Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
36. Falling Down



Entah karena sudah pernah hamil, hingga membuatnya lebih percaya diri. Atau memang pada dasarnya kehamilan yang kedua ini lebih mudah. Yang pasti ia tak mengalami morning sickness parah seperti saat kehamilan pertama atau HEG. Hanya sesekali mual lalu muntah jika mencium aroma bawang-bawangan dan bau menyengat lain yang asing bagi hidungnya. Diluar itu, ia bisa tetap beraktivitas dengan nyaman, bisa makan dengan porsi banyak tanpa takut muntah.


Hingga suatu hari, Rendra berkata, "Mas Sada ngajak main paralayang."


Ia spontan menjauhkan diri sambil mengkerut, "Kapan?"


"Hari Minggu."


Ia makin mengkerut, karena sekarang adalah Sabtu dini hari.


"Yes and yes?" Rendra memasang wajah senyum sambil menaik-naikkan alis, persis seperti anak kecil yang ingin dibelikan mainan oleh ibunya.


Hari Minggu besok mereka memang belum ada planning, karena syukuran empat bulanan baru akan dilakukan hari Jum'at minggu depan, pas tanggal merah long weekend. Agar Papah Mamah bisa agak lama di Jogjanya. Dan agar Adit, yang excited mau jadi om -lagi- untuk yang kedua kalinya, juga bisa datang dari Bandung.


"Huakhakhakhakhak......," tiba-tiba terdengar suara tangis Arung yang pecah dari dalam kamar.


"Arung bangun," ia bergegas bangkit.


"Huakhakhakhakhak.....," tangis Arung semakin menjadi. Entah mulai sejak kapan, saat bangun tidur dan mengetahui tak ada orang di sekitar, Arung akan menjerit-jerit histeris. Seperti saat ini.


"Gimana? Boleh ya?" Rendra masih menatapnya penuh harap.


"Ntar aku pikirin dulu," jawabnya cepat.


"Huakhakhakhakhakhakhakhak!!!!" jeritan Arung terdengar makin kesal dan frustasi, mungkin menyadari tak seorangpun langsung menghampiri tangisannya.


"I'm begging you," ujar Rendra lagi saat ia menghambur menuju connecting door yang menghubungkan antara ruang kerja Rendra dengan kamar mereka.


Sambil menepuk-nepuk pantat Arung yang sedang nen, ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali Rendra hang out dengan teman-teman. Dan hasilnya adalah, ia tak bisa mengingat satupun. Alias saking terlalu lamanya Rendra tak pernah hang out dengan teman boys will be boys nya.


Futsal, yang biasanya dilakukan rutin dua minggu sekali pun sudah tak pernah lagi Rendra ikuti semenjak ia hamil Arung. Jadi kali ini, tak ada alasan baginya untuk melarang Rendra pergi.


"Hari Minggu Abang pergi jam berapa?" ia bertanya ketika Rendra baru saja merebahkan diri di belakang punggungnya yang masih mengASIhiArung.


"Jam dua an," jawab Rendra. "Kamu berdua sama Arung di rumah nggak papa?" lanjut Rendra lagi.


Karena weekend ini kebetulan jadwal Mba Suko libur dan pulang ke Prambanan.


"Nggak papa. Sebentar ini kan?"


"Jam tujuh an aku udah di rumah lagi."


Ia tersenyum mengangguk, "Have fun ya."


Hari Minggu jam dua lebih sedikit Rendra pamit pergi. Dengan memakai celana jeans dan polo shirt putih, entah mengapa Rendra terlihat jadi lebih tampan berkali lipat.


"Papi pergi main dulu yaa," Rendra menghujani wajah dan seluruh tubuh Arung dengan ciuman. Membuat bayi montok itu tergelak-gelak karena kegelian.


"Abang tunggu di rumah yaa," lanjut Rendra lagi sambil terus menghujani perut Arung dengan ciuman.


"Kekekekeekk.....Kekekekeekk.....," Arung tergelak-gelak sambil memukul-mukul kepala Rendra.


"Abang?" ia mengernyit.


"Iya dong, kan mau punya adik," jawab Rendra yang kini sedang menciumi leher Arung.


"Kekekekeekk.....Kekekekeekk.....," Arung tergelak-gelak sampai menengadahkan kepala saking kegelian.


Ia tersenyum sendiri, Abang Arung.


"Selama Papi pergi Abang jagain Mami dan ade bayi yaa," Rendra menutup hujan ciuman dengan kecupan lembut di kedua pipi montok Arung.


"Bababababababaab.....," Arung mengangguk-anggukkan kepala seolah mengerti.


"Anak pintar," Rendra mengelus kepala Arung. Kemudian beralih memeluknya, "Aku jalan dulu," lalu mencium kedua pipi dan keningnya.


