Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
Dibuang Sayang 2



So sorry untuk terus mengulang permintaan yang sama 🤭🤫🙏🤗


"Jangan berhenti di kita. Jangan berhenti di kamu."


I'm begging you all 🙏


Semoga makin kesini makin banyak readers yang membaca cerita BSiL dan AGbY kemudian jatuh cinta dengan kisah Rendra-Anggi-Dio 🤗.


Tapi tetep woles ya gaes, no hurt feeling kalau ada yang nolak atau nggak suka. Feel free, karena ibarat cinta yang tak bisa dipaksa tsaaaah 😁😜 membaca juga, nggak bisa memaksa orang untuk menyukai apa yang kita suka, tapi minimal udah mencoba menawarkan kisah ini ehehehe ... enggak pun tak apa karena selera tak bisa dipaksa 🤗


Tarimakasieeeeeeee


BIG HUG 🤗


Kalian juga ya gengs......teruslah membaca......membaca apapun yang membuat kita bertumbuh menjadi persona yang lebih baik lagi. Karena semakin kita membaca, semakin kita haus dan lapar akan bacaan baru yang lebih berkualitas 🤗


Yuk kita lihat dibuang sayang kali ini ada apa aja, cekidooot 🤗


***


"Udah deh," Citra mengibaskan tangan. "Gue harap ini yang pertama sekaligus terakhir. Besok-besok ngga ada kayak gini lagi," gerutu Citra langsung berbalik pergi sebelum ia sempat menyanggah.


"Haduh," ia menghembuskan nafas panjang karena bingung.


"Yaelah, gitu si Citra minta maafnya?" sebuah suara yang datang dari arah belakang mengagetkannya. Suara itu...


"Nih," dia mengangsurkan sekaleng susu beruang, dan tanpa meminta persetujuan, kaleng itu kini sudah berpindah ke tangannya.


"Gimana rasanya kepanasan seharian?" seulas tersenyum muncul. "Besok-besok jangan lupa bawa topi, kalo ngga mau pingsan."


Matanya menyipit, mendadak intensitas degup jantungnya melonjak tajam, dan hatinya kesal bukan kepalang menyadari siapa yang sedang berbicara.


"Maksudnya apa?"


"Hah?"


"Lo nyuruh mba Citra minta maaf ke gue?" ia jelas ngga mampu mengontrol nada suaranya yang tiba-tiba meninggi dengan sendirinya.


"Iyalah, lo tadi sampai ngga kebagian makan karena keteledoran anak buahnya. Sebagai pemimpin yang baik dia harus minta ma...."


"Lo berlebihan."


"Gimana?"


"Nyuruh mba Citra minta maaf ke gue, itu sama aja lo gali kuburan buat gue. Emangnya gue siapa sampai harus dimintai maaf segala?!"


"Apa lo bilang?"


"Lagian ya gue sama sekali ngga mempermasalahkan. Gue bisa cari makan sendiri. Gue tadi udah makan."


"Tapi bikin lo ngga ikut briefing."


"Gue bisa tau poin briefing meski ngga ikut."


"Eh, keras kepala, ngga ikut briefing itu jelas kesalahan. Meski akhirnya lo tau poin yang dibahas."


"Lo itu," ia menghela nafas saking kesalnya. "Elo seenaknya nyuruh-nyuruh orang lain buat minta maaf, sementara lo sendiri ngga bisa minta maaf. So pathetic."


"Apa?"


"Elo jelas-jelas tipe orang yang ngga bisa bilang maaf. Jadi jangan pernah nyuruh orang lain minta maaf, apalagi itu bukan urusan lo."


Rendra mendengus. "Maksudnya apa nih? Ngomong yang jelas."


"Lo masih utang maaf ke gue," gerutunya kesal sambil meraih tas lalu mencangklongnya kasar di pundak. Dan langsung berbalik pergi meninggalkan Rendra.


Begitu sampai di luar ruangan, ia langsung menyesal menyadari masih memakai topi Rendra dan memegang susu beruang pemberiannya. Sial.


