
Anggi
Ia sudah bisa duduk sendiri meski lengannya masih terasa pegal bila bergerak. Dokter mengatakan, hari Senin boleh melanjutkan perawatan di rumah. Dan itu membuatnya senang, karena sudah sangat rindu dengan anak-anak.
Rendra bilang, karena Mba Suko masih rewang di Delanggu sampai hari Minggu, Arung dan Saga akhirnya dititipkan di apartemen Rakai.
"Bang Rakai jagain anak-anak?" ia jelas mengernyit heran.
Ibarat mission impossible. Karena Amang yang satu itu, meski berpembawaan tenang dan berwibawa, namun seumur hidupnya sama sekali tak pernah bersentuhan dengan anak kecil.
"Dibantu sama Puput," ralat Rendra.
Oh, kalau begini ia bisa sedikit bernapas lega. Karena sepanjang pengetahuannya, Puput gadis yang baik dengan aura keibuan yang memancar. Arung dan Saga jelas ditemani oleh orang yang tepat.
Dan setelah seharian Rendra menemaninya di rumah sakit, lalu kehadiran Mas Sada bersama beberapa petugas dari kepolisian untuk meminta keterangan, siang hingga sore ini ia ditinggal sendirian di rumah sakit.
"Jangan khawatir, ada petugas jaga di depan. Nggak akan ada yang bisa jenguk kamu kecuali minta persetujuanku dulu," begitu kata Rendra sebelum pergi.
Sebenarnya ia tak terlalu takut atau khawatir. Toh orang-orang itu jelas mengincar Rendra, bukan dirinya. Jadi mustahil ada yang nekat mencarinya hingga ke rumah sakit. Ia justru mengkhawatirkan keselamatan Rendra.
"I'm okay. Naja sama Jimmy nggak bakalan berani bertindak lebih dari ini," Rendra as always, bersikap seolah tak terjadi apapun. Padahal rumah mereka hancur lebur dan suasana kacau balau. Sepertinya ia harus bicara dari hati ke hati dengan Rendra. Agar hal-hal mengerikan seperti ini tak terjadi lagi di kemudian hari.
Namun selain memikirkan keselamatan Rendra, ia juga mengkhawatirkan kondisi Mamah di rumah. Karena terlalu memikirkan keadaan keluarga kecilnya, sampai membuat tekanan darah Mamah meningkat tajam. Ini tentu membuatnya khawatir.
"Mamah sama Papah belum bisa kesana Ndo."
"Paling minggu depan setelah Papah pulang DL."
"Nggak papa Mah, minta doanya semoga semua baik-baik aja."
Adit juga meneleponnya, "Mba Anggi, Abang, anak-anak nggak papa? Berita di TV serem banget."
Bahkan Grup Romansa yang telah sekian lama mati suri karena kesibukan masing-masing, kini ramai kembali. Semua mengkhawatirkan keadaan diri dan keluarganya.
Fira yang masih asyik berkiprah di NGO, Inne yang baru melahirkan anak kedua, Chris yang sedang mengambil spesialis jantung, Bayu yang belum lama pulang dari UK dan langsung mendapat satu posisi strategis di Shevron San Ramon, hingga Dio.
Iya Dio, yang sejak mereka putus bertahun-tahun lalu tak pernah lagi muncul di grup Romansa. Kini saat ia sudah melupakan, Dio justru datang dengan sendirinya.
Dio. : 'Semoga kamu sekeluarga baik-baik aja, Nggi.'
Dio. : 'So sorry to hear that.'
Ia tersenyum sendiri membaca chat Dio di layar ponsel. Chat yang bertahun-tahun lalu pasti langsung membuatnya panas dingin. Namun kali ini terasa biasa saja, tak jauh berbeda seperti saat ia membaca chat dari Bayu atau Chris.
Dan dari obrolan grup juga ia tahu, Dio masih berada di US. Tengah mengejar gelar PhD nya.
