Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
37. Going Through The Pain



Rakai


Ia memaki diri sendiri karena sudah dua kali berada di waktu dan tempat yang hampir sama menyebalkannya. Seperti sudah diatur dalam gerakan slow motion, ketika baru setengahnya membuka pintu room perawatan Rendra, ia melihat tubuh Anggi melayang di udara seperti secarik kertas dan hampir menggelosor jatuh ke lantai kalau saja ia tak segera terbang untuk meraihnya.


Ia tak tahu harus membawa Anggi yang masih lemah karena baru sadarkan diri kemana untuk memastikan keadaan baik-baik saja. Namun perawat dengan cekatan merekomendasikannya untuk segera membawa Anggi ke poli kandungan dan kebidanan di lantai bawah.


"Istri anda mengalami kelelahan, dehidrasi, dan sedikit pendarahan," ujar seorang dokter paruh baya usai memeriksa kondisi Anggi yang kini terlihat masih lemah tak berdaya diatas examination table.


"Maaf, Dok, sekedar informasi, kalau kami...bukan suami istri," sahutnya cepat sambil meringis kaku. Seandainya Rendra bisa mendengar ucapan dokter yang barusan, bisa-bisa ia digampar habis-habisan. Tahu betul seberapa besar tingkat keakuan Rendra jika menyangkut tentang Anggi.


Dokter memperbaiki letak kacamata sambil melihatnya dengan tatapan bingung.


"Ini istri sepupu saya yang sekarang sedang dirawat di lantai atas karena baru saja mengalami kecelakaan," lanjutnya lebih detail.


"Oh," dokter mengangguk mengerti. "Jadi sekarang anda yang bertindak sebagai wali?"


"Kurang lebih," jelas, tak ada orang lain lagi.


"Baik. Jadi begini, saya sarankan pasien di opname, untuk penanganan lebih intensif."


Ia mengangguk mengerti.


"Karena selain mengalami dehidrasi, berdasar hasil USG yang baru saja dilakukan, pendarahan yang terjadi mengarah ke placenta previa."


"Apa Dok?" ia mengernyit karena sama sekali tak mengerti istilah-istilah tentang kehamilan.


"Placenta previa itu suatu kondisi dimana placenta berada di bagian bawah rahim. Sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir."


Ia semakin mengernyit tak mengerti.


"Pasien harus bed rest, banyak berbaring, tidak melakukan aktivitas yang berat-berat, dan sebaiknya tidak melakukan hubungan intim."


Akhirnya, setelah melobby pihak rumah sakit, Anggi diperbolehkan dirawat di room yang sama dengan Rendra. Hal ini tentu sangat melegakan, karena ia tak harus bolak-balik di lantai yang berbeda.


"Nak Rakai pulang dulu, biar Tante yang jaga disini," ujar Mamah yang segera datang ke rumah sakit begitu ia memberitahu jika Anggi harus dirawat.


"Nggak papa Tante, disini juga bisa istirahat," toh ia masih bisa tidur selonjoran di atas sofa.


Mamah menggeleng, "Gantian, dari kemarin nak Rakai udah bolak-balik ngurusin Rendra. Sekarang pulang dulu aja. Istirahat di rumah. Besok Adit sama Papah udah kesini, bisa buat gantian jaga."


***


Rendra


"Ah, brengsek!" ia terbahak sambil menggelengkan kepala tak mengerti mendengar cerita Mas Sada tentang kelakuan beberapa pejabat yang tak bisa main cantik dalam menghandle mistressnya. Hingga bisa dimanfaatkan oleh lawan politik termasuk aparat untuk kepentingan yang lebih besar.


"Yang kena ciduk kemarin terus lenggang kangkung, tuker kepala sama siapa?" tanyanya penasaran tentang kasus prostitusi online yang menimpa salah satu artis A List, yang beberapa waktu lalu meledak di media.


Mas Sada menggelengkan kepala sambil tertawa, "Nggak cuma siapa tapi apa, berapa, itu yang penting."


Ia mendecak, "Bener-bener, semua bisa dimainin."


"Yeah, this is life in the cruel world," Mas Sada menghela napas panjang.


