Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
35. I'll Give You Everything



Ia hanya bisa menelan ludah dengan perasaan bingung yang campur aduk antara shock, aneh, khawatir, tapi juga senang.


"Aman kah Dok? Karena saya dengar, setelah sectio minimal dua tahun baru boleh hamil lagi?" ia mempertanyakan informasi yang banyak beredar di kalangan para mahmud.


"Sementara saya baru delapan bulan lalu melahirkan SC," lanjutnya galau sambil mengelus perut.


Dr. Mazaya tersenyum menenangkan, "In syaAllah aman. Perkembangan ilmu kedokteran sekarang sudah semakin pesat. Teknik jahitan dan obat-obatan juga semakin bagus."


"Beberapa dokter senior sudah membolehkan hamil lagi minimal 6 bulan setelah SC," lanjut dr. Mazaya. "Bahkan ada dokter yang berani memberikan izin hamil lagi setelah 3 bulan SC. Jadi tak perlu khawatir berlebih."


"Termasuk dengan riwayat saya yang pernah melahirkan prematur?" tanyanya lagi.


"Tak masalah. Memang dengan jarak kehamilan yang dekat, konsekuensinya kelahiran berikut juga harus melalui SC."


Ia mengangguk mengerti.


"Karena saat SC, rahim menjadi salah satu bagian yang ikut disayat. Jadi kalau kehamilan jarak dekat setelah SC dipaksakan melahirkan secara normal, dikhawatirkan akan menyebabkan kerusakan pada rahim yang masih dalam tahap recovery."


"Yang penting jaga kondisi tubuh, perhatikan asupan nutrisi, rutin cek kandungan, everything gonna be okay," ujar dr. Mazaya sambil mengacungkan jempol. "Jangan lupa ibu hamil bahagia selalu, biar energi positifnya mengalir ke janin."


"Paling nanti kita harus lepas IUD ya, biar tak berefek negatif pada kehamilan."


Ia terus saja mengangguk-angguk meski masih masygul. "Kalau menyusui Dok?" ia mendadak teringat Arung yang sedang semangat-semangatnya menyusu.


"Secara umum boleh menyusui saat hamil. Tapi nanti kita lihat perkembangannya ya. Karena kondisi tiap ibu hamil berbeda-beda."


"Ada efek sampingnya nggak Dok?"


"Ya terkadang ada yang sampai pu tingnya sakit, perut mulas, bahkan memicu kontraksi. Tapi sekali lagi keadaan tiap orang itu berbeda-beda. Untuk Mba Anggi, kita lihat perkembangannya seminggu ke depan."


"Minggu depan datang lagi ya, untuk melepas IUD sekaligus mengecek apakah harus saya rekomendasikan ke dokter gizi atau tidak terkait menyusui saat hamil."


"Baik, Dok, terima kasih banyak."


Dari klinik dr. Mazaya ia sempat kembali ke kantor untuk mengikuti pelatihan. Dan baru selesai pukul 22.00. Ketika pulang, rumah sudah dalam keadaan sepi dan temaram. Mba Suko yang membukakan pintu untuknya, "Cah ngganteng udah bobok sama Papinya," begitu laporan dari Mba Suko.


Begitu sampai di kamar, dilihatnya Arung tengah terlelap berbantalkan lengan Rendra yang juga sudah mendengkur halus. Sambil tersenyum dikecupnya sekilas kening Rendra dan Arung.


Keesokan paginya, ia sudah berkutat di dapur untuk memasak bekal dan sarapan ketika terdengar suara Rendra berteriak dari kamar mandi yang ada di dalam kamar sambil berjalan menuju ke dapur,


"Sayang.....ini apa?" Rendra mengernyit sambil menunjukkan print out USGnya semalam. Yang memang sengaja ia tempelkan di kaca wastafel. Karena ia tahu pasti kebiasaan Rendra setelah bangun tidur adalah langsung mencuci muka dan menggosok gigi di wastafel. Oke, mission accomplished.


