Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
39. When You Were Here



Rendra


Ia memperhatikan posisi setir dan perut besar Anggi yang hampir tak berjarak. Hanya dengan melihat saja ia merasa sesak napas. Namun sepertinya Anggi tak terlalu terpengaruh. Tetap mengemudi dengan tenang.


"Berapa minggu sekarang?" ia benar-benar ingin tahu. Sejak kecelakaan, ia tak pernah mengantar Anggi periksa kandungan lagi.


"Tiga puluh empat," sambil menoleh kearahnya, "Aku gendut ya?"


"Cantik," jawabnya jujur. Karena Anggi memang benar-benar terlihat cemerlang dan bercahaya.


"Ih," Anggi mencibir.


Namun ia justru bernapas lega, "Berarti udah lewat dari usia kelahiran Arung dulu?"


Anggi mengangguk, "Iya. Alhamdulillah."


"Masih suka ngeflek?" ia merasa geli sendiri dengan percakapan yang lebih mirip interogasi ini. Tapi sepertinya Anggi tak keberatan.


"Kadang."


Membuatnya mengusap kepala Anggi pelan. Anggi pun tersenyum kearahnya. Namun ia mendadak teringat sesuatu, "Tujuh bulanan udah lewat?"


Anggi mengangguk.


"Kok aku nggak tahu?" ia mengernyit. Brengsek benar dirinya, terlalu sibuk meratapi diri sampai melupakan momen penting.


"Kan aku udah cerita ke Abang," kini giliran Anggi mengernyit. "Lupa?"


"Kapan?"


"Bulan lalu waktu anak-anak ManjoMaju pada ke rumah?"


Ia menggelengkan kepala, tak mampu mengingat apapun.


"Waktu Mamah sama Papah kesini," lanjut Anggi mencoba memberi petunjuk.


Sejak ia mengalami kecelakaan, Mamah Papah hampir sebulan sekali berkunjung ke rumah. Tapi ia sama sekali tak mengingat kunjungan yang mana yang bertepatan dengan 7 bulanan.


"Ada acara di rumah?" hampir 24 jam /7 hari ia berada di rumah, namun tak pernah tahu ada acara yang digelar dengan mengundang banyak orang.


Anggi menggeleng, "Cuma bagi-bagi bingkisan. Aku kan udah cerita ke Abang, masa lupa sih?"


Dan malam ini menjadi malam pertama mereka kembali bersama setelah masa-masa sulit.


"Arung udah bisa tidur sendiri?" tanyanya heran demi melihat Arung tertidur nyenyak di kamarnya sendiri.


Anggi mengangguk, "Harus Bang. Kan mau punya adik. Nanti kita yang repot."


Ia hanya bisa menggelengkan kepala. Karena benar-benar ketinggalan banyak momen penting.


"Nggak nangis?" tanyanya penasaran. Karena waktu kecil, ia tak pernah berani tidur sendiri. Bahkan hingga menginjak SD, ia masih tidur berdua dengan Mama. Anak mama.


"Awal-awal sering kebangun nyari-nyari. Tapi lama-lama udah biasa."


"Lagian kan aku temenin dulu, bacain cerita dulu, kalau udah tidur baru aku pindah," lanjut Anggi lagi.


"Tapi kalau bangun kamunya jadi cape bolak balik," ia mengernyit.


"Mending cape sekarang daripada nanti pas ada dua anak," jawab Anggi sambil tertawa.


Ia mencium pipi bulat Arung sambil berbisik, "Sweet dreams buddy."


Arung menggeliat sebentar, sebelum akhirnya kembali lelap.


"Ditutup jangan?" tanyanya menunjuk pintu yang menghubungkan kamar Arung dan kamar mereka.


"Nggak usah Bang, biar kalau Arung bangun langsung kedengeran."


Ia menyimpan kruk di sisi nakas. Hari pertama lepas dari kursi roda benar-benar melelahkan. Setiap langkah terasa berat dan menyakitkan. Membuat seluruh persendian pegal-pegal, persis seperti yang acap kali dirasakannya dulu usai mengikuti turnamen. Bedanya, sekarang pegal karena belajar berjalan, bukan pegal karena bertarung.


