
Benar saja, setelah Ken mengantar Dara dan menyuruh suster mengunci kamar rawat ibu Dara, Ken bergegas pergi ke kantor. Karena ada take iklan di studionya. Tentu ia harus memantau karyawannya. Sebagai formalitas. Karena model yang membintangi iklan adalah model papan atas. Bagaimanapun Ken harus menunjukkan kesopanannya sebagai boss di agensi.
Dara? Ia duduk di kursi yang terletak di sebelah ranjang ibunya. Ibunya yang sudah koma hampir enam tahun. Bahkan ibunya tidak tahu Dara sudah menikah. Dengan pria yang tidak pernah bisa mengerti, bahwa Dara tidak suka dibentak, Dara juga tidak suka di marahi atau di beri tatapan tajam. Ken tidak akan pernah tahu itu.
"Ibu.. apa kabar?" Tanya Dara mengusuk tangan ibunya Lastri dengan lembut.
"Baik kan bu? Dara kangen ibu, kapan ibu mau buka mata? Luka di tubuh ibu udah sembuh, tapi kenapa ibu gamau bangun bu? Dara kangen ibu." Ucap Dara.
Mata bening wanita itu tak bisa lepas dari wajah ibunya. Biar sudah ia terkunci di dalam kamar ibunya. Dara tak peduli, selama ia bersama ibunya. Semua akan baik-baik saja.
"Dara mau cerita Kenan lagi bu. Dara mau aduin kenan ke ibu. Kenan kenapa berubah ya bu? Kenapa Kenan yang dulu janji sama Dara buat ngelindungi Dara malah sebaliknya. Dia malah bikin Dara takut. Dia emang gapernah mukul Dara bu, tapi Kenan gatahu kalo Dara benci di bentak, Dara benci bu, Dara jadi takut sama Ken. Dara pengen lari, tapi Dara sayang sama Kenan. Dara harus gimana bu? Ibu harus bangun biar bisa bilang ke Dara, apa yang harus Dara lakuin."
Air mata itu kembali menetes, membasahi pipi Dara. Sakit. Kenapa Ken harus berubah? Kenapa pria yang ia percaya memegang hatinya malah membuatnya ketakutan setiap hari?
Dara sudah menuruti permintaan Ken, Dara sudah bersabar menunggu keajaiban yang bisa saja mustahil menghampirinya. Tapi kenapa perilaku Dara selalu salah di mata Ken? Kalau saja Ken membencinya dari awal kenapa ia harus menikahi Dara? Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin Dara sampaikan kepada Ken. Namun ia tak bisa melakukan apa-apa. Ia takut Ken akan memukul atau malah memarahinya habis-habisan jika ia melawan pria itu.
"Dulu Dara pikir, Dara punya Ken. Tapi Dara salah, Dara cuma punya ibu." Isak Dara semakin menjadi.
"Dara sayang Ken, tapi Dara takut.."
Sekeras apapun Dara mengoceh, menceritakan kisahnya sampai mulutnya berbusa pun. Lastri ibunya tak akan pernah bisa menjawab keluh kesah putrinya. Lastri masih nyaman dengan selang-selang yang melekat di tubuhnya, dengan berbagai macam alat-alat rumah sakit sebagai penopang hidupnya. Mungkin, jika bukan karena Ken, Dara tidak akan mungkin sanggup membayar semua biaya rumah sakit Lastri. Tidak akan mungkin juga Lastri menempati VIP. Ia harus berterimakasih untuk itu.
Ocehan Dara berakhir pada kantuk. Dara menguap. Kemudian memejamkan matanya. Membungkuk, tertidur di sela ranjang ibunya dalam posisi duduk. Mencium aroma ibunya adalah satu-satunya obat tenang Dara. Dara rindu Lastri, rindu usapan lembut tangan Lastri di kepalanya. Ia rindu ibunya, rindu Ken yang dulu juga.
____
"Ok! Kerja bagus semua!" Teriak sutradara pada speaker sirine yang ia genggam. Bersamaan dengan take video selesai di ambil. Make up artist buru-buru menghampiri model, membantu menutupi bagian terbuka tubuh model menggunakan kain tipis.
Semua sibuk pada pekerjaan masing-masing, membereskan lighting, property, kamera dan lain-lain. Namun Ken masih tetap terdiam di posisinya. Melihat jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Ia terlambat satu jam untuk menjemput istrinya.
"Selamat malam." Sapa seseorang membuat Ken terkejut dari lamunannya. Ia menoleh. Model iklan yang ternyata menyapanya. Entah sejak kapan sudah ada di hadapan Kenan.
"Selamat malam." Balas Ken membalas sapaan model bernama Steffi tersebut.
"Bagaimana? Lancar?" Tanya Ken basa-basi.
"Tentu saja boss." Balas Steffi.
"Panggil Adam saja."
"Kalau mas Adam bagaimana?"
"Boleh. Kita terlihat seumuran." Balas Ken. Ia sudah tidak sabar mengakhiri pembicaraan yang menurutnya membuang waktu untuk melihat istrinya yang bodoh itu. Ken tidak ingin Dara kabur, ia takut Dara malah pergi. Hatinya semakin tidak tenang memikirkan hal tersebut.
"Kalau begitu aku harus pergi dulu, menjemput istri. Dia sudah menunggu lama." Ucap Ken yang langsung membuat Steffi kesal. Bagaimana mungkin tidak? Ia mana tahu kalau Kenan sudah punya istri?
