
"ARUNG?!?"
Ia berteriak panik karena Arung tak ada di semua sudut yang ia datangi.
"MBA SUKO?!"
Brengsek ia benar-benar telah menjadi manusia paling tak berguna sampai harus memanggil-manggil wanita paruh baya untuk membantunya.
"ARUNG?!?"
Dengan gusar ia kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman belakang. Namun yang terlihat hanyalah deretan tanaman bambu Jepang yang daunnya gemerisik karena tertiup angin. Juga lambaian bunga bugenvil dan bunga sepatu yang tengah bermekaran ikut terkena hembusan angin sepoi.
Tak ada tanda-tanda, tak ada jejak, dan hanya ada satu pintu keluar.
Ia pun mengarahkan kursi roda ke halaman samping rumah, yang tembus ke dalam garasi.
"ARUNG?!"
Ia kembali berteriak memanggil. Dan bernapas lega demi melihat pintu garasi tertutup rapat. Syukurlah, pikiran buruknya tak menjadi kenyataan. Angginya yang teratur dan well organized tak pernah lupa untuk menutup pintu garasi. Terima kasih sayang.
Jujur saja, tadi ia sempat ketakutan demi membayangkan Arung merangkak menuju garasi yang pintunya terbuka, lalu pergi keluar ke halaman depan yang tanpa pagar. Worst thing ever. Meski rumahnya terletak di cluster eksklusif, namun kendaraan milik penghuni maupun Ojol sering lalu lalang. Ia takkan sanggup untuk menebak kemungkinan apa yang akan terjadi jika Arung bisa sampai lolos ke halaman depan. Worst nightmare.
"Bah! Bah! Bah!"
Telinganya menangkap suara Arung.
"Bababababababab...."
Suara Arung terdengar semakin jelas. Tapi dimana?
Ia melajukan kursi roda elektriknya mengelilingi garasi. Namun hasilnya tetap nihil. Arung tak terlihat dimanapun.
"Bababababababab....."
"Arung?" ia menajamkan telinga.
Pak! Pak! Pak!
Disusul suara seperti tangan kecil yang memukul-mukul sebuah benda.
DUG!
Kini berganti menjadi suara bagian tubuh yang terantuk sebuah benda yang sepertinya cukup keras.
Suasana mendadak hening, beberapa detik kemudian barulah terdengar suara yang paling ia tunggu.
"Huakhakhakhakhakhakhakhak!!!"
Tangis Arung pecah. Tak salah lagi, tepat seperti dugaannya, Arung kini tengah berada di bawah kolong mobil. Sepertinya sedang berusaha mengambil bola yang menggelinding hingga ke dalam kolong.
Ia harus menelan ludah sebelum membungkukkan punggung untuk melongok Arung yang terus menangis.
"Huakhakhakhakhakhakhakhak!!!"
Brengsek! Ia memaki dalam hati ketika pekerjaan yang biasanya sangat mudah untuk dilakukan sekarang terasa begitu sulit sekaligus menyakitkan. Punggung sialannya bahkan langsung terserang rasa nyeri yang luar biasa padahal ia baru membungkuk sedikit.
"Huakhakhakhakhakhakhakhak!!!"
Suara tangis Arung semakin menjadi. Mungkin mulai merasa takut karena berada di kolong yang sempit dan gelap. Sama seperti dirinya puluhan tahun lalu. Ketika masih berusia 6 tahun, baru pulang dari bermain bola di lapangan dekat rumah, ketika sampai di ruang tamu, harus melihat adegan yang menjadi cikal bakal betapa ia -pernah- sangat membenci Papa.
Rasa takut membawanya bersembunyi di bawah kolong meja makan. Detik demi detik berlalu demikian lambat. Sampai telinganya memerah mendengarkan pertengkaran antara Mama dan Papa. Membuat tubuhnya menggigil ketakutan berharap seseorang mengulurkan tangan untuk kemudian berkata, "Ayo, sini, nggak papa, semua baik-baik saja."