###Karakter Rendra adalah player yang punya otak dan beradab (istilah apalagi ini haha), sementara kalimat-kalimat Rendra di adegan ini sama sekali "nggak mencerminkan player beradab" Halah hehehe....jadi skip skip next...


***


Ia -seperti sudah bisa diduga- akhirnya menyerah dan menyetujui usul Rendra untuk berteman, dengan sederet daftar syarat dan ketentuan berlaku,


"Nggak ada kirim-kirim makanan lagi."


"Wah, sesekali masih bolehlah."


"Jangan sering-sering ke kost."


"Kalau yang ini nggak janji."


"Murni berteman, nothing else."


"Iya iya."


"Selalu jaga jarak dan physical distancing."


"Kamu masih takut sama aku?"


Meski ia jadi terdengar sok jual mahal dan menyebalkan, tapi paling tidak membuat mereka punya rambu-rambu yang jelas.


"Mana ada sejarahnya cewek cowok murni temenan tanpa ada hal lain," Mala mencibir. "Kalau gue bilang nih ya, kalian udah one step closer."


"Yang penting kan gue enggak ada perasaan lain," jawabnya balas mencibir.


"Yakin?" Mala langsung ketawa setan.


"Yakin lah. Gue aja sama Dio temenan lama, hayo!"


"Itu karena Dionya kelamaan mikir nggak ada action. Otaknya terlalu cerdas sih, jadi malah slowmo," Mala menggerutu. "Untung aja lo nggak gaul, jadi Dio kagak sempet ditikung sama cowok laen."


Ia hanya mendecak. Mereka murni berteman kok, buktinya Rendra juga memegang komitmen dan nggak macem-macem. Apa salahnya berteman dengan mantan enemy, betul? Seperti sore berhujan ini, Rendra tiba-tiba sudah berdiri di pintu depan kost.


"Aku numpang ngerjain skripshit disini ya," Rendra tersenyum sambil mengangkat sekresek penuh McD. Berhubung ia juga lagi nggak ada kegiatan,


###Anggi terlalu gampangan mau diajak temenan sama Rendra. Iya nggak sih? Jual mahal dikit dong, biar Rendra berasa ngejarnya 😁


Oke....deleted scene...


***


Ngomong-ngomong kenangan indah, kemarin tak ada angin tak ada hujan, Salsa mendadak menyapa, hanya untuk bertanya, "Kalian pacaran?"


"Temenan aja mba," sedikit khawatir Salsa akan menyudutkannya lagi karena akhir-akhir ini Rendra sering numpang mengerjakan skripsi di teras kost.


"Butuh tempat yang bisa melancarkan kinerja otak," begitu alasan Rendra. Lalu mereka akan duduk di teras menghadap laptop masing-masing. Rendra menyelesaikan skripsi, ia mengerjakan tugas kampus.


"Jangan sering-sering, nggak enak sama yang lain," kalimat terakhir Salsa langsung membuatnya menolak mentah-mentah keinginan Rendra untuk mengerjakan skripsi di teras kost lagi.


###Anggi kan cewek merdeka yang punya prinsip, bisa-bisanya disudutkan terus sama anak-anak Raudhah. Enggak banget kan?


Deleted again....


***


"Nggak usah jawab. Tapi please jangan tolak aku, biarkan aku ada di dekatmu."


"Nggak perlu lihat aku. Kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka. I'll never get mad."


"Kalau suatu saat kamu perlu sama aku, jangan ragu, aku pasti datang. I'll always here."


Kalimat Rendra senja itu terngiang hingga berhari-hari. Pun senyum dan tatapan matanya yang penuh kesungguhan, membuat hati semakin ragu, bingung, gelisah tak tentu arah. Bahkan untuk sekedar merespon rasanya sulit sekali, ia merasa tak memiliki alasan kuat, karena di sudut hati yang terdalam masih tersimpan Dio dan segala kenangan indah yang pernah terjadi.