Fira. : 'Udah ketebak dari awal lah ya, PhD pertama diantara kita.' -emoticon tertawa-
Chris. : 'Kalau lo nebak gue apa Fir?'
Fira. : 'Idih, ogah.'
Somethings never change. Membuatnya tersenyum sendiri mengingat anak-anak Romansa dengan segala keunikannya masing-masing.
Bayu. : 'Kayaknya kita mesti ngumpul deh.'
Chris. : 'Sepakat.'
Inne. : 'Ngumpul di Bandung sini.'
Fira. : 'Wah, gue nggak bisa. Minggu depan udah masuk hutan. Can't relate.'
Chris. : 'Bukan sekarang Atun!'
Bayu. : 'Ngumpulnya bawa keluarga masing-masing biar seru.'
Inne. : 'Siapa tahu ada yang jadi besanan diantara kita.' -emoticon tertawa-
Chris. : 'Salah Ne! Bukan besan.'
Chris : 'Tapi, siapa tahu ada yang berjodoh diantara kita.' -emoticon ketawa setan-
Bayu. : 'Ngaco lo! Anggi udah kawin. Dio udah move on.'
Fira. : 'Bayu, HAPUS tuh komen lucknut!'
Fira. : 'Sama sekali nggak ada bekas master from UK.' -emoticon marah-
Fira. : 'Be go maksimal.'
Chris. : 'Kayak nggak tahu Bayu aja sih, Fir. Senengnya memancing di air keruh.'
Chris. : 'Bayu cuma mancing, biar dibilang kalau.....'
Bayu. : 'Shut up!'
Inne. : 'Hayu ah, setuju ngumpul. Kapan? Dimana?'
Chris. : 'Kalau pass card-nya bawa keluarga, berarti mesti nunggu gue kawin.'
Bayu. : 'Gue juga.'
Bayu. : 'Gue bantu jawabin Dio : gue juga.'
Fira. : 'Haha! Mam pus nunggu dua orang jelek kawin, bisa ribuan purnama.'
Chris. : 'Kok dua orang jelek? Siapa tuh? Bukan gue kan?'
Fira. : 'Lo udah paten absolut.'
Chris. : 'Syalan.'
Fira. : 'Gue jelas bukan. Bentar lagi juga ketemu pangeran berkuda putih.'
Chris. : -emoticon muntah-
Fira. : 'Dio juga bukan. PhD under 30 years jelas jaminan mutu mantu idaman mertua sejagat raya. Most wanted.'
Fira : 'Dio, lo kawin sama gue aja lah. Dijamin udah kenal luar dalam. Nggak bakal nyesel. Ye nggak?'
Chris. : -emoticon thumbsdown-
Bayu. : 'Jadi satunya lagi gue nih?' -emoticon tertawa-
Fira. : 'Sori Yu, meski lo bermasa depan cerah, tapi slot dua terendah paling lama kawin keknya elo deh. Nggak salah lagi.'
Inne. : 'Gaes, fokus dong. Jadi fixed ya kita agendakan ngumpul bawa keluarga masing-masing. When & where menyusul.'
Fira. : 'Setuju banget. Dio don't forget, lamar gue dulu sebelum reunian. Masih inget rumah gue kan? Tenang, belom pindah kok.'
Dio. : 'Setuju.'
Fira. : 'HAH? Tuh kan, tuh kan, Dio aja oke kok. Aduh, dream comes truee. Kutunggu ya Dio.' -emoticon tanda cinta puluhan kali-
Chris. : 'Dasar ganjen. Itu momen ngetiknya aja barengan sama elo.'
Fira. : 'Sirik!'
Inne. : 'Anggi, Bayu, Chris setuju?'
Bayu. : 'Setuju.'
Chris. : 'Setuju.'
Ia masih tersenyum-senyum sendiri membaca chat an anak-anak Romansa. Ah, masa-masa menyenangkan itu terasa seperti baru kemarin. MOS di sekolah, saling contek-contekan PR, kerkel, bimbel, UN. Padahal itu semua terjadi bertahun-tahun lalu. Dan masing-masing dari mereka telah menempuh jalan hidup yang berbeda. Tak lagi saling bertautan. Namun kebersamaan tetap nyata adanya.