Ia meraih kepala Anggi agar tidur dengan berbantalkan lengannya. Kemudian memposisikan diri untuk saling berhadapan, dalam jarak kurang dari 30 centi. Posisi sedekat ini membuat mereka berdua bisa saling menatap.


2 detik, 10 detik, 1 menit.


Tak ada seorangpun yang berniat membuka pembicaraan. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing meski masih saling menatap.


Terutama dirinya yang terpesona dengan wajah bersinar Anggi. Wajah yang masih sama persis seperti kali pertama ia melihatnya di Perpustakaan pusat bertahun-tahun lalu. Cantik, bersih, segar, menentramkan. Tak berubah sedikitpun. Membuat tangannya gatal untuk menangkup kemudian mengelus wajah yang sejak awal selalu mengisi hatinya itu.


"Ayo kita kembali ke Perpusat," bisiknya yakin.


"Apa?" Anggi mengernyit.


"Kita pencet tombol fast rewind buat keluar dari mimpi buruk ini."


Anggi menggeleng tak mengerti.


"Kita ulangi lagi awal pertemuan biar jalan yang kita lewati nggak seterjal ini."


"Begitu lihat kamu di Perpusat, aku janji bakal ngajak kenalan langsung."


"Hai, kenalin, aku Rendra dari TI. Btw, presentasi kamu keren banget."


"Ngomong-ngomong, aku bisa lihat masa depan kita berdua yang begitu indah. Nikah yuk."


Anggi tertawa.


"Nggak perlu ada salah paham. Nggak perlu berantem di depan forum workshop. Nggak perlu ada grand design Om SJW yang bikin kamu terluka."


"Biar Rimba bisa tetap sama-sama kita."


"Biar aku nggak jadi pecundang seperti sekarang ini."


Anggi tersenyum sambil mengusap rahangnya pelan, "Kalau adegannya begitu, aku pasti bakal jawab, Waduh, Pak Satpam, ini ada mahasiswa stres di Perpusat. Bisa tolong diamankan?"


Membuat mereka berdua sama-sama tertawa.


"So sorry.... really sorry...," ia mengelus tempat dimana biasanya lesung pipi Anggi akan muncul. Hal yang sangat ingin dilakukannya selama tiga bulan terakhir ini.


"Sering ngecewain kamu...."


Anggi tersenyum sambil mengusap rahangnya pelan, "I'll always have your back." Kemudian membimbing tangannya untuk mengelus perut dimana keajaiban keduanya berada.


Nut!


Anggi memindahkan telapak tangannya ke sisi lain.


Nut!


Tiap kali tangannya berpindah tempat, tiap kali itu pula tendangan keras mengikutinya.


Nut! Nut!


Kali ini tendangan ganda. Membuat tiap sisi ruang hatinya menghangat dipenuhi perasaan takjub campur bahagia. Definisi nyata dari love is never wrong.


Dengan perlahan dan susah payah ia setengah bangkit untuk membungkuk lalu mencium perut Anggi, "Be good," bisiknya. "Baik-baik di dalam perut Mami sampai waktunya lahir ya sayang...."


Dan di pagi hari ia bertekad untuk memulai kehidupan yang telah lama ditinggalkannya. Kehidupan membahagiakan penuh anugerah yang sering lupa untuk ia syukuri. Hingga saat satu saja anugerah diambil Sang Pemilik, berhasil membuat hidupnya hancur lebur tak karuan.


I don't wanna do this shit anymore, bisiknya sungguh-sungguh hingga merasuk ke relung jiwa. Sekaligus berjanji, untuk lebih bertanggungjawab penuh pada diri sendiri apapun yang terjadi.


Karena menyalahkan keadaan dan diri sendiri hanya akan mendatangkan luka sekaligus melukai orang-orang tercintanya. Karena pada dasarnya, rasa suka, duka, ketakutan, kekhawatiran, kebahagiaan, akan selalu ada dan datang silih berganti selama hayat masih dikandung badan.


Jadi langkah pertama yang harus ditempuh adalah, berdamai dengan diri sendiri dan menerima keadaan. Bersahabat dengan kruk yang akan menemaninya kemanapun ia melangkah. Menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Dan melanjutkan hidup sebagaimana seharusnya.


