Anemone

Anemone
15 - Sepenggal



Dara benar-benar canggung memasuki lapangan futsal. Karena sejak Dara dan Ken memasuki lapangan, mata semua tim tertuju kepada mereka berdua. Apalagi saat Ken merangkul pundak Dara. jantung gadis itu tidak pernah mau berhenti berdetak sangat cepat.


Berbeda dengan Dara yang malu, Ken menahan kesalnya karena mata para pria yang ada disana menatap penuh minat kepada Dara. Ini salah satu alasan kenapa Ken malas mengajak Dara kemana-mana. Dasarnya gadis itu selalu berhasil menyihir siapa saja hanya dengan melihat sosoknya. Sampai sekarangpun Ken tidak tahu kenapa ia sangat marah dan kesal saat semua pria menatap ke arah Dara. Yang ia pikirkan hanya Dara tidak boleh jatuh cinta kepada pria lain selain dirinya. Egois memang.


Namun melihat Dara sangat bahagia saat ia ajak jalan-jalan siang tadi membuat Ken sadar bahwa ia sudah sangat keterlaluan mengurung Dara. Ia pikir tidak ada salahnya sesekali mengajak gadis itu menikmati dunia luar mengingat ia baru saja pulih dari sakit. Ken menganggap kebaikannya saat ini sebagai permintaan maafnya kepada Dara.


Semua tim menghampiri keduanya, menyapa dengan ramah karena boss mereka sudah mau hadir untuk ikut berolah raga dengan mereka. Dara tidak berhenti tersenyum ramah membalas sapaan mereka. Tidak hanya para pria, staff Ken yang perempuan juga ikut berpartisipasi. Dara bersyukur karena tak hanya dirinya perempuan di lapangan itu.


"Selamat malam boss Adam." Sapa salah satu pekerjanya. 


"Malam, kenalin ini istri saya Dara. Dara kenalin ini tim aku, tim yang kemarin ngerjain iklan yang aku ceritain semalem." Ucap Ken. Sempat Dara mengerutkan kening bingung karena Ken tidak pernah bercerita. Namun melihat tatapan Ken yang tidak berkedip sedetikpun membuat Dara mengerti kondisi, Ken sedang memainkan perannya sebagai seorang suami. Tentu saja untuk menyembunyikan kondisi keluarga mereka yang tidak harmonis. 


"Ah iya, selamat malam semuanya, salam kenal saya Dara." Balas Dara tak lupa membubuhkan senyum manis yang ia punya. 


Semua mata pria tidak mengalihkan tatapannya sedikitpun dari Dara, bahkan tanpa berkedip. Membuat Ken menarik napas berkali-kali menahan marah. Apa mereka tidak pernah melihat perempuan cantik sebelumnya? Kenapa begitu noraknya menatap istri orang apalagi istri atasan penuh minat? Kalau bukan untuk menjaga image sebagai seorang atasan, Ken sudah menghajar satu-satu pria yang berani menatap istrinya penuh minat itu. 


"Astaga bola mata kalian pasti akan lepas dari tempatnya jika tidak bisa menatap biasa ibu Dara." Ucap salah satu staff perempuan.


"Panggil Dara aja kak." Ucap Dara dengan sopannya.


"Tapi..."


"Panggil dia Dara aja, ibu terlalu formal untuk perempuan yang usianya dibawah kalian." Potong Kenan.


Staff perempuan tersebut tersenyum mengiyakan, memang sangat aneh kalau mereka memanggil Dara dengan sebutan ibu mengingat usia Dara yang tidak terbilang tua.


"Kenalin, aku Fina, ini Acha, dan ini Dian." Ucap salah satu wanita yang memperkenalkan diri secara langsung kepada Dara.


"Salam kenal kak, aku Dara." Balas Dara.