Ah, ternyata ia benar-benar merindukan hari-hari kemarin dan segala kenangan di dalamnya. Hingga akhirnya ia pun mengetik kata yang sama dengan yang lain,
Anggi : 'Setuju.'
Inne. : 'Sip. Kapanpun itu, jangan ada yang lost contact.'
Chris. : 'Keep in touch gaes.'
Fira. : 'Bayu ketuplak. Jangan lupa siapin kado spesial buat gue sama Dio.'
Chris. : 'Run Dio ruuuunnn.....'
Fira. : 'Sirik aja lo kriskros!'
Bayu. : 'Tunggu tanggal mainnya gaes.'
Tak ketinggalan Mala yang sudah hampir setahun lost contact, mendadak menghubunginya lagi dengan suara penuh kekhawatiran, "Kalian baik-baik aja kan?"
"Elo, Rendra, anak-anak?!?"
"Berita di tv bikin gue takut.'
"Alhamdulillah kami baik-baik aja, Mal. Makasih udah nelpon. How i miss you."
Kerinduan membuat mereka saling bertangisan di telepon.
"Kapan-kapan gue main ke Jogja, pingin ketemu sama elo, kangen...."
"Gue juga kangen banget," ia bahkan masih saja menangis saking rindunya. "Tahu nggak kalau gue belum nemu sahabat yang kayak elo."
"Gue emang nggak ada duanya."
Lalu mereka berdua tertawa.
"Jaga diri lo baik-baik, Nggi. Ingetin Rendra buat play safe. Karena sekarang kalian udah punya anak-anak."
"Iya Mal, gue juga udah cape ritmenya begini terus."
"Ini bukan tanda penyesalan kan?" selidik Mala.
Membuatnya tertawa, "Enggak lah. Menyesal kenapa?"
"Menyesal karena udah milih Rendra daripada nunggu Dio."
"Mal, don't say that."
"Pernah kepikir nggak, Nggi, kalau dulu lo tetep cuekin Rendra, sekarang lagi adem ayem sama Dio."
"Mungkin sekarang lo lagi ngambil master di Stanford apa Columbia. Atau lagi travelling keliling Amrik sama Dio."
"Mal!"
"Sori banget kalau dulu gue termasuk yang ngojok-ngojokkin lo buat cepet-cepet accept Rendra."
"Mala!"
"Dulu gue nggak pernah nyangka, kalau jalan hidup Rendra ke depannya bakalan serumit ini."
Kalimat Mala terus terngiang sampai ia ketiduran saking lamanya menunggu Rendra yang tak kunjung datang.
Keesokan hari ia terbangun karena merasa ada seseorang yang merebahkan kepala di samping tangannya. Dan itu adalah Rendra, yang lebih memilih tidur dengan posisi setengah duduk daripada tidur nyaman di atas bed penunggu. Ia pun spontan membelai kepala Rendra.
"Udah bangun?" Rendra mengangkat kepalanya.
Ia tersenyum, "Abang datang kesini jam berapa kok aku nggak tahu?"
Rendra balas tersenyum, "Lupa."
Kemudian Rendra menggenggam tangannya sambil menatap tajam, "Masih sakit?"
Ia menggeleng. "Udah enakan."
Rendra kembali tersenyum sambil mengusap keningnya.
"Masih."
"Aman?" tanyanya sambil menahan senyum.
"Aku belum sempat nengok kesana. Rakai juga nggak bilang apa-apa waktu ketemu di kantor polisi. Jadi, kayaknya semua baik-baik aja."
"Bisa jadi short course ngurus anak buat Bang Rakai," ujarnya sambil tersenyum.
Rendra tertawa, "Nggak juga. Palingan yang ngurus Puput. Yakin 100%."
Kemudian mereka berdua tertawa bersama.
