Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
43. Help Me, Please!



Rakai


Ia masuk ke kamar dengan rasa kantuk tak tertahankan ingin segera memejamkan mata barang sejenak. Namun kini justru memicing demi melihat Zikka yang tengah asyik bermain ponsel.


"Katanya kuliah pagi, kok belum siap-siap?" ia langsung merebahkan diri di sebelah Zikka dengan posisi memunggungi kemudian mulai memejamkan mata beratnya.


"Jam kosong, dosennya lagi seminar."


"Tahu gitu nggak usah manggil Puput," sungutnya kesal. "Kasihan pagi-pagi udah harus kesini."


"Lho, kalau nggak manggil baby sitter trus bayi-bayi berisik itu dirawat sama siapa?"


"Kamu lah."


"Idih, ogah."


Ia hanya mendecak.


"Lagian kalau nggak ada baby sitter, kita nggak bakal bisa ngelakuin ini dong," Zikka tersenyum penuh arti sambil meraih bahunya agar menghadap ke belakang.


"Apa sih, Zik. Aku ngantuk mau tidur," ia masih tetap memejamkan mata.


"Ayo dong, morning s ex time," seloroh Zikka sambil mendekatkan mereka berdua.


"Jangan sekarang," ia berusaha menghindar.


Tapi Zikka jelas sangat memahami langkah strategis mengundang yang harus dilakukan.


"Jangan! Ada Puput diluar," ia masih berusaha menepis manuver memabukkan Zikka.


"Apa hubungannya sama baby sitter itu."


"Dia bukan baby sitter! Dia itu....," karena kesal Zikka terus-terusan menyebut Puput adalah baby sitter, ia terpaksa bangkit berniat memberi penjelasan. Namun ini justru kesalahan paling fatal. Karena membuat Zikka menjadi lebih leluasa untuk melakukan hal menyenangkan terhadap dirinya.


Ibarat pepatah, kucing -garong- dikasih ikan mana ada yang nolak?


Yeah, whatever the name it is.


Namun ketika permainan menyenangkan baru dimulai, telinganya mendadak menangkap jerit tangis bayi yang bersahutan.


"Abang?" Zikka merajuk ketika ia tiba-tiba bangkit.


"Anak-anak nangis," ujarnya sambil mencari letak kaos dan celana yang terlempar entah kemana.


"Kita kan belum selesai," Zikka masih berusaha meraihnya. Namun ia sudah keburu berdiri sambil matanya nyalang mencari-cari kaos dan celana.


"Kita lanjut nanti," gerutunya buru-buru mengambil kaos yang terlempar ke atas nakas, sementara celana pendeknya teronggok di lantai.


Zikka memasang wajah cemberut, namun ia tak peduli. Dengan setengah berlari keluar dari kamar menuju tempat dimana dua baby monster sedang menjerit-jerit.


"Kenapa?!" tanyanya panik kearah Puput yang sedang membersihkan badan Saga di dalam bath tub. Sementara Arung berdiri di pojok kamar mandi sambil membuka mulut lebar-lebar, menangis sejadi-jadinya.


"Saga muntah, kena sebaju-bajunya jadi sekalian dimandiin," jawab Puput yang kini sedang mengguyur tubuh montok Saga dengan air hangat.


"Yang itu kenapa," tunjuknya kearah Arung yang terdiam sejenak sedang mengambil napas, untuk kemudian menjerit lagi. Membuatnya bergidik ngeri. Anak kecil ternyata sangat menakutkan ketika menangis.


"Arung pup, kayaknya sama sakit perut jadi nangis," jawab Puput sambil mengangkat Saga dari dalam bath tub, melilitnya dengan handuk, kemudian menyerahkan padanya.


"Pantesan bau aneh," ia mengendus-endus udara dengan hidungnya demi mencium aroma yang menyengat.


"Pakai Pampers nggak tuh? Eh, kenapa dikasih ke gua?!" ia mengernyit demi menyadari wajah Saga sudah berada di depan matanya, dengan mulut meletot.


"Tolong pakaiin baju, saya nyebokin Arung dulu," jawab Puput tak mempedulikan keengganannya.


"For sure?!" berkali-kali ia bicara pada diri sendiri sambil menghanduki tubuh Saga yang sudah tak menangis lagi.


"Reschedule making love gara-gara harus ngurus dua bayi monster yang kerjaannya nangis, teriak-teriak, jerit-jerit?"


"Unbelievable!" gerutunya kesal ketika baru selesai menghanduki, Saga justru menghadiahinya dengan air mancur yang mengucur deras hingga mengenai kaos yang sedang dipakainya.