Namun semua tak semudah membalik telapak tangan. Perlu adanya keinginan dan tekad yang kuat agar bisa pantang menyerah. Untuk melalui rasa sakit saat belajar berjalan menggunakan alat bantu tanpa mengeluh. Juga mengalahkan rasa takut dan khawatir yang masih sering membelenggu.


Semua harus bisa ia lawan dan lewati. Demi orang-orang tercinta yang selama ini selalu mendukungnya dalam keadaan terburuk sekalipun. Terutama demi Anggi, Arung, dan calon bayi yang selamanya akan menjadi harta paling berharga yang ia miliki.


Sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti, ia kembali menemukan kepercayaan diri yang sempat terserak. Kembali memiliki keberanian yang sempat hilang. Kembali mampu melakukan aktivitas rutin yang dalam tiga bulan terakhir bahkan tak berani diangankannya. Namun yang terpenting adalah, kembali menemukan diri yang sebenarnya.


"Abang lupa?" tanya Anggi malam ini, saat mereka berdua sedang duduk di sofa ruang tengah usai menidurkan Arung.


Ia yang sedang menyelesaikan bab IV hanya menoleh sekilas, "Lupa apa?"


"Minggu depan Arung ulang tahun."


Kalimat Anggi membuatnya mengalihkan pandangan dari layar laptop. "Seriously?"


Anggi mengangguk sambil menahan tawa. "He's definitely not a baby anymore."


Ia tertawa sambil menggelengkan kepala, time flies so fast. "Kamu mau di hotel mana? Biar nanti anak-anak yang urus."


Namun Anggi menggeleng. "Gimana kalau kita buat acara keluarga?"


Ia mengernyit tak mengerti.


"Di rumah, sama orang-orang terdekat."


Ia masih mengernyit.


"Arung juga belum ngerti, belum punya temen sebaya," Anggi tertawa.


"Dana party nya dialokasikan buat sembako ke panti aja gimana?"


"Terus....di daerah deket Mba Suko katanya ada beberapa keluarga yang perlu dibantu."


"Sekalian sama syukuran pemulihan Abang yang luar biasa," lanjut Anggi sambil tersenyum.


"Udah pakai forearm, udah nyetir sendiri, udah ngampus, udah bikinin aku nasi goreng, sama udah.....," Anggi menghentikan kalimatnya sambil mengerling. "Udah jadi young and dangerous lagi."


Ia tertawa sambil menggelengkan kepala, my warm hearted wife. The one and only.


Dengan mengerahkan anak-anak ManjoMaju yang tiada duanya untuk membantu merealisasikan keinginan Anggi berbagi, kini hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Happy birthday, Arung!


Dengan melangkahkan kaki gempalnya yang masih kaku seperti robot, Arung berhasil melewati five feet challenge dari Adit yang sengaja datang spesial dari Bandung.


"Waaa! Kereeeeen!" Adit berteriak girang begitu Arung menubruknya.


"Papipapipapi.....Hakhakhakhak....," Arung ikut menjerit senang demi melihat semua orang kegirangan.


"Bukan Papi," protes Adit. "Om...."


"Papipapipapi....."


"No no no," Adit menggeleng. "Om....Om....coba bilang...."


"No no no no......," Arung menggelengkan kepala mengikuti tingkah Adit.


Adit tertawa, "Anak pintar," lalu mengusap kepala Arung, "Sekarang bilang....Om....Om..."


Arung mengernyit sebelum akhirnya mengucapkan, "Oo....Oo...."


"Nah!" Adit berteriak senang. "Beneerrr! Dikit lagi...M...M....Om...Om..."


"Oo....Oo...M...M...Mamimamimami.....," Arung kembali berceloteh kata yang sudah biasa diucapkannya.


"Aduh, kamu pinter banget sih kayak Om Adit," Adit mencium pipi montok Arung. Sementara Anggi jelas-jelas mencibiri kelakuan Adit.


"Mba, aku bawa ke Bandung ya, buat mainan. Lucu," ujar Adit kearah Anggi.


"Eh....kok sama Om terus," sebelum Anggi menjawab Papah lebih dulu bersuara.


