota asalnya. Kota tempat orang tua Ken tinggal juga. Yang membuat Dara menyadari tempat itu, adalah taman yang menjadi tempat mereka bertemu. Dara melirik Ken yang masih memasang wajah datarnya memandang luar jendela. Awalnya Dara hendak mengajak Ken berbicara, namun melihat ekspresi wajah datar dan dingin itu membuat Dara urung melakukannya. Takut-takut suasana hati pria itu sedang tidak enak.


"Kamu mau bilang sesuatu? Kenapa gak jadi?" Tanya Ken tiba-tiba.


"Engga kok."


"Kenapa engga?"


"Karena saya tahu apa yang saya omongin ntar bikin kamu bad mood mungkin?"


"Kamu mau ngomongin apa?"


Dara menunduk, ia menggeleng pelan menatap taman kota yang semakin indah. Ken mengikuti arah tatapan Dara tertuju. Melihat itu Ken sudah tahu Dara hendak membicarakan mereka yang dulu. Awal pertemuan, kenangan mereka yang tak sedingin saat ini.


"Kita pernah menangis, tertawa, bahkan sedih disini. Kamu mau ngomong itu?" Tanya Ken.


Dara kembali menatap Ken, dengan mata yang sudah mengambang akan air mata. Gadis itu tersenyum dengan anggukan kepala pelan. "Saya gatahu kenapa kata 'aku' diantara kita berubah jadi 'saya'. Saya gatahu sejak kapan kita jadi sangat jauh. Berulang kali saya bertanya apa kesalahan saya ke kamu. Tapi sekeras apapun saya berpikir, saya gak nemu jawabannya Ken." Jelas Dara.


"Kamu gak pernah salah Dara, diantara kita, saya yang salah karena terjebak oleh kamu di masa lalu. Saya yang salah karena melupakan siapa yang ada di hati saya karena bertemu sama kamu. Karena itu saya marah. Kenapa saya harus jatuh pada pesona kamu?"


Dara tak bisa mengerti dengan penjelasan Kenan. Dara hanya bisa diam mencerna baik-baik apa yang Ken ucapkan. Sekeras apapun ia berusaha mengerti, tetap saja ia tak bisa mengerti.


"Maaf Ken." Ucap Dara pelan.


"Kenapa kamu minta maaf bodoh!" Ejek Ken.


Dara menggeleng, "Saya gatahu, yang terlintas di otak saya cuma kata itu. Saya sadar udah ngerepotin kamu selama ini, saya juga sadar sudah jadi beban hidup kamu, tapi saya akan berusaha keras buat gak bikin kamu marah, buat gak bikin kamu repot lagi. Maaf Ken udah jadi istri yang gabisa bahagiain kamu." Jelas Dara dengan menahan sesak di hatinya. Ia bahkan menahan air matanya untuk tidak jatuh menetes.


"Kamu sudah sadar salah satu kesalahan kamu Dara." Balas Ken dengan sangat dingin.


Tanpa melirik ke arah Dara, ken menjawab, "harus, kamu harus berusaha lebih keras lagi." Balasnya sebagai penutup obrolan mereka.


___________


Setelah menempuh jarak cukup lama dari bandara ke hotel, akhirnya mereka sampai tepat pukul enam sore. Di hotel mereka langsung siap-siap untuk ke restoran. Yang mandi pertama adalah Ken, setelah itu disusul Dara. Tak butuh waktu lama untuk mereka bersiap-siap. Dara yang hendak memoles make up kesusahan memasang resleting gaunnya yang ada di punggung.


Ken yang memainkan handphone di tepi ranjang terlihat sedikit jengah karena Dara tak kunjung bisa memasang resleting gaunnya, ditambah tak ada kata tolong kepada Ken. Lelah memperhatikan istrinya yang sibuk sendiri itu akhirnya Ken memilih untuk membantunya.


Ken berdiri dari duduknya, meletakkan handphone yang ia genggam untuk kemudian mengarah pada Dara, membantu menaikkan resleting gaun gadis itu.


Dari pantulan kaca, Dara melihat Ken yang berada dekat sekali dengan posisinya. Seketika Dara berubah menjadi patung, terlalu gugup sehingga ia lupa untuk bernapas.


Mata tajam Ken tak luput memperhatikan Dara juga dari pantulan cermin, dan alhasil mata mereka saling tatap lewat kaca tersebut. Ide jahil terlintas di otak Ken. Senyum mengejek Ken tunjukkan terang-terangan. Ken menarik pinggang Dara, memeluk perutnya dari belakang sehingga tak ada jarak sedikitpun antara mereka. Punggung Dara benar-benar menempel dengan dada bidang Ken. Hal itu semakin membuat Dara gugup.


