Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
EPILOG



Rendra


Ia tersenyum senang melihat keriaan yang terjadi di halaman belakang rumahnya. Memperhatikan Riyadh dan Rakai yang sibuk membicarakan hal teknis pekerjaan.


"Bagus, Bang. Kerja yang semangat biar cuan ngalir," batinnya sambil terkekeh.


Kemudian ada Chris yang sejak pertama datang tak pernah berhenti melempar jokes garing, absurd, kadang jorok dan sering menjengkelkan kepada semua orang. Tak terkecuali kepada rombongan mahmud yang pasti akan langsung menyerang balik dengan lebih ganas. Haha.


Membuat siapapun pasti tak pernah menyangka jika pria berwajah kocak itu seorang dokter spesialis jantung sekaligus direktur Rumah Sakit Pemerintah.


"Gue jadi kasihan sama pasien-pasien lo. Berobat bukannya sembuh malah cepet isdet gara-gara dokter sengklek macam lo!" sungut Bayu yang paling sering menjadi sasaran jokes kotor Chris.


"Gue yakin banget nih staf di Rumah Sakit lo bakalan kena serangan jantung berjamaah kalau tahu direkturnya ternyata orang gila," sungut Bayu lagi membuat mereka semua tergelak.


Lalu di sebelah Chris ada Dio, yang sama sekali tak berubah seperti kali pertama mereka bertemu di teras Raudhah. Tenang, penuh senyum, dan leaderable karena selalu bisa meredam gejolak Bayu dan Chris dengan cara yang smooth, jauh dari kesan meledak-ledak atau menggurui.


Dan dibalik sikap humble Dio mungkin orang juga tak menyangka, jika pria jangkung berkacamata minus itu sekarang telah menjadi salah satu profesor computer science yang cukup disegani di Tokyo Tech. Dan telah memiliki gedung Labnya sendiri yang bernama Lab Kamadibrata. Yang beberapa tahun terakhir telah menjadi tujuan favorit banyak mahasiswa Indonesia untuk mengikuti program research exchange dan menjadi pilihan paling diinginkan mahasiswa yang akan menempuh program master maupun doktoral.


Terakhir ada Bayu, yang paling tak punya filter diantara geng Romansa. Tak pernah memikirkan omongan yang akan diucapkan. Asal jeplak. Namun berhasil memperoleh privilege dengan memiliki green card US, karena posisinya yang telah mencapai level middle management sebuah oil company. Luar biasa.


Sementara itu di sudut lain halaman belakang, ia bisa melihat anak-anak berlari kesana kemari dengan riang. Dengan sebagian anak yang usianya lebih besar sedari tadi memilih bermain bola. Atau anak perempuan yang bermain ayunan dan perosotan. Tak ketinggalan para batita yang menjerit-jerit senang berusaha menangkap ikan di kolam. Pemandangan yang membuat siapapun yang melihatnya sontak diliputi kehangatan dan kebahagiaan.


Lalu ada kerumunan para mahmud yang asyik ngobrol sambil ngemil. Entah mengobrolkan apa sampai beberapa kali ia sempat melihat Anggi tertawa-tawa gembira.


Ngomong-ngomong tentang Anggi, ia tak pernah menyangka mereka bisa sampai sejauh ini. Anggi yang diawal pertemuan selalu judes, galak, keras kepala. Namun juga menjadi satu-satunya gadis yang bisa membuat dirinya tetap on track dan bahagia.


Hingga kini mereka memiliki buah hati sejumlah yang selalu ia angankan, menempati lahan asri di tengah pedesaan yang sering ia impikan, juga melakoni pekerjaan yang pernah ia gadangkan. Membuatnya takkan pernah bosan untuk berbisik lirih di telinga Anggi, "I have said this many times but still, i love you more than anything."


***


Anggi


"Eh, kok mirip," begitu tiap kali Chris berjalan melewatinya dan Ilma.


"Kalian kembar ya?" seloroh Chris lagi.


"Dio!" panggil Chris. "Mereka berdua mirip banget nggak sih? Sampai siwer mata gue."


Yang hanya dibalas dengan senyum kaku Dio.


Chris masih terus menggoda tentang kemiripan wajah mereka berdua namun ia mengabaikannya, lebih memilih untuk bermain-main dengan Azami, karena Pingkan dan Aksa tengah asyik bermain sendiri setelah kenyang menyusu.


Sambil bermain dengan Azami ia sesekali ngobrol dengan istri Dio dan istri Bayu. Apalagi kalau bukan membicarakan tentang anak-anak. Mulai dari tumbuh kembang sampai mengolah makanan yang mengandung sayur namun tetap disukai.


