Anemone

Anemone
19 - Past (3)



April, 2 tahun lalu.


Setelah kata sayang yang Ken ucapkan, tak merubah semua yang terjadi pada mereka. Dara dan Ken tetap sering bertemu, entah untuk menemani Ken memotret atau sekedar jalan-jalan usai Dara bekerja. Tak sadar Dara bergantung pada pria itu sejak pertama kali mereka bertemu.


Sebelum mengenal Ken, Dara menutup diri dari dunia luar. Ia terlalu hidup untuk dirinya sendiri dan ibunya yang ada di rumah sakit. Seolah dia harus melindungi diri dari siapapun yang berusaha menyakitinya. Dara tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat rapuh dan penakut semenjak ibunya koma. Ia harus menghidupi dirinya sendiri, mencari biaya untuk kesembuhan ibunya. Diusia yang anak muda lainnya lakukan hanya mengenal kata bersenang-senang. Dara tidak.


Ken mewarnai dunianya yang terkesan monokrom. Memberi pelangi untuk membuat mata sedih Dara terpesona akan warna-warninya. Menghibur, selalu menemani. Dara seperti menemukan sosok orang yang bisa ia andalkan setelah sekian lama ia sendiri menjalani hari yang terasa sangat berat ia pikul. Berawal dari kepedulian Ken terhadapnya dengan meminjamkan sebuah hoodie. Ken menghormatinya, tak seperti pria lain yang selalu merendahkannya dengan cara apapun.


Dara yang siang itu berjalan menuju alamat rumah Ken yang dikirimkan melalui maps terlihat sangat bersemangat. Berkali-kali ia memperhatikan layar handphone, melihat kekanan dan kekiri, mengawasi gedung-gedung yang sudah ia lewati satu-persatu dengan langkah kecil namun berirama. Untuk pertama kalinya setelah mengenal Ken selama empat bulan lebih, baru kali ini Ken mengajaknya bermain di rumah pria itu.


Lama menatapi maps dan mencari jalan, akhirnya Dara menemukan rumah Ken. Rumah yang minimalis bercat abu-abu. Dengan halaman yang tidak luas namun bersih. Sebuah motor juga terparkir di latar itu. Motor yang biasa Ken dan dirinya naiki jika mereka berdua berjalan-jalan mengelilingi kota. Dara semakin yakin bahwa dirinya benar mengikuti jalur maps tersebut.


Dara masuk pada pelataran, mengetuk pintu rumah itu lebih dari tiga kali. Namun tak ada jawaban, Dara kembali mengetuknya hingga suara Ken terdengar. "Iya bentar." Serunya.


Dara menunggu hingga pria yang hanya memakai sebuah celana selutut itu membukakan pintu. Sontak Dara menutupi matanya yang melihat pemandangan yang menurutnya tidak wajar. "Ken pakai baju!"


"Iya bentar, sini masuk dulu."


"Kamu pakai baju dulu."


"Iyadeh aku ke kamar pake baju, kamu masuk gih." Ken menyerah, ia masuk kedalam kamar untuk memakai baju. Ken memang biasa tak memakai baju saat dirumah karena hawa rumah Ken saat siang hari sangat panas. Tak ada AC seperti kamarnya yang dulu, hanya ada kipas angin bekas yang ia beli dari pasar. Harganya murah, membuat Ken tergiur melihat kondisinya masih bagus. Lepas dari orang tua membuatnya harus memikirkan banyak hal dalam mengelola uang.


Dara mengintip dari celah-celah tangannya. Merasa Ken sudah tak ada di sekelilingnya Dara membuka sepatu yang ia gunakan sebelum kemudian masuk ke dalam rumah Ken. Ia duduk di kursi kayu Ken, menatap sekeliling. Ternyata ia tertipu dengan kondisi luar rumah Ken yang sangat bersih, nyatanya rumah Ken berantakan.


Jika di acara TV show menampilkan seorang pria tampan dan lajang hidup sendiri dengan rumah yang terlihat rapi, tentu saja tidak berlaku untuk pria tampan lajang bernama Kenan Adam. Rumahnya sangat berantakan. Putung rokok serta abunya yang bersemayam di dalam asbak tidak Ken buang, botol tinta seolah nangkring sembarangan di sudut ruangan, belum lagi debu yang berterbangan kesana-kemari seolah menari dan merayakan rumah super berantakan itu.


