Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
45. Beautiful Life



......Few years later......


Rakai


---------


Ia baru pulang sekolah ketika melihat di ruang tamu, Mama sedang memeluk seorang wanita yang menangis, dengan anak laki-laki usia TK tengah asyik bermain mobil-mobilan di lantai.


"Kai, ajak Rendra beli es krim. Orang masih ingat Rendra kah?" begitu kata Mama.


Itulah kali pertama ia bertemu dengan Rendra. Meski kata Mama, mereka pernah bertemu sebelumnya sebanyak beberapa kali, namun ia tak mengingatnya.


Dan kesan pertama yang ia rasakan ketika mengenal Rendra adalah menyebalkan. Karena begitu sampai di toko, bukannya memilih es krim, Rendra justru menunjuk mainan mobil-mobilan yang harganya paling mahal.


"Mau itu!"


"Uangnya cuma cukup buat beli es krim."


"Mau mobil!"


"Ndak bisa!"


"Mobil!"


Akhirnya ia pulang ke rumah dengan tangan kosong sekaligus hati dongkol. Sementara Rendra tertawa-tawa riang di sebelahnya sambil memegang mainan mobil-mobilan mahal yang bahkan belum pernah ia miliki sebelumnya.


"Orang bawa aja dulu pang," begitu kata pemilik toko yang memang kenal baik dengan Mama. "Bayarnya menyusul."


Ia langsung menolak karena selain harganya mahal, tujuan utama mereka adalah membeli es krim, bukan mainan apalagi mainan mahal.


Tapi pemilik toko telah memberikan mainan mobil-mobilan berwarna hitam yang sangat mirip dengan bentuk aslinya itu kepada Rendra.


"Ini orang saudara Kai kah?" tanya pemilik toko sambil memperhatikan Rendra antusias. "Masih kecil udah kelihatan gantengnya."


Sejak saat itu anak yang bernama Rendra adalah musuh besarnya. Ia tak habis pikir Tante Pingkan yang cantik dan lembut, bisa memiliki anak senakal dan semenyebalkan Rendra.


"Benar di sekolah Rendra tak punya teman?" tanya Mama waktu ia sedang tekun belajar untuk mempersiapkan UAN SD.


"Baru kelas tiga tapi mucil (nakal) nya minta ampun. Banyak teman-temannya bahkan anak kelas besar yang menangis gara-gara dia. Makanya orang tak punya teman!" gerutunya sebal demi mengingat sepak terjang Rendra di sekolah. Membuatnya marah hingga ujung-ujungnya ia tak mengakui kalau mereka berdua sebenarnya saudara sepupu.


Apa kata dunia Rakai yang siswa teladan ternyata bersaudara dengan Rendra si biang onar. Tak sudi.


"Ndak boleh begitu. Rendra saudara kita. Kasihan kalau tak punya teman. Besok ajak dia main gin."


Itulah kali pertama ia tak mengindahkan perkataan Mama. Apa pula ngajak anak mucil itu main. Tak sudi lah ya. Lagipula jarak kelas mereka jauh. Rendra kelas 3 SD, sementara ia sudah kelas 6. Nggak level.


Untung ia tak harus berlama-lama satu sekolah dengan si biang onar Rendra, karena begitu lulus SD, ia mulai tenggelam dalam dunianya sendiri. Masa-masa ABG yang menggembirakan. Sibuk dengan sekolah, les, ekskul, kerja kelompok, main dengan teman (yang baik), ngulik hobi.


Namun begitu ia masuk SMU, dan Rendra SMP, sepak terjang anak mucil itu semakin parah. Levelnya bukan lagi keluar masuk ruang BP, tapi kantor polisi. Tak terhitung berapa kali dalam sebulan ia melihat Tante Pingkan menyambangi rumahnya hanya untuk menangis di pelukan Mama.


"Kai, orang ajak si Rendra belajar di rumah gin. Biar ndak buat Mamanya menangis terus."


Males banget kalau harus mengajak anak SMP berandal yang hampir tiap hari kerjaannya bolos, kabur dari sekolah, berkelahi, tawuran, keluar malam ikut bali (balap liar), bahkan coba-coba kobam dan nginex.


