
"Bawa saya pergi dari sini Ken, saya mohon..."
Ken mengangkat tubuh Dara yang sudah sangat berkeringat, kepala Dara bersandar pada dada Ken. Napasnya mulai teratur karena kini merasa sudah bebas dari ketakutannya.
"Kamu memang gadis bodoh Dara!" Oceh Ken.
Tak ada jawaban, Dara terlalu lemas untuk meladeni ocehan Ken.
"Berhenti bersikap munafik. Sebaiknya kamu cepat tunjukkan sifat asli kamu. Biar saya bisa menceraikan kamu dan hidup tenang."
Dara tak kunjung menjawab, namun setetes air mata mengalir di ujung matanya. Sebagai jawaban bahwa ia sangat sesak mendengar ucapan cerai dari Ken. Cepat atau lambat ia pasti akan mendengar kata itu. Meski ia tidak menyangka bahwa kata itu akan ia dengar dalam kondisi lemahnya sekarang.
"Maaf." Lirih Dara sebagai penutup ketidaksadarannya.
Ken membawa Dara masuk kedalam mobilnya. Sopirnya sudah khawatir dengan kondisi Dara yang berada dalam gendongannya. Pertanyaan bertubi-tubi juga sopir Ken lontarkan.
"Kenapa non Dara tuan?" Tanya Sopir Ken.
"Panjang ceritanya pak. Bapak cepet masuk mobil, tuntun saya ke rumah sakit terdekat. Saya gatahu daerah sini."
"Baik tuan baik.."
Ken membawa Dara masuk setelah sopir membukakan pintu mobil untuknya. Tak lupa Ken memasang sabuk pengaman untuk Dara.
Tak bisa dipungkiri bahwa Ken sangat panik. Kali ini Dara benar-benar tak berdaya disampingnya. Keringat mengucur sangat deras di dahinya meski berulang-ulang kali Ken mengusapnya menggunakan sapu tangan yang terlipat di saku jas yang ia kenakan.
"Dara bangun." Ucap Ken tak berhenti panik.
"Saya gatahu kamu segitu takutnya sama gelap. Dulu, kamu gak separah ini pas saya hukum di ruangan gelap itu. Dokter bilang kamu cuma butuh vitamin. Sekarang kenapa kamu nakutin saya?!" Kesal Ken. Entah sudah berapa kali ia memukuli setir untuk melampiaskan kepanikan bercampur rasa marah yang teraduk menjadi satu.
Malam ini adalah malam dimana Ken merasa bahwa jarak antara gedung pesta yang ia hadiri dengan rumah sakit yang akan ia tuju ber mil mil jauhnya. Rasanya sangat mencekam saking takutnya. Apalagi jika ia menoleh ke arah Dara yang semakin pucat.
Hingga akhirnya mata Ken melihat running text led yang terpajang di pinggir jalan dengan tulisan UGD 24 jam. Ia menyalip mobil sopirnya yang sedari tadi memimpin perjalanan. Buru buru ia memarkirkan mobilnya tepat di latar pintu masuk UGD.
"Suster! Pasien!" Panggil Ken keras kepada seorang suster yang saat itu membawa banyak infus pada trolley stainless steel yang tengah di dorongnya.
Mendengar Ken memanggilnya, buru-buru suster itu memanggil rekannya dan langsung keluar dari dalam untuk menghampiri Ken dengan membawa stretcher yang sudah disiapkan diteras UGD.
Sebelum perawat pria mengangkat tubuh Dara, Ken buru-buru mengangkat tubuh lemas istrinya dan langsung meletakkannya di atas Stretcher. Suster membantu untuk membenarkan letak tidur Dara, setelahnya mereka membawa Dara masuk ke dalam UGD.
"Anda walinya?"
"Iya, saya suaminya."
"Silahkan ke bagian resepsionis untuk melengkapi data pasien. Kami akan melakukan perawatan. Setelah itu, anda bisa menjenguk pasien setelah kami pindahkan ke ruang rawat." Jelas sang suster.
Ken mengangguk, ia sedikit tenang karena Dara sudah di tangani. Ia menuju resepsionis, mengisi formulir untuk Dara. Setelahnya ia duduk dikursi, menunggu suster untuk membawa Dara keluar dari ruang UGD itu.
Waktu cepat berlalu, akhirnya Ken bisa melihat Dara sadar dari pingsannya setelah melalui beberapa perawatan.
Dara masih terlihat pucat, ia sendiri belum berani berbicara saat melihat Ken menatapnya tajam dengan tangan terlipat di dada.
"Kamu adalah gadis terbodoh yang saya temui Dara!" Bentak Ken.
Dara menggigit bibirnya. Ia tak berani menjawab, hanya diam. ingin menangis tapi ia tahan. Ken tidak akan mengerti dirinya.
"Kenapa kamu tidak keluar dari lorong itu?"
"S..saya takut gelap.." balas Dara pelan.
"Kamu bisa berlari."