"Sini.....sini.....sama Yangkung.....," Papah merentangkan tangan untuk menyambut Arung.


Diluar dugaan, Arung menurut. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, em....Arung buru-buru menubruk Papah.


"Woooo....cucuku udah pintar!" Papah bersorak gembira.


"Nanti Yangkung buatin bambu putar buat latihan jalan ya," Papah mengajak Arung ngobrol. "Arung mau dibuatin dimana? Di halaman belakang? Iya? Dekat kolam yang baru? Iya? Biar bisa lihat ikan?"


"Kan kan kan.....," Arung mengangguk-angguk sambil tangannya menunjuk ke arah kolam berisi puluhan ikan koi yang baru dibuat seminggu lalu. Karena ia ingin mendengar suara gemericik air setiap hari.


"Papipapipapi....," Arung ikut menunjukkan jari padanya.


"Oh iya...itu Papi Arung ya?" Papah kian senang cucunya merespon dengan baik.


"Papipapipapi....," Arung menganguk-angguk.


"Bilang ke Papi.....boleh nggak Yangkung buat bambu putar di dekat kolam ikan?"


"Papipapipapi......"


"Boleh," jawabnya sambil tersenyum mengangguk.


"Wah, boleh," Papah mengajak Arung bersorak. "Besok Yangkung buatin ya sebelum pulang ke Purwokerto."


"To....to...to....," Arung mengangguk-angguk.


"Kapan Arung mau ke rumah Yangkung di Purwokerto?" tanya Papah lagi.


"To...to...to....," Arung masih mengangguk-angguk.


"Besok kalau lebaran ya....," Papah tertawa. "Ke rumah Yangkung kalau lebaran ya...."


"Lho, sama Yangtinya kapan?" Mamah mengulurkan tangan kearah Arung.


"Mamimamimami.....," Arung menunjuk kearah Anggi yang kebetulan lewat.


"Oh iya....itu Mami Arung ya," Mamah tersenyum senang. "Sekarang sama Yangti yuk," Mamah kembali mengulurkan tangan ke arah Arung.


Kali ini Arung menurut. Berpindah dari gendongan Papah ke gendongan Mamah. Disusul Adit yang menunjukkan sebuah mainan.


"Arung, nih....Om Adit buatin robot spesial buat Arung," Adit memperlihatkan robotnya.


"Nggak ada duanya ini di pasaran," seloroh Adit. "Limited edition."


Ia meremas tengkuk Anggi yang kebetulan lewat di sebelahnya, sedang sibuk mengatur makanan di atas meja makan.


"Feel blessed," bisiknya sambil menunjuk kearah Arung yang kini tengah tertawa-tawa dikerubuti oleh Papah, Mamah, Adit, Rakai, juga beberapa anak-anak ManjoMaju yang siang ini ikut meramaikan ulang tahun Arung di rumah.


Anggi hanya tersenyum, "Sebentar lagi makin rame, nambah satu baby lagi."


Ia ikut tertawa, " Empat lagi."


Namun kali ini Anggi mendelik. Membuatnya terbahak.


"Bang, ini kado disimpan dimana?" Amin yang sejak tadi pagi ikut sibuk mengantarkan bingkisan ke para tetangga dan kenalan, datang sambil membawa sebuah kotak besar.


"Darimana?" ia mengernyit lalu mengambil kartu yang menempel di bagian atas kotak.


Happy 1st Birthday, Arung Samudera Darmastawa.


Love from,


Mama Amy


"Dari siapa?" Anggi mencondongkan badan kearahnya ingin tahu.


Ia hanya mengangkat bahu sambil memperlihatkan kartu ucapan ke arah Anggi.


"Oh," Anggi tersenyum sambil mengangguk.


"Saya simpan di dekat TV aja ya Bang?" Amin kembali bertanya. "Masih banyak soalnya di luar."


"Iya," jawabnya singkat. "Di dekat TV bisa."


Dan tak pernah menyangka Amin akan bolak balik sampai puluhan kali untuk mengangkut kado-kado beraneka ukuran yang kini berhasil membuat ruang tengahnya menjadi penuh oleh tumpukan kado.


"Banyak amat Min?" tanyanya terheran-heran.


"Masih banyak yang belum kebawa Bang," Amin tertawa.