Ini menjadi kali kedua ia tak mengindahkan perkataan Mama. Dan semua alasannya karena ia tak menyukai Rendra. Sangat.


Hingga suatu hari Tante Pingkan menelepon Mama dengan suara histeris, "Rendra pingsan di kamar! Mulutnya keluar buih!"


Untung Papa sedang dapat jatah libur di rumah, baru minggu depan kembali ke rig. Jadi bisa membantu melarikan Rendra ke rumah sakit. Diagnosis dokter menyebutkan Rendra hampir OD, karena mengkonsumsi inex berlebihan dalam satu waktu campur meminum kopi.


Saat dirawat di rumah sakit itu pula ia tahu, sepanjang pergelangan tangan hingga siku sebelah kanan Rendra, penuh dengan titik kecil berwarna merah, jelas bekas suntikan.


ABG paling mengerikan bermasa depan suram yang pernah ada. Karena senakal-nakalnya teman sepermainan, paling banter kelahi rebutan cewek atau merokok. Sementara Rendra? Apa dia telah mantap memilih jalan hidup dengan menjadi kriminal? Menyedihkan. Benar-benar tipikal yang tak memikirkan masa depan. Jenis orang yang harus dijauhi.


Namun tak ada angin tak ada hujan, dunia tiba-tiba terbalik. Entah keajaiban apa yang membawa Rendra datang ke rumahnya hanya untuk mengatakan,


"Bang, aku pinjam bukumu lah."


Bersamaan dengan semakin jarangnya Tante Pingkan datang ke rumah untuk mengadu kepada Mama.


Belakangan ia tahu kalau Tante Pingkan jarang keluar rumah karena terkena kanker esofagus. Membuat tubuhnya jadi cepat lelah, hingga untuk menyambangi rumahnya sekedar mengadukan kelakuan anak semata wayangnya pun sudah tak sanggup. Sungguh kasihan.


Kemudian ia mendengar dari percakapan Mama dan Papa kalau Rendra terlibat perkelahian dengan anak pejabat berpengaruh. Sampai pejabat tersebut memburu Rendra dengan mendatangi rumahnya hanya untuk memaki, menghina dan mengancam Tante Pingkan yang sedang sakit.


Dari gosip yang santer beredar di kalangan anak-anak pula ia tahu kalau Rendra, anak mucil berandal kecil itu, menangis tersedu-sedu demi melihat Tante Pingkan dimaki dan dihina. Apapula anak laki menangis, kalau tidak karena sakit hati yang teramat sangat.


"Bisa tolong diperiksa?" kali kedua Rendra datang ke rumahnya sambil membawa sebundel kertas folio berisi tulisan tangan.


"Apa pula ini?!"


"Jawaban pertanyaan dari soal-soal di buku."


Dan ia tak pernah menyangka, Rendra menjawab seluruh soal-soal yang ada di setiap buku yang dipinjamnya, tanpa kecuali.


"Aku tak ada waktu," ujarnya ketus. Karena ia juga tengah sibuk belajar untuk persiapan menghadapi UN SMU.


Tapi Rendra adalah Rendra, yang tak gampang menyerah hanya karena sebuah penolakan.


"Tak apa, kutumpuk di meja Abang barangkali ada waktu luang untuk periksa," ujar Rendra yang kemudian justru rutin datang setiap hari untuk menyerahkan sebundel kertas folio berisi jawaban soal terbaru sekaligus meminjam buku yang lain.


"Bukuku sudah habis ndak ada lagi!" gerutunya kesal karena memang semua buku cetak dan paket yang dimilikinya telah dipinjam oleh Rendra.


Namun Rendra tetap memaksa meminjam buku yang lain, "Kalau gitu pinjam buku catatan Abang lah."


Dasar anak mucil gila, umpatnya waktu itu. Apa dengan meminjam semua buku, lalu menjawab semua soal -bahkan soal yang sama sekali tak penting-, lantas bisa merubah Rendra berandal menjadi Rendra yang pintar? Impossible.


Tapi ucapan Mama di hari pengumuman kelulusan SMP membuat keyakinannya goyah. Dan mulai mengakui jika Rendra dinaungi keberuntungan yang teramat besar.


"Bagus Kai, berkat kalian sering belajar bersama, nilai UN Rendra jadi nomer lima terbaik se kodya. Bisa masuk SMU terbaik dan langsung dapat beasiswa."