"Besok kita pulang ke apartemen dulu," ujar Rendra setelah mereka berdiam selama beberapa saat.
Ia mengangguk.
"Kamu....nggak papa kan?" Rendra kembali mengusap keningnya. Merapihkan poni lalu menyimpannya di belakang telinga.
"Aku takut," jawabnya cepat.
Rendra masih mengusap keningnya, "Naja nggak pernah puas. Nganggap aku mempengaruhi Papa tentang pembagian."
"Di satu sisi dia juga merasa dikhianati Papa, karena isi surat wasiat nggak sesuai ekspektasi. Padahal selama Papa hidup, Mama Amy dan anak-anaknya selalu jadi prioritas pertama. Tapi kenyataannya...," Rendra mengangkat bahu.
"Dan mereka nggak pernah nyangka kalau Papa tiba-tiba jadi condong ke Abang?"
Rendra mengangguk sambil terus mengusap keningnya. "Kamu tahu sendiri sekeras apa aku nolak ide Papa."
Ia tersenyum sambil mengangguk. Memahami seberapa keras usaha Rendra untuk dapat berdiri di atas kaki sendiri. Privilege materi yang berasal dari fasilitas orangtua jelas berada jauh di luar kuadran hidup Rendra.
Kini Rendra beralih mengusap pipinya lembut, "Dan bagiku semua udah selesai saat putusan pengadilan keluar. Membuktikan surat wasiat asli buatan Papa. Murni, nggak dipengaruhi pihak manapun."
Ia memegang tangan Rendra yang tengah mengusap pipinya.
"Semua yang kulakukan sesuai prosedur," lanjut Rendra sambil meremas tangannya. "Dan bagiku permasalahan pembagian udah selesai."
"Tapi banyak pihak yang nggak puas, termasuk Jimmy," Rendra mencium tangannya. "Panas begitu tahu orang luar, Bang Leo, dapat lebih dari dia."
"Bang Leo yang selalu dampingi Papa?" ia membiarkan Rendra terus menciumi tangannya
"Kupikir semua orang juga tahu, seberapa setia Bang Leo sama Papa. Dari umur 6 tahun udah ikut Papa. Sampai detik terakhir nggak pernah sekalipun ngecewain Papa."
"Andai aja aku masih blangsak, yakin 100% Papa ngasih semua ke Bang Leo," ujar Rendra sambil tertawa meski tanpa suara. Tawa pahit.
Ia ikut tertawa kecil, juga tanpa suara.
"Kukira ulah Naja di hotel dulu yang pertama sekaligus terakhir," lanjut Rendra.
Ia teringat kembali kejadian menakutkan di kamar hotel sesaat setelah mereka tiba di Balikpapan sebelum penyelenggaraan resepsi. Namun sedetik kemudian buru-buru mengenyahkan kenangan buruk tersebut dari pikiran.
"Ternyata malah kemakan omongan orang-orang yang nggak puas. Terus nekat ngajuin praperadilan. Kalah, uang mulai menipis, nggak mikir panjang, akhirnya nyerang rumah Bang Leo," Rendra menggelengkan kepala.
"Itu sebabnya Bang Leo datang ke rumah kemarin?"
Rendra mengangguk, "Salah satunya."
"Setelah semua ini....kamu masih mau ngasih aku kesempatan?" tanya Rendra sambil menatap tepat di kedua matanya.
"Kenapa Abang nggak pernah cerita? Mungkin kalau tahu lebih awal, kejadiannya nggak bakal kayak gini."
Rendra mendesah, "Karena ini bukan masalah kamu."
Membuatnya mendesis sebal, "Sampai kapan Abang mau handle semua sendirian? Terus apa gunanya aku? Apa belum layak sebagai partner?"
Rendra menggeleng, "Kamu partner terbaik yang pernah ada," lalu mengecup punggung tangannya lagi. "Pingin kamu selalu menemani aku sama anak-anak. Nggak perlu mikir yang lain. Apalagi masalah keluargaku."
