
Tepat pukul sepuluh pagi, Dara terbangun karena cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar melalui celah jendela kamar Ken. Mata coklatnya terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Ken. Dara terkejut sampai ia terjatuh di lantai kamar karena terlalu memundurkan posisinya untuk menjauhi Ken.
"Awww.." ringis Dara.
Bukan karena tidak mau dekat dengan Ken, jika Ken bangun, Dara pasti akan mendapat bentakan pria itu. Dara tidak mau Ken marah padanya karena posisi mereka terlalu dekat.
Mata Dara melihat kearah jam dinding, membulat kala mencerna pukul berapa ia bangun. Meski tertidur subuh tadi, tidak seharusnya ia bangun kesiangan. Dara membenarkan letak rambutnya, berdiri dari posisi duduk di lantai karena terjatuh tadi. Bergegas ke dapur menyiapkan makanan untuk Ken makan saat pria itu bangun nanti.
Saat menuruni tangga dan sampai ke dapur, matanya membulat saat melihat mama mertuanya bergelut dengan berbagai macam bumbu dan sayuran, juga ada daging yang sudah diberi bumbu.
"Mama.." Ucap Dara menghampiri Sari Adam, ibu Ken yang tak lain mertuanya. Langsung Dara mencium punggung tangan Sari, tak peduli jika tangan wanita paruh baya itu kotor sekalipun.
"Kotor sayang.." ucap Sari.
"Gapapa ma, kapan mama datang? Maaf Dara bangun kesiangan." Balas Dara merasa bersalah.
"Satu jam yang lalu mama datang, kalian tidurnya nyenyak banget, jadi mama gak tega banguninnya. Ken baru pulang dari luar kota ya?"
"Iya ma, baru pulang subuh tadi."
"Kamu pasti tidur subuh juga. Gak lanjut tidur aja sayang? Biar mama aja yang masakin buat kalian."
"Enggak ma, jangan, mama Dara buatin teh melati kesukaan mama ya? Mama nonton tv atau duduk baca majalah aja, Dara ada majalah baru. Biar Dara yang masak."
"Masa mama berlagak seperti tamu di rumah anak mama sendiri. Gapapa sayang, kita masak bareng aja gimana?" Tanya Sari.
"Tapi ma.."
"Gapapa sayang." Potong Sari. Dara sempat takut Ken akan marah jika membiarkan mamanya bergelut di dapur, hingga akhirnya ia mengalah dan tersenyum mengangguk mengiyakan ucapan mamanya. Tidak peduli dengan konsekuensi yang akan ia terima nanti.
Mereka berdua memasak bersama, banyak perbincangan yang mereka lakukan. Kadang juga tertawa lepas saat Sari menceritakan kekonyolan yang Ken lakukan saat kecil dulu.
"Dulu, Ken itu nakal banget. Udah di bilang sore waktunya pulang, eh malah ngebantah. Dia malah keliling komplek sama sepeda baru yang di beliin papanya. Dan akhirnya dia kena batunya, jatuh di selokan. Hahahaha."
Dara tak bisa berhenti tertawa mendengar cerita mertuanya. Mama mertuanya benar-benar jago menghidupkan cerita. Dara merasa nyaman, bersyukur mertuanya tidak seperti mertua kebanyakan yang tidak bisa akrab dengan menantu. Menuntut ini dan itu. Sari seperti mama Dara sendiri.
"Terus ya Dara, dia itu sering nyuri jambu tetangga komplek. Padahal jambu di kulkas banyak. Pas mama tanyain kenapa nyuri, dia malah bilang, rasa jambu nyuri sama jambu beli beda. Karena jambu nyuri butuh perjuangan esktra. Alhasil mama gajadi marah deh denger omongan dia. Nahan ketawa."
Keduanya tertawa lepas. Sampai akhirnya berhenti karena perut keduanya sudah terasa sakit.
Kali ini Sari dan Dara membicarakan hal serius. Cukup terbuka untuk membicarakan hal intim.
"Gimana? Udah isi?" Tanya Sari.