"Menurut Abang?" ia pura-pura tak menggubris, tetap asyik menyiangi pakcoy yang rencananya akan ditumis.


Rendra masih mengernyit sambil mendudukkan diri di meja bar. Matanya bergantian memandanginya lekat-lekat dan print out USG secara bergantian.


"Have no idea," Rendra kian menatapnya dalam.


Ia buru-buru menjewer telinga Rendra, "Dasar." gerutunya kesal sambil menunjuk keningnya sendiri dengan jari telunjuk. "Think!"


Rendra terkekeh-kekeh, sementara ia mengambil bawang merah dan bawang putih untuk menumis.


Dengan tatapan bingung sekaligus penuh rasa ingin tahu, Rendra masih memandanginya lekat-lekat yang kini tengah menahan mual demi mencium aroma khas bawang putih yang meruar tajam saat dikupas. Beberapa kali ia bahkan harus menutup mulut dengan tangan karena tak tahan dengan sentakan bau bawang putih yang menyengat.


Membuat Rendra akhirnya tertawa sendiri sambil memijat kening lalu menyisir rambut dengan jari ke belakang.


"Apa ketawa?!" ia merengut sambil terus saja menahan rasa mual. Sama sekali tak pernah menyangka dalam hitungan detik Rendra akan melompati meja bar.


"Abang, apa-apaan!" ia memukul-mukul bahu Rendra minta diturunkan. "Abang!"


Rendra terus saja tertawa-tawa sambil memutar-mutar tubuh mereka berdua.


"Abang!" kali ini ia menjewer telinga Rendra. "Turunin!"


Rendra masih tertawa saat menurunkan tubuhnya, "Kamu hamil?"


"Ish!" ia mencibir.


"Yes?" ulang Rendra kembali bertanya.


Ia pun mengangguk sambil tersipu. Membuat Rendra kembali memutar-mutar tubuh mereka berdua.


"Abang! Pusing ih, turunin!" ia kembali memukul-mukul bahu Rendra minta diturunkan. Begitu kakinya menginjak lantai, ia pun langsung lari ke tempat cuci piring untuk menuntaskan rasa mual dengan menumpahkan isi perut. Disusul Rendra yang memijat tengkuk sekaligus memegangi ujung rambutnya.


Setelah ia membersihkan diri dan mengelap tangan juga mulut, Rendra memutar tubuhnya hingga mereka berhadap-hadapan.


"Semalam kamu ke dokter Mazaya?" tanya Rendra sambil menangkup kedua pipinya.


Ia mengangguk.


"Kenapa nggak ngajak aku?"


"Cuma pingin mastiin, mual-mualnya karena masuk angin atau bukan."


Rendra mengelus pipinya dengan ujung jempol. "Berapa minggu?"


"Enam," jawabnya sambil mengkerut.


"KB kamu?" Rendra mengernyit bingung.


Membuatnya mendesis sebal, "Itulah, udah di pasang pagar betis juga masih bisa tembus Abang ih!"


Membuat Rendra tertawa kecil. "Siapa dulu dong, Rendraaaa!" sambil membusungkan dada dengan bangga. Membuatnya makin mendengus kesal.


"Tanggung jawab Abang!" ia -pura-pura- menggerutu. "Arung baru 6 bulan udah mau punya adik!"


"Bagus dong, biar target lima anak tercapai under 30," seloroh Rendra sambil matanya mengerling jahil.


"Ih!" ia -lagi-lagi- menjewer telinga Rendra. "Gila apa aku tiap tahun mesti hamil dan melahirkan! Dikira mesin pabrik!"


Rendra terkekeh sambil mencium keningnya dalam, "Thanks for this amazing miracle."


"Hekhekehekhekhekkkk.....," suara tangis Arung pecah dari arah kamar. Membuatnya berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Rendra, "Arung bangun."


Namun Rendra masih menahannya.