Dari Pantai Parangtritis ia membelokkan kemudi ke kiri menuju Jalur Lintas Selatan. Terus melaju ke arah Panjang. Tak lama kemudian menemui pertigaan, ia mengambil kanan, akhirnya sampailah di tempat parkir bukit paralayang Gupita.


Kini ia telah mengenakan baju terbang, sedang menyiapkan parasut utama dan cadangan, harness (tempat duduk untuk penerbang), kemudian memakai sarung tangan dan helmet.


Tak lupa mengecek keberadaan HT (radio komunikasi), Variometer (alat untuk mengukur kecepatan vertikal), GPS dan Wind Meter (alat untuk mengukur kecepatan angin).


Dari landasan di puncak bukit ia bisa menikmati indahnya pemandangan pantai, hamparan sawah dan rumah penduduk. Angin yang berhembus perlahan dan udara yang hangat serta cuaca cerah menjadi pelengkap sore yang sempurna.


Mas Sada lebih dulu take off, "See you there!"


Sementara ia berada di urutan ketiga. Dengan diiringi suara gemuruh tepuk tangan dari para pengunjung di atas bukit, ia mulai berjalan.


Sempat melirik layar wind meter yang menunjukkan angka sempurna untuk take off, ia kemudian berlari menuruni bukit, berlari dan terus berlari hingga pijakan kaki terasa hilang. Kemudian arus udara naik membuatnya membumbung di atas ketinggian.


"Hohoooo!" dalam hitungan detik ia sudah bisa berteriak lega ketika parasut mulai mengembang di udara. Melintasi pantai Parangtritis menuju landasan yang terletak di antara pantai Parang Kusumo dan Pantai Depok.


Ia tengah menikmati keindahan alam berupa hamparan pemandangan hingga jauh ke horizon, melintasi laut berwarna kebiruan dari atas ketinggian, sambil bergumam dalam hati suatu saat harus mengajak Anggi dan Arung melakukan hal sefenomenal ini.


Telinganya bahkan sayup-sayup masih bisa mendengar sambutan meriah dari para wisatawan yang sedang berada di sepanjang pantai ketika tiba-tiba angka di layar wind meter bergerak cepat disusul hembusan angin yang sangat kencang menghantam tubuhnya hingga membuat parasut collapse seketika.


Disini ia mulai merasa khawatir. Tangannya terus berusaha menggoyang-goyangkan kabel untuk membuka parasut cadangan. Namun kini menjadi pekerjaan yang sangat sulit akibat belitan kanopi dan parasut utama. Ia terus berusaha mencoba, tapi selalu gagal.


Kengerian mulai melanda. Teror dan rasa panik mendadak menyerang. Semua hal yang tak diinginkan terjadi. Ia tak bisa memproses apapun selain mendengar jerit ketakutan para pengunjung dari arah pantai.


Semuanya terjadi sangat cepat. Tubuhnya berputar-putar di udara. Terjun dari ketinggian ratusan meter dengan kecepatan 80 km/jam. Menghantam air laut yang terasa sekeras beton. Terpental lalu memantul. Menghantam lagi. Kemudian tenggelam.


Sakit. Mungkin juga ia akan mati. Disini. Di tengah samudera. Tanpa orang-orang tercinta.


Kepala dan pikirannya sangat sulit untuk memproses apapun. Yang bisa diingat hanyalah luapan emosi rasa bersalah. Dengan bayangan wajah ceria Anggi dan Arung yang bergantian muncul tepat di depan matanya.


"Have fun ya."


"Kekekekeekk.....Kekekekeekk...."


Ia merasa kematian sedang menjemput. Semuanya mendadak berhenti berfungsi dan mati rasa.


Apakah ia bisa melihat wajah mereka lagi?


***


Rendra


Ia seperti tengah tertidur nyenyak di atas kasur paling empuk dengan mimpi indah sedang bercengkrama bersama Anggi dan Arung di ruang tengah, ketika telinganya mendadak mendengar gemuruh teriakan orang-orang di sekitarnya.


"Rendra!"


"Rendra!"


"Rendra!"