Ia tersenyum, "Have fun Papi!" sambil melambai-lambaikan tangan Arung hingga mobil yang dikemudikan Rendra menghilang di balik tikungan.


***


Rakai


A lazy sunday. Seharian ini praktis ia tak kemana-mana. Hanya berenang sebentar jam sembilanan pagi tadi di kolam renang hotel. Selebihnya bermalas-malasan di kamar bersama seseorang. Melakukan sesuatu yang membuat produksi keringat jadi berlebih. Pastinya sesuatu yang sangat menyenangkan. If you know what i mean.


"Sebelum pulang, anterin ke Mall dong. Ada yang harus kubeli."


"Oke. Sorean ya."


Ia masih menemani gadisnya belanja keperluan rumah bulanan di Hypermart ketika ponsel di saku berdering.


Mas Sada Calling


Tumben-tumbenan nih Mas Sada nelepon saat tak ada kasus yang membelit Rendra ataupun ManjoMaju. "Ya Mas?"


"Lagi dimana?"


Ia mengernyit, "Mall Mas," sambil menyebut nama Mall dimana ia berada. "Kenapa?"


"Rendra jatuh di Parangtritis," sambil menceritakan kronologi kejadian sekaligus menyebut sebuah nama rumah sakit daerah yang terletak paling dekat dengan lokasi.


"Tolong lu kasih tahu istrinya."


"Kalau udah langsung kesini."


Klik.


"Mas....Mas Sada? Halo?!?"


Tak ada pilihan lain. Meski akhirnya membuat mereka bertengkar hebat, namun ia tetap memesankan taxi online untuk mengantar gadisnya pulang. Karena ia jelas tak mungkin memberitahu berita segawat ini kepada Anggi melalui ponsel. Gila apa?! Orang lagi hamil muda dikasih info semengejutkan ini melalui telepon? Bisa-bisa dua hal buruk yang akan terjadi. Yaitu Rendra yang jelas-jelas mengalami kecelakaan, dan Anggi serta calon bayi di dalam perut. Ia tentu harus tetap mampu berpikir taktis.


"Kenapa selalu Rendra? Istrinya Rendra? Anaknya Rendra?!"


Bagian ini yang paling tak disukainya, dengan sikap buruk gadisnya yang satu ini. Tak pernah mau mengerti posisi dan keadaannya.


"Yang jadi pacar kamu itu aku atau Rendra sama istri sama anaknya?!?"


Ia tahu pasti besok pagi mereka akan putus. Kemudian ia akan memulai lagi siklus paling membosankan selama 30 tahun hidup. Yaitu tertarik, kenalan, dekat, tak mau mengerti dirinya, putus. Begitu terus mungkin sampai Arung punya adik selusin. Damned!


Dengan tanpa menghiraukan kemarahan gadisnya yang meledak-ledak di tempat umum, ia langsung tancap gas menuju rumah Rendra. Di tengah perjalanan Mas Sada kembali menelepon.


"Kai, tolong cepat."


"Aku harus bawa anak sama istrinya ke rumah sakit atau gimana Mas?" tanyanya bodoh.


"Cukup istrinya. Rendra jatuh lumayan tinggi....kita nggak pernah tahu sampai kapan bisa bertahan....."


What the hell?! Hari Jumat pagi saat terakhir kali mereka bertemu, Rendra tak mengatakan apapun selain mewanti-wantinya untuk menekan subkon agar menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang telah dijanjikan. And now? Jatuh di Parangtritis? Well the hell done, tuh bocah brengsek udah mau punya anak dua masih aja main-main sama maut.


Dan lidahnya mendadak kelu begitu melihat Anggi membukakan pintu.


"Bang Rakai?"


Ia harus mengatur napas sebelum menjawab.


"Mau nunggu di dalam?" Anggi mempersilahkannya untuk masuk. "Tapi Abang baru pulang jam tujuhan katanya. Bentar lagi."


Ia masuk ke dalam rumah Rendra yang entah mengapa terasa lebih hangat dibanding rumahnya sendiri, dengan masygul sekaligus bingung.


"Arung mana?" ia memanjangkan leher mencari-cari Rendra versi bayi di seantero ruangan.


"Baru aja bobo. Padahal biasanya nggak pernah bobo jam segini," Anggi mempersilahkannya untuk duduk di sofa.


"Mungkin karena tahu Papinya mau pulang jam tujuh. Jadi sekarang bobo dulu, biar nanti puas-puasin main," lanjut Anggi sambil tertawa. Jelas tawa bahagia. Yang semakin membuat lidahnya kehilangan kata-kata.