"Hekhekehekhekhekkkk.....," suara tangis Arung terdengar semakin keras. Mungkin karena tahu tak ada orang di dekatnya.


"Kamu nen in Arung, nggak usah mikir bekal, biar aku masak sendiri," ujar Rendra cepat.


"Kamu nggak perlu cape-cape, tinggal delagasiin semua kerjaan ke aku, Mba Suko, Yu Jum."


"Aku mau, kehamilan kali ini, kamu jaga baik-baik," Rendra menatapnya sungguh-sungguh. "No debate."


Ia terus saja mengangguk-angguk biar cepat selesai. Karena kini, tangis Arung terdengar semakin meraung, "Huakhakhakhakhakhakhakkkk......"


"Dan kamu boleh minta apapun ke aku," ujar Rendra sambil tersenyum penuh arti. "I'll give you everything."


"Huakhakhakhakhakhakhakkkk......," suara Arung semakin histeris.


Membuat Mba Suko yang sedang berada di belakang tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah, "Oalah, tak kiro ndak ada Mas sama Mba lah kok cah ngganteng nangise koyo ngono (Oalah, saya pikir nggak ada Mas sama Mba kenapa anak ganteng nangisnya begitu)?"


"Iya Mba... sebentar," ujarnya sambil melihat kearah Rendra. "Arung nangis Bang."


Rendra tersenyum, membiarkannya pergi ke kamar untuk menenangkan Arung.


Dan dialah Rendra, yang akan membuktikan kata-kata dengan aksi nyata. Rendra benar-benar menjadikannya Ratu tanpa ia harus melakukan apapun. Rendra bahkan menyelesaikannya semua, mulai dari memandikan Arung, memasak bekal, juga sarapan, sekaligus membuat nasi tim untuk Arung.


"Mulai besok, kita pakai katering sehat," ujar Rendra saat mereka sudah meluncur membelah kesibukan pagi jalan raya.


"Abang?" ia jelas tak setuju. "Itu namanya pemborosan."


Rendra menggeleng, "No debate."


"Abang, jangan berlebihan. Aku baik-baik aja. Kehamilan yang sekarang nggak terlalu rewel. Masih bisa beraktivitas."


Rendra kembali menggeleng, "Waktu Arung kamu juga bilang begitu, buktinya?"


Ia mengkerut, "Abang nyalahin aku?"


"Oh, no, please....," Rendra melihat kearahnya dengan tatapan tak percaya.


"Justru kalau aku terlalu dimanja, jarang gerak, malah nggak bagus buat kehamilan," gerutunya masih mengkerut.


"Ini bukan lagi memanjakan, dan kamu sama sekali nggak kurang gerak. Aktivitas kamu segini banyaknya," Rendra geleng-geleng kepala. "Mana mau nyusun tesis."


Ia akhirnya menghembuskan napas kesal, "Terserah Abang."


Membuat Rendra tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi aku mau nagih special request," lanjutnya cepat tak ingin kehilangan momen.


"With my pleasure," Rendra menundukkan bahunya seolah sedang memberi hormat.


"Yakin bisa ngabulin?" cibirnya jelas menyangsikan Rendra.


"Bilang aja, mau minta apa, pasti aku kasih," ujar Rendra masih penuh percaya diri.


"Aku mau lihat Abang ngasih kuliah umum di DTMI," lanjutnya yakin sambil tersenyum penuh arti.


Membuat Rendra melongo sekaligus mengernyit kearahnya, "Undangannya bukan di DTMI tapi di GSD."


"Nah, ini lebih bagus," sambungnya cepat dengan wajah berseri. "Aku mau lihat Abang, dengan mata kepalaku sendiri, ngasih kuliah umum di GSD."


***


Rakai


Meeting hari ini terasa sangat menyenangkan, karena meski tiga dari lima termin pembayaran terlambat dan dua ajuan adendum tak di acc, namun sama sekali tak mempengaruhi Rendra yang bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki di kantor pada pagi hari, sudah menebar senyum dan tawa ke segala penjuru.