Itu suara Mas Sada dan teman-teman paralayangnya. Entah mengapa mereka berteriak panik memanggil-manggil namanya. Namun lambat laun suara-suara itu mulai menghilang. Dengan tubuhnya yang serasa melayang di udara.


"Alhamdulillah....."


"Tapi posisi jatuhnya sangat buruk....."


Ia yang masih tertidur nyenyak merasa seseorang telah melemparkan tubuhnya dengan keras ke bawah. Hingga hidungnya mencium aroma tajam obat-obatan, suara desis alat, bunyi mesin yang teratur, dan suara orang-orang yang sedang berbicara namun tak terlalu jelas.


"Alat tak lengkap...."


"Berapa lama....apakah bisa...."


"Trauma dan cedera yang parah....."


"Harus dirujuk......"


Ia mendadak merasakan sakit yang amat sangat di sekujur tubuh. Seperti jarum yang menusuk-nusuk dimana-mana. Bahkan hingga di dalam tubuh di tempat tak terjangkau sekalipun. Terasa sungguh menyakitkan. Membuat kesadarannya timbul-tenggelam.


"Ren, kita jalan....."


Itu suara Mas Sada lagi. Terdengar jelas di telinga.


"Jangan kecewakan gua...."


"Lu kuat....lu bisa....."


Tetapi kemudian tubuhnya kembali melayang, tak lagi mendengar suara apapun.


Namun lagi-lagi ia merasa seseorang telah melemparkan tubuhnya dari atas ketinggian. Kasar. Keras. Sakit.


Dalam keadaan setengah sadar, ia kembali mencium bau tajam obat-obatan. Mendengar suara mesin yang berbunyi teratur dan alat mendesis yang jelas menempel di tubuhnya.


“Berapa lama…hasilnya?”


“Setelah itu?”


“….menunggu ahli bedah malam ini."


"Prosedurnya begini...."


“Kapan?”


Suara percakapan orang asing yang samar dan halus menghampiri telinganya. Ia sama sekali tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Apakah ini semua berkaitan dengan dirinya?


"Ren....brengsek lu! Berani-beraninya ninggalin gua begini!"


Ia mengenalinya. Ini suara Rakai. Jelas Rakai.


"Gua nggak akan pernah maafin lu kalau begini caranya!"


Kenapa Rakai marah dan mengancamnya tapi sambil menangis?


"Lu harus bisa tahan! Lu kuat! Lu nggak mau ninggalin Anggi jadi janda kan?!"


Brengsek Rakai! Kenapa mesti bawa-bawa Anggi dan....janda? Apa maksudnya?


"Abang?"


Anggi?! Apa yang terjadi? Mengapa Anggi juga menangis? Apa yang telah dilakukannya? Apakah ia telah mengecewakan Anggi? Tidak. Ia takkan pernah mengecewakan pujaan hati.


“…infeksi dan komplikasi...."


"Kelumpuhan total atau sebagian....."


".....resikonya......"


".....harus memilih.....tidak....."


Ia tak mengerti arti kata-kata yang dilemparkan padanya dengan bertubi-tubi. Ia hanya ingin menghindar lalu pergi. Karena kata-kata itu terdengar sangat menakutkan. Membuatnya kemudian berusaha keras untuk menghilangkan suara-suara samar di sekeliling. Menenggelamkannya di dasar lautan yang paling dalam.


***


Anggi


Menurut dokter ia mengalami Placenta previa, yang mengharuskannya bedrest untuk mengurangi perdarahan.


Sungguh ia tak berani memikirkan kemungkinan apapun. Hanya ingin memejamkan mata barang sejenak, kemudian bangun dari mimpi buruk ini, untuk menyadari sesungguhnya semua dalam keadaan baik-baik saja.


Ia dirawat bersebelahan dengan Rendra yang masih dalam tahap pemulihan. Hanya bisa membuka mata dan memberi isyarat. Belum mampu menggerakkan kepala, tangan, kaki. Bahkan untuk menengok ke samping kearahnya pun Rendra belum bisa. Membuat air matanya jatuh berderai.


"Istighfar Ndo," begitu Mamah memeluknya. "Sudah alhamdulillah Rendra bisa sadar."