Di sela-sela pembahasan all about children, ia sempatkan untuk bertanya tentang suka duka tinggal di negara orang. Yang menurutnya akan sangat menyenangkan tinggal di negara maju yang memiliki peradaban tinggi.


"Seru ya tinggal disana?" tanyanya ingin tahu. Dulu ia pernah memimpikan bisa pergi dan tinggal di Jepang. Tapi takdir belum mengijinkan.


"Seru sih. Semua serba teratur, disiplin, taat aturan."


"Meski menganut individualis tapi sama sekali nggak egois. Orangnya ramah-ramah. Masih bisa saling bicara dengan orang asing."


"Terus kalau nolong orang juga nggak tanggung-tanggung."


"Saya pernah tersesat waktu ketinggalan bus mau pergi ke perpustakaan daerah. Tapi ada orang yang bersedia mengantar sampai ke tempat tujuan. Padahal harus jalan kaki 15 menitan. Hujan pula, nggak pakai payung, basah, dan saya cuma sempat mengucapkan terima kasih tanpa pernah berkenalan."


Ia mendengarkan cerita dengan antusias. "Pantesan betah," selorohnya.


"Tapi dukanya juga banyak," jawab Ilma sambil tertawa.


"Nggak bisa sering-sering pulang. Apalagi Mas terikat kerjaan."


"Harus bisa ngapa-ngapain sendiri. Nggak ada saudara, apalagi nenek kakek yang bisa dititipin cucu."


Lalu mereka tertawa bertiga.


"Oya, disana juga apresiasinya juara. Setiap usaha atau karya sekecil apapun pasti dapat apresiasi tinggi."


"Good job. That's interesting. You did it right. Bertebaran dimana-mana."


"Awal-awal saya sempat ge-er. Karena agak beda dengan disini kan?"


Mereka bertiga lalu saling melempar senyum tanda mengerti.


"Hal sebagus apapun kadang cuma dikomentari, halah kayak gitu doang. Atau gitu doang semua orang juga bisa."


"Jadi benar-benar menghargai orang lain ya? Memanusiakan manusia," ujarnya sambil memberi Azami sepotong pepaya untuk dimakan.


"Azami suka?" tanyanya sambil tersenyum. Yang disambut dengan celotehan senang Azami.


"Iya, efeknya karena mendapat apresiasi, kita jadi merasa dihargai. Termotivasi untuk berbuat lebih baik lagi."


"Tapi ya keadaan nggak selalu sesempurna itu. Hal buruk juga banyak."


"Intinya yang baik kita tiru, yang buruk jangan sampai kita lakukan."


Ia tersenyum mengerti. Sementara dari arah panggung kecil yang dipenuhi alat musik, terdengar bunyi bass yang tengah disetel. Diikuti teriakan antusias anak-anak yang ikut berseliweran di atas panggung.


"Wah, showtime," ujar istri Dio antusias. Namun Azami yang telah menghabiskan cemilan buahnya mulai merengek karena mungkin merasa lengket dan mengantuk.


"Sepertinya saya harus membersihkan Azami dan menidurkannnya," ujar istri Dio.


"Oh, iya, silahkan. Sudah kami sediakan tempat untuk istirahat," ujarnya sambil beranjak untuk menunjukkan tempat para tamu bisa beristirahat.


Sambil menunggu istri Dio membersihkan kedua tangan dan mulut Azami agar tak lengket lagi, ia juga ikut memindahkan si kembar ke dalam kamar karena telah terlelap di atas bouncer.


"Mba Suko, boleh tolong jagain ya Mba. Kalau bangun langsung panggil saya."


"Siaappp Mba Anggi," Mba Suko mengacungkan jempol.


Bertepatan dengan istri Dio yang telah selesai membersihkan dan mengganti baju Azami.


"Saya mau menemani Azami sampai tertidur," ujar istri Dio.


"Boleh...boleh....nanti kalau udah tidur, langsung ke sana lagi aja," ujarnya sambil menunjuk halaman belakang dimana suara keyboard dan gitar mulai mengalun. Disusul suara tepuk tangan para hadirin.


"Jangan khawatir, ada Mba Suko disini. Jadi kalau anak-anak bangun bisa langsung tahu," tambahnya lagi.


Istri Dio tersenyum mengangguk.


Begitu ia sampai di halaman belakang, penampilan pertama baru akan dimulai. Dimana Rendra tengah ditarik oleh Chris dan Bayu agar berdiri di tengah panggung.


