
Readers tersayang,
Apa kabarnya hari ini?
Semoga semua dalam keadaan sehat dan bahagia 🤗
Bagi yang sedang mengalami kegundahan hati, semoga segera dilapangkan hatinya.
Bagi yang sedang menemui kesulitan, semoga segera terurai dan menemukan jalan keluar.
Aamiin.
🤗🤗🤗🤗
Readers tersayang,
Dari lubuk hati yang paling dalam, author sampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas support yang readers tersayang curahkan untuk "Always Gonna be You." 🤗
Mulai dari komentar yang keren-keren 😍🤗, like, vote, rate 5 stars 😍🤗.
Sungguh semua itu menjadi support yang luar biasa bagi author untuk terus menyajikan tulisan-tulisan yang lebih baik lagi 🤗.
Jika readers tersayang berkenan, untuk mengisi waktu luang....dipersilakan mampir ke kisah selanjutnya, yang menceritakan tentang adik bungsu AKBP Bintang Persada.
Yups betul sekali, AKBP Bintang Persada adalah sahabat Babang Renren kita semua. Yang pernah menggerebek Mreneo 😁 sekaligus teman main paralayang Bang Rendra 🤗.
Dengan judul "Beautifully Painful".
Semoga bisa sedikit mengobati rasa rindu pada kisah-kisah yang mengharu biru 🤗
See you there readers tersayang 🤗
Cuplikan Bab di Beautifully Painful (untuk menggenapkan minimal posting 500 kata 😁🤗).
Bab. 22. Meregang
-------
Ia harus menunggu selama hampir lima belas menit di kursi teras, ketika akhirnya Sada muncul dari dalam rumah dengan ekspresi wajah yang jelas-jelas ingin membunuh seseorang dengan menggunakan kedua tangannya sendiri.
"Sejak kapan pacaran sama Anja?" tanya Sada tanpa basa-basi sambil tetap berdiri. Membuatnya merasa seperti pesakitan karena ditanya dalam posisi duduk.
"Nggak pacaran lo bilang?!?" tiba-tiba Sada membentak. "Terus apa?! ONS?!"
Ia mengernyit tak mengerti maksud dan arah dari pertanyaan Sada.
"Sekarang gua cukup nanya sekali," lanjut Sada dengan mata menyala. "Elo yang hamilin Anja?!"
DUARRRRR!!!!!
Bom yang selama ini dipegang dan dibawa kemanapun ia pergi tiba-tiba meledak dengan sendirinya tanpa ampun. Menghancurkan seluruh bagian dirinya hingga hancur berkeping-keping menjadi debu yang kini beterbangan kian kemari ditiup angin kencang. Habis tak bersisa.
"B-begini B-bang, M-mas.....," dalam waktu yang sangat singkat dan secepat kilat ia tentu harus menyusun kalimat informatif terbaik yang pastinya tak boleh memancing emosi lanjutan. Dan ini amat sangat sulit.
"S-saya akan bertanggungjawab. S-saya....."
Tiba-tiba Sada sudah merangsek ke hadapannya dan dalam sekejap telah menarik kerah bajunya keatas hingga membuat lehernya tercekik.
"Bang sa t lo!!" sambil tetap menarik kerah lehernya tinggi-tinggi, dengan sekali sentakan Sada telah berhasil mendorong tubuhnya ke belakang hingga punggungnya membentur tembok dengan lumayan keras.
"Orangtua gue lagi sakit, lo malah bikin masalah begini!"
"Lo mau bunuh orangtua gue pelan-pelan hah?!?"
"E-enggak M-mas....s-saya bisa jelasin semuanya....."
BUG!
Sebuah hantaman telak memukul rahang atasnya hingga membuat kepalanya terlempar ke samping.
"I-ini salah paham. S-saya pasti tanggung jawab. K-kami su....."
BUG!
Yang kedua kembali mengenai rahang yang sama. Membuat kepalanya mendadak dikelilingi oleh puluhan bintang dan mata yang berkunang-kunang. Diiikuti setetes air yang keluar dari sudut bibir, pedih sekaligus terasa asin di mulut.
Selanjutnya ia merasa seperti sedang terombang-ambing oleh gulungan ombak besar di tengah samudra dengan angin laut yang sangat kencang untuk kemudian menerbangkannya hingga melayang-layang di udara ketika Sada melancarkan pukulan bertubi-tubi ke seluruh bagian tubuhnya dengan tanpa kecuali.
Ia bahkan mulai merasa sedang meregang nyawa karena Sada tak juga berhenti memukulinya meski ia telah terkapar. Namun tiba-tiba sebuah pekikan kaget mampir di telinga berdengingnya dan berhasil menghentikan pukulan Sada saat itu juga.
"Mas Sadaaa! Jangaaan!"
-------