"Belum ma." Balas Dara. Bagaimana isi? Mereka saja cuma sekali melakukan hubungan suami isteri, setelah resepsi. Setelah itu Ken berubah, menyuruhnya tidur di kamar bekas pembantu mereka.
"Jangan mau Ken pake pelindung, apalagi keluar di luar. Pokoknya kamu harus pintar untuk membuat Ken berhasil menghamili kamu. Mama udah gasiap gendong cucu." Ucap Sari bersemangat. Membuat Dara malu hanya mendengarnya.
"Mama." Panggil suara berat itu. Ken, pikir Dara.
Dara menjadi takut, bukan karena apa. Saat ini ia tidak bisa menghalangi mama Ken untuk memasak bersamanya. Semoga saja Ken tidak marah. Doa yang selalu Dara komat-kamitkan di dalam hati. Ia bahkan tidak berani membalikkan badan untuk menghadapi Ken.
"Ken Sayang, udah bangun?"
"Udah ma, mama ngapain?"
"Ya masak sayang.."
"Kalo mama kenapa-napa gimana? Udah biarin Dara aja yang masak ma. Mama ikut ken ayo."
"Kasian Dara dong, kalo mama gak bantuin dia?"
Dara menggigit bibir bawahnya. Lebih baik mamanya menuruti ucapan Ken, jika tidak, Ken akan semakin marah padanya. Dara semakin takut, tangannya sampai bergetar.
"Dara? Mama gapapa gak bantuin kamu kan?"
Dara berbalik perlahan, "Iya ken gapapa, Mama sama Ken aja ma. Ini juga tinggal sedikit lagi udah masak semua."
"Kalian ini, mama emang udah tua, tapi mama masih bisa masak tanpa terluka."
"Ken khawatir ma, terakhir kali mama masak tangan mama kesiram air."
"Iya itu gak sengaja."
"Pokoknya mama ikut Ken. Ayo ma." Ken merangkul pundak mamanya, pergi meninggalkan Dara yang sedari tadi menahan napasnya. Sangat lega saat keduanya meninggalkannya sendiri di dapur.
______
Makanan sudah terhidang di atas meja, aneh rasanya saat Dara ikut makan bersama di meja makan. Jelas sudah Ken memperbolehkannya ikut bergabung karena ada mamanya. Tapi tetap saja membuat Dara sangat canggung.
Sedari tadi Ken dan Sari berbincang, tanpa Dara karena Dara termenung mengaduk-aduk makanannya. Mencuri perhatian Sari yang merasa aneh dengan tingkah menantunya.
"Kenapa sayang?" Tanya Sari membuat Dara terkejut.
"Ga.. gapapa kok ma." Balas Dara sedikit gugup.
"I..iya.." balas Dari menunduk dan meneruskan suapannya.
"Ken jangan galak-galak sama Dara, nanti dia malah takut sama kamu loh." Ucap Sari melihat Ken yang terlihat sangat dingin kepada Dara.
"Enggak kok ma, Ken gak galak sama Dara." Bela Dara.
"Iya deh mama percaya, tapi inget loh Dara, kalo ken galakin kamu, bilang sama mama. Aduin aja. Nanti biar mama yang balik galakin." Ucap Sari sambil tersenyum. Dara ikut tersenyum, ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun senyum itu pudar saat matanya melirik Ken yang kebetulan menatapnya tajam.
"Yaudah ayo lanjutin makannya."
Mereka sarapan dengan damai, kadang ada perbincangan ringan. Namun setelah sarapan pagi, Sari pamit pulang karena sopirnya sudah menjemput. Dan saat itulah kekhawatiran Dara memuncak. Baru saja, Ken dan Dirinya mengantar Sari di depan pintu, dan baru beberapa detik mobil Sari hilang dari pelataran rumah mereka. Ken sudah membentaknya, membuat Dara menjauh beberapa langkah.
"Jaga sikap kamu ya Dara!" Bentak Ken.
Dara masih terdiam, ia menjauh beberapa langkah dan menunduk takut. Ken tidak pernah memukul Dara, namun bentakan itu benar-benar membuat Dara ketakutan. Ada sebuah alasan kenapa Dara sangat takut jika Ken membentaknya. Alasan yang tidak bisa Dara ceritakan sekarang. Dan Ken tidak pernah tahu, bahwa istrinya sangat ketakutan jika dirinya membentak dan mengintimidasi Dara. Rasa takut berlebihan itu sudah mendarah daging.