"Masih pemulihan, nanti kalau sudah waktunya juga bisa sembuh seperti biasa," tambah Papah berusaha sekali untuk menenangkan sambil mengelus kepalanya.


Semua kejadian ini membuat syukuran 4 bulanan yang rencananya akan digelar di hotel batal.


Namun atas inisiatif Rakai, acara doa bersama 4 bulanan tetap diadakan di rumah sakit, dengan mengundang Ustadz Dwijayanto. Sekaligus mendoakan Rendra, yang besok akan menjalani operasi ketiga kalinya untuk mengatasi penggumpalan darah yang terjadi akibat operasi yang dilakukan sebelumnya.


Sementara anak-anak ManjoMaju bertanggungjawab menghandle pembagian bingkisan berupa makanan dan souvernir 4 bulanan untuk tetangga sekitar, teman, sahabat, kenalan, juga para dokter dan perawat yang merawat mereka berdua, sekaligus para pasien di lantai tempat mereka dirawat.


Dokter mengijinkannya pulang ke rumah setelah dirawat selama 5 hari. Namun Rendra masih harus dirawat intensif di rumah sakit.


Papah Mamah sudah harus pulang ke rumah, karena Papah masih harus dinas masuk kantor. Adit juga harus segera kembali ke Bandung karena jadwal kuliah dan tugas telah menunggu. Kini tinggal ia, Arung, Mba Suko, Yu Jum, yang bahu membahu membagi waktu antara mengurus Arung sekaligus merawat Rendra di rumah sakit.


Rakai setiap hari menengok Rendra di rumah sakit, namun ia tentu tak boleh terus menerus mengandalkan Rakai untuk meminta pertolongan. Karena ManjoMaju juga harus tetap diurus.


Jadilah kadang ia meminta bantuan Amin dan istrinya jika sewaktu-waktu memerlukan. Bahkan Bagus dan adiknya juga tak segan-segan ikut membantunya. Mulai dari menemani Rendra di rumah sakit saat ia harus tidur di rumah karena Arung demam, sampai membantunya belanja kebutuhan rumah dan hal kecil namun berarti lainnya.


Membuatnya bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang baik tanpa pamrih.


Namun yang paling menyedihkan tentu adalah Rendra. Tesis yang sudah setengah jalan harus mangkrak. Termasuk tanggung jawab yang baru diembannya dua minggu sebelum kecelakaan, yaitu menjadi dosen tamu pengampu mata kuliah perancangan dan pengembangan produk & praktikum perancangan dan pengembangan produk, harus terhenti dan digantikan oleh orang lain.


"Abang belum makan?" petang ini sepulang dari kampus ia langsung pergi ke rumah sakit, dan mendapati jatah makan malam Rendra masih utuh.


"Aku suapin ya?"


Namun Rendra terus menggeleng.


Sejak siuman setelah dilakukan operasi yang ketiga kalinya, Rendra mendadak berubah seperti bukan Rendra yang biasa. Menjadi pendiam, murung, dan minim ekspresi.


Hampir tak bersisa Rendra si young and dangerous yang selalu penuh percaya diri, ceria, jago sepik iblis, sering menggodanya, selalu optimis dan tangguh pantang menyerah.


Kini Rendra telah berubah menjadi orang lain. Menjadi Rendra yang berbanding terbalik 180 derajat dibanding Rendra yang dulu. Sungguh ia tak mengerti.


Padahal Rendra sudah bisa duduk sendiri, sudah bisa menggerakkan kedua tangan meski memang harus sangat perlahan dan berhati-hati. Sudah banyak peningkatan dibanding saat pertama kali operasi yang bahkan hanya bisa menggerakkan bola mata.


"Abang tahu nggak....Arung udah mau 9 bulan. Udah jago merangkak. Kadang malah udah berdiri-diri sendiri. Tapi masih jatuh jatuh sih," setiap hari ia selalu membawa berita baru tentang Arung. Foto terbaru. Video lucu.


Namun justru membuat air muka Rendra berubah murung lalu bersedih. Pernah malah Rendra sampai menangis saat ia menunjukkan video Arung yang sedang makan sendiri di atas high chair. Belepotan sampai se meja-mejanya. Video yang menurutnya lucu tapi sepertinya sangat menyedihkan bagi Rendra.


