Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
Dibuang Sayang 1



Setelah menyelesaikan dua cerita di NT, author ingin menyapa readers tersayang semuaaa yang selalu support 🤗.


Kalian sungguh berarti gaes 😭. Apalah artinya author tanpa kalian 🤧. Sending virtual big big hug untuk readers tersayang semuanyaaaa 🤗.


Oiya, karena platform ini (cmiiw, don't get me wrong ya) menganut banyak-banyakan viewer, jadi kalau boleh author meminta kerjasama readers semua 🤫🤭, "Jangan berhenti di kita. Jangan berhenti di kamu."


I'm begging you all 🙏


Semoga makin kesini makin banyak readers yang membaca cerita BSiL dan AGbY kemudian jatuh cinta dengan kisah Rendra-Anggi-Dio 🤗.


Tapi don't forget, ibarat kita menawarkan produk, kadang ada yang responnya positif atau sebaliknya. No hurt feeling ya readers tersayang kalau ada yang nggak suka cerita ini karena karakteristik orang beda-beda 🤗


Terlebih karena membaca adalah perjalanan yang personal. Tak bisa memaksakan seseorang untuk menyukai tulisan tertentu.


Disamping itu, awal cerita BSiL dan AGbY memang agak membosankan dan boring (seperti yang pernah dikatakan seseorang padaku 😁). Alur juga lambat. Lebih karena author ingin menggambarkan kondisi dan latar belakang para tokoh se visual mungkin 😊.


Ibarat project, step by step 😁


Agar pembaca tanpa diberitahu secara redaksional oleh author paham kenapa A mengambil sikap begitu, kenapa B jadi peragu, kenapa C dan D bersikap demikian. Yah, begitulah.


Oke gaes 😚


Apapun itu, yang penting kita udah berusaha membumikan BSiL dan AGbY di jagat hutan rimba Noveltoon 🤭🤗 biar ke notice sama pihak NT dan Admin 🤗.


Tengkiuuuuuuuuu


BIG HUG 🤗


Don't forget again, ditunggu kritik, saran, ide, masukan, unek-unek, atau apapun itu...feel free sampaikan ke author yaaa biar ke depannya bisa buat cerita yang lebih berkualitas 😉


Kalian juga ya gengs......teruslah membaca......membaca apapun yang membuat kita bertumbuh menjadi persona yang lebih baik lagi. Karena semakin kita membaca, semakin kita haus dan lapar akan bacaan baru yang lebih berkualitas 🤗


And......here we are......


Kalau di akhir film sering ada BTS (behind the scene) atau dibuang sayang untuk adegan-adegan yang gagal nan kocak 😁, author boleh ya ikutan buat edisi dibuang sayang untuk tulisan-tulisan yang akhirnya diputuskan unpublished (namun tetap tersimpan di file ehehehe) karena keterkaitan dengan outline, sisi estetis dan keseluruhan cerita. Terpaksa file-file ini hanya menghuni sepinya tepian hati tsaaah 😜


Oya, sebelum kita menuju ke dibuang sayang, author ingin pengumuman kalau author adalah penganut garis keras quote NH Dini dibawah ini 🤫😁 :



Jadi, saat ada ide langsung sat set nulis. Meski acak adut berantakan gaje. Nanti kalau udah mood baru di edit-edit. Nah, moodnya ini yang sering timbul tenggelam hehe.


Makanya BSiL dan AGbY sering lama updatenya dan menganut alur lambaaaat dan lamaaaa.


So sorry ya gaes sering update tengah malam ganggu waktu istirahat hiks 🤧


Ya karena itu sering terjebak di lingkaran serupa. Nulis - edit - nggak sreg - hapus - nulis lagi - nggak tahu ngeditnya kapan hahaha akhirnya nggak jadi-jadi tuh tulisan #tepokjidat


Last but not least, selamat membaca draft draft acakadut (kebanyakan dari Bad Senior in Love hee...) yang dibuang sayang 🤗


*****


Suara obrolan ratusan panitia ospek tahun ini menggema memenuhi auditorium seperti dengungan lebah hendak membuat sarang.


Mereka menanti pengumuman yang akan diberikan oleh kordum sebelum membentuk kelompok kecil sesuai divisi masing-masing.


Ia yang datang terlambat harus menerima duduk diantara anak-anak materi, divisinya Mala, di bagian belakang. Terlihat dari kejauhan teman-teman sesama cofas berkumpul di deretan paling depan.


Sebetulnya ia berangkat pagi ke kampus, tapi tak langsung menuju kampus. Kemarahan yang belum reda akibat kejadian menjijikkan di dapur kost Niken, membawanya pergi ke rumah Mala.


Sayang sekali Mala ternyata sudah berangkat ke kampus. Salahnya sendiri ngga nelpon dulu.


Ia heran kenapa Mala bisa sepagi itu ke kampus. Rupanya Johan sebagai subkoor sedang tak bisa dinego perihal jobdesk materi. Ya sudah, memang harus coba cari kost sendiri.


Setelah sarapan nasi gudeg favoritnya di dekat kampus -karena ingat pesan Dio untuk makan teratur- ia tak langsung menuju basecamp cofas, tapi pergi ke fotokopian bang Fajri di dekat kost Sinta.


"Belum dapet juga?" Bang Fajri yang memang rajin, selalu membuka tempat fotokopinya tepat jam 6 pagi, memandangnya heran.


"Belom bang. Bantu saya lah bang. Abang kan punya banyak informasi kost-kostan."


"Sebentar," Bang Fajri mencoba memeriksa ponselnya. "Ada di Papringan mau?"


"Kejauhan Bang. Saya kan ngga ada kendaraan."


Dan kesimpulannya, menemui (lagi) Bang Fajri ternyata bukan solusi.


