
So sorry untuk terus mengulang permintaan yang sama π€π€«ππ€
"Jangan berhenti di kita. Jangan berhenti di kamu."
I'm begging you all π
Semoga makin kesini makin banyak readers yang membaca cerita BSiL dan AGbY kemudian jatuh cinta dengan kisah Rendra-Anggi-Dio π€.
Tapi tetep woles ya gaes, no hurt feeling kalau ada yang nolak atau nggak suka. Feel free, karena ibarat cinta yang tak bisa dipaksakan, tsaaaah ππ membaca juga, nggak bisa memaksa orang untuk menyukai apa yang kita suka, tapi minimal udah mencoba menawarkan kisah ini ehehehe ... enggak pun tak apa karena selera tak bisa dipaksa π€
Tarimakasieeeeeeee
BIG HUG π€
Kalian juga ya gengs......teruslah membaca......membaca apapun yang membuat kita bertumbuh menjadi persona yang lebih baik lagi. Karena semakin kita membaca, semakin kita haus dan lapar akan bacaan baru yang lebih berkualitas π€
Yuk kita lihat dibuang sayang kali ini ada apa aja, cekidooot π€
***
-Anggi tak pernah tahu, begitu ia masuk ke dalam gerai ATM, cowok jangkung berjaket hijau mendadak membalikkan badan dengan kening berkerut berusaha mencari sosoknya lagi-
-Anggi tak pernah menyadari jika cowok berkaos oblong hitam itu sengaja berbuat sedemikian rupa, padahal matanya tak pernah lepas memperhatikannya meski sedang mencium cewek lain-
-Anggi tak pernah menyadari segaris kilatan senang menyala di kedua mata Rendra saat melihatnya duduk sila diantara para cofas teknik sambil menunduk dan memasang wajah kesal. Seulas seringaian sempat tersungging di wajah Rendra, tanpa seorangpun menyadari, termasuk Rendra sendiri.-
-Anggi tak pernah tahu, sebenarnya Rendra ingin tertawa senang, namun wajah kesal dan jutek Anggi membuat ego Rendra tersentil. Hingga akhirnya memasang wajah sengit-
-Anggi tak pernah tahu, jika Rendra sedang memperhatikan dirinya melalui sudut mata.-
###tadinya mau ada redaksional seperti ini. Tapi malah jadi bikin nggak enak dibaca. Nggak ada surprise nya. Adegan kek gini cocoknya untuk tayangan film yang ada visualnya. Kalau tulisan jadi nggak ada feel lagi.
Iya nggak gaes? #author sotoy π€«π
***
Hari pertama masuk, jam 07.00 ia sudah sampai di gedung utama Kementerian yang bertugas melayani Presiden di bilangan Majapahit. Excited campur nervous. Disana sudah ada 5 orang yang telah datang lebih dulu. Sambil menunggu ia pun ngobrol-ngobrol, seru karena ternyata mereka berasal dari kampus yang berbeda-beda. Tepat jam 07.30 formasi calon internship yang berkumpul menjadi 16 orang dengan dirinya.
Mereka disambut ramah oleh Pejabat Asisten Deputi Humas, Bu Puspa, dan segenap jajarannya. Langsung mendapat briefing tentang tugas dan fungsi Deputi Humas, rahasia kedinasan, sekaligus perkenalan dengan seluruh pegawai yang ada di sayap barat lantai 2.
Usai briefing mereka ber 16 dibagi menjadi 4 divisi. Dan ia masuk ke divisi peliputan dokumentasi bersama 3 orang lainnya. Arin, Naya, dan Billy, semuanya dari Kampus Jakun.