Namun yang ia harapkan tak pernah terjadi. Papa pergi sambil membanting pintu hingga patah jadi dua. Lalu Mama dengan mata sembab karena habis menangis jongkok di bawah meja mencoba tersenyum, "Rendra? Sini sayang."
Ya, itulah yang akan dilakukannya sekarang.
"Huakhakhakhakhakhakhakhak....," Arung masih terus menjerit.
Ia mulai mengarahkan kursi roda menuju sisi mobil yang menurutnya paling dekat dengan posisi dimana tubuh Arung berada. Kemudian mengontrol tuas pengatur menjadi netral. Setelah memastikan kursi roda dalam posisi diam tak bergerak, ia menggunakan tangan kanan untuk bertumpu pada body mobil, sementara tangan kiri memegang ban mobil, lalu kepalanya mulai melongok ke dalam kolong, mencari-cari keberadaan Arung, "Arung sayang?"
"Huakhakhakhakhakhakhakhak...."
"Arung?" panggilnya lagi. Namun, arrrghhh, posisi setengah membungkuk seperti ini membuat tulang punggungnya tertarik dengan tiba-tiba. Menimbulkan rasa nyeri bercampur ngilu yang luar biasa. Punggungnya bahkan mendadak disengat rasa panas yang menjalar hingga lengan.
"Arung sayang....ini Papi nak," ia masih berusaha menahan berat tubuhnya dengan susah payah.
"Ayo anak pintar bisa merangkak kesini sayang?" ia mencoba menarik perhatian Arung melalui tangan kanan yang memukul-mukul body mobil. "Kesini sayang....."
Akhirnya Arung menghentikan tangisannya dan kini kepalanya mulai menoleh ke kanan dan ke kiri, berusaha mencari arah suara.
"Anak pintar!" ia tersenyum senang. Sambil menahan rasa nyeri yang semakin menggigit, ia kembali berkata, "Papi di sebelah sini sayang.....," lalu kembali memukul-mukul body mobil.
Perlahan kepala Arung mulai bergerak menengok kearahnya.
"Ya!" ia hampir berteriak kegirangan. "Disini sayang.....ayo....merangkak sedikit kesini....."
"Dadadadadadada.....," Arung seolah bertanya padanya apakah ia bisa?
"Bisa! Arung pasti bisa! Sini sayang.....," ia mulai mengulurkan tangan kiri ke bawah kolong, memberi tanda pada Arung.
"Nananananananan....," dengan bertumpu pada dada dan lutut, serta mempergunakan siku untuk melaju, perlahan Arung mulai bergerak menghampirinya.
"Ya! Begitu! Ini baru anak Pap.....," mendadak telapak tangan kanannya yang bertumpu pada body mobil terasa licin karena berkeringat. Dan tanpa disadari tiba-tiba tangannya sudah meluncur turun ke bawah, tak sempat menggapai apapun sebagai pegangan, hingga akhirnya berakhir dengan mencium lantai.
BAM!
Tanpa ampun seluruh badannya ikut menghantam lantai hingga menimbulkan suara berdebum yang cukup keras. Membuat kursi roda terdorong ke belakang menjauhi dirinya. Menyisakan rasa sakit dan nyeri di sekujur tubuh. Termasuk kakinya yang tiba-tiba terasa kram seperti habis terkilir.
Kakinya?!?
Refleks ia memijat paha dengan tangan kanan. Terasa sakit juga nyeri.
"Tatatatatatatatata....."
Ketika ia masih memikirkan hal mengejutkan sekaligus menggembirakan tentang kram di kaki, sebuah tangan montok yang basah telah menarik-narik rambutnya.
"Tatatatatatatatata....."
Ia yang masih dalam posisi telungkup mulai mengangkat kepala, terlihat di depannya Arung sedang tertawa lebar memperlihatkan 5 gigi serinya yang mungil.