"Hari ini gua traktir semuanya!" teriak Rendra di tengah-tengah ruangan kantor dengan semangat berapi-api.


"Waaaahhhh!!" semua orang pun bertepuk tangan girang mendengar teriakan bigbossnya.


"Makan siang Bang?" celetuk Enggar.


"Sarapan, makan siang, jajan, gua traktir semua!" jawab Rendra semakin berapi-api.


"Wah, keren keren....," orang-orang tambah kegirangan.


"All you can eat ya Bang?"


"All you can eat," jawab Rendra yakin. "Pesen semua yang kalian mau!"


"Hasyeeeeeekkkk!!!" semua orang mulai kasak kusuk ingin memesan apa atau makan apa.


"Pizza Bang?"


"Oke."


"Sebutin apa aja yang kalian mau. Kasih ke Puput. Put??" Rendra memanggil Puput.


"Iya Bang?"


"Handle ya."


"S-siap Bang," meski sambil mengernyit heran demi melihat kelakuan absurd Rendra, namun Puput tetap mengiyakan keinginan bigbossnya itu.


"Lu kenapa sih?!" tanyanya heran. Tak biasanya Rendra seheboh ini.


"Gua mau punya anak lagi!!!!" teriak Rendra sambil melompat kearahnya dengan gaya striker habis mencetak gol. Persis seperti kejadian dulu, saat Anggi pertama kali dinyatakan hamil.


"Si brengsek!" makinya kesal karena ia -lagi-lagi- tak siap dengan serbuan Rendra yang membuat tubuh mereka berdua hampir terjengkang ke belakang kalau tidak ditahan oleh Amin yang kebetulan berdiri di dekat mereka.


"Sue lu!!" gerutunya kesal sambil mendorong tubuh Rendra agar menjauh. "Sori Min....sori...," ujarnya demi menyadari Amin dalam posisi terjepit oleh tubuhnya dan Rendra.


"Bocah gila lu emang!" ia menunjuk muka Rendra sambil mendesis sebal. Sementara yang ditunjuk justru terbahak-bahak. Diiringi gelak tawa anak-anak seisi kantor melihat kelakuan mereka berdua.


"Wah, anak kedua nih Bang?" seloroh Danu. "Selamat....selamat! Saya kalah nih!"


"Anak ketiga doooong," jawab Rendra dengan hidung kembang kempis. "Kan yang pertama kembar."


"Oiya ya."


"Selamat Bang!"


Begitu mereka masuk ke dalam ruang pimpinan, ia langsung mencibir. "Gila lu nggak kasihan sama Anggi!"


"Kasihan gimana?" seloroh Rendra sambil melemparkan diri ke atas kursi lalu memeriksa laporan-laporan yang ada di atas meja.


Namun ia hanya melirik sebal. Tak bisa membalas karena memang Rendra selangkah lebih maju darinya dalam urusan berkeluarga. Dan ia lebih suka membahas hal lain, "Jangan sampai kejadian kayak kemarin."


Rendra mengangguk, "Doain dong, biar kehamilan Anggi yang ini lancar. Sehat selamat ibu sama bayinya."


"Aamiin," sahutnya sungguh-sungguh. Tak mau lagi menjadi saksi kesedihan Rendra seperti yang pernah ia alami beberapa waktu lalu.


"Gua udah batesin Anggi sih, biar nggak banyak beban."


"Ya lu support dong semampu lu."


"Pastinya. Dan gua juga butuh support."


"Apaan?"


"Sabtu lu datang sendiri ke Jakarta."


"Bukannya berdua?"


Rendra menggeleng. "Gua jadinya ambil undangan studium generale."


"Ah, brengsek! Kenapa mendadak gini?!" ia paling tak suka dengan gaya deadliners Rendra, yang sering memutuskan hal penting di waktu injury time.