"Maaf, jangan marah ken." Cicit Dara.
"Terus kenapa mama kamu suruh masak?!"
"Saya gak nyuruh Ken, saya bangun kesiangan, mama udah datang dan masak sebelum saya bangun. Dan, saya, saya udah berusaha ngelarang mama masak, mama maksa. S..saya.."
"Jangan ulangi kecerobohan kamu itu! Ngerti! Saya gamau kamu nyelakai mama saya!"
Dara mengangguk cepat. Tangannya semakin berkeringan. Ia begitu ketakutan. Ia ingin Ken berhenti membentak dan memarahinya.
"Masuk kedalam!"
Dara melangkah pelan memasuki rumah, kakinya benar-benar lemas saking ketakutannya. Namun dengan sekuat tenaga ia menyembunyikan itu semua dari Ken. Ia tidak mau terlihat lemah, sudah cukup Ken mengatainya cengeng. Ia tidak mau Ken mengetahui kelemahannya dan semakin membuatnya ketakutan kedepannya.
"Ken.." panggil dara berbalik mendadak membuat Ken menabraknya. Kening Dara menabrak dada pria itu. Sebelum Ken memarahinya lagi, buru buru ia meminta maaf.
"Maaf.."
"Ada apa lagi?"
"Saya mau nengok ibu saya."
"Untuk apa?"
"Udah satu bulan saya gak kerumah sakit. Boleh ya ken?"
"Sama saya entar sore. Sebentar lagi saya mau ke kantor. Ada urusan."
"Kan kalo sore rumah sakit mau nutup Ken. Nanti saya sebentar buat..."
"Yang penting ketemu kan!"
Dara menahan tangan Ken. Gadis itu menggigit bibirnya sebelum kembali bersuara.
"Saya nebeng kamu ke kantor ya Ken, kan searah sama rumah sakit ibu. nanti sore kamu jemput sekalian kamu pulang ke rumah? Kalo sore pasti sebentar ketemu ibu. Please izinin Ken." Mohon Dara.
"Terus kamu mau genitin dokter disana? Lupa sama terakhir kali saya ninggalin kamu?"
"Saya gapernah genit. Yang terakhir kali kamu salah paham. Dokter ibu cuma mau jelasin kondisi ibu Ken."
"Kamu pikir saya percaya?"
"Kamu boleh nyuruh suster kunci kamar rawat ibu Ken. Biar kamu percaya saya kesana cuma mau ketemu ibu, gaada niatan lain."
"Ide bagus."
"Dibolehin ya Ken."
"Tentu saja, selama kamu tidak bertemu pria lain."
Dara tersenyum senang. "Terimakasih Ken."
Aneh memang, Dara lebih memilih di kunci di ruang rawat ibunya dari pada harus menunggu Ken di rumah. Mengabulkan permintaan Dara saja sudah membuat wanita itu bahagia.
Kehidupan rumah tangga mereka terlihat begitu aneh.
Ken benci Dara, ia tak pernah bersikap lembut, meski ia tak pernah menyakiti Dara secara fisik. Namun ia juga tak suka Dara keluar rumah tanpa izinnya. Ia tak mau Dara bertemu pria lain selain dirinya karena satu alasan. Hanya Ken yang boleh tidak mencintai Dara, wanita itu harus tetap mencintainya. Meski Dara sudah tidak mencintainya sekalipun setelah perlakuan kasarnya kepada Dara, setidaknya hanya Ken pria yang selalu Dara lihat, selalu bersama Dara.
Karena aturannya, Dara miliknya, namun dirinya bukan milik Dara.
Lebih singkatnya, Dara harus selalu Ken kunci, harus selalu Ken kurung. Agar wanita itu tidak pergi kemana-mana.
Tidak kabur dari permainan yang Ken ciptakan. Wanita Naif seperti Dara, harus mengikuti alur game yang ia buat.
- To be continue -