Di Divisi Peldok kembali disambut dengan ramah oleh Kabid Peldok, Pak Fabian. Lalu diperkenalkan ke seluruh pegawai di divisi Peldok, sekaligus pembagian meja kerja. Mereka masing-masing mendapat jatah satu meja. Ia kebagian di tengah-tengah antara Arin dan Billy. Di kubikel seluas 2x2 M2 inilah ia akan menghabiskan waktu 3 bulan ke depan. Karena kantor Divisi Peldok terpisah dengan 3 divisi lain yang menempati kantor di sayap timur, mereka berempat langsung tune in jadi partner in happy.
Setiap hari mereka berempat mengikuti alur kerja seperti pegawai lainnya, masuk jam 07.30 pulang jam 16.00. Jangan khawatir gabut, karena jobdescnya benar-benar mengasyikkan. Mereka bekerja indoor dan outdoor, meliput dan mendokumentasikan acara atau kegiatan di lingkungan istana dan Presiden. Termasuk kegiatan Kementrian yang dilakukan di
Mereka berempat terbagi dalam spesialisasi masing-masing. Billy, Arin, dan Naya bagian sibuk videografer, fotografer, sekaligus tim editing. Sementara ia jadi penulis berita yang nantinya akan menjadi rilis resmi sekaligus di upload ke sosial media. Thank you for the opportunity.
Ia dan Arin yang sama-sama berangkat dari Depok jadi sering barengan berkereta ria. Sementara Billy yang tinggal di Benhil membawa kendaraan sendiri, yang dengan senang hati sering antar jemput Naya yang tinggal di Tebet.
Selama di Jakarta, hampir tiap malam Rendra menelepon atau video call, alasannya, "Masa kemarin 3 bulan udah LDR sekarang lagi."
"Mumpung sinyal lancar jaya," tambah Rendra.
Karena waktu ia KKN selama hampir 3 bulan, bisa dihitung dengan jari kesempatan mereka berkomunikasi dengan lancar. Selebihnya nggak ada sinyal atau suara putus-putus nggak kedengaran.
Selain menyelesaikan jobdesc yang sudah ditentukan, mereka juga selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan yang ada. Mereka bahkan pernah diajak menginap semalam di Istana Cipanas, saat diminta membantu sebuah event kunjungan. Selain kegiatan insidental, ada juga rutinitas yang menjadi favoritnya, yaitu olahraga di Monas setiap hari Selasa dan Jum'at pagi. Yah lumayan bisa jalan-jalan di sekitar taman kota.
Serunya magang membuat 3 bulan terasa cepat. Ia bahkan tak percaya besok sudah waktunya pulang. Hari terakhir ia diajak hang out sama yang punya Jekardah.
"Kapan lagi ye kan," seloroh Billy, Arin, dan Naya bersamaan. 3 bulan bersama membuat mereka mendadak jadi sahabat.
###Adegan detail magang akhirnya skip skip gaes π
***
"Apa?" Rendra seolah menemukan hal baru yang menyenangkan. "Pasrah?"
Tuh, kan, salah pilih redaksional lagi. Pasti deh ujung-ujungnya kesana.
"Jangan terlalu pasrah lah....ada perlawanan dikit biar seru," seloroh Rendra.
"Apa sih Abang," ia pura-pura menggerutu.
"Kamu lagi ngasih kode kan?" Rendra tersenyum lebar. "Kode kek gini sih gampaang..."
"Apa sih?" ia semakin menggerutu.
"Ini udah berapa hari coba," Rendra menghitung dengan sepuluh jarinya. "Lebih dari seminggu," lalu tersenyum lebar. "Berarti udah beres?"
"Beres apa?" ia masih menggerutu.
"Haidnya udah beres istriku sayang?" Rendra justru semakin blak-blakkan. "Udah bisa...."
Kalimat menggantung Rendra membuatnya pura-pura melihat ke jendela samping.
"Oke...fixed...malam ini kita bisa," lalu tersenyum senang. "Wah, harus makan yang bergizi tinggi ini."
Membuat mencibir.
"Kita makan kambing ya. Kamu suka nggak? Biar lebih panasss bertenaga..."
"Ih," ia mencubit pinggang Rendra. "Apa sih."