Berhadapan dengan Rendra selalu membuatnya dikelilingi oleh rasa takut, tidak aman, tidak yakin, ragu, karena ia tak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya jika mereka bersama. Rendra ibarat sekotak cokelat luxury dalam berbagai bentuk, rasa, dan isi. Dimana ketika kita mengambil salah satu coklat tersebut, kita tidak bisa tahu pasti apa yang akan kita dapatkan. Mungkin terkadang isi coklat itu adalah yang kita suka, tapi tidak selalu, bisa jadi kita mengambil cokelat yang tak kita suka. Begitulah Rendra, selalu penuh dengan kejutan yang tak pernah bisa ia duga. Dan ia sama sekali tak pernah menyukai kejutan.


"Take it or...take it," Mala berbinar seolah itu adalah ide terbaik yang pernah dilontarkan.


"Or leave it...," ia menggerutu. Sepertinya Mala sudah dalam level akut terpapar virus Rendra.


"Ya ampuun Anggi, lo bodoh atau emang raja tega sih. Rendra udah segitu pengertiannya sama elo," Mala mulai berurat.


"Mana ada cowok jaman sekarang yang mau mohon-mohon begitu, and he's just do it. Itu merepresentasikan kesungguhannya, mendefinisikan bahwa he's rare, he's a fighter, he's so in love with you, he's....have no words," Mala mengangkat tangan tanda menyerah.


###Terlalu mudah buat Rendra kalau diginiin doang Anggi langsung bilang "yes". Kurang berasa perjuangannya. Hehehe...


NEXT


***


Mungkinkah semua tanya kau yang jawab?


Ia memandangi derasnya air hujan yang jatuh ke atas aspal jalan raya hingga menimbulkan uap dan membuat debu serta butir-butir kecil tanah jalanan memercik ke segala arah, termasuk kearah mereka yang kini sedang berteduh di depan sebuah toko kelontong. Membuat flatshoesnya mulai kotor karena percikan tanah yang berasal dari air hujan.


"Kamu nggak papa?" Rendra menatapnya lembut saat langit mendadak terbelah oleh kilatan cahaya disusul oleh suara petir yang menyambar-nyambar.


Ia hanya menggeleng sambil memeluk diri sendiri.


***


Ia memandangi derasnya air hujan yang jatuh ke atas aspal jalan raya hingga menimbulkan uap dan membuat debu serta butir-butir kecil tanah jalanan memercik ke segala arah, termasuk kearah mereka yang kini sedang berteduh di depan sebuah toko kelontong. Membuat flatshoesnya mulai kotor karena percikan tanah yang berasal dari air hujan.


Ia hanya menggeleng sambil memeluk diri sendiri. Jaket pemberian Rendra jelas sangat efektif melindungi tubuh dari dinginnya hujan, tapi rasa gemetar yang tak juga hilang sejak hampir satu jam yang lalu membuatnya refleks memeluk diri sendiri.


"Kayaknya bakal awet nih hujan," Rendra mengecek sesuatu di ponselnya. "Padahal prakiraan cuaca hari ini cerah, makanya pakai motor."


"Halo?" Rendra berbicara dengan seseorang di ponsel. Membuatnya kembali memerhatikan air hujan yang jatuh ke atas aspal. Have no idea. Sementara dari kejauhan telah berkumandang adzan Maghrib.


"Besok ada kuliah nggak?"


Ia menggeleng. Tadi adalah kelas terakhir sebelum UAS. "Tapi masih banyak tugas."


"Tugas gampang," seperti biasa Rendra selalu menganggap enteng. "Nanti kubantuin."


Ia hanya mengkerut.


"Udah mau malem, hujan masih awet, mana dingin lagi....kita mampir ke rumah temenku mau nggak...rumahnya deket sini...."


Rendra mengemudikan motor dengan penuh kehati-hatian di tengah guyuran hujan lebat dan petir yang sesekali menyambar. Jas hujan yang mereka pakai sepertinya tak terlalu berfungsi saking derasnya hujan dan besarnya angin yang bertiup.