Tak cukup sampai di sana, Ken menyingkirkan rambut Dara yang menutupi leher gadis itu. Mencium pelan leher Dara, sensasi aneh Dara rasakan. Ia sampai memejamkan mata saking gugupnya. Tangannya bergetar tanpa alasan. Setelah merasakan bibir Ken berada di lehernya, kini bibir itu bersemayam di telinga Dara.


"Bernapaslah bodoh." Bisik Ken.


Kedua mata Dara terbuka, ia ingat bahwa dirinya tak bernapas sedari tadi. Dihembuskannya karbondioksida itu dari bibir Dara. Nyatanya Ken betah menyembunyikan wajahnya dileher Dara, menciumi leher itu berkali-kali. Seperti ketagihan, Ken enggan berhenti.


"K..ken.." panggil Dara pelan.


Ken tak mendengar, ia semakin gencar menciumi leher jenjang gadis itu. Membuka sedikit akses untuk ia bisa meraih leher bagian belakangnya. Ia membuat kissmark pada leher Dara. Dara sendiri sudah tidak tahu harus berbuat apa selain diam menahan mati-matian rasa gugupnya. Ini pertama kali Ken melakukan hal itu padanya. Dara tampak asing dengan perilaku Ken kali ini.


Ken melihat ke arah jam dinding, masih ada satu jam untuk mereka ke restoran. Kali ini Ken akan melakukan kesalahan yang sama. Ia tak bisa menahan hasratnya lagi. Dengan gerakan cepat Ken membalikkan tubuh Dara, mencium rakus bibir gadis itu. Mengunci pergerakan Dara agar tidak memberontak.


Dara berusaha menjauhkan tubuh Ken darinya, namun Ken menahan kedua tangannya ke belakang. Seperti tak mengangkat beban sedikitpun, Ken menaikkan tubuh Dara diatas meja rias hotel tersebut. Tak peduli make up yang Dara tata beberapa menit lalu sudah berjatuhan entah kemana.


Sejenak Ken menghentikan aktivitasnya, pria itu menatap Dara tajam. Dara sendiri sudah ketakutan tanpa sebab.


"Kali ini bukan kesalahan saya, kesalahan kamu yang menggoda saya." Ujar Ken.


Dengan gerakan pelan, tangan Ken masuk kedalam gaun Dara, membuka underware Dara tanpa harus membuka gaun panjang itu. Dara menggigit bibirnya sambil memejamkan matanya rapat kala merasakan tangan Ken berada di titik sensitifnya. Tangan Dara semakin bergetar dibelakang tubuhnya.


"Ken... Kita harus berangkat ke restoran." Ujar Dara.


"Masih ada waktu satu jam. Saya akan melakukannya dengan cepat."


Dara pasrah kala Ken menghimpit tubuhnya, melebarkan pahanya. Satu tangan Ken yang menahan kedua tangan Dara terlepas saat Ken membuka resleting celananya. Dara bisa merasakan milik Ken menerobos masuk secara paksa. Tangan Dara meremas gaunnya yang sudah terangkat. Matanya tak berani ia buka.


Ken mendesah di telinganya, mencium bibirnya tanpa bosan. Diatas meja rias Dara merasa terhimpit, ia hanya diam pasrah menerima apa yang Ken lakukan terhadapnya. Hingga sampai pada puncaknya Ken meremas pinggang Dara.


Ken menjauh dari tubuh Dara, memasang kembali celananya.


"Saya tunggu di lobby." Ucap Ken yang langsung pergi keluar dari kamar mereka. Dara sendiri masih mengatur napasnya. Turun dari meja rias dengan kaki bergetar sehingga tak heran dirinya terjatuh diatas lantai. Ia masih terkejut dengan apa yang Ken lakukan tadi. Dipungutnya underware yang tergeletak tak jauh dari posisinya jatuh.


Dara menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh lebih. Gadis itu mengatur napasnya, menenangkan dirinya sendiri. Kini tubuhnya benar-benar aroma Ken. Pergi kemana parfum aroma lili yang ia gunakan tadi? Rasanya parfum Dara lenyap hanya karena kegiatan mereka tadi.


Berusaha bangun, Dara menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya dengan kilat. Ia akan mandi sepulang mereka dari restoran. Jika saat ini ia mandi, sudah pasti mereka akan terlambat dalam acara dinner tersebut.


- To be continue -