"Banyak pilihan menunya. Ada nasgor, sate, gulai. Enak-enak semua. Kamu mau ya?"
Ia kembali mengangkat bahu.
###Adegan ini juga terlalu geuleuh ππ€ͺ kayak genit banget Rendra sampai mau makan segala yang berbau embe. Tul nggak gaes? π
***
Ada satu hal yang cukup mengagetkan, yang terjadi saat mereka naik cable car, yaitu ekspresi gelisah Rendra yang diam seribu bahasa dengan wajah memucat saat ia menunjukkan indahnya kota Barcelona dari atas ketinggian, "Bang, lihat...bagus banget."
"Itu di sana juga...."
Membuatnya mengernyit heran dengan ekspresi cuek Rendra, "Kamu kok..... gemetaran?"
Rendra yang biasanya tak pernah mencibir, kini mulai ketularan dirinya, ikut mencibir dengan wajah menahan kesal.
"Kamu takut ketinggian?" ia hampir tak kuasa menahan tawa. Untung berhasil diredam demi melihat wajah tak nyaman Rendra.
Rendra tak menjawab, malah berpura-pura sibuk mengecek ponsel.
"Aku pikir nggak ada yang kamu takuti," ia juga pura-pura kembali asyik menekan tombol shutter DSLR nya ke arah gugusan bukit. Mencoba memberi ruang pada Rendra.
"Semua orang pasti punya rasa takut," ujar Rendra pelan.
Ia tertawa kecil, "Nggak nyangka the young and dangerous takut sama ketinggian." Tapi kemudian teringat sesuatu, "Tapi kok ikut klub Paralayang?!" tuduhnya heran.
"Ikut klub buat berobat jalan biar nggak terlalu takut," jawab Rendra sambil terus mengecek ponsel yang ia yakin tak ada notifikasi masuk.
"Tapi apa tadi?" Rendra mendadak menoleh kearahnya. "The young and dangerous? Apaan tuh?"
Ia hanya mengulum senyum sambil terus mengarahkan lensa kamera ke arah view yang menarik.
###Rendra tadinya mau dibikin takut ketinggian yang memicu kecelakaan paralayang di bab Falling down.
Tapi nggak make sense banget ya gaes, masa takut ketinggian bisa rutin ikut paralayang. Mana mungkiiin π€ yang ada pengsan duluan π€ͺ
NEXT
***
Ia masih berada di kampus sedang menunggu kuliah jam kedua saat Rendra menelepon dengan suara serak, "Sayang, nanti kalau pulang titip larutan penyegar."
"Iya Bang."
"Hari ini aku pulang duluan, kamu kalau udah selesai langsung pulang ya."
"Iya, iya," ia sedikit heran kenapa Rendra memintanya untuk cepat pulang. Padahal, biasanya Rendra tak pernah mempermasalahkan jam pulang meski ia sering pulang lebih larut.
Namun usai kuliah jam terakhir, ia mendapat telepon dari kantor ada nasabah yang marah-marah dan ingin bertemu dengannya karena autodebet gagal, yang mengakibatkan nasabah tersebut terlambat membayar tagihan supplier dan mendapat pinalti.
"Bisa ya Nggi?" jelas Alvin di telepon. "Ini udah dijelasin sama Ratri, tapi dia ngotot mau ketemu sama kamu."
"Tapi kan bukan salahku Mas?!" ia mengernyit bingung. Agak seram juga dengan tipe nasabah seperti ini.
Iya, bukan, ini murni sistem. Karena SWIFTnya tertolak.
###tadinya mau bikin Anggi nggak sempet nolongin Rendra yang kena Hepatitis cos sibuk ngurus nasabah. Tapi terlalu shitnetron nggak sih gaes π€§ jadi skip skip next.
***
Diedarkannya pandangan ke sekeliling ruang tunggu. Meski masih dini hari namun suasana ruang tunggu cukup ramai. Tampak beberapa orang duduk menunggu seperti dirinya. Berwajah resah dan gelisah. Menanti dokter muncul membawa kabar baik.