"Aku pingin lihat Abang senyum lagi," bisiknya sambil memeluk punggung Rendra yang duduk di kursi roda. Karena tak mampu lagi melihat wajah Rendra yang selalu datar tanpa ekspresi, membuat hatinya bagai tersayat sembilu.


"Abang pasti sembuh," lanjutnya sambil menahan tangis. "Nanti pas aku lahiran yang kedua, Abang yang nganter ke rumah sakit sama nungguin aku ya. Persis kayak waktu Arung sama Rimba dulu."


Kalimat yang justru membuat mereka menangis bersama.


"Abang kenapa nangis??" gerutunya disela isakan. "Nangis kan trade mark ku," lanjutnya sambil berlinang air mata. "Jangan rebut trade mark ku dong Bang."


Rendra justru semakin menunduk sambil memegang tangannya dalam-dalam, "So sorry....so sorry....."


"Kenapa minta maaf," ia semakin mengeratkan pelukan, sembari menyembunyikan wajah di leher Rendra. "Ini bukan salah Abang. Kita bisa lalui sama-sama...."


***


Rendra


Ini hari ke 23 ia menjadi orang pesakitan yang tak berdaya di rumah sakit.


Menyedihkan sekali bukan?


Setiap hari harus melihat senyum Anggi yang meski masih mengalami flek akibat dari Placenta previa, namun tetap sanggup untuk beraktivitas dengan intensitas tinggi. Bekerja, kuliah, mengurus Arung, sekaligus mengurus dirinya. Damned!


Sesungguhnya ia bukan tipe manusia yang menyesali nasib. Atau mengutuki kejadian yang telah lewat. Namun ucapan dokter ahli bedah saraf kepada Rakai yang tak sengaja ia dengar usai operasi untuk ketiga kalinya, telah berhasil menghempaskan seluruh bagian dirinya ke dalam jurang penyesalan yang paling dalam.


"Masa pemulihan cedera saraf tulang belakang berbeda-beda pada tiap pasien. Biasanya sekitar 1 minggu sampai 6 bulan. Pada beberapa kasus, waktu yang dibutuhkan pasien untuk kembali pulih bisa mencapai 1-2 tahun."


"Nggak ada second opinion Dok? Untuk kasus pasien Rendra apakah bisa dilakukan tindakan medis lain untuk memastikan pemulihan yang lebih cepat?"


"Untuk saat ini belum. Ini sudah hasil maksimal."


"Karena pasien Rendra mengalami cedera saraf tulang belakang traumatis akibat jatuh dari ketinggian. Yang menyebabkan kerusakan pada jaringan, bantalan, tulang, dan saraf tulang belakang."


"Untuk kasus cedera traumatis, pasien Rendra justru paling bagus kondisinya. Karena hanya terindikasi mengalami kelumpuhan kedua tungkai."


"Mengalami kelumpuhan kedua tungkai."


"Mengalami kelumpuhan kedua tungkai."


"Mengalami kelumpuhan kedua tungkai."


Kalimat paling mengerikan sekaligus menyakitkan yang pernah ia dengar sepanjang hidup. Yang tanpa ampun berhasil menggerus harga diri, kepercayaan diri sekaligus keyakinannya hingga ke titik nadir.


Dan hari ini, berdasarkan hasil foto Rontgen, CT Scan, dan MRI yang terakhir, dokter memperbolehkannya untuk melanjutkan perawatan secara mandiri di rumah.


Jauh-jauh hari, ia telah meminta dengan sangat kepada Anggi, agar menyiapkan kamar tamu untuknya. Himpitan kemarahan dan rasa bersalah membuatnya tak memiliki nyali sedikit pun untuk tinggal dan tidur bersama-sama dengan dua orang terkasih, Anggi dan Arung.


Tidak. Mereka tidak boleh melihat ketidakberdayaannya. Ia tak ingin membuat mereka khawatir lalu merasa kasihan. Big no! Ia akan memulai hidup dengan his own way.


Meski awalnya Anggi menolak mentah-mentah, "Kenapa? Arung udah kangen banget pingin bobo berdua sama Abang."