Ia mendadak tersenyum dengan mata yang mulai memanas, "Good boy," bisiknya dengan suara tercekat.
"Dadadadadadada....," kini Arung mulai memegang-megang pipi, hidung, dan mulutnya dengan tangan montoknya.
Ulah Arung berhasil membuat senyumnya semakin lebar, namun campur menangis, "Iya sayang....we can do it....we can do it....."
Tanpa diduga Arung mendekatkan wajahnya, lalu cup, mencium matanya dengan bibir yang basah karena sisa ingus campur liur habis menangis tadi. Membuatnya semakin terisak. Bagaimana mungkin anak sekecil ini memiliki kepekaan yang luar biasa.
Cup! Cup! Cup!
Kini Arung bahkan menciuminya berkali-kali di mata, pipi, dan hidung. Membuat wajahnya berubah menjadi penampungan liur campur ingus, lengket. Namun ia justru kembali tertawa sambil terus menangis.
Anggi benar-benar mendidik Arung dengan penuh kasih sayang, hingga anak sekecil ini bisa merefleksikan perasan dengan sangat baik, batinnya senang. Membuat hatinya semakin dipenuhi oleh luapan rasa kebahagiaan yang tak terkira.
Arung mulai merangkak keluar dari dalam kolong, melewati dirinya yang masih berurai air mata.
"Papipapipapi....," Arung duduk tepat di samping kepalanya. Memukul-mukul ban mobil dengan tangan mungilnya. Kemudian mulai mengangkat pantat, sedetik kemudian Arung telah berhasil berdiri sambil berpegangan pada ban mobil.
"Papipapipapi.....," Arung tertawa kearahnya sambil terus berceloteh.
"Papipapipapi....Hakhakhak....," Arung tergelak-gelak sendiri sambil tangannya memukul-mukul body mobil.
Ia mulai menyusut airmata menggunakan punggung tangan, "Jadi maksudmu sekarang giliran Papi, begitu?" tanyanya sambil tertawa.
"Papipapipapi....Hakhakhak....," Arung kembali tergelak-gelak.
"Kamu nantangin Papi hah?" gerutunya antara senang campur sebal. Anak sekecil ini sudah bisa nantangin bapaknya sendiri. Bener-bener.
"Hakhakhakhak.....," Arung makin terbahak sambil menekuk-nekuk lututnya hingga terlihat seperti orang sedang berjoget.
Perlahan ia mulai bangkit. Menggunakan kedua siku untuk menopang berat tubuh. Kemudian dengan penuh kehati-hatian berusaha mengangkat tubuhnya sendiri yang terasa sangat berat.
Rasa sakit. Nyeri. Ngilu. Bahkan panas mulai membakar keseluruhan tubuhnya terutama pada bagian lengan, punggung, dan kaki.
Aarrggghhh!
Setelah bersusah payah mengangkat beban tubuh sampai keringat bercucuran, ia akhirnya berhasil duduk di lantai garasi sambil menyelonjorkan kedua kaki. Napasnya tersengal sementara jantungnya berdebar kencang.
"Bababababababab....," Arung mendadak melepaskan pegangan tangan pada ban mobil kemudian melangkahkan kaki dengan kaku kearahnya.
Satu langkah, dua langkah, ti...., tiba-tiba Arung menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.
"Nananananananan....," celoteh Arung dengan tangan memukul-mukul punggungnya.
"No no no," ia terkekeh pelan. "Papi belum bisa gendong kamu sambil berdiri sayang."
"Tatatatatatatatata....," Arung masih memeluknya sambil memukul-mukul punggungnya.
"Kita harus pakai kursi roda. Papi belum sanggup buat berdiri sendiri," bisiknya getir sambil menggapai-nggapai kursi roda.
Dengan gerakan perlahan dan sehati-hati mungkin, sambil menggendong Arung, ia mulai berusaha mendudukkan diri di atas kursi roda.