"Mama bangga sama kamu, Kai."


"Tante Pingkan kirim ini khusus buat kamu, katanya terima kasih banyak," lanjut Mama sambil mengangsurkan sebuah bungkusan berwarna biru, yang isinya adalah dua stel kemeja lengan panjang dan celana panjang.


"Ini Tante Pingkan sendiri yang jahit. Lagi sakit juga masih sempat-sempatnya jahit ini buat kamu," ujar Mama lagi. "Orang nanti pakai buat kuliah ya."


Dan dibalik suka cita Rendra yang telah berubah menjadi the new Rendra, ia justru mengahadapi kegagalan menyakitkan. Yaitu gagal SBMPTN, gagal Utul (ujian tulis) kampus biru, dan harus puas dengan kuliah di kampus Perjuangan.


"Ndak papa," hibur Mama. "Kuliah dimanapun sama saja. Jangan termakan gengsi. Yang penting kamu orang belajar yang rajin, sungguh-sungguh, nanti pasti sukses mengikuti."


Suatu waktu saat ia sedang pulang ke rumah karena liburan semester, Tante Pingkan yang belakangan sakitnya makin parah, meninggal dunia. Itulah kali pertama ia melihat pemandangan tak terlupakan. Yaitu kilatan awan gelap yang menyelimuti wajah Rendra menjadi penanda betapa terpuruknya (bekas) anak mucil berandal itu.


Saat itu pula ia tahu, semesta mulai menaungi Rendra dengan segala kesempatan, kemudahan, keberuntungan, you name it.


Pelan tapi pasti, Rendra mulai menanggalkan gelar si anak mucil berandal. Yang dulu diprediksi akan melekat abadi, namun kini benar-benar telah berubah 180 derajat hingga akhirnya memiliki gelar siswa berprestasi. Keajaiban paling mustahil bukan?


Begitulah, orang bijak pernah mengatakan, pengalaman merasakan kehilangan milikmu yang paling berharga justru akan membuatmu menemukan dirimu yang sebenarnya.


Atau, kau harus kehilangan semuanya lebih dulu, untuk kemudian mendapatkan segalanya.


Rendra menjalani sisa masa SMU dalam versi terbaik dirinya. Menjadi siswa berprestasi, menjadi atlet taekwondo tingkat Propinsi, dan terakhir yang membuatnya sangat iri adalah, Rendra berhasil lolos melalui jalur PBUD ke Fakultas Teknik Kampus Biru. Fakultas impiannya.


Ini gila!


Sialan! Anak mucil berandal yang dulu belajar padanya itu justru memiliki prestasi yang jauh melebihi dirinya. Benar-benar definisi dari he gets what he wants.


Namun meski sudah menunjukkan jalan hidup kesuksesan, pandangannya terhadap Rendra tidaklah berubah. Ia masih menganggap Rendra adalah orang menyebalkan biang segala keonaran dan masalah.


Jadilah tahun pertama Rendra kuliah di Jogja, ia bersikap seolah-olah mereka tak berada di kota yang sama. Lagipula ia juga sibuk mengikuti beberapa event kepanitiaan sekaligus ambil bagian dalam kepengurusan LEM (Lembaga Eksekutif Mahasiswa). Tak ada waktu mengurusi sepupu yang sakit-sakitan hampir tiap bulan keluar masuk rumah sakit.


Namun ketika ia tengah menggarap skripsi, badai mulai datang. Papa meninggal beberapa hari setelah mengalami kecelakaan akibat human error yang melibatkan beberapa pekerja di rig. Membuatnya harus menunda pengerjaan skripsi untuk menemani Mama yang merasa begitu kehilangan usai ditinggal Papa.


"Dulu Pingkan sering datang kesini menangisi suaminya yang ringan tangan dan anak laki-lakinya yang nakal. Sekarang giliran aku sedih, tak ada orang untuk tempat mengadu," isak Mama yang membuat hatinya trenyuh. Menohok relung terdalam karena secara implisit Mama menginginkannya untuk tinggal sementara waktu di rumah.


"Tapi aku lagi skripsi Ma. Sebentar lagi selesai. Biar cepat dapat ker....."