"Tapi kalau Abang bersikap seperti ini terus, mungkin kejadian kayak gini bakal jadi alur tetap keluarga kita. Entah sampai kapan...."
"Aku nggak akan ngebiarin," Rendra menggeleng. "Aku pastikan ini yang terakhir," lanjut Rendra sambil mengelus pipinya.
"Pasti ku cut sebelum merembet kemana-mana."
"Mungkin mulai minggu depan aku bakal bolak balik Jogja Balikpapan lagi."
"Nyelesaiin semua biar clear."
"Aku tahu," ia mengangguk tanda mengerti. "Mungkin kita cuma perlu banyak waktu berdua."
Lagi-lagi Rendra mengecup punggung tangannya, "Miss you so bad."
"Biar tahu apa yang masing-masing kita inginkan."
"Aku tahu kamu pakai banget," Rendra tertawa.
"Tapi aku nggak tahu Abang banget," sungutnya pura-pura kesal. "Semua yang tadi Abang omongin, beberapa ada yang aku belum pernah tahu. Curang."
Rendra terkekeh, "Kamu tahu aku sama seperti aku tahu kamu kok," lalu mengusap pipinya halus melalui punggung tangan.
"Buktinya kamu ngasih aku ruang, jarak, jeda, waktu buat sendiri," Rendra tersenyum. "Meski kamu sebenarnya pingin tahu pakai banget," Rendra tertawa. "Tapi kamu nggak mojokkin aku kayak awal-awal dulu."
"Oh, jadi Abang pernah dipojokkin?" ia bersungut-sungut.
"Sering lah. Dulu waktu awal-awal, hayo?" Rendra tergelak. "Kadang aku sampai bingung mesti ambil sikap gimana saat komunikasi kita macet."
Ia mencibir sebal.
"Tapi ya masa udah susah-susah ngedapatin kamu," Rendra kembali mengusap pipinya melalui ujung jari. "Cuma masalah beda cara komunikasi aja nyerah. Bisa habis diketawain ntar."
Ia makin mencibir.
"Kita sama-sama belajar," Rendra tersenyum. "Sama-sama bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik."
"Aku minta maaf dua tahun pertama kita jauh dari bahagia," Rendra kembali meremas tangannya lembut.
"Jauh dari bahagia gimana?" ia mengernyit. "Aku bahagia. Ada anak-anak, ada....."
"Melenceng jauh dari yang kujanjikan waktu mati-matian ngedeketin kamu."
"Aku yakin dua tahun ini kamu lebih sering nangis dibanding ketawa. Masa-masa adaptasi kita berdua yang kadang bikin cape. Kehamilan pertama kamu, kepergian Rimba, kehamilan kedua yang jauh dari aku, kejadian paralayang, terus sekarang....."
"So sorry....," Rendra mencium tangannya sambil memejamkan mata.
"Makasih untuk semua pengertian dan kesabaran kamu ngadepin aku."
Ia tersenyum dengan mata memanas, "Abang..."
Rendra membuka mata lalu menatapnya dalam-dalam.
"It's always gonna be you," bisiknya dengan mata berkaca-kaca.
***
Hari Senin siang begitu Rendra membukakan pintu apartemen untuknya, semua orang menyambut dengan penuh suka cita.
"Welcome homeeee.....," pekik Rakai berlebihan padahal wajahnya kusut masai lengkap dengan rambut acak-acakan seperti orang baru bangun tidur. Sementara Puput, Mba Suko, Amin dan istrinya hanya tersenyum simpul.
"Kenapa Bang?" tanyanya heran melihat Rakai yang biasanya rapi jali namun sekarang kelihatan seperti orang belum mandi tiga hari.
"Intinya aku bahagiaaaa banget kamu bisa pulang Nggi," mata Rakai berbinar. "Bahagiaaa melebihi apapun di dunia ini."
Sementara Rendra hanya mencemooh, "Kesambet apa lu?"