"Kenapa?" tanya Puput heran ketika ia mengangsurkan Saga lagi.


"Tinggal dipakaiin baju, ambil di dalam tas," tunjuk Puput ke arah pantry, tempat dimana ia menyimpan semua perlengkapan Arung dan Saga.


"Ini saya mandiin Arung dulu, biar sekalian," tambah Puput yang sedang mengguyur tubuh montok Arung dengan air hangat.


"Saga mesti cebok, nih barusan pipis sampai kena kaosku," gerutunya sebal sambil menunjuk bagian kaos yang basah.


Namun Puput malah tertawa, untuk kemudian berkata, "Sini saya cebokin Saga. Abang tolong jagain Arung biar nggak kejeduk."


Ia memutar bola mata demi melihat Arung yang dalam sekejap mata tengah berusaha berdiri sambil berpegangan pada sisi bath tub.


"Duduk," perintahnya sebal. Namun Arung justru tertawa sambil memukul-mukul air di dalam bath tub hingga mencipratinya.


"Arung!" ia mengangkat jari telunjuk memperingatkan.


"Ini Saga udah bersih," Puput telah meliliti Saga dengan handuk. "Bang Rakai mau makaiin baju Saga atau mandiin Arung?"


"Nggak ada pilihan lain?!" dengusnya sebal.


"Sini biar Saga sama aku," gerutunya karena merasa tak punya pilihan lain. "Jangan pipis dulu sampai dipakaiin Pampers ya," ujarnya memperingatkan Saga yang kini sedang mengemut jari sambil berceloteh.


Ketika ia tengah kerepotan memakaikan Pampers karena Saga selalu bergerak tanpa henti, Zikka muncul di depan pintu kamar, "Aku pergi dulu ya Bang."


"Katanya jam kosong?" ia tak menoleh, sedang konsentrasi penuh memakaikan Saga Pampers.


"Males ah disini, berisik."


Ia tertawa tanpa mengeluarkan suara, kesal.


"Nanti jemput aku di kampus ya," ujar Zikka lagi. "Siangan deh. Kalau kesorean nanti khawatir kelamaan nunggu."


Namun ia tak menjawab, karena masih kesulitan memakaikan Pampers.


"Nggak pakai telat ya. Dah Abang," langkah kaki Zikka terdengar menjauh, disusul dengan suara pintu yang terbuka, sedetik kemudian tertutup lagi.


"YES!!" ia akhirnya bersorak gembira karena berhasil memakaikan Saga Pampers. "Finally!" desisnya sambil bernapas lega. Bersamaan dengan masuknya Puput ke dalam kamar.


"Lho, Arung mana?" tanyanya heran.


"Lagi main di karpet," jawab Puput sambil menunjuk kearah karpet dimana Arung tengah duduk sambil memainkan beberapa action figure miliknya.


"Bisa diam juga dia," kernyitnya heran. "Nih, kamu yang lanjutin," lanjutnya sambil menunjuk Saga yang kini sudah tengkurap. "Gua mau siap-siap meeting."


"Bang, maaf sebelumnya, saya jagain anak-anak sampai jam berapa ya?" pertanyaan Puput membuatnya menghentikan langkah.


"Nggak tahu. Kenapa?"


"Saya nanti sore ada acara.....penting, jadi udah harus nyampai di rumah sekitar jam tiga an."


Keningnya mengkerut, terus terang ia belum tahu Rendra akan kesini atau tidak. Atau anak-anak mau dikemanakan kalau Puput benar-benar pulang sore ini. Karena menurut info dari Bagus, Mba Suko rewang di Delanggu sampai hari Minggu sore, itu artinya besok. Sementara ia jelas-jelas tak mampu menghandle dua bayi ini sendirian.


"Bang?" rupanya Puput masih menunggu jawaban darinya.


"Ntar habis meeting sama Pak Gatot aku langsung pulang. Kamu tolong tunggu disini sama anak-anak."


Jadwal meeting dengan Pak Gatot jam 11, perkiraan satu jam sudah selesai. Ia berjanji dalam hati akan langsung ke apartemen agar Puput bisa pulang ke rumah. Setelah itu entahlah, ia tak tahu petualangan apa yang akan dialaminya bersama dua bayi monster.


Help me, please!


***


Rakai pergi dari apartemen tepat jam 08.40, setelah sebelumnya sarapan scramble egg dan roti bakar buatannya.


"Enak banget Put," puji Rakai sambil memintanya untuk mengisi piring dengan scramble egg lagi.


"Telur doang bisa seenak ini?" Rakai bahkan melahap habis semua scramble egg buatannya sampai tak bersisa.