"Baik mas Adam. Sampai bertemu lagi." Balas Steffi.
"Tentu."
Ken buru-buru mengambil kunci mobilnya dari dalam saku. Sedikit berlari karena pikiran negatif terus saja mengganggunya.
"Sial." Umpat Ken saat ia menyetir kebut-kebutan.
Ia semakin tidak tenang. Ia meraih ponselnya, menelpon Dara berkali-kali namun nihil, tak ada jawaban dari istrinya.
Ken semakin tidak tenang, ia menambah kecepatan mobilnya. Dara tidak boleh kabur darinya, ia harus tetap ada di genggaman Ken.
Sesampainya dilobby rumah sakit, Ken keluar, melemparkan kunci pada satpam untuk membantunya memarkirkan mobil. Meski satpam rumah sakit tidak bertugas untuk itu.
Ia berlari, menunggu lift sampai pada lantai tempatnya berpijak. Namun sangat lama. Ia benci menunggu. Cepat ia berlari ke lorong, membuka pintu yang menuju tangga darurat. Lagi berlari menaiki tangga tersebut melebihi kecepatan lift.
"Awas saja kalau kamu kabur. Aku akan mengurungmu tidak peduli apapun Dara!" Ucap Ken.
Tulisan 6F tertera di dinding sebelah pintu, lantai tempat Ibu Dara di rawat. Ken buru-buru keluar dari pintu tersebut dan kembali berlari hingga sampai pada depan pintu ruang rawat ibu mertuanya. Ia tak peduli sedari tadi menjadi tontonan orang karena berlagak seperti di kejar rentenir. Kaca persegi yang menampilkan keadaan di dalam ruangan membuat Ken bisa bernapas lega saat melihat Dara tidur di samping ibunya. Dengan posisi duduk, dan tangan yang menumpu kepala di tepi ranjang.
"Suster, buka pintunya." Ucap Ken kepada suster yang ada di meja resepsionist. Beruntung ruangan Ibu Dara terletak dekat dengan meja resepsionist.
"Baik pak."
Setelah dibuka, Ken menutup kembali pintu tersebut, menghampiri Dara dan menggoyang tubuh mungil tersebut agar bangun.
"K..ken.." ucap Dara. Ia mengucek matanya dan berusaha berdiri meski ia masih sangat mengantuk.
"Ayo pulang."
"Iya."
Dara meraih handphonenya dan memasukkan kedalam tas. Mencium kening ibunya.
"Dara pulang dulu bu, baik-baik disini. Nanti Dara kesini lagi." Bisik Dara.
"Cepet!" Ken menarik pergelangan tangan Dara. Membawa istrinya kembali pulang setelah beberapa jam mengurungnya di ruangan ibunya sendiri.
_____
Tepat pukul setengah dua belas, namun Dara sama sekali belum tidur, bahkan ia sudah tidak sabar menanti hari ulang tahun dirinya dan Ken yang entah takdir atau hanya kebetulan bersamaan.
Kue cake dan kado untuk suaminya sudah Dara siapkan di atas meja kamarnya. Ia tak bisa berhenti gugup. Apa Ken akan senang diberi kejutan seperti sekarang? Karena tahun lalu, sebelum mereka menikah, Dara pernah melakukan hal yang sama. Ken tersenyum, ia mengucapkan terimakasih dan mencium bibir Dara untuk pertama kalinya, tepat, di hari ulang tahun mereka, Dara menyerahkan ciuman pertamanya pada cinta pertamanya. Kenan Adam.
Namun kenaifan seorang Dara tidak pernah luntur, apalagi saat menjadi istri Ken, ia tidak bisa kemana-mana. Dirumah, menjadi istri yang baik, yang penurut, yang tidak boleh mengetahui sinar matahari tanpa seizin Ken. Egois memang, Ken tidak memperbolehkan Dara keluar seenaknya tanpa izin darinya. Ken mengizinkan Dara berani keluar dari rumah, jika tidak, ia tak akan berani.
Cklek
Pintu kamar Ken tidak pria itu kunci, di dalam gelap. Kebiasaan Ken saat tidur, ia akan mematikan lampunya, berbeda dengan Dara yang takut saat lampunya mati.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, Dara menyalakan lilin yang ada di atas cake yang ia bawa. Setelah semua siap Dara masuk perlahan.
Ia membangunkan Ken dengan perlahan karena takut membuat Ken terkejut.
"Ken.." bisik Dara.
"Ken bangun.." ucapnya.
Saat Kenan membuka kedua matanya ia terkejut melihat Dara membawa kue ulang tahun dengan lilin menyala. Ia buru-buru duduk di tepi ranjang.
"Happy Birthday Ken..." Ucap Dara ceria. Senyum di bibir Dara membuat Ken tersihir untuk beberapa detik.
"Tiup lilinnya Ken, saya juga punya kado untuk kamu."
Bukannya meniup lilin, Ken berdiri, menghidupkan lampu dan menatap mata Dara tajam. Sedetik kemudian, ia melempar kue ulang tahun yang Dara pegang, bersama dengan membanting kado ulang tahun yang ada di kotak kecil berpita hingga isinya keluar. Sebuah jam tangan, namun sayang jam tangan tersebut sudah pecah karena bantingan itu.
"Kamu melanggar perintah saya lagi!" Bentak Ken.
Berhasil, teriakan Ken berhasil membuat Dara mundur dua langkah untuk menjauhi pria itu seperti biasa.
- To be continue -