"Waduh," Anggi yang masih saja sibuk mengurus meja makan terperanjat melihat tumpukan kado yang menggunung. "Banyak amat? Dari siapa aja Bang?"


Ia hanya mengangkat bahu. "Ntar kusuruh Puput buat ngecek dan nyatat dari siapa aja."


Anggi mengangguk-angguk.


"Kamu sibuk banget sih?" tanyanya heran melihat Anggi dari tadi mondar mandir.


"Biar diurus sama anak-anak," ia mengernyit. "Ada Mba Suko, Yu Jum, sama istri si Amin juga," tambahnya lagi. "Kamu duduk manis aja sama aku sini...."


Namun Anggi hanya mencibir, tak mempedulikan ajakannya. "Tanggung, bentar lagi selesai."


"Bener ya," kejarnya meminta kepastian. "Jangan kecapean, nanti fleknya tambah banyak."


"Bentar doang," Anggi tersenyum menenangkan. "Lagian ntar malam juga kita bakal ketemu sama dokter Mazaya. Jadi, jangan khawatir."


"Ntar abis ini kita sekalian makan bareng-bareng," tambah Anggi lagi.


"Oke," ia pun memilih berjalan mendekati orang-orang yang masih mengerumuni Arung.


"Lucu banget sih anak lu," tiba-tiba Rakai menepuk bahunya pelan.


"Terus lu jadi pingin bikin gitu?" selorohnya sebal.


Namun Rakai menggeleng, "Beda banget sama bapaknya yang lebih sering ngeselin."


Ia hanya tertawa sumbang.


"Congrats Ren," ia melihat mata Rakai menerawang. "Udah punya keluarga lengkap yang bahagia."


Ia tersenyum.


"Two thumbsup!" Rakai mengacungkan dua jempol. "Bikin gua iri."


"Nanti juga bakalan datang waktunya. Tunggu aja."


"Hope so."


"Dan semoga pas waktu itu datang, lu nggak bertindak bodoh kayak gua dulu."


"Nggak bakal lah," Rakai mendengus. "Gua kan lebih pintar daripada elu."


Membuat mereka terbahak bersama.


Dan malam harinya, ia bisa mengantar Anggi pergi ke dr. Mazaya. Sementara Arung di rumah masih dikelilingi oleh Papah, Mamah, juga Adit. Selain Mba Suko, Yu Jum, Amin, istri dan anak-anaknya.


"Wah, akhirnya kita ketemu lagi Mas Rendra," sapa dr. Mazaya antusias. "Sudah banyak kemajuan sekarang?"


"Alhamdulillah Dok," jawabnya sambil menyimpan kruk. "Kan mau ikut ke ruang operasi Dok, jadi harus fit."


Dr. Mazaya tertawa, "Pengaruh semangat mau jadi Papi lagi ya. Jadi waktu pemulihan di fast forward."


Membuat mereka tertawa bersama, termasuk perawat yang sedang mempersiapkan examination table.


"Kita lihat disini," dr. Mazaya mulai melakukan tugasnya. "Sudah 2,5 kg. Sudah ndut."


Ia tersenyum senang sambil meremas tangan Anggi.


"Panjangnya 47,5 cm. Wah, bakalan jangkung seperti Papinya nih," seloroh dr. Mazaya.


"Detak jantung bagus, ketuban bagus, tidak terlilit tali pusar."


"Posisi juga sudah bagus. Sudah mulai mendekati jalan lahir. Sepertinya sebentar lagi."


"Masih sering ngeflek?"


"Kadang-kadang Dok."


"Itu bahaya nggak Dok?" tanyanya ingin tahu. Sekian lama tak mengikuti perkembangan kehamilan Anggi, membuatnya buta.


"Selama hanya flek tidak berbahaya, tapi tetap harus waspada," jawab dr. Mazaya. "Kalau ada bercak darah segar atau perut mulai kontraksi, harus langsung ke rumah sakit. Agar bisa cepat ditangani."


"Kalau sebab Placenta Previa sendiri apa ya Dok?" ia benar-benar ingin tahu.


"Placenta Previa itu adalah suatu keadaan dimana letak plasenta rendah, hingga menutup leher rahim, baik sebagian atau sepenuhnya."