Akhirnya setelah proses panjang yang melelahkan, ia berhasil duduk di atas kursi roda sambil memangku Arung.
"Well the fucking hell done!" pekiknya senang bukan kepalang.
Namun ia mendadak teringat sesuatu, "Well done Arung! Well done."
"Anggap barusan kamu nggak dengar apapun," bisiknya kearah Arung yang sedang menatapnya takjub.
"Jangan bilang ke Mami kalau barusan Papi memaki, oke?" lanjutnya sambil mendekatkan kening mereka berdua.
"Hakhakhakhak....," Arung justru terbahak.
"Okey, deal, we're friend," selorohnya sambil mencium pipi montok Arung yang sedikit basah karena bekas ingus dan liur.
"Owalah....."
Ia yang baru saja hendak melajukan kursi roda terkejut demi mendengar suara penuh kelegaan Mba Suko.
"Disini to rupanya Papi sama Abang ganteng?"
Ia tersenyum.
"Sini...sini....ikut sama Mba Suko....Papi mau...."
"Nggak papa Mba," potongnya cepat. "Arung biar sama saya aja."
"Lho, tapi Mas Rendra bukannya mau istirahat?"
Ia menggeleng, "Enggak. Arung biar main sama saya dulu. Mba Suko bisa ngerjain yang lain."
"Oh, yo wis kalau begitu," Mba Suko mengangguk. "Saya tak masak pure buat Abang ngganteng dulu ya Mas Rendra."
Ia mengangguk.
Begitu Mba Suko beranjak pergi dari garasi, ia pun menyusul dengan melajukan kursi roda keluar dari garasi. Melewati halaman samping, halaman belakang, kemudian masuk melalui ruang tengah.
Arung yang badannya terasa makin berat dibanding terakhir kali ia menggendongnya kini tengah asyik memukul-mukulkan buku Simon Sinek ke lengan kursi.
"Tatatatatatatatata.....," Arung mulai berusaha membuka buku dengan gerakan tangan tak beraturan.
"Seperinya kamu udah perlu buku baru ya sayang?" ujarnya tertawa sambil mengarahkan kursi roda ke kamar tamu.
"Dadadadadadada....," Arung berhasil membuka halaman demi halaman buku secara acak.
Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas, lalu mendial angka 2, Rakai.
Nut! Nut! Nut! Nut!
Tiga kali mencoba, namun tetap tak diangkat. Yang terdengar hanyalah nada sambung yang menyebalkan.
"Brengsek!" makinya kesal. Kemana tuh orang. Menurut sepengetahuannya, hari ini tak ada jadwal meeting penting dan sejenisnya.
Ia pun menelepon ManjoMaju. Dan menurut informasi dari Mba Sari, sepagi ini Rakai belum datang ke kantor, mungkin masih di jalan sedang menuju kantor, atau mungkin juga langsung ke lokasi proyek.
"Oke," ia bicara pada diri sendiri. "We can do it Arung?" tanyanya pada Arung yang kini tengah menggigit-gigit buku.
Rasa nyeri yang tadi sempat menyerang kakinya saat terjatuh, ibarat secercah cahaya harapan yang bahkan sudah ia lupakan dan sengaja buang jauh-jauh. Membuatnya penasaran ingin mencari tahu arti dari rasa nyeri yang hingga kini masih terasa meski timbul tenggelam. Karena selama hampir tiga bulan sejak operasi terakhir, ia tak bisa merasakan apapun mulai dari daerah sekitar paha hingga ke bawah mata kaki. Mati rasa. Jadi, jika kini kakinya mulai merasakan sakit seperti yang seharusnya, bukankah ini pertanda baik?
Ia mulai membuka buku konsultasinya, mencari waktu praktek dr. Hadrian dan dr. Umar, dua dokter yang kini tengah menanganinya.
Matanya membulat demi melihat deretan jadwal praktek para dokter spesialis. Disana tertulis jika dr. Hadrian praktek hari ini dan lusa di jam 07.00-09.00.