"Kamu harus sering-sering masakkin aku kayak gini," seloroh Rakai yang kekenyangan usai menghabiskan tiga porsi sarapan.


"Berarti kita harus sering ketemu pagi-pagi begini dong," ia menggelengkan kepala tanda tak setuju. Jelas ide paling konyol.


"Repot Bang," lanjutnya lagi.


"Iya juga ya," Rakai tertawa pelan sambil ikut menggelengkan kepala, mungkin menyadari keinginan absurdnya sendiri.


"Titip anak-anak Put," ujar Rakai sebelum benar-benar pergi. "Kalau ada apa-apa langsung telpon aku."


Kini, tepat jam 12 siang, ia sedang membereskan ruang tengah apartemen Rakai yang seperti kapal pecah bekas bermain anak-anak. Sementara Arung dan Saga terlelap di kamar tamu yang telah ia bereskan dan ganti spreinya karena basah terkena ompol. Sambil menyalakan televisi agar suasana tak terlalu sepi. Yang saat ini sedang menayangkan berita utama jam 12 siang.


"Anda masih ingat dengan SD? Mahasiswa berprestasi entrepreneur muda sukses yang beberapa tahun lalu pernah mengguncang ketenangan kota Jogjakarta dengan penyalahgunaan narkoba dan beredarnya video mesum?"


"Kini setelah bertahun-tahun berlalu, SD kembali mendapat sorotan publik. Kali ini terkait dengan penyerangan brutal yang menimpa kediaman keluarga kecil SD di salah satu cluster paling eksklusif."


Ia langsung menghentikan aktivitas menyusun ratusan action figure ke dalam rak kaca begitu mendengar berita yang dibacakan oleh anchor news.


Matanya menatap layar televisi yang kini sedang menayangkan aktivitas terkini di depan gerbang perumahan yang sangat dikenalnya.


"Selamat siang, Grace dan juga pemirsa di rumah. Saat ini saya telah berada di depan pintu gerbang utama kompleks perumahan tempat tinggal SD yang rumahnya baru saja mendapat serangan dari orang tak dikenal semalam."


Ya ampun, itu kan gerbang perumahan menuju kediaman Bang Rendra? Ia buru-buru mendudukkan diri di sofa. Menatap layar televisi dengan perasaan berdebar dan penuh rasa ingin tahu.


"Saya akan mulai mewawancarai sekuriti yang menjaga gerbang," reporter kemudian mendekati empat orang sekuriti yang berdiri di depan pos jaga.


"Siang, Pak, saya Disti dari TV11. Ingin wawancara sebentar. Dengan bapak siapa?"


"Syafi'i," jawab sekuriti yang berdiri di posisi paling ujung. "Ini rekan-rekan saya," sambil memperkenalkan teman-temannya.


"Wiwit."


"Suwardi."


"Gunawan."


"Apa setiap hari yang berjaga sebanyak ini?"


"Oh, nggak Mba. Biasanya satu shift dua orang. Setelah kejadian semalam pihak pengelola langsung menambah personel keamanan untuk mencegah hal yang sama kembali terulang."


"Jadi bagaimana kronologi kejadian semalam Pak. Apa bapak yang sedang bertugas?"


"Ya kebetulan memang saya yang berjaga  semalam. Dengan rekan saya yang sekarang dirawat di rumah sakit."


"Ada yang sampai dirawat di rumah sakit Pak? Itu kenapa? Apakah terluka atau juga ikut diserang?"


"Jadi gini Mba ya, waktu itu jam sembilan malam lebih sedikit. Saya sedang duduk-duduk di pos. Ada Ojol juga yang ikut menunggu disini."


"Tiba-tiba dari kejauhan ada Pajero warna hitam yang jalannya ngebut. Saya sudah mbatin ini pasti ada yang nggak beres."


"Eh, benar, waktu Wahyu, rekan saya berdiri untuk meminta prosedur standar pengunjung seperti membuka kaca jendela mobil dan menanyakan maksud kedatangan, Pajero itu malah tambah ngebut sampai menabrak portal."


"Oh, ini kerusakannya ya Pak. Sampai hancur begini portalnya?" reporter menunjuk bekas portal rusak yang telah diamankan agak ke tepi.


Ia semakin memelototi layar televisi. Pantas saja anak-anak Bang Rendra ada di tempat Bang Rakai. Kalau begitu, Bang Rendra dan Mba Anggi ada dimana sekarang? Apakah mereka baik-baik saja?


"Baru saja kita dengarkan kesaksian langsung dari Pak Syafi'i yang semalam mengalami kejadian dengan mata kepala sendiri."