Ia melihat kearah podium dimana Tommy sebagai kordum sedang berbicara, tapi ia tak mendengar apapun. Otaknya penuh dengan pikiran 'dimana lagi harus mencari kost?' dan 'harus cerita ke Niken kejadian pagi tadi' dan 'sepertinya suasana kost Niken ngga semenyenangkan tempatnya' dan....


Lamunannya buyar ketika seseorang menepuk bahunya, bersamaan dengan Tommy yang turun dari podium dan beberapa orang mulai bangkit dari duduk. Auditorium kembali berdengung.


"Ngelamun aja sih!" Mala mencibir. "Tuh dipanggil Elva."


Ia menoleh kedepan dimana Elva, rekannya sesama cofas melambaikan tangan, "Sini!" begitu gerak mulut yang tertangkap.


Ia buru-buru beranjak ke depan.


"Darimana aja sih, kita ngumpul dari jam 8 tapi kamunya ngga ada. Dicariin Dimas tuh," Elva menarik lengannya begitu ia mendekat.


Dimas subkoor cofas, kemarin memintanya merekap semua notulen rapat dan kegiatan mulai dari first gathering sampai hari kemarin sekaligus progress report, karena Dimas sempat absen beberapa waktu ijin merawat ibunya yang sakit. Tapi ia lupa, bahkan sama sekali belum mengerjakannya.


"Nggi, yang kemarin," Dimas tiba-tiba berdiri diantara mereka.


"Sori Dim," ia memasang wajah menyesal.


"Line gue ga di read," Dimas langsung paham makna dari ekspresi wajahnya.


"Lo nge Line gue? Kapan?"


"Tadi subuh."


Ia mendecak. "Sori gue lupa banget. Subuh tadi ada...ada...agak sibuk," ia menghela nafas kembali teringat kejadian pagi tadi.


"Jadi kayaknya chat lo tenggelem deh ga kebaca. Eh tapi gue ada outline kok, trus sebagian datanya ada di flashdisk. Nih gue bawa. Cuman lepinya ga ada."


"Oke, gue bawa, ntar kalo perlu, lu back up ya."


"Emang buat apa sih? Besok masih bisa kan, ntar malem gue kerjain."


"Perlunya sekarang. Buat report ke Mas Tommy."


"Terus gimana?"


"Ikut gue."


"Kemana?"


"Ketemu Mas Tommy."


Ia terseok-seok mengikuti langkah panjang Dimas menyeruak diantara kerumunan ratusan orang yang memenuhi auditorium. Dengan sedikit usaha mereka berhasil keluar.


Dimas berjalan menyusuri selasar lalu berbelok menuju kantin.


"Di kantin?" ia mengernyit.


"Mas Tommy hobi rapat di kantin, makmur soalnya banyak makanan," Dimas tertawa. "Nah tuh udah pada ngumpul."


Ia mengikuti arah pandangan Dimas. Di meja paling sudut sudah berkumpul sekitar 10 orang, salah satunya adalah Johan. Sepertinya ini adalah rakor para subkoor.


"Na ini yang ditunggu-tunggu, ujung tombak kita semua," Tommy menyambut kedatangan mereka.


"Kami berdua Mas," Dimas meminta ijin. Membuatnya tersenyum dan mengangguk kearah semua yang duduk disana.


"Ya ayo, udah hadir semua? Kita mulai, singkat aja...."


Tommy membuka rakor dengan meminta laporan perkembangan terkini dari tiap divisi. Semua menyerahkan print out, kecuali Dimas.


"Cinta bumi Mas, mengurangi penggunaan kertas," kilah Dimas.


Tommy memimpin rakor dengan efektif dan efisien. Kegiatan ospek yang akan berlangsung kurang dari sebulan dari sekarang, membuat kordum harus bisa memastikan bahwa semua lini kepanitiaan berjalan sesuai targetan.


Sambil telinganya mendengarkan pemaparan dari masing-masing subkoor, matanya justru berkeliling ke seantero kantin yang saat itu tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang yang berkumpul yang hampir semuanya ia tahu adalah panitia ospek.


Tepat segaris beberapa meter didepannya, sebuah meja terdengar lebih riuh dibanding yang lain.


Dari tempat duduknya jelas terlihat, AjiSakti ketua BEM sedang mengobrol dengan anak-anak BEM Uni. Mereka terlihat serius dengan obrolannya meski sesekali diiringi tawa.


Ia hampir saja mengalihkan perhatian kearah Tommy yang sedang menjelaskan rundown acara beberapa waktu kedepan, ketika seorang yang duduk tepat di samping AjiSakti menarik rasa ingin tahunya.


Orang itu...


Sebentar...


Ia lebih memusatkan perhatian untuk mengingat dimana ia pernah melihatnya.


Seketika gelak tawa terdengar dari meja AjiSakti. Seorang yang duduk di samping AjiSakti jelas-jelas sedang berbicara dan menjadi pusat perhatian.


Ia semakin mengernyit melihat orang di samping AjiSakti, yang memakai kaos warna putih dan sedang menerangkan sesuatu terlihat dari gerak tangannya.


Lagi-lagi mereka tertawa.


Sebelum otaknya sempat mengambil kesimpulan dari apa yang dilihat, tiba-tiba pertanyaan Tommy mampir di telinga dan mengagetkannya.


"Sekarang cofas," Tommy jelas sedang melihat kearahnya dan Dimas. "Progress sampai saat ini dan kendala apa saja yang dihadapi?"


Sebelum ia mendengar Dimas menjawab, jalinan otaknya mengirim pesan mengagetkan tentang dimana ia pernah melihat orang yang duduk di sebelah AjiSakti.


Astaga, yang bener aja.


***


Oh...oh...siapa dia?? 😁