Sekarang jam...07.52.
Masih ada waktu, batinnya cepat. Ia pun menitipkan Arung ke Mba Suko.
"Mas Rendra perginya ndak nunggu Mas Rakai atau Amin dulu to?" wajah Mba Suko jelas-jelas diliputi kekhawatiran ketika ia bilang akan pergi menggunakan Taxi online.
"Nggak, keburu habis jam prakteknya."
"Atau saya nelpon Mba Anggi dulu ngasih ta..."
"Nggak nggak nggak," potongnya cepat. "Saya cuma sebentar."
"Tapi Mas Ren...."
Ia tak sempat menanggapi kalimat Mba Suko karena Taxi online pesanannya telah merapat di halaman rumah.
"Mas Rendra?"
"Ya," ia mengangguk.
Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian ia pun berusaha memasuki mobil. Namun beberapa kali harus menghentikan gerakan barang sejenak karena serangan rasa nyeri, tapi ia tentu tak boleh berlama-lama karena waktu terus berjalan, akhirnya ia pun memaksakan diri.
"Biar saya bantu Mas," driver Taxi menawarkan bantuan demi melihatnya kerepotan.
"Nggak usah!" tepisnya kaku. "Tolong kursi roda saya saja masukkan ke bagasi."
Driver Taxi online mengangguk tanda mengerti. Setelah semua beres, mobil langsung meluncur menuju rumah sakit.
"Ngebut ya, saya lagi ngejar dokter," pintanya penuh harap.
Namun untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Begitu sampai di lobby rumah sakit jam 08.40, loket pendaftaran telah tutup.
"Saya pasien dokter Hadrian," ujarnya kepada petugas di loket pendaftaran.
"Maaf Mas, sudah tutup."
"Saya cuma mau ketemu sebentar."
Petugas menggeleng, "Maaf nggak bisa. Karena jam 9.30 dokter Hadrian ada jadwal operasi."
Ia menghembuskan napas berat. "Oke, makasih."
"Sama-sama Mas," petugas di loket pendaftaran itu tersenyum manis -yang sedikit berlebihan- kearahnya. Membuat matanya spontan menyipit. Karena merasa, sudah sangat lama tak ada wanita yang berani terang-terangan flirting padanya sejak....ia menjadi manusia tak berdaya di atas kursi roda. Semua mata selalu memandangnya dengan tatapan penuh belas kasihan. Hal yang paling dibencinya.
Dan loket pendaftaran rumah sakit yang terbuat dari kaca berhasil memantulkan bayangan dirinya secara utuh. Seorang laki-laki kurus dengan rambut panjang acak-acakan tengah duduk di atas kursi roda.
Tidak.
Ia tak boleh begini terus. Ini jelas bukan dirinya. Ia harus menghentikan ini semua. Ia harus bergerak.
"Mba, ruang periksa dokter Hadrian di lantai berapa?" tanyanya lagi ke petugas di loket pendaftaran.
"Dua," jawab petugas itu cepat, namun segera diralat. "Tapi Mas nggak boleh kesana. Jam prakteknya sudah habis."
"Oke," jawabnya sambil mengarahkan kursi roda ke lift yang kebetulan sekali sedang terbuka.
"Mas....Mas....," panggil petugas itu lagi.
Namun ia hanya melambaikan tangan lalu buru-buru masuk ke dalam lift.
Kini ia sedang membuktikan sendiri definisi dari usaha takkan mengkhianati hasil. Ketika tanpa ekspektasi apapun berhasil melobby perawat yang bertugas di ruang praktek dr. Hadrian.
"Lima menit aja Sus," bujuknya. "Masih ingat saya kan?"
Perawat itu mengangguk, "Mas Rendra kan? Yang dulu dirawat di paviliun Sadewa?"
"Yap," ia mengacungkan jempol gembira.
"Sebentar saya konfirmasikan ke dokter Hadrian dulu."