Sibuk memperhatikan ruang tamu yang tidak layak di sebut ruangan, Ken datang dengan tubuh yang sudah memakai baju. "Dara. Mau minum apa?" Tanya Ken.


Bukannya menjawab Dara malah melontarkan pertanyaan lain. "Ini rumah kamu?" Tanyanya.


"Iyalah, masa rumah kucing aku?"


"Berantakan banget?"


"Gimana gak mau berantakan, aku aja sibuk, gak sempet bersihin rumah. Rumah cuma buat tidur aja."


"Debunya udah bisa kamu buat bangun rumah." Hina Dara mencolek debu yang ada diatas meja.


"Aku gabisa bersih-bersih." Ucap Ken.


"Yaudah aku bantuin. Bersihin rumah dulu." Ucap Dara melepaskan tas yang ia pakai diatas kursi.


"Ih ngapain kamu bantuin aku? Nanti capek, gausah gapapa. Kalau engga kita keluar aja mau? Nongkrong di luar?"


"Katanya kamu mau nabung buat beli lensa baru? Udah uangnya di tabung aja, habisin waktu bersih-bersih rumah kamu aja."


Ken tersenyum lucu melihat tingkah Dara, mana ada yang seperti Dara? Cantik, polos, lembut, dan yang terpenting mengerti keadaan. Gadis langka yang semua pria inginkan. Termasuk Ken.


"Cocok banget sih jadi ibu rumah tangga? Nikah yuk." Ucap Ken membuat Dara memukul lengan pria itu.


"Apaan sih! Udah ah ayo bersih-bersih!"


Keduanya bekerja sama membersihkan rumah Ken. Dari membersihkan debu yang menempel pada barang-barang, mengembalikan letak barang yang seharusnya tidak ada di sana, membuang sampah seperti putung rokok, kertas, plastik, bungkus mie, bungkus snack, kaleng soda dan masih banyak lagi. Ternyata ruang tamu Ken tak sebegitu berantakan kamar dan ruang tv pria itu. Dara harus ekstra bekerja keras membersihkan semuanya. Dibantu Ken tentu saja.


Tiga jam berlalu, akhirnya mereka selesai membersihkan rumah. Dara melepas lelah dengan bersandar di sofa ruang TV Ken. Disampingnya ada Ken yang juga merasakan hal yang sama.


"Kalo bersih gini kan enak Ken dilihatnya." Ujar Dara.


"Aku gabisa bersih-bersih, palingan cuma buang sampah sama nyapu doang bisanya." Ujar Ken.


"Terus yang nyuci? Yang masak? Cuci piring?" Tanya Dara.


"Dua hari sekali mama kirim ART buat bantuin aku beresin rumah. Karena takut ketahuan papa, bibi harus cep ya gitu deh. Gak semua bibi bisa bersihin. Apalagi jarang-jarang bibi bisa kesini. Paling lama empat hari sekali." Jelas Ken.


"Terus yang masak?"


"Ya bibi, kalo bibi ke sini aku makan masakan rumah. Tapi kalo engga ya terpaksa beli di luar, kalo lagi mager masak mie instan."


"Makan mie instan gak sehat buat kamu." Ucap Dara.


"Ya terus gimana? Aku gabisa masak."


"Bisa kalo mau belajar."


"Mau ajarin?"


"Yaudah."


"Beneran?"


"Iya Ken."


"Awas bohong."


"Aku gak suka bohong."


"Baik banget sih Dara. Mau minum apa? Aku ada susu di kulkas, ada teh, kopi, jus."


"Susu aja."


"Strawberry ada?"


"Tinggal vanila semua."


"Ih nyebelin deh! Ngapain nawarin?"


"Ya biar tahu kamu sukanya susu apa, nanti aku beli yang banyak buat stok kamu main kesini."


Dara tersenyum. Ken sendiri sudah pergi mengambil susu yang ada di kulkasnya. Mamanya yang masih tidak rela Ken memilih hidup sendiri setelah tiga tahun lamanya itu masih mengirimkan banyak makanan, minuman kerumah Ken secara sembunyi-sembunyi dari papanya. Mama Ken sangat patuh kepada papanya sehingga tidak heran mereka harus sembunyi-sembunyi jika ingin bertemu hanya sekedar melepas rindu.


Ken memberikan sekotak susu vanila kepada Dara setelah mencoblos sedotannya. Ia sendiri lebih memilih teh kotak untuk melepas dahaga. Keduanya kembali duduk berdampingan. Bosan, Ken menghidupkan televisi.