"Mba Suko mana?" untung otaknya masih bisa berpikir taktis.


"Lagi libur."


"Libur?!?"


Anggi mengernyit melihatnya terkejut.


"Weekend ini jadwal libur," terang Anggi sambil berjalan menuju kulkas dan mengambil sesuatu. "Biasanya datang lagi ke sini jam sembilanan malam."


"Kenapa? Ada perlu sama Mba Suko?" Anggi tambah mengernyit sambil meletakkan sebotol air mineral ke atas meja.


Ia menghembuskan napas berat, "Kalau gitu minta nomernya Mba Suko."


Sambil terus mengernyit dan memperhatikannya dengan pandangan menyelidik, Anggi mengirim nomer Mba Suko ke ponselnya.


Dan ia harus pergi ke teras depan untuk menelepon Mba Suko. Tapi sayang, sudah puluhan kali menelepon, tak ada satupun yang diangkat. Hingga akhirnya harus puas dengan mengirim pesan chat, meminta Mba Suko untuk segera datang ke rumah.


"Nyambung nggak?" tiba-tiba Anggi sudah berdiri di belakangnya.


Ia menggeleng.


Ia hanya mengangguk-angguk sambil mencoba merangkai kata, "Nggi, kita harus pergi."


Anggi melongo, "Kemana?"


Ia baru mau membuka mulut ketika ponselnya kembali berdering.


Mas Sada Calling


"Ya Mas?"


"Rendra ditransfer ke...," sambil menyebut nama salah satu rumah sakit dengan fasilitas terlengkap yang berada di tengah kota.


"Kita ketemu disana."


Ia memandang Anggi yang juga sedang menatapnya curiga.


"Barusan....apa Abang yang nelepon?" selidik Anggi penuh rasa ingin tahu.


Ia menggeleng. "Tapi Rendra titip pesen....kalau kamu....mesti ikut aku sekarang."


Sungguh, untuk saat ini ia tak bisa menemukan padanan kalimat yang simple namun enak didengar.


"Kenapa mesti ikut sama Bang Rakai?"


Anggi yang cerdas jelas tak mau menelan mentah-mentah informasi sepihak darinya.


"Kenapa Abang nggak langsung nelpon ke aku?"


***


Anggi


Sambil memangku Arung yang berceloteh sendiri sampai liurnya menyembur-nyembur, ia mencoba menelepon ponsel Rendra. Ada nada sambung namun tak diangkat. Sementara di samping kanannya Rakai jelas-jelas menyetir dengan gelisah.


"Tatatatatatata....Dadadadadadada...," Arung memukul-mukul tangan yang membuainya dengan jari bercampur liur.


"Ada nada sambung tapi nggak diangkat," ujarnya kearah Rakai yang beberapakali ia pergoki sedang menghembuskan napas berat.


Rakai hanya menggelengkan kepala.


Membuatnya semakin bertanya-tanya apa gerangan yang sedang terjadi. Meski awalnya sempat berpikiran buruk, namun nada sambung dari ponsel Rendra berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua dalam keadaan baik-baik saja.


Ia pun mengingat-ingat hari apa dan tanggal berapakah sekarang? Mungkinkah Rendra tengah menyiapkan kejutan untuk menyenangkan hatinya? Meski caranya sedikit aneh dengan melibatkan Rakai, namun ia tak bisa menafikkan otak kreatif Rendra yang selalu punya cara baru untuk membahagiakannya.


Tapi begitu melihat ke samping kearah Rakai, wajahnya sama sekali tak menampakkan sedang menyimpan kejutan menyenangkan. Karena yang jelas-jelas tertangkap oleh matanya adalah wajah bingung campur ketakutan persis seperti yang pernah dilihatnya di rumah sakit saat Rendra setengah berlari menghampirinya yang masih berbaring lemah di atas hospital bed usai operasi hanya untuk memeluk kemudian berkata lirih, "Be brave....i love you....Rimba udah nggak ada...."


Tidak.


Jangan lagi.


Matanya yang mulai memanas mendadak berkaca-kaca saat Rakai mengarahkan kemudi memasuki halaman parkir rumah sakit.


Ia tak bertanya apapun. Rakai juga tak berusaha menerangkan apapun.


***


Rakai


Ia berjalan tergesa menuju lobby rumah sakit diikuti Anggi yang wajahnya mulai memerah menahan tangis sambil menggendong Arung yang terus saja berceloteh.


"Tatatatatatata....Cacacacacacaca....."


"Duduk dulu," ia meminta Anggi untuk duduk di kursi tunggu lobby. Kemudian berjalan menjauh untuk menelepon Mas Sada.


"Mas, kita udah di lobby. Karena bawa bayi, jadi nggak bisa masuk semua."