"Makasih Bang," ujarnya senang karena ternyata Rakai begitu perhatian.
"Anytime Nggi....anytime....," Rakai mendudukkan diri di sofa dengan wajah terlalu gembira, seperti orang baru dapat grand prize milyaran.
Ketika ia sedang mencuci tangan di pantry sebelum masuk ke kamar untuk menjumpai anak-anak yang sedang tidur, Puput mendekatinya sambil berbisik.
"Bang Rakai stres tiga hari ini Mba. Makanya begitu Mba Anggi pulang langsung over begitu."
"Stres kenapa?"
"Mesti jagain Arung sama Saga," lanjut Puput sambil meringis. "Udah kayak orang gila tiap hari kerjaannya ngomong sendiri."
Ia tertawa, "Masa sih? Kan ada kamu Put?"
Puput tertawa, "Iya sih. Cuma Bang Rakai udah stres duluan kalau dengar anak nangis atau ngejerit. Pasti langsung parno."
Ia kembali tertawa membayangkan Rakai yang cool ternyata bisa parno juga.
"Selama Arung sama Saga di apartemen Bang Rakai, kayaknya Bang Rakai nggak pernah tidur. Makanya kusut begitu."
"Waduh," ia menggelengkan kepala. "Berarti Bang Rakai mesti dapat spesial award nih karena all out jagain anak-anak.
Puput mengangguk sambil meringis.
"Makasih banyak juga ya Put, udah jagain anak-anak selama aku di rumah sakit."
Puput tersenyum, "Sama-sama Mba."
"Weekend kamu jadi terganggu. Maaf ya."
Wajah Puput berubah mendung sesaat untuk kemudian tersenyum lagi, "Nggak papa Mba. Bang Rakai ngasih reimburs, hari Selasa sama Rabu saya dapat jatah libur. Hehe..."
"Oya? Asyik dong," ia ikut senang. Rakai benar-benar bos yang penuh pengertian.
Puput mengangguk, "Kalau Mba Anggi sendiri nggak papa tapinya? Saya lihat berita di TV kok serem banget?"
Ia menepuk bahu Puput dengan tangan kiri karena lengan kanannya masih diperban, "Alhamdulillah baik-baik aja Put. Sekali lagi makasih banyak ya."
"Sama-sama Mba."
Malam hari saat ia baru saja menyelimuti Arung yang terlelap usai dibacakan cerita, Rendra menghampirinya sambil membawa ponsel yang diarahkan padanya.
"Apaan?" tanyanya heran.
Rendra hanya tersenyum sambil menyerahkan ponsel yang menampilkan layar dengan tulisan 'Pengumuman akhir penerimaan tenaga pengajar tetap Kampus Biru', dengan nama Syailendra Darmastawa berada di urutan no. 1.
"Abang?" tanyanya heran campur surprise. "Kapan daftarnya kok aku nggak tahu?! Atau ini yang dulu Abang pernah cerita?"
Rendra mengangguk sambil terkekeh, "Sepertinya hidup kita bakal sedikit berubah," bisik Rendra sambil memeluknya dari belakang.
"Berubah gimana?"
"Nggak bisa sering-sering nraktir sama beliin bunga lagi buat kamu."
Ia tertawa kecil.
"Mulai sekarang kamu udah harus punya rencana keuangan keluarga. Karena keadaan akan jauh berbeda."
"Bukannya selama ini aku juga udah punya rencana keuangan," cibirnya.
"Masa sih?" Rendra terkekeh.
"Abang aja yang nggak tahu," gerutunya sebal.
"Percaya....percaya....," Rendra makin terkekeh.
"Abang juga harus siap...."
"Yah....yang penting Rakai kerjanya bener, cuan masih tetap ngalir," seloroh Rendra. Membuatnya tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Jadi...masih mau nemenin aku?" Rendra mencium rambutnya lembut.
Ia tersenyum sambil mengangguk dan berbisik dalam hati, "Abang, it's always gonna be you."
***