Anemone

Anemone
13 - Potret



Setelah Ken mencium Dara dan berucap bahwa itu adalah kesalahan, Dara berpikir keras. Apa mungkin kejadian semalam juga bentuk kesalahan?


Dengan tenggorokan yang tercekat Dara berusaha menjawab, menahan mati-matian rasa sakit dalam hatinya. "Iya Ken. Saya tahu kalau tadi kesalahan."


Ken diam sejenak, sebelum kembali bersuara, "Semalam juga, itu kesalahan yang saya buat karena mabuk." Balas Ken yang tak disangka Dara. Baru beberapa detik lalu Dara memikirkan kejadian semalam.


Mata Dara membulat sempurna karena terkejut Ken ternyata ingat. Dan parahnya Ken menganggap hal sepenting itu adalah kesalahan. Mungkin bagi Ken gampang mengucapkan hal seintim itu adalah sebuah kesalahan, namun bagi Dara tidak. Reflek Dara meremas kaos bagian dadanya seolah merapatkan pakaian yang sudah tertutup itu. Merasa jika ia tidak merapatkan pakaiannya saat itu, ia akan di telanjangi bulat-bulat. Dara menunduk tak berani menatap Ken lagi. "Kamu inget Ken?" Lirih Dara dengan suara tercekat.


"Ga bisa di pungkiri, saya inget, tapi itu hanya kesalahan saya saat mabuk. Jadi kamu gaperlu di ambil hati apalagi berpikir saya ingin tubuh kamu. Lupain kejadian tadi dan semalem, anggap gaada apa-apa diantara kita. Karena saya pikir kamu ****** yang ada di club."


Lebih baik Ken memakinya, memarahinya dari pada mengatakan kalimat jahat itu. Terpaksa Dara mengangguk, ia ingin mengakhiri percakapannya dan Ken kali ini. Tidak mau lama-lama membahas hal yang membuat hatinya sesak. "Iya Ken," tiba-tiba saja suasana taman yang cerah berubah menjadi muram hanya karena kata 'kesalahan' yang Ken ucapkan. Mudah sekali baginya meremukkan hati Dara.


"Kamu duduk dulu aja, saya akan ambil foto bunganya dulu." Ucap Ken dibalas anggukan Dara.


Cukup lama Ken berkutik dengan kamera dan bunga-bunga yang ada ditaman, tidak mempedulikannya yang duduk melamun di kursi taman. Mood Dara sudah rusak setelah obrolan mereka tadi. Namun saat sebuah bola berwarna kuning menggelinding kearahnya, Dara tersadar dari lamunan dan mencari asal bola yang terarah padanya. Ia tersenyum kala melihat seorang bocah kecil yang berlari menghampirinya. Pasti milik bocak itu, tebak Dara.


"Tante itu bolanya Dodo." Ucap bocah kecil yang menatap Dara dengan polosnya.


"Ini bolanya dodo?" Tanya Dara dan mendapat anggukan dari Dodo. Gadis itu memberikan bola tersebut kepadanya. Dodo menerima dengan memeluk bola kuning itu menggunakan kedua tangan. Ia tampak senang mendapat bolanya kembali.


"Dodo, sama siapa main kesini?" Tanya Dara lagi.


"Itu sama mama papa, tante sama siapa kesini? Ko sendirian?" Tanya Dodo balik.


"Sama om yang itu. Lagi motret bunga." Balas Dara menunjuk Kenan yang masih asik dengan kameranya. Dodo menoleh, melihat arah telunjuk Dara.


"Oh om yang itu ya? Kakak tante?"


"Bukan, suami tante." Balas Dara. "Mama, papa dodo dimana? Tante antar ya?"


"Deket kok tante, ada disana." Dodo menunjuk arah pohon besar yang memang biasa digunakan orang orang untuk bersantai.


"Ayo tante antar, Boleh?"


"Boleh tante.."


Dara tersenyum, ia membantu memegangkan bola kuning Dodo, menuntun tangan mungil itu untuk berjalan di sampingnya. Ia menghampiri Ken terlebih dahulu, tentu saja untuk meminta izin.


"Ken,"


Kenan menoleh, kemudian bergantian menoleh ke arah anak kecil yang di gandeng Dara. "Anak siapa?" Tanya Ken.


"Dodo, gatahu anak siapa. Ini saya mau anter ke mama papanya, ada disana. Boleh?" Dara menunjuk pohon besar yang tadi ditunjuk Dodo. Ken terdiam, menarik napasnya, kemudian berjongkok untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Dodo.


"Ayo om gendong. Mau?" Tanya Kenan.


"Mau om."


Kenan menggendong tubuh mungil Dodo, berjalan mendahului Dara yang seperti biasa berjalan di belakangnya.