"Masih ada beberapa hari. Masih bisa pelajari poin-poinnya."


Ia mendecak sebal, "Poin udah gua hapal diluar kepala."


"Tapi gua nggak punya insting kayak lu," ia tentu takkan malu untuk mengakui bahwa kecepatan dan ketepatan analisisnya jauh di bawah bocah tengik kemarin sore ini.


Sejak pertama kali mereka memutuskan untuk membangun ManjoMaju, mulai dari episode awal yang pastinya berdarah-darah dan menyakitkan, sampai bisa settle seperti sekarang ini, tak bisa dipungkiri hampir 97% buah dari pengambilan keputusan cemerlang Rendra.


Meski -dulu, sempat- gila dan brengsek seperti layaknya anak muda pada umumnya yang berlimpah materi. Namun bisa dipastikan Rendra mewarisi bakat alami Amang Rahmat dalam melihat peluang bisnis. Jelas satu hal yang tak pernah ia miliki, darah pejuang tangguh dengan intuisi setajam silet.


"Insting itu nggak jatuh dari langit, tapi dilatih."


Ia hanya mencibir tak percaya.


"Dan sepanjang perjalanan kita, gua yakin kalau lu mampu!"


Ia semakin mencibir.


"Tahu sendiri sesering apa gua salah ambil keputusan."


"Sesering apa gua rugi."


"Lu bahkan pernah lihat gua nangis kayak anak kecil yang dibegoin orang karena rugi."


"See? Semua orang perlu proses. Nggak ada yang instan."


"Ngomong apa sih? Bikin gua takut aja," ia semakin mendecih sebal mendengar rentetan kalimat Rendra.


"Pra kontrak ini akan jadi yang pertama tanpa gua. Dan elu, kita, ManjoMaju semua pasti akan baik-baik aja."


"Setelah itu gua pelan-pelan bakal mundur."


"Ren?!" ia semakin tak suka dengan nada bicara Rendra.


"Gua kayaknya mau serius pindah jalur yang lebih aman. Ingat kata-kata gua waktu habis digebukin Papa di apartemen dulu?"


"No," ia selalu tak setuju dengan keinginan Rendra yang satu ini. Meski sudah berulangkali diutarakan padanya. Bahkan pernah terucap setelah menikah langsung off. Namun pada kenyataannya jiwa Rendra memang berada di ranah bisnis dan ManjoMaju.


"Studium generale besok jadi titik awal gua."


"Lu udah sering ngisi studium generale. Nggak perlu sampai off."


"Karena setelah SG ini ada kesempatan jadi dosen tamu di kelas."


"Serius lu??"


"Gua juga lagi jalan tesis. Perkiraan Februari bisa wisuda. Kalau lancar," Rendra terkekeh. "Habis itu mau nyoba apply kalau ada bukaan dosen."


"Gila lu! Mana ada klan Darmastawa jadi dosen?!"


"Iseng-iseng berhadiah. Lulusan S2 dalam negeri yang nggak berpengalaman sama sekali diantara lautan lulusan universitas top dunia," Rendra geleng-geleng kepala sambil tersenyum. "Menantang nggak sih?"


"Yakin lu bisa menghidupi keluarga dengan cara itu? Biasa mandi duit tiba-tiba seret, ntar kaget."


"Harus yakin," jawab Rendra mantap. Sementara ia hanya menghela napas menghadapi kekeras kepalaan Rendra.


"Jadi oke ya buat hari Sabtu?" ujar Rendra lagi sambil mengacungkan jempol.


***


Malam ini tepat seminggu setelah ia diketahui hamil (lagi), mereka kembali menyambangi ruang praktek dr. Mazaya. Setelah proses melepas IUD yang cukup cepat dan hanya sebentar, akhirnya mereka bisa bertemu dengan baby number three melalui layar USG.


"Halo sayang, ada Mami Papi nih nengokin Dede," ujar dr. Mazaya sambil memutar-mutar alat USG di atas perutnya.