Dara tak bisa menjelaskan apa yang ia rasakan. Ketakutannya tak sebercanda itu untuk Ken remehkan. Percuma, Ken tidak akan pernah bisa mengerti. Dara memilih bungkam. Mendengar setiap ocehan yang Ken lontarkan padanya.
Semakin hari, Dara semakin tidak mengerti dengan ucapan Ken yang selalu mengatakan bahwa dirinya kejam, munafik, bermuka dua. Dara benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Ken ucapkan. Namun mengenai takut gelap. Dara benar-benar trauma akan hal itu. Hal yang tidak bisa Dara jelaskan dengan kata-kata.
"Saya benar-benar ingin secepatnya cerai kalau masalah ini selesai." Ucap Ken yang benar-benar membuat air mata Dara jatuh. Sudah berapa kali Ken mengucapkan kata cerai?
"Masalah apa Ken? Kamu gapernah bilang ke saya masalah apa yang membuat kamu begitu benci saya. Dulu kamu gak gini, salah saya apa sama kamu? Kenapa kamu berubah? Bahkan kamu berkali-kali ngomong cerai." Nada suara Dara tak pernah meninggi, gadis itu hanya mengucapkan dengan nada pelan. Selain ia masih lemas, ia juga merasa tidak pantas menggunakan nada tinggi kepada suaminya.
"Tanya ke diri kamu sendiri Dara, kenapa saya muak sama kamu. Tanya apa salah kamu. Apa yang kamu perbuat di masa lalu."
Tok tok tok
Perbincangan mereka terjeda karena ada seorang suster yang memasuki ruang rawat inap Dara setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Wali nona Dara, bisa menemui dokter untuk membicarakan keadaan nona Dara." Ucap suster tersebut.
Ken berdecak, "Bisa sama orang yang duduk di depan sus, dia sopir saya," Balas Ken cuek.
Suster itu menjadi bingung, kenapa harus sopirnya? Bukankah Ken adalah suaminya? Apa tidak penasaran dengan kondisi istrinya sendiri? Pikir suster itu.
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi, nona Dara silahkan beristirahat, besok sudah boleh pulang." Ucap suster.
Dara memaksakan senyumnya, "iya sus, terimakasih." Balas Dara.
"Saya permisi."
Ken kembali menatap Dara tajam setelah suster itu pergi. Perdebatan diantara mereka rupaya belum selesai menurut Ken.
"Selain munafik kamu itu juga jago menggoda pria Dara, kamu tidak pernah berubah. Dan saat mengambil keperawanan kamu dulu, saya sempat kaget, bagaimana bisa gadis rubah seperti kamu masih perawan? Membuat saya tidak mau lagi menyentuh kamu karena saya tahu, melakukan dosa besar saat saya orang pertama buat kamu." Tak ada habisnya Ken mengeluarkan ucapan yang menyakitkan hati Dara.
"Tentu kamu orang pertama Ken, kamu suami saya." Balas Dara.
Ken berdecih, ia tak suka mendengar ucapan Dara. Menurutnya Dara pintar sekali berakting menjadi orang baik di depannya. Lihatlah mimik sedih gadis itu. Semakin lama, semakin membuat Ken benar-benar muak.
"Dulu kamu gak kaya gini, kenapa kamu berubah?"
"Untuk menipu kamu, menyiksa kamu, dan membuat kamu tidak berharga di dunia ini. Kamu harus diberi pelajaran agar tidak berlaku seenaknya."
"Tapi..."
"Selama kamu masih berada di lingkup permainan saya, kamu tetap menjadi milik saya Dara. Tapi setelah semuanya berakhir, selamat tinggal, saya akan buang kamu."
Handphone Ken berdering, ia mengangkat telepon tersebut, dari salah satu selingkuhannya, model bernama Angela, yang sudah lama menjadi model di agensi Ken.
"Halo sayang.." Ucap Ken terang-terangan di depan Dara yang semakin shock dengan apa yang Ken ucapkan di telepone. Apalagi telepon yang Ken terima tepat tengah malam. Bukan waktunya untuk telepon.
"Istri aku? Nih ada di depan aku." Ucap Ken lagi.
"Aku udah gak peduli sama perasaan dia, lagian juga dia harusnya berterimakasih sama kamu karena udah mau muasin aku di ranjang, karena nyatanya aku udah gak pernah hubungan lagi sama istri aku kan? Capek jaga perasaan dia terus. Kita kalo selingkuh terang-terangan aja dari sekarang."
Lengkap sudah, hati Dara sakit setelah Ken tidak pernah berhenti memakinya, sekarang Ken terang-terangan berselingkuh? Dan bodohnya Dara malah sempat berpikir Ken tidak seperti itu. Tusukan beribu pedang yang Ken lakukan terhadapnya sungguh berhasil. Hati Dara sangat sakit dengan hal itu.
"Ken kamu selingkuh?" Tanya Dara semakin deras menangis.
"Kamu pikir? Saya gapernah nyentuh kamu Dara, dan saya pria normal. Kamu bodoh atau naif sih?"
"Saya sayang kamu Ken."
"Tapi saya benci kamu Dara."
- To be continue -