"Orang tak sayang Mama kah? Sekarang cuma Rakai yang Mama punya. Tak ada orang lain lagi."


Papa dan Mama sama-sama berasal dari Manado. Akibat pernikahan yang tak disetujui oleh dua keluarga besar, membuat Papa memutuskan untuk merantau ke Kalimantan.


Melalui jalan terjal kehidupan awal pernikahan tanpa bekal harta sepeserpun di pulau seberang.


Namun berkat kegigihan Papa yang tak malu untuk bekerja serabutan sambil terus mencari info lowongan pekerjaan yang lebih baik dan menjalin relasi, beberapa bulan sebelum ia lahir ke dunia, Papa berhasil mendapat pekerjaan yang diimpikan. Yaitu di sebuah pengeboran minyak laut lepas.


Kondisi rumah tangga yang stabil dan keluarga besar yang tetap bersikeras menolak kehadiran Papa Mama kembali di kampung halaman. Membuat keluarga kecil mereka otomatis menjadi warga tetap pulau Kalimantan. Tanpa pernah sekalipun merasakan mudik saat hari raya atau berkunjung ke rumah nenek dan kakek.


Kemudian menurut cerita Mama, Tante Pingkan yang merupakan anak dari paman dan bibi dari pihak Papa, ikut menyusul merantau ke Balikpapan karena menolak dijodohkan oleh orangtuanya.


Itulah mengapa Mama begitu dekat dengan Tante Pingkan. Mungkin karena merasa senasib berada di tanah rantau.


"Mama cuma ingin ditemani kamu orang, Kai," ujar Mama sambil mengelus kepalanya. "Karena cuma kamu satu-satunya anak Mama."


Ia berjanji akan sering pulang begitu skripsi selesai. Meski itu membuatnya jadi lebih boros karena ongkos pulang pergi Jogja-Balikpapan benar-benar menguras dompet mahasiswanya.


Hingga suatu hari, ia mendapat telepon mengejutkan dari Bibi Amunta yang rumahnya tepat di sebelah rumah mereka di Balikpapan. Tetangga puluhan tahun yang telah berubah menjadi saudara.


"Pulanglah Kai, Mama kamu masuk rumah sakit!"


Padahal ia sedang tak memiliki uang. Uang terakhir kiriman dari Mama telah habis untuk biaya operasional mengerjakan skripsi. Sementara uang dari hasil kerja paruh waktunya memberi les komputer dan bahasa Inggris di sebuah lembaga pendidikan, telah ludes untuk membayar kost dan kebutuhan sehari-hari.


Hingga dua hari semenjak Bibi Amunta menelepon, ia tak kunjung pulang karena belum menemukan uang pinjaman. Beberapa teman yang dimintai tolong juga tengah memiliki masalah masing-masing. Tak bisa membantu.


Ketika ia mulai putus asa dan tak mampu berpikir jernih, Rendra tiba-tiba muncul di depan kostnya sambil mengendarai mobil sejuta umat berwarna hitam. Mobil siapa pula?


Lalu tanpa berkata apa-apa menyorongkan sebuah amplop putih yang cukup tebal ke atas meja.


"Apa ini?!" tanyanya sengit. Karena kesal belum bisa pulang campur sebal disaat pusing begini justru bertemu Rendra.


"Kemarin Bibi Amunta tetangga Abang nelpon."


Ia hanya menggelengkan kepala. Separah apakah sakit Mama sampai Bibi Amunta menelepon Rendra. Atau justru Mama yang menyuruh Bibi Amunta untuk menelepon Rendra karena ia tak kunjung pulang?


"Pulanglah Bang. Jangan sampai menyesal kayak aku dulu."


Meski ragu diterimanya uang pemberian Rendra. "Ini ku pinjam dulu. Besok kalau gaji dari tempat kursus cair kuganti."


Berbekal uang dari Rendra ia bisa pulang ke Balikpapan. Yang membuatnya sangat menyesal bahkan hingga saat ini adalah karena ia terlambat.


Membuatnya harus melupakan skripsi untuk berkonsentrasi merawat Mama. Dan kesedihan hati yang teramat dalam karena ditinggal Papa, justru mengundang serangan stroke berikutnya. Hingga Mama tak lagi mampu bertahan. Akhirnya menyusul kepergian Papa.