"Kita lihat....ada satu kantung rahim dan satu bayi."


Rendra mengecup keningnya lembut.


"Sehat. IUD yang baru dilepas nggak ada efeknya ke janin. Bagus."


"Ketuban juga banyak. Detak jantung bagus. Sekarang kita lihat....," dr. Mazaya mulai menghitung ukuran janin. "Sudah 1,5 cm. 7 minggu 3 hari."


"Apa mengalami morning sickness yang hebat seperti saat kehamilan pertama?" tanya dr. Mazaya usai USG.


Ia menggeleng. "Nggak sehebat yang pertama Dok. Tapi sekarang saya benar-benar nggak bisa mencium bau bawang-bawangan dan aroma tertentu yang menyengat. Pasti langsung muntah."


"Berarti anti mualnya nggak usah saya resep kan ya. Cukup vitamin dan asam folat."


"Tapi kalau nanti muntah hebat lagi seperti yang pertama, bisa langsung beli di apotik nggak Dok anti mualnya? Khawatir tiba-tiba muntah," Rendra ingin tahu.


"Baik, kalau begitu saya tuliskan resep saja ya. Biar dosisnya tepat. Nanti boleh diambil, boleh tidak. Sesuai kebutuhan saja."


"Setuju Dok," Rendra tersenyum senang.


"Kalau ASI gimana? Masih lancar?" tanya dr. Mazaya lagi.


"Alhamdulillah masih Dok."


"Ada rasa sakit di pu ting saat menyusui atau kram perut?"


"Enggak Dok."


"Baik. Jadi begini, biasanya di usia kehamilan 4 bulan keatas, ASI akan mulai berkurang. Menyebabkan anak jadi rewel. Kadang ada yang harus disapih lebih awal."


"Untuk antisipasi, saya rekomendasikan ke dokter ahli gizi ya, untuk memastikan asupan nutrisi cukup untuk janin, ibu, juga untuk kakak janin."


"Baik Dok," jawab Rendra mantap. "Arung perlu konsultasi ke dokter Barata nggak Dok?"


"Bisa, sekalian, agar lebih terpantau. Masih konsultasi ke klinik tumbuh kembang?"


"Masih," lagi-lagi Rendra yang menjawab.


"Kalau tak ada keluhan dari Arung, klinik tumbuh kembang juga cukup."


Rendra mengangguk mengerti. "Kalau resiko melahirkan prematur apakah bisa di minimalisir Dok?" Hmm, sepertinya Rendra ingin tahu semua.


"Maksudnya, apakah ketika kelahiran pertama prematur, bisa dihindari di kelahiran kedua?" ulang Rendra lagi.


"Untuk Mba Anggi yang masih muda, kehamilan tunggal seperti ini, tak setinggi resiko hamil kembar kemarin. Dan kelahiran prematur itu kasual, jadi bisa diminimalisir dengan rutin cek ke dokter, tanggap jika ada tanda-tanda kontraksi."


Rendra mengangguk. "Berarti kalau terasa kram perut yang datang silih berganti, langsung ke rumah sakit ya Dok?"


"Betul. Agar segera mendapat pertolongan. Minimal bisa mencegah kelahiran kurang bulan."


"Baik, terma kasih banyak penjelasannya Dok," Rendra tersenyum lega.


Begitu keluar dari ruang praktek dr. Mazaya, Rendra berbisik di telinganya, "Kita makan di luar yuk."


Ia mengernyit, "Tapi Arung di rumah Bang."


"Sebentar. Makan doang," Rendra berusaha meyakinkan. "Kamu mau makan dimana?"


Ia mendadak ingin makan gudeg.


"Oke," Rendra mengangguk. "Mau yang dimana?"


"Terserah, yang penting gudeg."


Rendra mengarahkan kemudi ke Ring Road Utara, sementara ia menelepon rumah untuk memastikan apakah Arung sudah makan biskuit dan minum ASIP atau belum.