"Anggi?!" sebuah panggilan bernada cemas campur lega mampir di telinganya. Terlihat Rakai datang setengah berlari dengan wajah pias dan nafas tersengal. "Mana Rendra?!"
"Di dalam," jawabnya cepat. "Masih diambil tindakan."
Rakai bersandar di salah satu sisi dinding ruang UGD sambil berusaha mengatur nafas. Setelah mulai bisa bernafas normal Rakai kembali bertanya, "Kenapa? He's drunk?!"
Ia mengernyit sebelum balik bertanya, "Drunk?"
Rakai mengangguk, "Dia habis mabok?"
Ia semakin mengernyit. Rendra suka mabok? Seperti bukan Rendra. Bukankah nafasnya selalu beraroma mint segar? Apa ada yang ia belum tahu tentang Rendra?
"Nggi?!" Rakai kembali mengejutkannya.
"Abang suka ngedrunk?" ia justru balik bertanya dengan hati berdebar.
"Dulu, waktu masih sekolah. Kalau lagi stres larinya drunk atau ***."
###tadinya Rendra mau dibikin suka kobam π€ͺ tapi ntar author habis ditampol sama makemak kompleks oh nooooo π«π ampuuuun Bu Tejo π
Lagian author mikire piye to ora solutip tenan (Bu Tejo Mode ON π) mikirnya nggak nyambung banget π mana sempet Rendra kobam. Lha wong aktivitas padat, full 24/7, rutin olahraga dan taekwondo, yang harus dipikirin juga segambreng. Nggak mungkin banget kan sempet kobam? π§ Aya Aya wae π€ͺ
NO and NEXT
***
Namun kesedihan berbalut penyesalan ini terasa begitu nyata. Menghantam tiap sisi relung hati tanpa jeda. Menghempasnya pada kenyataan yang begitu menyakitkan.
"Rimba udah senang main-main disana," ujar Rendra sambil mengusap kepalanya lembut.
"Nunggu kita di depan pintu."
"Nanti waktunya kita pulang, Rimba yang bakal narik tangan kita ke tempat paling indah."
Getaran suara penuh penerimaan campur keikhlasan yang terpancar dari tiap kalimat yang Rendra ucapkan perlahan mampu menghangatkan jiwanya yang membeku.
###Disini Rendra jadi melow banget, seperti bukan Rendra hehe. Skip skip next π€§
***
Hari Sabtu pagi di halaman belakang, ia sedang asyik bermain lempar tangkap bola kain dengan Arung yang tergelak-gelak di atas ayunan gantung, ketika Rendra yang baru saja menyelesaikan putaran terakhir gaya punggung mulai menyipratkan air ke arah mereka.
"Arung....ayo berenang!" ujar Rendra sambil terus menyipratkan air.
"Arung udah mandi Papi, no no no," jawabnya sambil menggoyangkan telunjuk.
"Ayo
###Dan adegan berenang terlalu mainstream ya gaes, jadi skip skip next π€§
***
"Maafin aku....," ia mengusap dimana biasanya lesung pipi Anggi muncul. Hal yang sangat ingin dilakukannya selama tiga bulan terakhir.
"Sering ngecewain kamu...."
"Sering nyakitin hati kamu...."
"Belum bisa bahagiain kamu...."
Kini mata mereka sama-sama berkaca-kaca.
"Makasih udah selalu mikirin aku....," bisik Anggi diikuti setetes air mata yang jatuh membasahi ujung jarinya.
"Makasih udah jadi suami dan ayah terbaik...."
"Aku sayang sama Abang," Anggi mulai terisak. "Kita pasti bisa lalui semua skenario hidup sama-sama."