Melihat Ken menggendong seorang bocah kecil membuat Dara tersenyum miris. Mungkin saat ini orang orang berpikir bahwa mereka adalah sebuah keluarga kecil. Tapi nyatanya? Hati Dara kembali sakit.


"Tante kesini tante, jalan disamping om. Kaya mama sama papa. Om jangan tinggalin tante." Ucap Dodo yang seketika membuat keduanya kompak berhenti.


Ekspresi Kenan datar, sedangkan Dara sudah kelimpungan harus melakukan apa. Ia tidak akan berani melangkah sebelum Kenan menyuruhnya.


"Tunggu apa lagi? Kesamping saya." Ucap Ken datar.


Dengan ragu Dara melangkah hingga mereka berdampingan. Berjalan dengan suasana yang benar-benar kaku. Tak ada perbincangan seperti biasa. Dodo pun hanya diam memperhatikan sekeliling di gendongan Kenan.


Mereka sampai di pohon yang ditunjuk Dodo, melihat sekeliling, mencari kira-kira siapa orang tua Dodo.


"Dodo, mama sama papanya dimana?" Tanya Dara.


"Itu yang pake baju merah-merah." Tunjuk Dodo.


"Ken turunin, Dodo biar saya aja yang anter."


Ken menuruti ucapan Dara, menurunkan Dodo, membiarkan Dara menggandeng tangan bocah kecil itu.


Melihat keduanya sedikit menjauh, Kenan memotret Dara dari belakang. Memperhatikan keduanya yang membuat Ken merasakan hal aneh. Istrinya, sudah berapa kali ia menyakiti gadis itu? Ada rasa bersalah menyelinap di hatinya, namun Kenan segera menepis rasa bersalah itu jauh-jauh. Yang dilakukannya sudah benar. Tujuannya menikahi Dara hanyalah untuk menyakitinya, tidak lebih dari itu. Perasaannya, Ken akan tahan.


Ken tak melepaskan pandangannya untuk memperhatikan Dara, menatapnya seperti sebuah lukisan mahal yang harus di perhatikan sedetail mungkin. Ken melihat Dara tersenyum saat mengantarkan bocah kecil itu seolah tak ada beban dalam hidupnya. Padahal Ken tahu Dara sedih karena perlakuannya barusan.


Setelah mengantar bocah bernama Dodo itu, Dara berjalan mengarah padanya, sedikit berlari. Mungkin ia tidak ingin Ken menunggu terlalu lama.


"Kamu masih mau lanjut motret Ken?" Tanya Dara saat sudah ada di hadapan Ken.


"Sudah, kita makan di restoran langganan saya. Saya lapar."


"Ahh oke." Dara bersyukur Ken menyudahi acaranya mengambil foto. Karena ia tak harus menjadi model Ken. Moodnya rusak karena kejadian tadi. Dan tanpa sepengetahuan Dara bahwa dirinya sudah Ken potret secara diam-diam berkali-kali saat Dara melamun di kursi taman maupun beberapa menit lalu saat menggandeng tangan Dodo.


Entah apa motif Ken memotret Dara, tapi yang jelas Ken menikmati hal itu.


_________


Selama perjalanan, langit menjadi tidak bersahabat. Awan yang awalnya tampak berwarna putih dengan langit yang berwarna biru berubah menjadi kelabu. Mataharipun kehilangan eksistensinya menyinari bumi. Sekitar berubah menjadi gelap. Siang berubah menjadi sore. Pejalan kaki di trotoar terlihat terburu-buru. Penjual kaki lima juga tak kalah sibuk dengan para penjual makanan yang membawa gerobak untuk mempersiapkan payung pelangi super jumbo memayungi gerobak mereka masing-masing. Seolah semua orang takut akan hujan, berbeda lagi dengan pengendara mobil yang masih santai berkendara di jalanan yang sangat padat. Rupanya Ken tidak termasuk orang-orang yang sibuk melindungi diri dari hujan yang belum turun itu. Ken masih santai berkendara dengan kecepatan normal. 


"Ken, kayaknya mau turun hujan." ucap Dara mengingatkan. 


Ken membuka kaca helmnya, "Apa?" tanya Ken yang mungkin tidak mendengar suara Dara. 


"Kayanya mau turun hujan." Seru Dara sekali lagi.


"Restoran masih lumayan jauh. Makan mie cup di minimarket mau? Saya gabawa jas hujan." 


"Boleh.." 


Baru saja Ken akan menepi, hujan dengan segala kekuasaan yang ia punya setelah menakut-nakuti semua orang dengan awan mendung dan langit gelap kini menumpahkan airnya ke bumi. Para pejalan kaki yang tidak membawa payung sudah berteduh, tak jarang melihat para pengendara motor yang berhenti ke pinggir untuk sekedar memasang jas hujan yang mereka bawa di dalam jok sepeda masing-masing. Dara dan Ken baru saja memarkirkan sepeda di tempat parkir, sempat terkena rintik hujan sebelum keduanya berlari untuk masuk pada teras minimarket. 