"Wah, Arung belum bobo Mba?" tanyanya takjub demi mendengar suara Arung saat Mba Suko sedang menjawab teleponnya.


"Tatatatatatata....," terdengar suara celotehan Arung dari seberang telepon, sepertinya Mba Suko sengaja mengarahkan ponsel ke dekat Arung.


"Belum bobo?" Rendra ikut mengernyit saat mendengar jeritan suara Arung dari ponselnya.


"Nungguin martabak," jawabnya asal sambil tertawa.


"Oke, pulangnya kita beli martabak," ujar Rendra mantap.


"Ih, cuma becanda juga," cibirnya.


"Justru yang becanda kayak gini pasti serius, keinginan terpendam," seloroh Rendra. Membuatnya kembali mencibir.


Tak lama kemudian Rendra telah menepikan mobil di bahu jalan, saking ramainya pembeli gudeg malam ini, membuat mereka tak kebagian parkir.


Setelah mengantri dan memesan, mereka kini mulai menikmati hidangan gudeg yang terkenal lezat. Sedang asyik-asyiknya makan tiba-tiba ada seseorang yang mendatangi mereka berdua sambil tersenyum sumringah, "Bang Rendra? Aduh, ketemu lagi."


Ia mengernyit mendengar suara yang sepertinya pernah didengar, dan langsung kehilangan napsu makan begitu melihat Keisha telah berdiri di depan mereka sambil tertawa lebar.


"Eh, Sha?" sapa Rendra. "Disini juga? Sama siapa?"


"Tuh," tunjuknya kearah sekitar lima sampai enam orang gadis cantik yang duduk di paling sudut. "Sama temen-temen. Baru pulang kerja."


"Oh," Rendra mengangguk.


"Abang berdua aja nih?" seloroh Keisha basa-basi.


"Iyalah, sama istri, sama siapa lagi," jawab Rendra sambil tertawa.


"Oh, ya udah Bang, aku ke temen-temen dulu ya," pamit Keisha tanpa sekalipun melihat kearahnya. Oke.


Rendra mengangguk. Begitu Keisha pergi, Rendra melihat kearah piringnya yang baru setengah makan.


"Kenapa? Udahan?" tanya Rendra heran.


Ia mengangguk.


Tanpa banyak bertanya Rendra buru-buru menghabiskan isi piringnya, untuk kemudian membayar pesanan. Begitu sampai di mobil Rendra kembali bertanya, "Kita mampir beli marta....."


"Nggak usah!" jawabnya ketus. "Langsung pulang."


"Kelewatan ini tempatnya, nggak harus nyempal," Rendra mengernyit.


"Aku bilang pulang ya pulang," jawabnya cepat.


Rendra hanya geleng-geleng kepala sambil melajukan kemudi.


"Beneran nggak usah mampir? Udah mau deket ini?" tanya Rendra lagi.


"Nggak usah. Daripada nanti di tempat martabak ketemu orang yang manggil genit, 'Eh...Bang Rendra'," desisnya sebal.


"Untung tadi nggak minta nebeng lagi. Bisa-bisa ntar ribet sendiri. Yang kepanasan lah, AC kedinginan lah. Ih," ia semakin meracau sebal.


Rendra hanya tertawa kecil sambil mengusap kepalanya lembut, tak berminat untuk menanggapi.


Namun sikap diam Rendra justru membuatnya berpikir, sepertinya enak juga ngemil martabak favorit malam-malam. Bisa untuk oleh-oleh Mba Suko juga karena malam ini mereka pulang larut.


"Kalau gitu mampir deh Bang," ujarnya begitu mereka melewati tempat berjualan martabak favorit.


"Mampir kemana?" tanya Rendra bingung.


"Beli martabak lah!" gerutunya kesal.


Sambil mendesis sebal Rendra meraih dagunya gemas, "Kenapa nggak bilang dari tadi? Jadinya kelewat kan. Mesti putar balik."