Namun ia bersikeras.


"Gua udah tahan-tahanin nih nggak ngomong ke elu," ujar Rakai dengan mata penuh amarah setelah membantu mendorong kursi rodanya ke dalam kamar tamu.


"Tapi elunya ngelunjak!"


Ia memandang Rakai malas. "Apa?"


"Mau lu apa sih tidur pisah pisah gini di kamar tamu? Jangan jadi ba ji ngan lu!"


Ia hanya mendecak sambil memutar kursi roda agar memunggungi Rakai.


"Si Anggi tiap hari bolak balik kesana kemari ngurus elu biar elu cepet pulang ke rumah ngumpul lagi bareng-bareng. Tapi sekarang? Malah jadi begini. Brengsek lu!"


"Kalau udah selesai ngomong lu bisa keluar," ujarnya datar. "Tahu dimana pintunya?"


Ia mendengar Rakai mendesis marah. "Mungkin sekarang Tuhan nyesel udah ngasih kesempatan kedua! Karena bukannya tambah baik, lu malah jadi tambah brengsek!"


"Keluar!"


"Kalau sebulan ini, sesuai masa pemulihan menurut dokter, lu masih belum berubah, gua bakal....."


"KELUAR!!"


Sejak saat itu, Rakai tak pernah menemuinya lagi. Semua urusan mereka yang berhubungan dengan ManjoMaju, difasilitasi oleh Puput atau Danu yang kini hampir tiap hari menyambangi rumahnya. Hanya sekedar untuk meminta tanda tangan, mengantar dokumen perjanjian penting, atau sekedar menyampaikan pesan Rakai. Brengsek emang!


Satu bulan berada di rumah, ia masih belum mengalami kemajuan berarti. Lengannya masih sering sakit ketika digerakkan. Tungkainya bahkan belum bisa merasakan apapun alias mati rasa. Semua ini membuatnya semakin frustasi.


Padahal seluruh pesan dokter telah ia lakukan. Obat rutin dikonsumsi. Jadwal fisioterapi sebanyak tiga kali seminggu pun selalu diikuti tanpa pernah absen. Ia bahkan diam-diam sering melatih sendiri kekuatan otot untuk mengembalikan kemampuan bergerak. Meski harus menahan sakit yang luar biasa. Namun masih belum menunjukkan hasil yang diharapkan.


Tetapi sesungguhnya hal yang paling mengganggunya adalah kehidupannya dengan Anggi. Yang kian hari kian terasa hambar dan menjauh. Salahnya memang karena selalu mengurung diri kemudian menghindar. Membuatnya semakin marah sekaligus membenci diri sendiri.


Terlebih saat ia tahu Anggi masih mengalami flek, yang membuatnya harus bedrest seminggu penuh. Tak masuk kerja, tak kuliah, tetap tinggal di rumah, sama seperti dirinya, namun mereka berdua berlaku seperti orang asing yang tak saling mengenal.


Tidak, bukan mereka berdua, hanya ia seorang tepatnya. Karena setiap hari Anggi masih menemuinya di kamar. Membantunya menyeka tubuh, memakaikan baju, membawakan sarapan, makan siang, snack, makan malam. Mengingatkannya untuk minum obat.


Menanyakan keadaan dan perasaannya. Menceritakan kejadian lucu hari kemarin. Menempelkan telapak tangannya di atas perut yang semakin membuncit untuk merasakan tendangan ajaib yang seketika berhasil membuat hatinya menghangat namun sedetik kemudian menguap tanpa bekas berganti kemarahan yang kembali menguasai dirinya tanpa ampun.


Tak lupa setiap pagi Anggi juga mendorong kursi rodanya ke halaman belakang untuk berjemur. Mengajak Arung mendekatinya untuk bermain-main dengannya, hingga bayi yang sudah tak seperti bayi itu tergelak-gelak kegirangan.


Namun ia tak bergeming. Terus berdiam diri berkubang dalam perasaan marah yang tiada habisnya.


Sepertinya benar kata Rakai, kalau ia adalah seorang ba ji ngan. Alright.