Saat ia masih menunggu dengan harap-harap cemas, justru dokter Hadrian sendiri yang keluar untuk menyambutnya.
"Rendra? Saya tunggu-tunggu baru datang sekarang."
Mereka lalu bersalaman.
"Ditunggu Dok?" tanyanya bingung.
"Iya. Target kita bukannya enam minggu pemulihan? Ini sudah minggu ke berapa coba?"
"Minggu banyak pastinya Dok," jawabnya sambil tertawa getir.
"Ayo, saya masih punya waktu sepuluh menit."
Ia pun melajukan kursi roda mengikuti dr. Hadrian masuk ke dalam ruang periksa.
"Ada keluhan?" tanya dr. Hadrian begitu mereka telah berada di dalam ruang periksa.
Ia pun menjelaskan kronologi ketika jatuh dan rasa nyeri di kaki yang mengikutinya.
"Ini yang saya tunggu," dr. Hadrian tersenyum senang. "Sudah saatnya."
Dari pemeriksaan fisik bisa disimpulkan ia telah 80% pulih.
"Rajin ketemu dokter Umar?"
Ia tentu tak pernah absen mengikuti jadwal fisioterapi.
"Bagus. Kaki yang mati rasa sesudah operasi itu kondisi normal. Biasanya empat sampai enam minggu, berangsur-angsur mulai muncul kembali rasa nyeri, ngilu, panas."
"Tentu dengan catatan rutin mengkonsumsi obat-obatan yang diresepkan dan makanan yang dianjurkan. Juga fisioterapi."
"Untuk kasus kamu ini justru termasuk terlambat. Idealnya dari dua minggu lalu sudah bisa lepas dari kursi roda."
"Bisa jalan Dok?!?" suaranya terdengar bergetar saking gembiranya.
"Semua harus bertahap. Lepas dari kursi roda, kita pakai kruk underarm dulu untuk mencegah otot mengecil dan kaku sendi."
"Sekitar satu sampai dua minggu. Nanti baru beralih ke forearm. Setelah itu baru bisa lepas 100%."
Kalimat yang diucapkan oleh dr. Hadrian bagai oase di padang gurun keputusasaan yang kini tengah dilewatinya dengan tertatih-tatih.
"Kamu kalau sampai minggu depan nggak nemuin saya, wah, udah telat banget. Nanti malah nambah lagi pengobatannya. Untung aja sekarang kesini. Kenapa nggak dari kemarin-kemarin? Hopeless?"
Ia meringis malu. "Kemarin-kemarin masih mati rasa Dok. Jadi saya pikir...."
"Ya, memang beda-beda tiap case. Tapi saya senang kamu kesini sekarang."
Dr. Hadrian merekomendasikannya untuk segera melakukan serangkaian foto Rontgen, CT Scan dan MRI ulang untuk lebih memastikan keadaan tulang belakangnya.
"Nanti kasih note ini ke petugas labnya," ujar dr. Hadrian sambil menyerahkan selembar kertas. "Biar hasilnya langsung di forward ke saya. Nanti langkah selanjutnya bisa by phone."
"Terima kasih banyak, Dok."
"Hari ini juga sudah bisa latihan pakai underarm ya. Pilih yang paling nyaman saat dipakai."
"Tapi jangan dipaksakan. Kalau ada keluhan yang berbeda, misal nyeri yang luar biasa atau lainnya, harus berhenti dulu."
"Kita step by step aja."
"Slow but sure," seloroh dr. Hadrian. Membuat mereka akhirnya tertawa berdua.
"Terus ikuti program fisioterapinya. Itu akan banyak membantu proses penyembuhan."
"Terima kasih banyak, Dok. Ini....sangat....luar biasa."
***
Rakai
Ia baru selesai mengontrol para pekerja di lapangan, yang membuat kepalanya tiba-tiba pening saking banyaknya masalah. Tahap pekerjaan yang jauh dari target dan tak bisa memenuhi estimasi awal, subkon yang mangkir, termin pembayaran terlambat, gesekan di lapangan, supplier bahan baku yang nakal.