"Pegangan ya," teriak Rendra diantara gemuruh suara hujan. Setelah hampir 15 menit mereka berkendara, Rendra membelokkan motor ke halaman sebuah rumah, dengan seseorang yang sudah menunggu di terasnya.


"Nekat kowe bang, udyan deres ngene, teles kebes," ujar orang tersebut begitu mereka memasuki teras.


(Nekat kamu bang, hujan besar begini, basah semua).


"Piye meneh. Lak sedek mbengi," jawab Rendra yang sedang membantunya melepas helm.


(Gimana lagi. Keburu malam).


"Masuk...masuk....," orang itu mempersilahkan mereka masuk ke ruang tamu.


"Masmu rung mulih?" Rendra mengajaknya untuk masuk ke dalam. "Banyak geluduk diluar," bisiknya.


(Kakakmu belum pulang?)


"Durung. Biasane mbengi terus kok."


(Belum. Biasanya malam terus -pulangnya-)


"Oya, kenalin ini Anggi," Rendra mengarahkan tangan kanan padanya. "Anggi, Danang. Danang, Anggi."


Ia tersenyum mengangguk, sambil sedikit menggigil karena celananya basah kuyup.


"Danang ini adiknya Bagus. Inget


###Jadi dulu sempet mau ada cerita, habis dari Abhayagiri, Anggi Rendra kehujanan. Karena cuaca ekstrem, hujan besar sehari semalam nggak berhenti.


Terpaksa Rendra nginep di rumah Bagus. Trus Anggi nginep di rumah Mba Suko -rumah Bagus dan Mba Suko depan-depanan di Prambanan, ingat kan gaes?-


Titik dimana Anggi yakin kalau he's the one.


Tapi nggak jadi hehe....ujug-ujug nginep di rumah orang, meski beda rumah bikin cerita jadi aneh nggak sih gaes. Dan terlalu dipaksakan 🤧 jadi skip skip next.


***


lalu sedetik kemudian memeluknya erat, "Congrats...congrats..."


Hampir lima menit Mala memeluk erat-erat, membuatnya susah bernapas, "Mal...aduh, udah deh...ini gue susah napas..."


Dengan terpaksa Mala melepas pelukannya, "Gue hepi banget, Nggi. Gue ngerasa....kayak gue yang dilamar...ohhh," matanya berbinar-binar. "Gimana lo bisa seberuntung ini? Lo punya ajian sakti apa sih sampai-sampai bisa ngalamin kejadian seuwu ini....," Mala kembali memeluknya, kali ini hanya satu detik, setelah itu ia kembali berbinar-binar lagi.


***


Rakai berhasil menepikan kemudi di Fakultas Teknik tepat jam 13.30, setelah melewati kemacetan yang luar biasa. Ia langsung pamit ke Mustek. Sementara dari lapangan Satup masih terdengar yel-yel menggelora pengobar semangat.


Dari Mustek ia langsung menuju ke ruang M1 gedung pusat, tempat diadakannya wisuda jurusan. Pas sedang pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Pak Drajat dan Rendra.


Ia mendudukkan diri di samping Rakai, memperhatikan jalannya acara yang ternyata hanya sebentar. Setelah sambutan Dekan, disusul pesan dan kesan dari perwakilan wisudawan dan orangtua, acara langsung ditutup dengan makan bersama.


Ia lebih memilih duduk menikmati snack box pemberian Rakai daripada ikut mengantre makanan. Saat itulah seseorang mendudukkan diri di kursi sebelah yang kosong. Ternyata Rendra, yang kini sedang mengedipkan sebelah mata ke arahnya, sambil terus menyantap hidangan dengan gaya khas, seperti belum makan selama tiga hari.


"Laper banget sumpah," ujarnya terkekeh.


Ia tertawa.


"Kamu...cape nggak?" tanyanya sambil terus mengunyah.


"Enggak."


"Habis ini kita ke hotel, mau ada foto studio."