"Sekarang kita beranjak masuk ke dalam cluster. Tak begitu jauh dari gerbang utama, kira-kira beberapa puluh meter, ini dia rumah SD."


"Syailendra Darmastawa yang sekarang lebih dikenal sebagai pebisnis muda sukses yang juga menjadi tenaga pengajar tamu di kampus biru."


"Kita lihat dari jalan kompleks, bagian depan rumah dan halaman telah dikelilingi oleh police line. Jadi kita tidak bisa masuk ke dalam."


Ia terperangah melihat penampakan rumah Rendra dilayar televisi. Rusak berat dengan pecahan kaca bertebaran dimana-mana. Ya ampun, Bang Rendra dan Mba Anggi. Mendadak ia merasa sedih. Semoga Bang Rendra dan Mba Anggi baik-baik saja, bisiknya dalam hati.


"Kita lihat, bagian depan rumah yang semuanya terbuat dari kaca, hancur berantakan. Juga pintu garasi."


"Dirusak dengan brutal."


"Dan menurut informasi dari petugas kepolisian, penyerangan semalam membuat istri SD tertembak."


Mba Anggi? Kedua matanya tiba-tiba memanas. Meski mereka tak terlalu dekat, tapi Anggi jelas tipe istri bos yang hangat dan sangat menyenangkan. Bisa menempatkan diri dengan baik sesuai porsinya. Dan yang pasti dari beberapa kali ia menghadiri acara keluarga kecil Rendra, aura penuh cinta dan kebahagiaan selalu menguar memenuhi udara tiap kali melihat Rendra dan Anggi berinteraksi.


"Kalau dari olah TKP dan penyelidikan awal, kasus ini sebenarnya dilatar belakangi masalah intern keluarga."


Kali ini reporter tengah mewawancarai seorang petugas kepolisian yang baru saja keluar dari dalam rumah Rendra.


"Jadi tak ada hubungannya dengan persaingan bisnis atau isu isu kesukuan yang sempat merebak karena kita tahu saudara SD sendiri berasal dari luar kota Jogja, bahkan luar Jawa?"


"Oh, tidak," petugas memberi penolakan. "Kami tekankan disini, ini murni masalah keluarga antara korban dan pelaku. Tidak ada hubungannya dengan apa itu isu sara, pendatang, atau apa. Tidak ada. Murni intern keluarga."


"Kota ini aman, damai, jangan lah membuat berita-berita yang memancing, yang bisa menggiring opini masyarakat untuk berasumsi dan menimbulkan rasa takut. Tidak ada."


"Kalau persaingan bisnis?"


"Untuk yang ini masih kami dalami lebih lanjut."


"Kalau pelaku dan otak penyerangan apakah sudah tertangkap?"


"Sebagian sudah, namun ada beberapa yang melarikan diri. Sedang kami proses."


"Untuk perkembangan lebih lanjut kita tunggu rekonstruksi hari Senin."


"Begitu ya, terima kasih," petugas yang diwawancara mulai beranjak pergi. Sementara reporter masih ingin bertanya,


"Kalau korban terluka apakah benar jika istri saudara SD tertembak? Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Nanti. Nanti," petugas tersebut terus berlalu menuju kendaraannya. "Sudah dulu ya," lalu menghilang di balik kemudi.


Sungguh ia ikut bersedih demi mengetahui musibah yang tengah menimpa Rendra dan Anggi. Semoga semua pelaku penyerangan cepat tertangkap dan mendapat hukuman setimpal.


Membuatnya tak habis pikir jika benar latar belakang penyerangan adalah konflik intern keluarga. Ia pun berdoa semoga masalah ini cepat selesai.


Usai siaran berita, ia kembali menunggu kepulangan Rakai. Namun hingga jam satu siang, Rakai tak kunjung muncul seperti yang dijanjikannya tadi pagi. Sementara Arung dan Saga telah bangun, dan kini sedang bermain-main di atas karpet dengan tenang.


Sebenarnya Arung dan Saga adalah bayi-bayi tampan yang manis. Mereka tak akan rewel atau menangis jika merasa kenyang dan senang.


Mungkin tadi pagi masih dalam masa penyesuaian berada di tempat berbeda, jauh dari rumah, jadi rewel dan menangis. Bagaimanapun bayi juga sensitif dengan perubahan suasana yang baru.


Ia masih menemani Arung dan Saga bermain ketika jam telah menunjukkan pukul dua siang, dan Rakai belum muncul juga. Ini jelas membuatnya gelisah. Karena acara nanti sore sangatlah penting. Yaitu pembukaan warung kopi perdana milik Johan, pacarnya. Tentu tak mungkin jika ia tak hadir di acara sebersejarah ini.


Help me, please!


***