Ia hanya mencibir tak mempedulikan Rendra yang harus putar balik karena ini adalah jalan satu arah.


***


Akhirnya, hari Sabtu yang ditunggu-tunggu datang juga. Waktunya studium generale. Dengan menitipkan Arung ke Mba Suko di rumah, tepat jam delapan pagi mereka telah meluncur ke GSD.


"Kita kepagian nggak sih?" Rendra mengernyit heran melihat keantusiasannya.


"Lebih baik kepagian daripada telat," jawabnya lempeng.


Dan benar saja, suasana lantai utama GSD belum terlalu ramai, masih banyak terdapat kursi yang kosong. Terutama kursi barisan depan dan undangan.


"Bang Rendra?" sapa seorang ber id panitia yang berlari-lari kecil menghampiri mereka.


"Eh, Han?" Rendra menoleh kearah panitia bernama Farhan itu.


"Iya, Bang," Farhan tersenyum mengangguk kearah Rendra.


"Mba," sapa Farhan sambil tersenyum dan mengangguk kearahnya. Ia pun balas tersenyum.


"Bentar, Han, gua antar istri ke kursi dulu," ujar Rendra sambil membimbing bahunya menuju tempat duduk yang telah disediakan.


"Siap, Bang."


Setelah ia duduk, Rendra berbisik, "Aku tinggal sebentar ya, mau ketemu sama anak-anak," tunjuk Rendra kearah deretan panitia di bagian belakang yang sepertinya memang tengah menunggu dihampiri oleh Rendra.


Ia hanya mengangguk.


"Ini disimpan dimana?" Rendra mengangkat tangan kanannya yang memegang tas bekal berisi tumbler dan biskuit favoritnya.


"Oh iya, lupa," ia tertawa malu, baru menyadari sejak dari tempat parkir Rendra menenteng-nenteng tas bekalnya.


"Sini," ia mengambil tas bekal dari tangan Rendra, kemudian menyimpan di atas pangkuan. Kehamilan kali ini membuatnya selalu merasa lapar, jadi kemanapun ia pergi, harus menyediakan biskuit atau cracker untuk ngemil.


Setelah menunggu beberapa saat, kursi-kursi mulai dipenuhi oleh sekitar 2.000 an lebih mahasiswa yang berasal dari FT, FMIPA, FTP, dan Farmasi yang menjadi peserta Mata Kuliah Wajib Umum kali ini. Ia pun sempat saling menyapa dengan beberapa tamu undangan dan dosen FT yang mengenalnya.


Hingga akhirnya, tepat pukul 10.00, ia bisa melihat Rendra berdiri di atas podium memberikan salah satu silabus kuliah dengan tema Understanding personal strenght and weakness.


Ia tersenyum dan mengelus perut selama Rendra berbicara di depan. Pastinya dengan gaya yang Rendra banget. Sama persis seperti saat pertama kali mereka bertemu di first gath Cluster Teknik tiga tahun lalu. First impression yang menyenangkan penuh percaya diri, susunan kalimat yang enak didengar, mudah dimengerti, namun berkesan menghujam jiwa. Luar biasa.


Entah mengapa hatinya menjadi terasa begitu hangat dan bahagia, saat melihat Rendra berbicara di depan sana.


'Mission accomplished ya sayang', bisiknya dalam hati sambil mengelus perut. 'Tumbuh sehat dan kuat sampai due date nanti.'


***


Keterangan :


DTMI. : departemen teknik mesin dan industri


Studium generale : kuliah umum, merupakan penyampaian suatu materi yang dapat dihadiri oleh mahasiswa berbagai jurusan dan program studi. Orang-orang yang menyampaikan kuliah umum antara lain pesohor, pengusaha, ahli, ilmuwan, guru besar, penemu, pejabat pemerintah, pejabat negara, presiden, baik dari dalam negeri maupun luar negeri (sumber : Wikipedia)