"Tuan rumah pertama dong," ujar Bayu dan Chris kompak.


Sambil tertawa-tawa Rendra akhirnya mengalah dengan mendudukkan diri di atas kursi yang berada di tengah panggung.


"Ladies and gentleman," begitu Chris dengan suara dibuat-buat seperti nada bicara pembawa acara tinju yang akan memulai pertandingan ronde pertama.


"Let’s getting ready for showtime!” lanjut Chris sambil bertepuk tangan tinggi-tinggi di atas kepala.


"Reeeeen....," begitu Chris seakan-akan benar berada di tengah ring tinju. Diikuti cekikikan anak-anak yang masih berkeliaran di sekitar panggung.


"Draaaaa....."


Sambil terus tertawa memperhatikan tingkah Chris, Rendra pun mulai memetik gitar akustiknya.


'Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir kali


Kita berbincang tentang memori di masa itu


Peluk tubuhku usapkan juga air mataku


Kita terharu seakan tidak bertemu lagi


Bersenang-senanglah


Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan


Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan


Bersenang-senanglah


Kar'na waktu ini yang 'kan kita banggakan di hari tua'


(Sheila on 7, Sebuah Kisah Klasik untuk Masa Depan)


Sambil terus bernyanyi, mata Rendra tak pernah lepas memandanginya. Membuat beberapa orang yang mengetahui hal tersebut, kemudian tersenyum penuh permakluman kearahnya.


"Bang Rendra so in love banget sama Mba Anggi," bisik istri Rakai dengan mata berbinar.


"Kapan ya Abang bisa seromantis Bang Rendra?" lanjut istri Rakai lagi dengan mata makin berbinar.


Ia yang awalnya malu -ya ampun, dipandang suami sendiri masih malu-malu aja sih- dan merasa seluruh wajah berubah panas sekaligus memerah, jadi ikut tertawa demi mendengar ucapan terakhir istri Rakai. Pertanyaan retoris yang siapapun bisa mengetahui jawabannya. Karena Rakai jelas bukan tipe jago gombal seperti Rendra.


Tatapan tajam sekaligus dalam namun penuh kelembutan Rendra membuat ingatannya kembali melayang pada masa silam. Tepat ketika Rendra tersenyum kearahnya, bibirnya mendesiskan kalimat lirih, "Did you remember the first day we met?"


"I had no damn idea you would be so important to me."


***


Dio


Ketika Rendra masih melantunkan Kisah Klasik untuk Masa Depan dengan mata terus menatap Anggi, ia melihat istrinya muncul dari dalam rumah untuk kemudian berjalan mendekatinya.


"Azami?" tanyanya sambil meraih tangan sang istri yang kini telah mendudukkan diri di sebelahnya.


"Sleep well," jawab istrinya sambil merebahkan kepala di bahunya.


Setelah Rendra, masih ada Bayu dan Chris yang berduet menampilkan lagu dangdut sejuta umat. Diiringi petikan bass dari Rendra dan keyboard Riyadh. Tentu sambil bercanda dan tertawa-tawa nggak jelas.


Jane ku ngerti ono ati sliramu


Nanging anane mung sewates konco


Podo ra wanine ngungkapke tresno


Yen ku pandang gemerlap nyang mripatmu


Terpampang gambar waru ning atimu


Nganti kapan abot iku ora mok dukung


Mung dadi konco mesra mergo kependem cinta'


(Nella Kharisma, Konco Mesra)


Tak ketinggalan team anak-anak yang berusia lima tahun keatas, kompak menyanyikan sederet lagu penuh keceriaan. Yang berhasil membuat suasana bertambah hangat dan menyenangkan.


Five little ducks went out one day


Over the hill and far away


Mother duck said, "Quack, quack, quack, quack"


But only four little ducks came back


One, two, three, four


(Five little ducks)


Disusul Riyadh, yang spesial menyanyikan Everything nya Michael Bubble dengan sangat keren.


"Kapan lagi nih kita bisa lihat Dirjen perform," seloroh Chris yang bersama Bayu mendaulat diri sendiri menjadi MC dadakan.


'You're a falling star, you're the get away car


You're the line in the sand when I go too far


You're the swimming pool on an August day


And you're the perfect thing to see


And you play you're coy, but it's kinda cute


Oh, when you smile at me you know exactly what you do


Baby, don't pretend that you don't know it's true


'Cause you can see it when I look at you


And in this crazy life, and through these crazy times


It's you, it's you; you make me sing


You're every line, you're every word, you're everything'


(Michael Bubble, Everything)


Selama itu pula ia terus menggenggam tangan istrinya.