###Disini juga Rendra jadi melow banget π€ͺ jelas bukan Rendra π€§ skip next
***
Kalimat Mala terus terngiang sampai ia ketiduran saking lamanya menunggu Rendra yang tak kunjung datang. Membawa dirinya pada waktu lima tahun yang lalu. Saat Dio muncul di depan rumahnya, kemudian mereka pergi ke pantai, lalu ia menyadari salah menulis tanggal pindah kost, dan memutuskan untuk bilang ke Mala,
"Mal, gue numpang di rumah Abang lo dulu ya selama belum dapat kost."
Untuk menghindari Pitaloka, agar ia tak bertemu Rendra disana. Mungkin dengan begini jalan hidupnya akan berbeda.
Namun keesokan hari, saat ia sedang melakukan simulasi presentasi di depan anak-anak sekelompok, seseorang tiba-tiba menyapa,
"Hai, presentasi kamu bagus."
Dan itu adalah Rendra. Oh, no, kenapa ia masih bisa bertemu dengan Rendra, padahal telah menghindari Pitaloka.
Ia pun merewind, memilih mengerjakan tugas kerkel di Digilib agar tak bertemu dengan Rendra. Namun esoknya, ketika ia setengah berlari menuju lapangan Satup untuk first gath cluster, seseorang menabraknya.
"Aduh!"
"Maaf, kamu nggak papa?"
Lagi-lagi Rendra.
Apakah pertemuannya dengan Rendra memang harus terjadi? Baiklah. Ia akan mulai dari bagian yang berbeda. Yaitu saat Dio memutuskannya.
"Aku akan nunggu kamu sampai kapanpun," ujarnya yakin.
Namun esok hari di berita pagi televisi muncul berita mengerikan : ketika hendak lepas landas, pesawat tujuan Haneda, Jepang, meluncur keluar ujung landasan, mengakibatkan pesawat meledak dan terbakar, menewaskan 375 penumpang seketika.
Tidak. Tidak. Tidak.
Seharusnya Dio baik-baik saja.
Apakah ini berarti
###Tadinya mau dibikin kayak pergi ke masa lalu jadi bisa merubah masa depan. Biar happy ending for everyone (#timDio dan #timRendra hehe)
Tapi merubah takdir itu ibarat permainan domino, akan ada takdir lain yang juga berubah π€§
Efeknya ke Dio yang tambah ngenes π bisa-bisa author di geplak online sama readers karena menghilangkan Dio ππ€§
Terus kalau kayak gini, ceritanya jadi nggak nyambung ya π€ͺ aneh bin ajaib π
Skip again
***
Baiklah readers tersayang, ini adegan skip skip next mungkin juga bakal keluar di cerita lain dengan pemeran berbeda, who knows hehe
Finally....usai sudah AGbY, maafkan karena belum bisa memenuhi semua keinginan, masih banyak plothole juga, namun apapun itu semoga bisa membuat suasana hati membaik setelah membaca AGbY yaa.
Karena you're become what you read.
Walau AGbY udah end tapi semoga tetep pada suka reread kalau senggang ya readersπ€, biar lapaknya nggak berdebu jadi kalaulah ada waktu luang sering-sering ditengokkin π€ Mamaciiii
Salam sayang selalu π€, dukungan readers tersayang sungguh berarti bagi author remahan rengginang ini ππ€§π
Terima kasih banyak, maturnuwun, haturnuhun, tarimakasie atas semua support, like, vote, komen, rate 5 stars, dan semuanya.
You're all guys sooooo amazing π€
Untuk cerita ketiga, rencana author pakai lapak Isadoria biar feednya agak rapih π€«π€
Nanti kalau mood nulis genre fantasi udah balik lagi, mungkin Isadoria bisa lanjut. Semoga.
Setelah Bad Senior in Love, Always Gonna be You, kelak menyusul spin off nya dengan judul Everlasting Feelings.
So, jangan lupa klik fave for Everlasting Feelings
biar kalau ada update an episode bisa langsung kenotif π
Love you all,
Sephinasera π€