Ia harus menunggu lebih lama dibanding wisudawan lain yang mulai beranjak pulang. Karena Rendra dan Papa -ternyata dari GSD Papa langsung ke FT- sedang asyik ngobrol dengan Pak Drajat.


###Awalnya Anggi mau ikut Rendra ke wisuda jurusan. Tapi nggak jadi hehe.


Wisuda jurusan lama gaes 🤧, mana cape pula sampai sore. Sementara sejauh mata memandang cuma terlihat anak-anak teknik yang ngumpul sambil meneriakkan yel-yel, terus ada seremoni dikit dengan pihak kampus.


Jadi menurut Babang Renren, Anggi bisa kena boring time, so skip skip next, wisuda jurusan Anggi nggak jadi ikut, cukup si Babang sajo hehe 😁


***


Beberapa hari setelah wisuda, usai urusan mengembalikan toga, mengambil ijazah dan transkrip nilai, dll selesai, jam 7 pagi Rendra sudah berdiri di teras Raudhah dengan senyum terkembang.


Ia jadi ikut tersenyum, "Mau ngajak keliling naik motor lagi?" ujarnya sambil melihat motor matic sejuta umat yang terparkir di halaman Raudhah.


Tapi Rendra menggeleng.


"Mau ngajak belanja ke pasar buat masak-masak?"


Lagi-lagi Rendra menggeleng, lalu meraih tangannya, "Kita cari sarapan yuk."


Ia mencibir dalam hati, cari sarapan doang segitu pasang senyum manis.


"Kamu udah mandi kan?"


"Kenapa emang?"


"Bukannya kamu nggak mau jalan kalau belum mandi?"


Ia kembali mencibir. "Kelihatannya?"


Rendra melepas genggaman tangan mereka, lalu berlagak mengeker wajahnya dengan kedua tangan, "Susah nebak. Nggak bisa nebak," sambil menggelengkan kepala.


Membuatnya semakin mencibir.


"Habis...mandi nggak mandi sama cantiknya...Aduh," Rendra mengaduh karena ia keburu mencubit pinggangnya.


"Tolonglah kalau nyubit jangan di area sensitif...," kali ini sambil mengerling nakal. Namun ia punya cara untuk mengembalikan ke jalur yang benar, "Tunggu aku ganti baju dulu."


"Oke," Rendra mengangguk setuju. "Siap ya buat pergi seharian."


Membuat langkahnya yang baru sampai di depan pintu kembali berbalik, "Kenapa pergi seharian?"


"Abis sarapan, kita ke apartemen. Ada yang mau aku obrolin, kayaknya perlu waktu lumayan."


Membuatnya penasaran, Rendra mau ngobrol tentang apa yang akan menghabiskan waktu seharian.


Dan, usai sarapan lontong opor favorit, Rendra melajukan motor matic menembus udara pagi yang segar menuju apartemen. Yang begitu mereka masuk, langsung tercium bau harum makanan.


"Kamu abis masak?" tanyanya heran sambil menuju pantry.


"Taraaa," Rendra membawa sebuah piring dari atas meja makan, dimana sumber bau harum berasal. "Special panada for my special one...," sambil tersenyum lebar. "Kita panasin dulu," lalu memasukkan ke dalam microwave.


"Panada?" ia memandang hidangan mirip pastel yang masih mengepulkan asap di atas meja.


Rendra mengangguk, "Makanan favorit waktu kecil. Udah pernah nyoba?"


Ia menggeleng, "Bentuknya mirip pastel, kalau pastel pernah."


"Ini beda," Rendra mengambil satu lalu mengarahkan padanya. "Ha..."


Ia membuka mulut, lalu menggigit sedikit. Hmm, enak, seperti roti isi daging ayam.


"Panada ini jualanku waktu sekolah."


###Ngobrol berdua jago sepik iblis di apartemen nan sepi 😖 nenek bilang itu berbahaya 🙈


Sementara plot adegan di apartemen juga ada di bab lemme be your last first kiss. Terlalu sering menyambangi apartemen cowok itu bukan tipe Anggi banget.


No! Jadi skip skip next 🤧


***