Ia tengah menangis tak berdaya di depan pusara yang masih basah ketika sebuah tangan menepuk-nepuk punggungnya pelan.


Rendra?


Kenapa pula bisa sampai disini? Siapa yang memberitahunya?


Namun ia tak memiliki waktu luang untuk memikirkan Rendra. Kehilangan dua orang tercinta dalam hitungan bulan membuatnya terpuruk dalam perasaan sedih dan bersalah.


Dan dua bulan kemudian baru sanggup untuk kembali ke Jogja. Setelah Bibi Amunta dan Paman Eris yang sudah seperti orangtua baginya, selalu mengingatkan tentang melanjutkan hidup demi masa depan.


"Papa Mama orang ndak akan senang kalau melihat Kai begini."


"Cepat pulang ke Jogja, selesaikan kuliah, cari pekerjaan yang bagus, lalu berkeluarga yang benar. Biar Bang Elias dan Kak Maya tenang disana."


Ia memang mati-matian menyelesaikan skripsi. Lalu mengikuti wisuda dengan hanya ditemani cengiran Rendra yang sepanjang acara sibuk tebar pesona pada seluruh wisudawati. Sementara orang lain larut dalam kebersamaan dengan keluarga besar.


Usai wisuda ia masih berdiam diri menunggu pekerjaan terbaik mendatanginya, namun justru Rendra yang kembali hadir dengan senyum terkembang.


"Keren kan?" kali ini Rendra datang mengendarai X5 warna hitam metalik.


Dapat darimana tuh bocah?


"Generasi pertama nih," lanjut Rendra bangga. "Mesin, sasis, kaki-kaki kondisi prima."


"Kalau ada kenalan Abang perlu mobil second berkualitas, carilah aku."


Ia masih tak peduli. Lebih memilih untuk menganggap angin lalu. Namun ketika ia mampu mengembalikan uang Rendra yang dipakai untuk pulang beberapa waktu lalu, Rendra justru menolak.


"Apa pula orang ini," tolak Rendra mentah-mentah. "Kita saudara. Aku bantu orang, orang bantu aku. Ndak ada beginian."


Sekeras apapun ia berusaha memaksa, namun Rendra terus menolak. Membuatnya berjanji, kelak akan membantu saat Rendra membutuhkannya.


---------


Ia membuyarkan lamunan karena rokok yang sedang dihisap mulai memendek. Dengan cepat ia lalu menggerus batang rokok ke dalam asbak. Sekilas melihat pergelangan tangan kiri, 16.12 WIB.


"Gua balik dulu!" teriaknya pada anak-anak yang sedang menyetting tempat untuk acara besok.


"Yo Bang!"


Kemudian berjalan melewati halaman samping rumah Rendra yang asri karena banyak ditumbuhi tanaman bunga. Berbatasan langsung dengan ruang terbuka hijau dimana Arung, Saga, dan Daka tengah asyik bermain bola.


"Amang pulang dulu!" teriaknya pada ketiga anak lelaki Rendra itu.


"Nggak nunggu Papi?" tanya Arung yang berlari menghampirinya untuk salim. Diikuti kedua adiknya.


"Sebentar lagi juga pulang. Kalau hari Jum'at biasanya sampai rumah jam lima," tambah Arung lagi. Bayi yang memiliki jeritan mengerikan itu kini telah bertransformasi menjadi anak kelas dua SD yang sopan juga tampan.Time flies so fast.


"Amang ngak nungu Papi ulu?" tanya Daka, anak ketiga Rendra yang baru berusia tiga tahun.


"Enggak," ia mengangkat Daka tinggi-tinggi. "Amang mau jemput Tante pulang karena Anwa sama Diga udah nunggu."


"Besok Anwa sama Diga kesini nggak, Mang?" tanya Saga sambil memainkan bola di kakinya seperti atlet freestyle profesional.


"Kesini lah," jawabnya sambil memperhatikan gerakan Saga. "Wih, keren Kak! Belajar darimana?" komentarnya spontan demi melihat aksi Saga mempermainkan bola sepak dengan kedua kakinya selama hampir satu menit tanpa putus.


"YouTube," jawab Saga sambil terus mempermainkan bola di kedua kaki dan lututnya.