Hah! Hampir dua bulan tak berkomunikasi langsung dengan Rendra benar-benar membuatnya merasakan neraka dunia. Tadi pagi ia bahkan baru menyadari jika rambutnya telah dihiasi beberapa helai uban. Sialan!
Brengsek emang tuh bocah. Dibalik gaya menyebalkan yang ditampilkan, Rendra benar-benar memiliki tangan dingin dalam mengelola bisnis. Tangan midas malah, karena tiap hal yang disentuhnya selalu menghasilkan sejumlah uang.
Dan setelah sekian lama mereka mengelola ManjoMaju bersama, semakin kesini ia semakin merasa belum bisa selevel dengan Rendra.
Dari gaya kepemimpinan, cara berkomunikasi efektif, kemampuan lobby, cara menyelesaikan masalah. Rendra benar-benar dilahirkan hanya untuk menjadi pebisnis ulung. Tak diragukan lagi.
Begitu mau banting stir jadi dosen? Cibirnya dalam hati. Namun cibirannya berubah menjadi kernyitan, ketika ia hendak melajukan kemudi, sejenak mengambil ponsel yang tadi sengaja ditinggal di mobil, mendapati 3 missed calls dari Rendra.
"Ah elah, napa lagi tuh bocah," gerutunya sebal, dan memilih untuk mengabaikannya. Definisi dari benci tapi rindu, butuh nggak butuh.
Dari lokasi proyek ia meluncur ke kantor, karena jam 2 siang ada janji temu dengan calon subkon baru. Dan terkejut begitu mendapati anak-anak di kantor sedang berpesta pizza.
"Wah, siapa ulang tahun?" tanyanya heran demi melihat puluhan kardus pizza ukuran jumbo menumpuk di ruang meeting. Royal banget.
"Nggak ada Bang," jawab anak-anak sumringah. Iyalah, baru dapat suntikan makanan.
"Terus pizza dari siapa?" ia mengambil satu slice super supreme cheezy bites dan langsung melahapnya. Lumayan lapar juga ternyata.
"Si bos."
Si bos?
Dengan langkah panjang ia menaiki tiga anak tangga sekaligus dan menghambur ke ruang pimpinan.
Yeah, tepat seperti dugaannya. Rendra sedang duduk di kursinya sambil membaca laporan.
"Ren?" tanyanya dengan kening berkerut. "Kok bisa nyampai sini?!"
"Kenapa? Nggak boleh?" Rendra mencibir.
Ia masih mengkerut. Matanya berkeliling ke seluruh ruangan, namun tak mendapatkan apa yang dicari.
"Kesini sama siapa?" tanyanya bodoh.
"Sendiri lah. Emang sama siapa? Mba Suko?" gerutu Rendra sebal.
Ia mendudukkan diri di sofa. Masih belum mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Ini si Andri kacau gini sih kerjaannya," gerutu Rendra lagi sambil mengangkat selembar progress report.
"Lu tekan dia dong, kalau nggak bisa sesuai estimasi, langsung cut seperti tertulis di PKS."
"Toh kita nggak bakalan rugi. Masih banyak subkon yang ngantri."
"Jam dua nanti gua mau ketemu sama calon pengganti si Andri cs," sahutnya cepat.
"Bagus! Jangan mau didikte, nanti kita yang keteteran ditekan sama orang PU."
"Ini apalagi?!" Rendra kembali mengangkat selembar kertas.
"Huh!" Rendra membuang napas kesal. "Jadi kacau semua begini sih?!!"
Ia memandang Rendra tak percaya, "Lu beneran Rendra kan?"
Membuat Rendra melotot gusar.
"Kok tiba-tiba jadi berubah begini?" ia masih bingung.
"Berubah begini gimana?!" suara Rendra terdengar semakin gusar.
"Jadi Rendra yang gua kenal selama ini," jawabnya cepat.