"Kamu suka nonton apa kalo jam segini?"


"Nonton apa aja." Balas Dara.


"Yaudah gausah nonton, nontonin aku aja." Ujar Ken.


"Garing banget.." ejek Dara.


"Ketawa kek, aku udah usaha buat bikin kamu ketawa. Sakit tahu dibilang garing."


"Iyadeh nih aku ketawa hahahahaha."


Candaan menjadi teman sore mereka setelah lelah dengan acara bersih-bersih rumah. Hingga percakapan yang awalnya ringan kini berubah menjadi serius saat Ken membahas ucapannya satu bulan lalu yang mengatakan bahwa ia sayang Dara.


"Kamu gak risih sama aku?" Tanya Ken.


Dara mendadak bingung dengan pertanyaan Ken, risih dalam hal apa? Sejauh ini Dara masih tenang berada di dekat Ken. "Risih maksudnya?"


"Setelah aku bilang sayang kamu. Kita gak bahas hal itu lagi sampai satu bulan berlalu. Kamu gak risih?"


"Engga kok, kenapa?"


"Polos banget sih? Ya ngerasa aneh, atau ngerasa gamau deket-deket aku lagi. Gaada perasaan itu?" Tanya Ken dibalas gelengan Dara. "Jadi kamu gak papa? Setelah aku bilang sayang, terus gaada kepastian? Aku gak nembak kamu atau ngomongin hal serius?" Tanya Ken lagi memastikan.


"Aku perempuan Ken, mana berani bahas hal itu dulu? Mana berani juga tanya-tanya kamu masalah perasaan kamu. Aku juga gak masalah kita pacaran atau engga. Kalau kita nyaman sama status teman juga gak masalah. Lagian aku gabisa pacaran." Jelas Dara yang kata terakhirnya buat Ken tertawa. Obrolan serius mereka menjadi lelucon juga akhirnya.


"Udah gede masa gabisa pacaran sih? Kalah sama anak SD yang udah bilang sayang, kamu mah."


"Biarin. Aku juga gak ada pikiran mau pacaran dari dulu."


"Emang dulu gak pernah suka sama cowo?"


"Engga.."


"Sekarang?"


"Suka.."


"Sama siapa?"


"Tebak aja."


"Aku mau akting gak peka ah."


"PD banget kamu Ken. Emang aku bilang suka sama kamu?"


"Kamu gak perlu bilang suka sama aku pun, aku udah tahu. Mata kamu gabisa bohong Dara. Kamu bisa nyembunyiin perasaan kamu. Tapi mata kamu enggak." Senyum terlukis di bibir Dara kala Ken menjawab pertanyaannya dengan kalimat puitis. Benar, semua orang bisa menyembunyikan perasaan mereka, tapi tidak dengan mata. Ada pepatah mengatakan, matamu akan bersinar kala melihat orang yang kamu cintai. Hal itu tak salah.


"Aku pengen ketemu mama papa kamu. Pengen kenal kamu lebih dalam." Ujar Ken.


"Kenapa tiba-tiba?"


"Kita udah kenal lebih dari empat bulan. Kamu tahu aku dan keluarga aku yang gak rukun. Tapi aku belum tahu keluarga kamu."


"Aku anak tunggal, ibu aku koma Ken. Dari aku umur 17 tahun. Ayah aku udah gaada. Singkatnya itu, aku gabisa cerita sepenuhnya. Maaf."


"Boleh aku jenguk ibu kamu?"


"Boleh, lain kali aku ajak kamu."


Ken mengusap lembut puncak kepala Dara, seolah memberi semangat kepada gadis yang sudah berjuang keras menjalani hidupnya. Ken tak bertanya lebih lanjut mengenai ayah Dara untuk menghargai privasinya.


"Kamu kuat Dara."


"Sebenernya engga, aku cuma berusaha bertahan hidup." Balas Dara.


"Sekarang semua baik-baik aja Dara. Ada aku. Kamu gak sendirian lagi." Ujar Ken meyakinkan.


"Aku percaya itu. Kamu datang sebagai orang yang udah mau ngulurin tangan ke aku Ken. Tangan yang udah aku tunggu sejak lama." Balas Dara.


Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?


Pertanyaan yang tidak bisa Ken tanyakan kepada Dara. Alasannya satu. Takut menyakiti gadis itu.


- To be continue -