"Keren! Keren!" ia mengacungkan jempol sambil menurunkan Daka ke atas rumput.


"Nanti ajarin Diga ya! Nah, persis yang itu!" ia menunjuk aksi Saga barusan. "Wih, kewreeen Kakak!" lagi-lagi ia mengacungkan jempol.


"Diga kan masih bayi Mang," Saga mengernyit.


"Ya nanti kalau udah segede Abang sama Kakak," tunjuknya kearah Arung dan Saga yang mengangguk-angguk.


"Ciao anak-anak!" ujarnya sambil berhigh five dengan mereka bertiga sebelum berjalan ke halaman depan.


"Dah Amang!" ketiga anak Rendra melambaikan tangan dan sedetik kemudian kembali asyik bermain bola.


Ia kini berjalan di atas hamparan batu koral berwarna-warni, melewati rumah bambu berdesain terbuka yang di dalamnya terdapat puluhan anak usia SD sedang berlatih taekwondo.


"HA!"


"HA!"


Begitu suara anak-anak berteriak dengan semangat tiap kali mengakhiri gerakan sebuah jurus.


"Taeguk tiga! Mulai!"


Begitu teriak instruktur bersabuk hitam yang berjalan di sela-sela barisan anak-anak yang tengah berlatih. Sementara dua orang pendamping yang masing-masing bersabuk merah, menghampiri satu persatu anak yang memerlukan bantuan. Dengan membetulkan letak dan posisi tangan serta kaki agar benar-benar sesuai dengan jurus yang sedang dimainkan.


"Pulang Bang?" sapa seorang bersabuk hitam yang sedang melatih dua anak melakukan split.


Ia mengangguk, "Duluan, Vin!" ujarnya melambaikan tangan kearah Kevin yang ia tahu adalah salah satu mahasiswa Rendra.


"Yo Bang!"


Setelah melewati deretan anak berlatih taekwondo, ia kini menjumpai puluhan anak usia SMP tengah asyik memilih-milih buku dari rak setinggi langit-langit yang berjejer mengelilingi ruangan.


Ajeng, adik bungsu Danu yang masih kuliah, melambaikan tangan kearahnya dari balik meja berisi tumpukan buku, "Pulang Bang?"


"Yo!" jawabnya balas melambai.


Sementara beberapa anak berlari-lari menaiki tangga yang terletak di sisi paling ujung rumah bambu. Tangga yang terbuat dari kayu dan bambu itu menghubungkan lantai bawah dan lantai atas. Dimana sayup-sayup ia mendengar suara anak-anak sedang melantunkan sebuah surat dalam Al-Qur'an.


'amma yatasā`alụn


'anin-naba`il-'aẓīm


allażī hum fīhi mukhtalifụn


kallā saya'lamụn


ṡumma kallā saya'lamụn


(QS An Naba (78), ayat 1-5)


Ketika mulai menginjakkan kaki di halaman depan, suara bacaan Al Qur'an berganti menjadi teriakan lantang, "Berapa Sin 300?"


"Karena berada di kuadran IV, jawabannya pasti negatif. Jadi....."


Sebelum tangannya sempat membuka pintu mobil, sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya.


"Ya, Yang?" ujarnya begitu tahu yang menelepon adalah istrinya.


"Masih di mana?"


"Rumah Rendra. Kenapa?"


"Ini ada teman datang bawa calon klien baru, kayaknya mesti ngobrol deh."


"Oke, kalau gitu aku mampir ke bengkel dulu bentar. Mau dijemput jam berapa?"


"Kurang lebih sejam lagi. Ntar kalau belum sejam udah mau selesai kukabari."


"Oke."


---------


Sejak kejadian mengerikan yang membuat rumah dan kendaraan Rendra hancur tak berbentuk, jalan hidup mulai berubah arah.


Setelah menyelesaikan kekisruhan yang terjadi. Memastikan Naja, Jimmy, dan orang-orang yang menyerangnya mendapat ganjaran setimpal menurut hukum yang berlaku. Kemudian membuat perjanjian hitam di atas putih yang memiliki kekuatan hukum mengikat. Sebagai tindakan antisipasi dari rasa kecewa dan sakit hati beberapa pihak yang mungkin akan muncul kembali setelah bertahun-tahun kemudian. Juga untuk meminimalisir kejadian yang sama kembali terulang.