"Kamu sama mereka dulu, aku mau main." Ucap Ken lembut. Tentu saja mengundang perhatian semua orang yang ada disana. Pasalnya dalam pekerjaan Ken selalu memasang wajah serius, sekarang ia berlaku sangat lembut. Membuat siapa saja iri dengan perlakuan itu. Dan sayangnya semua itu hanya kedok.


"Iya, hati-hati.. kamu gamau minum dulu?"


"Boleh,"


Dara mengambil botol air, membuka tutupnya dan memberikannya kepada Ken. Setelah minum beberapa teguk, Ken memberikannya kembali dan mengecup pelan kening Dara sebelum akhirnya Ken beranjak dari posisinya, bergabung dengan para tim yang entah kapan sudah ada di lapangan.


Palsu, semuanya palsu kan Ken? Batin Dara bersorak.


"Dara duduk di sini," ucap Acha menawarkan tempat kosong di sampingnya.


"Iya kak, makasih" balas Dara.


Sambil memperhatikan permainan, Dara diajak berbincang oleh ketiga orang staf itu. Meski awalnya keadaan sangat kaku karena Dara adalah istri boss mereka, namun lambat laun mereka menjadi tidak lagi sungkan karena kepribadian Dara yang sangat sumeh. Berkali-kali Dara mengingatkan kepada ketiga wanita itu bahwa Dara lebih muda dari mereka, jadi anggap saja Dara adik mereka dan melupakan bahwa status Dara adalah istri dari boss mereka. Dan berhasil. Ketiga staf itu tak lagi merasa canggung kepada Dara.


"Dara kenapa jarang main ke kantor boss sih?" Tanya Acha.


"Ah itu, aku gamau ganggu Ken pas kerja kak." Balas Dara.


"Eh emang bener ya? Gosipnya boss itu posesif banget sama kamu? Masa sih?" Kali ini Dian yang bertanya.


"Enggak kok kak, bukan posesif sih, lebih ngejaga mungkin?"


"Sama aja kali hahaha."


"Eh tapi bener deh, kamu cantik banget makanya boss gamau kamu berpaling dari dia kali. Itu tandanya sayang Dara." Ucap Fina


"Sayang?" Tanya Dara tampak asing dengan kata itu. Kenan sayang padanya? Hal itu seperti lelucon.


"Iyalah sayang, namanya juga istri Fin. Apalagi perempuan kayak Dara. Cantik gini. Ya pasti boss gamau berbagi sama siapa-siapa dong. Hehehe"


Dara membalas ucapan ketiganya dengan senyum. Setelah percakapan singkat itu mereka kembali memperhatikan lapangan yang di sibukkan dengan aktivitas para pria yang masih asik bertanding.


Dara memperhatikan Kenan dengan detail, melihat pria itu sangat serius dengan permainan yang dilakukannya. Ikut tersenyum saat melihat Kenan tertawa senang mencetak gol. Untuk pertama kalinya Dara melihat tawa lepas Kenan setelah sekian lama pria itu hanya memasang wajah dingin. Dara terkesiap saat Ken menoleh ke arahnya, awalnya Dara pikir Ken akan menatapnya tajam, namun yang terjadi adalah sebaliknya, Ken melemparkan senyum padanya. Disambut sorakan dari ketiga staf.


"Aduh boss senyumnya tulus banget. Belum pernah lihat boss senyum manis gitu. Dara kamu beruntung banget." Oceh Acha yang mendapat anggukan dari Fina dan Dian.


Hari ini Dara sangat senang, meski sempat bertengkar dan mendapat ucapan tajam Ken mengenai ciuman siang tadi. Malam ini ia mengobati sedihnya dengan senyuman yang Ken lempar. Membuat para wanita iri kepadanya.


Satu jam tiga puluh menit sudah berlalu, mungkin para pria itu lelah setelah menggiring bola kesana kemari. Menendang benda berbentuk bulat itu untuk masuk ke gawang memperebutkan skor. Hasil akhir tim Kenan yang memenangkan pertandingan. Mereka sempat tidak percaya Kenan sangat jago bermain futsal. Karena Ken adalah boss yang terkenal serius.


