
Seorang gadis tengah menatap luar jendela kamar hotel dengan menyesap secangkir teh ditangannya. Hujan lebat kini mengguyur kota. Rintik-rintik air hujan yang sesekali dibawa angin itu berkelok-kelok tidak tahu arah. Kilat petir yang menghiasi langit kelabu sama sekali tidak membuat gadis itu takut. Gadis itu masih betah memperhatikan hujan.
Balkon kamar hotel yang berkuran kecil menjadi tempatnya bersantai. Ia tidak sabar masuk ke dalam permainan yang ia buat bersama seorang pria bernama Kenan Adam. Gadis itu belum memberi tahu Kenan mengenai kedatangannya. Senyum terukir di bibir gadis itu. Tidak sabar melihat reaksi Dara saat bertemu dengannya nanti. Handphone gadis itu tiba-tiba berbunyi.
"Halo papa.."
"Kamu udah di Indonesia sayang?"
"Udah beberapa hari lalu pa, maaf ga telepon papa dulu."
"Kenapa gak langsung ke rumah sayang? Kamu dimana sekarang?"
"Di hotel pa, rumah papa jauh dari rumah Adam, jadi Naira di hotel dulu." Balas gadis bernama Naira tersebut.
Terdengar helaan napas dari seberang telepon. Naira tahu papanya tidak akan setuju dengan apa yang dilakukannya. "Adam sudah punya istri Naira, jangan ganggu mereka." Ucap papa Naira.
"Adam gak cinta sama Dara papa, mereka nikah karena Naira yang suruh. Adam cintanya sama Naira."
"Papa harap kamu segera sadar, apa yang kamu lakuin ini salah Naira. Ingat, semua yang kamu perbuat untuk orang lain pasti akan kembali pada kamu sendiri."
"Maafin Naira pa."
Gadis itu menutup sambungan telepon secara sepihak, ia tak ingin berdebat dengan papanya yang tidak tahu alasan kenapa ia melakukan hal ini. Ada satu hal dimana ia harus membalas perbuatan orang lain terhadapnya. Dan Naira sudah menumpuk rasa benci itu kepada Dara lama, hingga akhirnya ia bisa membalasnya sekarang.
"Kamu harus merasakan apa yang aku rasain Dara. Gak adil kalau kamu bahagia gitu aja. Aku kira kamu gak akan jatuh cinta setelah apa yang menimpa keluarga kamu. Tapi kak Adam udah berhasil buat kamu bertekuk lutut. Aku tinggal nunggu kamu rasain apa yang aku rasain dulu."
_____________
Kenan tengah fokus pada layar laptop di depannya. Ia mengoreksi hasil video iklan yang beberapa minggu timnya kerjakan. Meneliti bagian mana yang kurang dan harus diperbaiki. Ia juga mengedit hasil foto yang ia ambil siang tadi untuk ia masukkan ke dalam beberapa koleksi fotonya.
Tangan Ken gencar menggerakkan mouse dengan gerakan kecil. Ken tak sadar sedari tadi Dara memperhatikannya. Dara bingung untuk memulai pembicaraan melihat Ken sangat serius. Ia ingin berbicara kepada suaminya itu. Tapi takut Ken marah karena ia ganggu. Hingga sebuah ide muncul di otaknya.
Dara berjalan ke dapur, membuatkan Ken secangkir cappuccino. Modusnya kali ini benar-benar terlihat natural. Alih-alih agar Ken tidak marah karena ia ganggu.
Dengan langkah pelan Dara meletakkan secangkir cappuccino itu diatas meja. Bukannya pergi setelah memberikan secangkir cappuccino itu, Dara berdiri kikuk sambil memainkan kedua jarinya menunggu respon Ken. Benar saja, Ken menatap Dara.
"Ada apa?" Tanya Ken.
"Boleh bicara Ken? Sebentar?"
"Kalau mau bicara duduk, jangan berdiri." Balas Ken dengan wajah datar. Ia menyentuh gagang cangkir cappuccino tersebut lalu menyeruputnya pelan.
Dara buru-buru duduk, ia gugup, terbukti dari tangannya yang tidak mau berhenti terpaut satu sama lain.
"Mau bicara apa? Awas aja gak penting."
"Penting kok Ken."
"Mau bicara apa emang?"
"Hmm itu masalah reuni. Tadi saya dihubungi teman SMA saya.." belum selesai Dara berbicara Ken langsung memotong ucapan gadis itu.
"Cewek atau cowok?"
"Cewek, namanya Rina. Jadi tadi saya dihubungi Rina, bilang kalo bakal ngadain acara reuni SMA. Sebenernya disuruh bawa pasangan, tapi saya tahu kamu gaakan mau dan pasti bakal sibuk banget. Jadi... Hmm.. apa saya boleh datang ke acara reuni? Saya pengen ketemu temen-temen saya Ken." Jelas Dara.
"Acaranya siang atau malam?"
"Malam, di aula hotel dafam."
"Kalau malam saya gak kasih izin."
"Tapi Ken,"
"Kalau malam kamu pulang sama siapa? Pasti ujung-ujungnya diantar teman cowo, terus pulangnya gak mungkin jam sepuluh jam sebelas, pasti pulang pagi. Acara kayak gitu mestinya lama. Saya juga gak bisa mantau kamu. Siapa tahu kamu genit sama cowo-cowo SMA kamu kan?"
"Ken kamu jangan berburuk sangka sama saya. Saya kan bisa pulang naik taksi. Kalaupun acaranya sampai pagi saya pasti minta izin pulang dulu. Lagian juga hotelnya gak jauh-jauh banget dari rumah kita. Saya gak pernah ketemu temen-temen saya Ken. Apa salahnya sekali?"
