Anemone

Anemone
16 - Andra Pahlevi



Di mobil, suasana sangat berbeda saat mereka berada di restoran tadi. Tak ada perbincangan. Dara sendiri merasa sangat terintimidasi dengan kecanggungan yang terjadi. Dara merasa pengap, Ia membuka kaca jendela mobil. Menghirup angin yang berhembus dengan rakus. Merasakan angin malam yang menerpa wajah cantiknya.


"Tutup jendelanya, kamu nanti sakit, saya yang repot." Ucap Ken menyadarkan Dara dari hal menyenangkan yang ia lakukan tak sampai semenit itu.


Buru-buru Dara menutup kaca jendela mobil. Kembali bersandar pada kursinya. Menatap depan dengan pandangan kosong.


"Tadi.." ucapan Ken menggantung. Dara menunggu lanjutannya, namun ia tahu Ken akan mengatakan hal untuk menjelaskan apa yang ia lakukan tadi. "Jangan anggap serius ciuman itu, saya tadi.." benar kan? Pikir Dara.


Dara tersenyum, ia memotong ucapan Ken. "Iya Ken, gaperlu kamu jelasin saya udah tahu. Tapi jangan lakuin hal itu lagi kalau semua itu bohong. Saya takut salah paham. Saya gatahu lagi harus yakinin diri saya kaya gimana biar gak salah paham." Balas Dara pelan. "Tapi makasih udah ajak saya seharian ini. Saya seneng banget bisa ketemu sama kak Fina, kak Dian, sama kak Acha. Makasih Ken." Tambah Dara.


Benar bukan? Kadang suka salah paham dengan perilaku seseorang. Dia baik, dia perhatian, dia berbeda. Namun jika hal itu hanya sebuah sandiwara belaka, bukankah sangat menyakitkan? Kejahatan yang sangat nyata. Diajak terbang lalu dijatuhkan begitu saja. Lelucon yang benar-benar sangat kejam. Tapi nyatanya kenapa banyak pria suka melakukannya? Apa karena populasi mereka lebih sedikit di banding wanita? Sehingga ia merasa lebih dibutuhkan mungkin?


"Kamu juga bohong kan? Sama ucapan kamu?"


"Yang mana?"


"Kalau kamu cinta saya sebelum saya jadi boss, dan cinta saya bukan karena saya ganteng. Dan kamu gaakan jatuh cinta sama pria lain. Itu semua juga bohong kan?"


Dara terdiam beberapa detik, menggigit bibir bawahnya. "Enggak kok." Balasnya singkat.


Jawaban singkat Dara berhasil membungkam Ken. Mereka kenal sebelum Ken terlihat sangat tampan dengan setelan jas, sebelum ia menjadi seorang pria kaya raya. Mana bisa Ken menuduhnya bohong?


Dara bukan Ken, Dara tidak bisa berbohong akan perasaannya. Nyatanya ia masih mencintai pria itu, mana berani ia jatuh cinta pada pria lain jika statusnya saja istri Ken? Mungkin Ken bisa bersama perempuan lain selain Dara, namun Dara tak akan bisa bersama pria lain selain Ken. Dara terlalu patuh, dan hal itu yang membuatnya terlihat sangat bodoh.


___________


Naira duduk di pojok cafe yang biasa ia tempati dulu. Bersama seorang pria yang pernah hadir dalam hidupnya, ia heran kenapa sangat memuja pria ini? Diam-diam suka, diam-diam memperhatikan, dan diam-diam pergi. Bodohnya hingga sekarang, Naira masih sangat menyukai pria yang jelas-jelas menyukai gadis lain. Andra, nama pria itu.


Sekarang ia telah menjadi seorang psikolog, entah apa yang membuatnya berubah menjadi seorang psikolog. Karena setahu Naira, pria yang ada di hadapannya saat ini sangat ingin menjadi seorang pilot. Bahkan yang Naira dengar, Andra membatalkan beasiswanya di sekolah pilot hanya untuk menjadi psikolog.


Wajahnya tak berubah, hanya semakin dewasa dan tampan, dan Naira masih saja terpesona. Sudah lima tahun berlalu, perasaannya masih sama.


"Jadi apa maksud kamu nyuruh aku kesini setelah kamu pergi gitu aja? Buat aku dan Dara.." ucapan Andra terpotong. Naira muak mendengar nama perempuan itu disebut.


"Ah shit! Jangan sebut nama dia di depan aku." Potong Naira.


"Sekarang kamu nyimpen kebencian ke orang yang sama sekali gak salah? Hei Naira, di sini aku yang salah. Aku yang udah nyakitin kamu, bukan Dara. Asal kamu tahu, semenjak kamu pergi Dara gak mau ketemu aku. Dia nutup diri sampai akhirnya aku gak bisa ketemu dia lagi. Sampai sekarang aku gak tahu kabar dari dia."  Ucap Andra.


Naira menahan rasa sesak di dalam dadanya. Selalu Dara, Dara dan Dara. Ia semakin muak kepada wanita itu. Dulu hingga sekarang Dara selalu membuatnya muak. Dara tak pernah lepas dari perhatian semua orang. Termasuk Andra.


"Apa kamu gak mau tahu kabar aku?" Tanya Naira pelan. Sebenarnya menanyakan hal itu sudah menurunkan harga dirinya.


"Kamu baik-baik aja. Aku pengen tahu kabar kamu, makanya aku datang ke sini nemuin kamu." Balas Andra.