Handuk kecil yang Dara bawa juga ia keluarkan. Tanpa disuruh gadis itu mengusap keringat yang membasahi wajah dan leher suaminya. Ken sendiri tidak merasa terganggu dengan perilaku Dara karena ia memang butuh seseorang untuk mengusap keringatnya itu sembari dirinya mengatur napas.


Tanpa keduanya sadari banyak pasang mata yang memperhatikan. Para pria yang sibuk iri dengan bossnya karena beruntung mendapat seorang istri cantik dan perhatian seperti itu. Sedangkan para wanita malah sibuk menjadi paparazi untuk memotret keduanya selagi tidak sadar. Untuk apa? Tentu saja untuk menjadi bahan gosip di group chat.


"Capek?" Tanya Dara.


"Iya.." balas Ken singkat.


"Pulangnya mau makan apa?"


Rupanya percakapan mereka didengar para staf yang sedari tadi memperhatikan. Acha, dan Dian kompak berbicara.


"Makan bareng kita aja boss." Kompak Acha dan Dian secara bersamaan. "Kita mau ngunjungin restoran baru yang lagi hits banget sekarang." Tambah Dian. Semua staf langsung mengiyakan. Apalagi para pria yang begitu semangat. Bagaimana tidak? Ada perempuan cantik yang mungkin akan menjadi pemandangan yang sangat indah saat mereka menyantap makan malam. Yah meskipun perempuan itu sudah menjadi milik boss mereka. Mata pria memang tidak bisa dikontrol.


Dara tak menjawab, ia melihat ke arah Kenan yang tampak berpikir. Kenan sendiri bingung, akhirnya ia balik bertanya kepada Dara. "Kamu mau?" Tanya Ken. Dara mengangguk berkali-kali sebagai jawaban. "Ga capek seharian keluar? Kamu kan baru sembuh?" Tanya Ken lagi.


"Enggak kok, gapapa." Balas Dara.


"Yaudah, saya ikut kalian makan bareng." Putus Ken. Para staf senang bukan main. Senyum lebar terpampang di bibir semua staf tak terkecuali Dara yang tertawa girang bersama para ketiga wanita. Ken tak lepas memperhatikan Dara, apa dia sesenang itu? Pikir Ken.


_______


Suasana di dalam restoran sangat ramai karena memang restoran yang mereka kunjungi sangat populer akhir-akhir ini. Untung saja mereka menemukan tempat untuk makan di sana. Para pasangan, keluarga, dan teman sangat antusias makan di tempat itu. Tempatnya cukup sederhana, lukisan-lukisan bunga terpajang di restoran itu. Interiornya terbuat dari bambu. Sangat klasik.


Sembari memperhatikan beberapa lukisan bunga-bunga yang ada di sana, pandangan Ken tak bisa teralih dari lukisan bunga anemone yang berada di ujung restoran. Letaknya paling pinggir diantara lukisan lain, seperti mawar, dandelion, edelweis, dan jenis bunga lain yang tak dimengerti Ken. Bunga Anemone adalah Dara. Ken mengklaim hal itu.


Ken beralih memperhatikan gadis yang duduk disampingnya. Dara masih asik bercengkrama dengan Acha, Fina dan Dian sehingga ia tidak sadar Ken memperhatikannya sangat dalam.


Senyum gadis itu sangat lepas seolah ia tak pernah sakit sebelumnya. Padahal beberapa hari lalu Dara masih tergeletak di rumah sakit karena ulahnya.


"Iya kak aku juga suka banget sama film itu." Oceh Dara menimpali, terlihat sangat semangat.


"Jadi kamu suka juga sama film fantasi gitu?" Tanya Dian.


"Suka banget! Apalagi film princess gitu. Suka aja kak. Kartunnya juga." Balas Dara.