"Abang, kita berjemur yuk," suara ceria Anggi membuyarkan lamunannya. Yang dengan cekatan menarik tali gorden hingga membuat cahaya matahari masuk ke dalam kamar.


"Tumben tumbenan loh jam enam seperempat pagi udah sehangat ini," ujar Anggi lagi yang kini telah memakai baju kerja.


"Aku bisa sendiri," tolaknya dingin ketika Anggi berniat melepas kaos yang sedang dipakainya.


Anggi hanya tersenyum mengangguk. "Mau mandi dulu nggak?"


Ia menggeleng malas. Lalu sambil tertatih-tatih melepas kaos yang basah oleh keringat dingin ketika tidur. Gerakan yang lumayan menimbulkan rasa nyeri di daerah sekitar lengan dan punggungnya.


Setelah ia selesai memakai kaos baru, Anggi mengulurkan segelas air putih hangat.


"Minum dulu sebelum berjemur," ujar Anggi sambil tersenyum. Cantik, batinnya spontan. Namun segera menguap akibat kemarahan yang kembali dominan menguasai dirinya.


"Arung, ajak main Papi ya," begitu kata Anggi setelah memastikannya berada di tempat yang mendapat sorotan cahaya matahari sempurna.


"Papipapipapi......," celoteh Arung yang sedang merangkak di atas rumput mengejar bola yang tiap disentuh menggelinding kesana kemari.


Apa? Arung sudah bisa menyebut namanya?


"Anak pinter," Anggi tersenyum senang. "Arung udah bisa manggil Papi ya sayang ya? Tuh....keren kaaan....," ujar Anggi sambil memeluknya.


"Papipapipapi.....Papipapipapi....," Arung tergelak-gelak mengikuti arah bola.


"Padahal diajari Mami duluan, eh bisanya malah Papi duluan," cibir Anggi berlagak kesal. Lalu mencium pipinya sekilas, "Aku berangkat dulu ya Bang....."


Ia tak bereaksi apapun. Pura-pura sibuk memandangi Arung yang terus saja merangkak kian kemari. Sedang berusaha keras menipu diri sendiri dengan mengabaikan Anggi sedemikian rupa. Padahal tangannya sudah sangat rindu ingin melingkari tubuh mungil Anggi. Mengelus lesung pipi yang selalu muncul saat tersenyum atau tertawa. Namun semua berhasil ia tekan dalam-dalam.


"Dadah Arung.....ajak Papi main bola sayang.....lempar bola ke Papi," begitu kata Anggi sebelum beranjak pergi.


"Oya Bang, Mba Suko masih ngurus cucian baju di belakang, kayaknya agak lama karena banyak cucian sisa Arung muntah waktu demam kemarin," ujar Anggi lagi dari arah pintu. "Tolong lihatin Arung ya, lagi lasak soalnya, khawatir ke tempat yang bahaya."


Seperti biasa ia tak menjawab, meski telinganya mendengar dengan baik semua instruksi Anggi. Lebih memilih menunduk untuk membaca buku yang sengaja ia bawa dari kamar.


Tak lama kemudian suara mesin mobil Anggi mulai meninggalkan halaman rumah dan terdengar semakin menjauh.


"Papipapipapi.....," suara celotehan Arung masih bisa tertangkap oleh telinganya.


"Nananananananan......"


"Tatadadacacacacaacaa....."


"Papipapipapi....."


Namun entah berapa lama kemudian, saat ia tengah asyik membaca kalimat Simon Sinek tentang, There are only two ways to influence human behavior : you can manipulate it or you can inspire it. Mendadak ia menyadari suasana sekitar berubah menjadi lebih sunyi. Tak ada lagi suara celotehan Arung. Bahkan tubuh gempal bayi itu kini tak nampak lagi.


"Arung?" panggilnya dengan nada penuh harap. Namun tak ada jawaban.


"Arung?" ulangnya lagi mulai khawatir. Dilajukannya kursi roda ke tempat Arung terakhir terlihat. Namun nihil. Bocah bayi itu seolah menghilang tanpa jejak.


"Arung?!" teriaknya mulai tak sabar.


"Mba Suko?!" ia berharap Arung tengah bersama Mba Suko. Namun tak seorangpun menjawab panggilannya.