"Ya salah, nanti kamu manfaatin buat ganjen ke cowo lain."
"Yaudah saya ikut."
Dara menatap Ken tidak percaya. Bibirnya tersungging lebar mendengar ucapan pria itu. Dengan mata berbinar-binar Dara berucap. "Beneran? Kamu mau ikut?" Tanya Dara antusias.
"Iya cerewet. Udah ah sana, saya mau lanjut kerja."
Dara tak bisa melepas senyumnya, dengan perasaan yang campur aduk Dara pergi ke kamarnya. Tidak mau lagi mengganggu Ken, toh apa yang ingin ia bicarakan sudah tersampaikan. Dan lagi Ken setuju menemaninya meski awalnya tidak mengizinkan.
Ia tak sabar pergi ke acara reuni itu. Pasti menyenangkan bertemu teman-temannya. Terutama ia mengharapkan kehadiran seseorang yang sudah lama ia tunggu. Naira. Sahabatnya yang pergi tanpa sepatah kata setelah pertengkaran diantara mereka.
Dara tidak tahu kenapa pertemanannya dengan Naira bisa begitu dingin hanya karena mereka melewati satu masalah. Dara ingin menjelaskan apa yang terjadi, namun Naira tak pernah mau mendengarnya. Ia pergi setelah memaki Dara habis-habisan. Ia sangat merindukan Naira setelah apa yang terjadi.
Dara mengeluarkan dompetnya. Dibelakang foto dirinya dan Kenan, ia masih menyimpan beberapa foto lamanya dengan Naira sahabatnya. Dara mengeluarkan foto tersebut, memandanginya, mereka tampak sangat bahagia waktu itu.
"Semoga kamu datang ya Nai di acara reuni itu. Aku kangen kamu." Ucap Dara pelan. "Aku pengen kita bisa berteman kaya dulu, aku pengen jelasin semuanya ke kamu Nai."
Air mata gadis itu jatuh, ia tidak tahu dirinya akan sangat sensitif jika mengingat tentang sahabatnya. Dara sangat menyayangi Naira karena gadis itu selalu ada saat Dara membutuhkannya. Dan sekarang ia kehilangan Naira dalam waktu cukup lama. Harapnya semoga di acara reuni itu Dara bisa melihat Naira kembali.
Asik mengingat masa lalu, pintu terketuk. Siapa lagi kalau bukan Ken? Dirumah itu hanya ada mereka berdua dengan asisten rumah tangga yang setiap sore pulang.
"Dara saya masuk."
"Iya masuk aja." Balas Dara. Ia buru-buru menghapus air matanya. Mengembalikan foto tersebut ke tempat semula.
Ken membuka pintu, masuk dan duduk di tepi ranjang Dara. Ia tak kunjung bicara membuat Dara kikuk, karena baru saja Ken sibuk dengan laptop dan kamera yang ia punya. Lalu sekarang Ken menghampirinya.
"Ada apa Ken?" Tanya Dara. Ken menoleh, menghela napasnya.
"Kamu capek enggak?"
"Kenapa?"
"Saya lupa kalo sekarang saya diajak tim buat main futsal. Barusan mereka telepon. Janjiannya akhir weekend, dan saya lupa kalo sekarang weekend. Kamu mau ikut?"
Dara berpikir, bukan berpikir tentang ajakan Ken. Tentu saja Dara mau Ken ajak kemana saja. Tapi Dara berpikir apa Ken sedang bermimpi atau apa? Karena seharian ini Ken tidak ragu mengajaknya terlibat dalam kegiatan Ken, dari memotret hingga berkumpul bersama timnya. Ken sedang sadar kan?
"Kamu kenapa bengong? Gamau? Saya gak paksa kalau..."
Dara dengan gesit memotongnya, "Mau kok Ken, mau! sekarang?"
"Iya sekarang. Saya mau siap-siap dulu ya."
"Oke saya juga."
Ken berdiri, pergi meninggalkan kamar Dara. Usai Ken keluar dara tertawa senang. Ia bahkan melompat-lompat senang, seolah lupa beberapa hari lalu ia baru pulang dari rumah sakit dan masih dalam proses pemulihan. Lupa bahwa siang tadi Dara dibuat sedih Ken, bahkan lupa beberapa menit lalu sedih mengingat Naira sahabatnya. Rasa senang itu seolah menyembuhkan sakitnya. Ia tidak bisa mengekspresikan betapa bahagia dirinya saat ini.
Dara berlari menuju lemari, memilih baju mana yang sekiranya pantas ia gunakan. Setelah matanya menelanjangi isi lemari, akhirnya ia menemukan pakaian yang hendak ia gunakan. Kaos lengan panjang berwarna pink dan rok selutut berwarna hitam, ia juga memilih sepatu putih polos sebagai alasnya. make up yang sangat natural juga ia oleskan pada wajahnya. Rambutnya ia urai membuat Dara terlihat sangat cantik.
Bersamaan dengan Dara membuka pintu, Ken sudah ada di depan pintunya hendak mengetuk. kedua manusia itu sama-sama terkejut.
"Udah selesai?" Tanya Ken memperhatikan outfit yang Dara kenakan.
"Udah." Balas Dara yang juga memperhatikan Ken memakai pakaian olah raga futsalnya.
"Udah siapin air putih sama handuk Ken?"
"Oh iya belum.."
"Yaudah saya siapin dulu ya."
"Oke, saya siapin mobil dulu."
Dara mengangguk. Kerja sama yang bagus sebagai suami-istri. Namun siapa sangka bahwa keadaan rumah tangga mereka sangat dingin?
- To Be Continue -