"Terima kasih sudah membawaku kemari," bisik istrinya ketika Chris dan Bayu tengah menyeret Rakai agar maju ke atas panggung. Dan ekspresi Rakai yang terang-terangan menolak justru membuat duet MC paling ancur semakin semangat.


"Ayo dong!" Bayu dengan setengah memaksa tanpa ampun menarik tangan Rakai.


Sementara Rakai terus saja mengucapkan, "No no no!" sambil menggelengkan kepala dengan wajah merah padam.


"Kini aku semakin mengerti apa yang kamu rasakan."


Ia masih menggenggam erat tangan istrinya ketika Chris dan Bayu tiba-tiba beralih kearahnya karena usaha menarik Rakai gagal.


"Yeah, berhubung kita tamu, jadi nggak berani lah ya sama yang punya Jogja," ujar Bayu pura-pura menggerutu.


"Ntar bisa-bisa kita pulangnya dicegat di pertigaan nih!" timpal Chris sambil bergidik ngeri.


"Bisa-bisa kita tertahan disini," sambung Bayu ikut bergidik. "Nggak bisa pulang. Ampun Bang!"


Sementara Rakai yang telah duduk kembali hanya menyeringai sambil tertawa.


"Jadi mau nggak mau elo," tunjuk Bayu kearahnya dengan semena-mena.


Ia hanya tertawa dan berniat menolak. Namun genggaman tangan istrinya mendadak mengerat, "Ayo, kapan lagi...."


Mau tak mau ia maju ke atas panggung karena Chris dan Bayu telah menarik paksa dirinya.


"Kita tampil bertiga ya," ujar Bayu penuh semangat. "Tadi penampilan pertama hancur soalnya."


"Lo keyboard biasa," tunjuk Chris padanya.


Ketika ia sedang check sound, Chris telah memasang gitar sementara Bayu duduk di belakang drum.


"Apa nih?" tanya Bayu.


"Dulu kita bertiga sering ngejam bareng," seloroh Chris. "Anak band wannabe....."


"Cuman nggak berbakat jadi putus di tengah jalan," tambah Chris lagi tertawa. "Band gagal."


"Jadi untuk yang pertama....kita nostalgia dulu ya," ujar Chris lagi.


"Nanti habis ini, baru bisa request," lanjut Chris penuh percaya diri.


"Para mamah muda mungkin ada lagu yang mau di request, boleh nanti kasih ke kita ya. Pastinya takkan mengecewakan," Chris semakin tak bisa di rem mulutnya. Disusul teriakan,


"Huuu!!" dari para wanita sambil mengacungkan jempol ke bawah.


"Tenang...tenang....," Chris mengangkat kedua tangan keatas kepala bagai rockstar yang sedang menenangkan sejumlah penonton big concert yang mulai chaos.


"Semua kebagian kok," ujar Chris dengan gaya sok cool.


"Turun! Turun! Turun!" teriak para wanita dan anak-anak sambil mengacungkan tangan tak setuju.


Membuatnya menggelengkan kepala sambil tertawa.


"Karena ini family gathering, banyak anak kicik kicik pula," Chris menunjuk anak-anak yang tengah asyik bermain sendiri.


"Jadi lagunya yang aman-aman saja ya. Sedang-sedang saja....."


Lalu sambil saling melempar pandangan, mereka akhirnya memainkan lagu favorit masa sekolah.


'Sahabat sejatiku


Hilangkah dari ingatanmu


Di hari kita saling berbagi


Dengan kotak sejuta mimpi


Aku datang menghampirimu


Kuperlihat semua hartaku


Kita slalu berpendapat


Kita ini yang terhebat


Kesombongan di masa muda yang Indah


Aku raja kaupun raja


Aku hitam kaupun hitam


Arti teman lebih dari sekedar materi'


(Sheila on 7, Sahabat Sejati)


Sambil memainkan keyboard dan sesekali ikut bernyanyi, ia teringat sebuah pepatah yang mengatakan God only makes happy ending, if it's not happy, then it's not the end.


Tak pernah kita pikirkan


Ujung perjalanan ini


Tak usah kita pikirkan


Ujung perjalanan ini


(Sheila on 7, Sahabat Sejati)


---------------- E N D ----------------


*****


Readers tersayang 🤗 usai sudah perjalanan Always Gonna be You. Semoga bisa menikmati ceritanya ☺️.


Masih ada tiga hari extra sambil menunggu spin offnya 🤗, jadi selama tiga hari ke depan masih stay tune disini yaaa 🤗