Ken baru sadar juga bahwa Dara suka hal kekanak-kanakan. Tak sadar Ken tersenyum melihat Dara yang sangat antusias.


Kali ini dari pihak pria yang melayangkan pertanyaan kepada Dara. "Mbak Dara dulunya kerja dimana mbak? Sebelum kenal sama boss Adam? Kita kepo nih sama cerita kalian." Oceh Koko, pria kribo berkacamata yang profesinya sebagai editor di tim itu.


Dara menoleh ke arah Kenan yang memperhatikannya. Ragu-ragu apa Dara jawab atau diam? Kenan sangat sensitif jika Dara berinteraksi dengan pria lain. Tapi jika tidak dijawab, Dara akan dicap tidak baik. Takut-takut Dara menjawabnya. "Saya dulu kerja di perusahaan jasa." Balas Dara.


"Dibagian apa mbak?" Tanya yang lain.


"Di bagian CSO." balas Dara.


"Pantes dibagian CSO, orang kamu cantik gini. Rugi kalo kerja di office, gak pernah di suruh jadi sekertaris atasan Dar?" Tanya Fina.


"Ya enggak lah kak, sekertaris atasan ditempat kerja aku cantik dan pinter banget. Aku mah gaada apa-apanya. Jadi CSO disana aja udah seneng banget." Jelas Dara.


"Kamu mah ngerendah mulu Dar, kamu itu cocok banget jadi model tahu. Aku yang perempuan aja suka sama kamu. Cantik banget." Ujar Dian yang lagi-lagi memuji.


"Aku gabisa pose kak, pendek juga kan? Mana ada model pendek." Ucapan Dara mengundang semua orang yang ada di meja itu tertawa, kecuali Kenan yang sudah biasa mendengar alasan Dara tidak mau jadi model. Kenan sudah tahu hal itu karena dulu ia pernah bertanya hal yang sama. Dan tidak disangka jawaban Dara masih sama.


"Lagian juga saya gabolehin dia jadi model. Enak aja mata cowok lain liat istri saya." Tambah Ken membuat semua yang ada di sana bersorak.


"Boss Adam takut diambil ya boss istrinya hehehe." Canda salah satu kameramen membuat Kenan juga tertawa dengan candaan itu.


"Lagian dia gaboleh cinta sama pria lain selain saya. Saya posesif banget sih sama dia. Soalnya kalo bawa dia, banyak mata yang ngawasin terutama pria. Ada sih sedikit rasa takut dia jatuh cinta sama pria yang lebih ganteng, lebih kaya dari saya." Ujar Ken tanpa melepas pandangannya dari Dara.


Dara sendiri merasa terkunci dengan tatapan mata tajam Ken, hingga gadis itu menjawabnya. "Gaperlu takut, aku jatuh cinta sama kamu sebelum kamu jadi boss. Aku jatuh cinta sama kamu juga bukan karena kamu ganteng. Gaada juga niatan aku jatuh cinta sama pria lain selain kamu Ken." Bisik Dara pelan. Ia terlihat sangat tulus saat mengucapkannya.


Meski Dara sudah berbisik sekalipun, namun suaranya masih bisa didengar staf yang ada di sana. Para pria seperti tersihir oleh ucapan Dara. Langka sekali perempuan cantik seperti Dara di muka bumi ini, pikir mereka.


Ken juga tak berhenti menatap Dara, tak mau mengalihkan matanya terlalu cepat. Sadar ia mulai terlena, Ken menutup kedua matanya beberapa detik. Tak disangka-sangka, Ken malah mengecup sebentar bibir Dara di depan semua orang. Membuat Dara terpaku, belum lagi semua staf Ken sudah berteriak-teriak menyoraki keduanya. Dan dengan kalemnya Ken berucap. "Udah diem."


Apa ini sandiwara? Jika sandiwara, semuanya terasa sangat nyata. Ucap Dara dalam hati.


- To be continue -