"Penyebab utamanya belum diketahui secara pasti, karena Placenta sendiri itu ibarat akar pohon. Kita nggak bisa mengatur atau mendeteksi tumbuhnya dimana atau akan kearah mana. Semua terjadi secara alami."


"Tapi ada beberapa faktor yang membuat seorang ibu memiliki resiko terkena Placenta Previa."


"Apa aja Dok?" ia mengkerut.


"Biasanya berdasar kasus yang sudah-sudah, Placenta Previa terjadi bukan pada kehamilan pertama."


"Lalu rahim ibu memiliki jaringan parut yang disebabkan karena operasi sectio sebelumnya, atau kuretase."


"Atau ibu yang sebelumnya pernah memiliki riwayat Placenta Previa kemungkinan besar akan mengalami Placenta Previa lagi di kehamilan berikutnya. Tapi tidak selalu. Case by case."


"Juga ibu yang hamil kembar, usia lebih dari 35 tahun, atau ibu yang merokok dan menggunakan obat-obatan terlarang."


"Jadi, yang bisa kita lakukan apa Dok untuk mengatasi Placenta Previa ini?" tanyanya semakin penasaran.


"Sebenarnya nggak ada perawatan medis atau tindakan bedah apa pun yang bisa menyembuhkan Placenta Previa."


"Namun ada beberapa pilihan untuk mengelola perdarahan yang disebabkan oleh Placenta Previa. Agar bayi bisa dilahirkan cukup bulan, dan tidak membahayakan kesehatan ibu."


"Seperti bedrest yang Mba Anggi lakukan di awal dan pertengahan kehamilan kemarin."


"Ibu dengan Placenta Previa juga tidak diperbolehkan untuk melakukan aktivitas yang berat-berat."


"Atau transfusi darah untuk perdarahan berat."


"Intinya yang bisa kita lakukan adalah sebisa mungkin menghindarkan ibu dengan Placenta Previa dari kegiatan yang dapat memicu perdarahan."


Ia mengangguk mengerti. "Terima kasih penjelasannya Dok. Bisa jadi bekal buat ke depannya nanti."


Dr. Mazaya menggelengkan kepala, "Wah, Mas Rendra semangat 45 nih. Yang ini juga belum lahir, udah merencanakan yang ke depan."


Ia hanya tertawa, sementara Anggi jelas-jelas mencibir kearahnya.


"Oke, jadi usia adik Arung sekarang sudah....35 minggu 3 hari. Bagus dan sehat semuanya."


"Alhamdulillah," ia mengucap syukur penuh kelegaan.


"Udah sering kontraksi palsu belum?" tanya dr. Mazaya kearah Anggi.


Anggi meringis, "Kontraksi palsu itu gimana ya Dok?"


"Kontraksi yang nggak bertahan lama, nggak semakin parah, dan nggak semakin sering."


"Berarti sudah Dok," ujar Anggi yakin.


"Wah, bahaya nggak tuh Dok?" ia mengernyit. Jangan sampai ketidaktahuan menimbulkan bencana seperti pada kehamilan pertama Anggi.


Dr. Mazaya menggeleng, "Perlu diwaspadai saja kalau kontraksi sudah semakin sering dan bertahan lama."


Ia menganguk-angguk, "Perlu dibawa ke rumah sakit nggak Dok?"


"Kalau kontraksi palsu nggak perlu. Nanti juga hilang sendiri," jawab dr. Mazaya menenangkan.


Ia pun bisa bernapas lega.


"Minggu depan kita ketemu lagi ya," ujar dr. Mazaya sambil menuliskan sesuatu di dalam buku bersampul hijau milik Anggi.


"Minggu depan sudah 36 minggu, sudah cukup bulan."


"Kita lihat apakah adik bayi sudah siap lahir atau belum. Karena kadang di usia 35 minggu keatas, bayi sudah mulai turun ke jalan lahir, menekan ligamen panggul yang bisa menyebabkan perdarahan bagi ibu dengan Placenta Previa."


"Jadi siap-siap saja mulai minggu depan dan seterusnya, karena ada kemungkinan adik bayi bisa dilahirkan sewaktu-waktu."