Ken mengibaskan tangannya pada rambut untuk menyingkirkan air yang sempat membasahi rambutnya. Melihat itu, Dara mengambil sapu tangan yang ia bawa dari dalam tas selempangnya. Dara menarik tangan Ken untuk menghadap kearahnya. Sedikit berjinjit, Dara menyeka pelipis hingga leher Ken yang basah. Ken tak menolak, ia memperhatikan Dara yang tampak fokus mengeringkan wajahnya. 


"Kamu juga basah." Ucap Ken.


"Iya biarin aja, lebih basah kamu." Balas Dara yang kemudian melipat sapu tangannya yang sudah basah tersebut. Ia memperhatikan jalanan yang sudah basah akan hujan. Ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Ken beberapa tahun lalu. Mereka di pertemukan oleh hujan. Ken memotretnya, tersenyum manis ke arahnya. Jika diingat sungguh berbeda dengan sekarang. Tak ada senyum terukir  di bibir Ken saat bersama Dara. Menyakitkan mengingat hal itu karena keadaan mereka berbanding terbalik. 


Ken menyerahkan tas kameranya, "Kamu pilih kursi, saya beli makanan dulu. banyak orang yang datang buat berteduh, nanti kita gak kebagian tempat." Ucap Ken langsung mendapat anggukan dari Dara karena satu persatu pengendara motor memarkir sepeda mereka. Untuk apalagi jika bukan berteduh. 


Dara duduk di salah satu kursi pojok, karena jika ia memilih kursi yang ada di tengah sudah pasti banyak orang asing yang ada di sekitar mereka nanti. Ken pasti akan terganggu. Jika diingat hari ini mereka berdua banyak menghabiskan waktu bersama meski dalam keadaan yang dingin sekalipun. Bolehkah Dara senang dengan kebodohannya? Jika orang mengerti kondisi rumah tangganya, pasti mereka akan memaki Dara habis-habisan. Namun semua orang tidak akan mengerti kondisinya.


Dara terdiam memperhatikan hujan, masih deras. Apa jika hujan tidak turun saat itu mereka, Dara dan Ken tidak akan bertemu? Apa jika Dara tidak berteduh satu atap dengan Ken ia tidak akan menjadi istri Ken? Dan lagi, apa jika Dara tidak membalas uluran tangan Ken untuk berkenalan mereka akan berjodoh? Banyak pertanyaan demi pertanyaan yang Dara tanyakan pada hujan jika mereka bertemu. Hujan di bulan desember adalah awal kisah mereka. Awal yang tidak tahu akhirnya bagaimana. Happy ending atau Sad ending.


Ken duduk disamping Dara, membuat lamunan Dara yang memperhatikan hujan buyar. Ken membawa dua cup mie, sebuah kantong plastik yang juga diletakkan secara bersamaan membuat perhatian Dara teralih. 


"Kamu kalo dilirik sama cowo lain jangan sok gapeka gitu." Ucap Ken.


"Dilirik siapa Ken? Saya nunggu kamu kok disini sambil liatin hujan." 


"Tuh dua cowo yang berdiri di deket tong sampah. Mereka liatin kamu, mau minta nomor handphone kali. Untung aja saya buru-buru kesini. Kalo engga kamu pasti udah genit ke mereka." 


"Saya beneran gatahu Ken, yang penting mereka udah gak liatin saya lagi kan pas ada kamu. mereka juga mungkin udah tahu kamu suami saya. Jangan nuduh saya gitu."


"Udah ah males bahas begituan. Ini punya kamu yang rasa ayam bawang. Kamu masih suka rasa ini kan?"


"Iya masih."


"Susu pisang juga kan? Ini juga cemilan kesukaan kamu." balas Ken mengeluarkan semua jajanan yang ia beli dari dalam kantong plastik. 


Dara memperhatikan Ken, ternyata Ken masih ingat apa yang ia suka saat mereka jajan di mini market. Dulu Dara akan komplain saat Ken membeli rokok dan merokok disana, namun sekarang ia tak berani melakukan hal itu. Alhasil Dara hanya memperhatikan satu bungkus rokok berwarna hitam itu dengan tatapan tidak suka.


"Kenapa liatin bungkus rokok saya?"


"Kamu jangan banyak-banyak ngerokok. Ga baik buat kesehatan." Ucap Dara pelan.


"Kamu ga pernah berubah, selalu aja cerewet kalo liat saya ngerokok." Ucap Ken mengaduk mienya. 


"Saya gapernah berubah, tapi kamu banyak berubah." Balas Dara membuat Ken menghentikan kegiatannya saat hendak menyantap mie. 


- To Be Continue -