"Karena Rendra yang di rumah, yang di kursi roda....itu nggak tahu siapa. Nggak kenal sama sekali," lanjutnya sambil mengernyit.
"Ah, brengsek lu!" maki Rendra. "Masih mau dibahas?!"
Ia tertawa sumbang. "Jadi lu nelpon gua karena mau ke kantor?" tanyanya menyelidik.
"Gua mau minta anter ke Mall."
"Ngapain?"
"Beli baju lah. Gua sekarang kurus begini, semua baju jadi kelihatan kegedean."
Ia kembali mengernyit tak mengerti.
"Sama potong rambut," lanjut Rendra lagi. "Nih, acak-acakan gini. Bikin gerah."
"Sebentar, sori nih Ren....., no hurt feeling ye."
"Kenapa?"
"Lu kesini naik apa? Maksudnya pakai apa?" ia menolehkan wajah ke seluruh ruangan. "Kursi roda lu mana?"
Rendra tertawa sumbang, "Kursi roda so yesteryear."
Ia semakin tak mengerti, "Lu.....udah bisa jalan?!?"
"Gua sekarang pakai ini nih," ujar Rendra sambil meraih kruk yang disimpan di belakang kursi. "Brengsek banget naik tangga kayak naik gunung aja. Ngos-ngosannya ampun."
Matanya mendadak berbinar, "Serius lu?!"
Tapi Rendra tak menanggapi, lebih memilih untuk membahas hal lain. "Meeting jam berapa? Jangan lama-lama dong. Selain ke Mall gua juga mau ke.....," Rendra menyebut nama-nama tempat yang hendak ditujunya.
"Edisi perdana masih harus disetirin," lanjut Rendra lagi. "Lu mau kan? Atau mau cari mati?"
Mereka lalu tergelak bersama.
***
Anggi
Hari ini tak ada jadwal kuliah, jadi ia baru keluar dari ruangan jam 18.19. Setelah menyelesaikan dua RTGS yang ditolak dan bermasalah. Sebelum pulang, ia sempat melihat Erra dan Rinda masih menghitung selisih yang kurang.
"Aku duluan ya," pamitnya pada semua.
"Bumil hati-hati di jalan."
"Dah Anggi."
Ia baru selesai mengucapkan terima kasih pada Pak Atmo, sekuriti kantor yang membukakan pintu keluar untuknya. Ketika matanya menangkap sesosok bayangan yang sangat dikenalnya.
Ia harus memicingkan mata karena kondisi yang lumayan temaram. Perlahan namun pasti, dengan tertatih-tatih bayangan itu mulai menghampirinya.
"Baru pulang cantik?" sapa orang itu sambil tersenyum miring.
Seketika berhasil membuat matanya memanas. Sedetik kemudian air matanya mulai menganak sungai, tak bisa terbendung lagi.
Orang itu kini telah berdiri kurang dari dua meter di depannya. Memakai celana jeans, polo shirt navy, dengan dua tongkat penyangga tersimpan di masing-masing ketiak. Tangan kanannya memegang seikat bunga mawar merah yang sangat cantik, sementara tangan kirinya memegang sebuah kotak kecil berpita merah yang sangat dikenalnya.
"Belgian Chocolate?" ujarnya disela isak tangis.
Orang itu mengangguk. "Cokelat bisa bikin hepi lho. Membuat suasana hati jadi lebih ba...."
Tanpa menunggu kalimat selesai, ia langsung menghambur ke dalam pelukan. Membuat keseimbangan orang tersebut goyah karena tumpuan kruk yang kurang kuat.
"Abang.....," bisiknya sambil terisak, diantara luapan rasa syukur, takjub, juga bahagia.
***
Keterangan :
Underarm. : jenis kruk dimana penyangga diletakkan dibawah ketiak
Forearm. : kruk dengan manset yang melingkari lengan dan disertai pemegang
PKS. : perjanjian kerja sama