Rendra memutuskan untuk berhenti dari hiruk pikuk ManjoMaju, dan menyerahkan semua padanya. Lebih memilih untuk menseriusi jenjang karier sebagai tenaga pengajar di Kampus Biru.


Meski begitu Rendra masih memegang mayoritas saham ManjoMaju dan sesekali membuka diri sebagai konsultan. Memanfaatkan kemampuan analisa yang tajam dan akurat, agar tak mati atau terlupakan karena tergerus waktu dan rutinitas keseharian.


Beberapa bulan setelah kejadian mengerikan itu pula, Anggi yang telah resign dari tempatnya bekerja akhirnya di wisuda. Untuk kemudian lebih memilih mendampingi Arung dan Saga di rumah melalui usia keemasan anak.


Kini, bertahun-tahun kemudian, Rendra jelas membuktikan produktivitasnya dengan memiliki lima orang anak dengan jarak usia yang berdekatan. Arung, Saga, Daka, dan si kembar Pingkan & Aksa.


Dasar Rendra! Ia menggelengkan kepala demi mengingat hampir tiap tahun melihat Anggi hamil dan melahirkan. Melelahkan sekali bukan? Ia yang hanya berperan sebagai penonton saja merasa lelah.


Namun anehnya, meski memiliki anak bererot, Anggi justru terlihat makin segar dan menarik. Bukan....bukan karena ia kini tertarik pada Anggi. Namun lebih ke pembuktian pepatah yang mengatakan bahwa suami bagaikan pisau bedah bagi istrinya.


Karena suami lah yang menentukan kecantikan seorang wanita setelah menikah. Ia tahu betul bagaimana Rendra menjalani hari dan memperlakukan Anggi sedemikian rupa. Hingga membuat Anggi selalu tersenyum dan memancarkan sorot mata hangat penuh kebahagiaan. Membuat istri sepupunya itu terlihat bersinar saking merasa bahagianya.


Well, rupanya Rendra benar-benar menggunakan kemampuan yang dimiliki di tempat yang tepat.


Dan kira-kira setahun setelah penyerangan itu pula, Rendra memilih untuk tinggal di pinggiran kota. Sengaja membeli lahan di tengah perkampungan penduduk yang sekitarnya masih dikelilingi sawah, sungai, dan keindahan alami lainnya.


Sengaja membangun rumah bambu futuristik di samping rumah untuk menyediakan sarana bagi anak-anak sekitar dengan aktivitas yang bermanfaat. Melengkapinya dengan perpustakaan. Membuka kelas latihan taekwondo, bimbel, dan belajar membaca serta menghapal Al-Qur'an tanpa dipungut biaya sepeserpun. Sekaligus memfasilitasi para mahasiswanya terjun langsung ke masyarakat sebagai pembimbing dan pendamping anak-anak.


Ibarat sekali mendayung, puluhan pulau terlampaui. Ya, Rendra memang tak ada matinya. Selalu memiliki ide agar bisa menebar manfaat. Masa lalu yang buruk telah berhasil membawa Rendra menjadi pribadi yang selalu ingin bermanfaat bagi orang lain.


"Hidup itu untuk berbuat baik, dan tak ada yang bisa mengalahkan niat baik," begitu kata Rendra satu waktu yang membuatnya mendesis sebal.


"Lu lama-lama mirip sama Pak Umar, dosen gua di semester satu dulu," cibirnya sambil menggelengkan kepala.


"Lha, emang gua dosen?!" seloroh Rendra sambil terbahak.


"Yakin Amang Rahmat bakalan bangkit dari kubur kalau tahu lu sekarang begini," ujarnya sambil terus menggelengkan kepala tak percaya semua ini bisa dilakukan oleh bocah mucil gila yang sangat menyebalkan ini.


Cause we'll never know.


---------


Perlahan ia mulai melajukan kemudi ke jalan raya pedesaan menuju pusat kota dimana bengkel miliknya berada. Sebelum nanti ia harus menjemput istri tercinta di Mreneo. Lalu pulang ke rumah menemui his lemonade, Anwa dan Diga.


Best feeling ever.