Naira memutar bola matanya muak. "Bohong! Kamu ke sini karena pengen tahu kabar Dara. Kamu nyari dia kan selama ini?" Tanya Naira membuat Andra terdiam. Benar memang, Andra menemui Naira untuk tahu kabar Dara. Naira tertawa sinis, bahkan Andra tak mengelak sama sekali. Ia pikir setelah ia pergi semua akan berubah, namun ia salah. Semuanya tetap sama kecuali umur mereka yang beranjak dewasa.


Naira menyandarkan punggungnya pada kepala kursi, melipat tangannya di depan Dada. Menatap luar jendela seraya berkata, "Dara udah nikah, hampir setengah tahun. Dia gak ada di kota ini. Dia ada di ibu kota bareng suaminya. Ibu Dara juga udah di pindah di sana, rumah sakit yang lebih canggih. Sampai sekarang gak ada perubahan. Ibu Dara masih koma." Jelas Naira dengan sikap tenangnya.


"Apa yang gak mungkin sih Andra!" Bentak Naira, "Dara udah nikah sama owner agensi bidang fotografi dan iklan. Kenan Adam nama suaminya. Kamu gausah harapin Dara lagi!" Tambah Naira tak bisa memelankan suaranya karena ia terlalu marah Andra tak mempercayainya.


Melihat reaksi Naira yang terlihat serius itu membuat Andra mau tidak mau harus percaya. "Kenapa Dara percayain hatinya buat pria itu?" Tanya Andra lemas. Hatinya benar-benar sakit mendengar kabar tidak mengenakkan itu. Andra menunggu Dara hampir enam tahun lamanya. Dan saat mendengar kabarnya, gadis itu sudah menikah.


"Kamu bilang Dara gaakan percaya sama pria lain setelah kejadian itu. Kamu salah Andra, Dara mencintai suaminya. Dia mempercayakan hatinya pada suaminya. Kali ini kamu benar-benar salah besar." Ejek Naira. Ia puas melihat wajah sedih Andra. Harusnya memang begitu, Andra harus merasakan rasa sakit yang ia rasakan dulu.


Andra meneguk segelas jus yang ada di hadapannya rakus. Mungkin tenggorokannya terlalu mencekik dirinya saking terkejut mendengar kabar yang seharusnya tidak ia dengarkan. "Jadi, selama ini kamu kemana?" Tanya Andra menatap mata Naira.


"Sekolah di luar negeri. Ngelupain kamu, ngelupain Dara, dan ngelupain masalah kita." Balas Naira sudah bisa memelankan nada suaranya.


"Apa kamu sadar kamu lari? Lari dari masalah?"


"Sadar kok, tapi aku bisa apa? Rasa sakitnya gabisa aku tahan. Kalau aku tetap ada di sekitar kalian, aku gabisa hidup."


"Maafin aku."


Naira tak menjawab, sulit untuk memaafkan apa yang dilakukan Andra padanya. Namun tidak munafik bahwa sekarang rasa sakitnya sedikit terbayar dengan melihat Andra sedih karena Dara tak memilihnya.


"Aku yang salah Naira, aku yang pantas kamu benci. Bukan Dara."


"Dara juga pantes aku benci! Dia yang munafik! Kalo dia gasuka kamu, kenapa dia peluk kamu pas di lab? Posisinya kamu pacar aku Andra!"


"Itu salah paham Naira. Dara gak meluk aku, aku yang peluk dia karena dia ketakutan pas lampu lab mati. Aku yang berdosa karena udah pacarin kamu dan cinta ke Dara."


Naira meneteskan air matanya, kenapa masih sama? Kenapa masih sangat menyakitkan?


Andra kembali bersuara, "Apa kamu tahu Dara menderita Post Traumatic Stress Disorder?  Saat itu kenapa aku meluk dia karena aku.." ucapan Andra terpotong.


Nyatanya Naira tak peduli dengan penyakit yang diderita Dara, karena kebencian gadis itu sudah membutakan hatinya. Yang ia tahu ia harus balas dendam, tak peduli dengan kondisi Dara. Gadis yang pernah menjadi sahabat dekatnya. "Aku gapeduli apa yang ia derita! Aku benci sama dia! Sama kamu juga!"


"Jangan benci dia Naira! Aku yang salah!" Habis sudah kesabaran Andra. Sekarang Andra sudah membentak gadis di hadapannya tanpa sadar. Tak tahan dengan keras kepala Naira.


"Sekarang aku tahu kenapa kamu jadi psikolog. Kamu pengen nyembuhin Dara kan? Ninggalin cita-cita kamu demi gadis sial yang terlahir dari keluarga berantakan! Kamu bodoh Andra!" Teriak Naira.


Andra tidak menyangka Naira bisa mengucapkan hal itu. Andra menatap tajam Naira seraya berkata, "Sekarang aku tahu kenapa aku jatuh cinta sama Dara. Karena dia tulus. Aku beruntung udah milih gak pertahanin hubungan aku sama kamu Naira."


Plakkkk!!


Naira menampar keras Andra. Tangis Naira semakin pecah. "Aku benci kamu Andra!"


Naira mengais tasnya, berlari meninggalkan Andra yang masih terdiam kaku. Ia tahu dirinya kejam, ia yang sudah merusak persahabatan Naira dan Dara. Namun ucapan Naira yang begitu kejam kepada Dara membuatnya marah.


Andra masih sangat mencintai Dara. Dan karena cinta itu membuat semuanya rumit. Andra harus memastikan semua yang diucapkan Naira benar, ia harus menemukan Dara secepatnya.


- To be continue -