Setelah menelepon Mas Sada, ia juga kembali menelepon nomor Mba Suko, yang tetap saja tak diangkat. Membuatnya harus puas hanya dengan mengirim pesan chat, meminta Mba Suko untuk langsung datang ke rumah sakit.


"Arung biar sama aku," ujarnya sambil mengulurkan tangan kearah Rendra versi bayi yang entah mengapa malam ini terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Membuat hatinya tersuat-suat karena Rendra yang asli justru tengah berjuang di ruang ICU.


***


Anggi


Ia berjalan menuju ruang ICU dengan langkah berat seolah kakinya sedang membawa beban puluhan ton. Hingga secepat apapun ia melangkah, ruang ICU justru terasa semakin menjauh.


Akhirnya setelah merasa memutari seluruh rumah sakit, sampailah ia di depan ruang ICU, dimana Mas Sada menyambutnya dengan wajah kaku.


***


Senin, Jam 00.20


Ia duduk termenung di ruang tunggu. Masih kurang 45 menit lagi dari 5 jam waktu operasi yang dijanjikan. Dan itu terasa berabad-abad.


Semalam, dengan diantar Rakai, Arung langsung pulang ke rumah begitu Mba Suko tiba di rumah sakit. Rakai juga yang memberi ide padanya untuk meminta Amin, istri, dan anak-anaknya ikut menemani Mba Suko dan Arung di rumah. Sekaligus menitipkan rumah pada sekuriti kompleks. Hingga ia bisa menunggui Rendra di rumah sakit tanpa rasa waswas. Karena Arung telah berada di rumah dikelilingi oleh orang-orang yang bisa dipercaya.


Dan tadi menurut penuturan cepat Mas Sada, Rendra take off dari bukit Gupita tepat jam 4 sore melewati Parangtritis. Semua berjalan normal sampai sebuah hembusan angin yang cukup kencang mengakibatkan parasut tak dapat berfungsi dengan baik dan tiba-tiba menutup (collapse). Membuat tubuh Rendra terjatuh dari ketinggian sekitar 100 meter. Dan baru ditemukan satu jam kemudian setelah Tim SAR melakukan penyisiran hingga 1 mil dari bibir pantai.


Dokter yang menangani Rendra mengatakan bahwa posisi jatuh yang buruk di daerah sekitar leher, lengan dan punggung Rendra mengakibatkan cedera tulang belakang yang cukup serius. Hingga harus dilakukan operasi agar keseluruhan fungsi motorik dan sensorik Rendra tak terganggu akibat cedera tersebut.


"Minum dulu," seseorang mengangsurkan sebotol air mineral kearahnya. Dan itu adalah Rakai.


"Makasih," ia sampai lupa jam berapa terakhir kali minum. Karena kini kerongkongannya terasa kering dan pedih.


***


Jam 02.00


Operasi Rendra berjalan lancar, namun dari ruang pemulihan Rendra justru harus dirawat di ruang ICU karena terindikasi adanya infeksi dan komplikasi.


***


Jam 05.00


Infeksi dan komplikasi berhasil ditangani, namun Rendra masih harus tetap berada di ruang ICU karena belum sadar.


***


Jam 08.00


Rakai menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, namun ia menolak. Ia takkan bisa memaafkan diri sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Rendra sementara ia tak ada di sampingnya.


***


Jam 09.15


Rendra sadar.


Ia sungguh tak percaya dengan penglihatannya sendiri tatkala melihat kelopak mata Rendra bergerak-gerak untuk kemudian pelan-pelan mulai terbuka.


"Abang?" ia menjatuhkan kepala di samping tempat tidur Rendra sambil berlinang air mata. Mengucap syukur karena masa-masa kritis dan menegangkan telah terlewati.


***


Jam 13.00


Dengan diantar Rakai, ia sempatkan untuk pulang ke rumah. Dimana Mamah telah menunggu dengan wajah cemas. -Entah siapa yang menghubungi Mamah, sepertinya Rakai-


Ia pun langsung menubruk tubuh Mamah dan menenggelamkan diri dalam pelukan yang menentramkan itu.


"Sabar Ndo....sabar....," Mamah mengelus-elus punggungnya yang bergerak naik turun karena terisak-isak.


Ia juga sempatkan untuk memeluk erat Arung selama mungkin. Membuatnya menangis campur tertawa demi melihat Arung terus saja asyik berceloteh sendiri. Sama sekali belum menyadari jika Papinya baru saja melewati fase antara hidup dan mati.


Ia pun memerah ASI meski persediaan ASIPnya di kulkas masih cukup banyak. Karena ia tak tahu sampai kapan berada di ruamah sakit. Memberitahu jadwal makan dan menu Arung seminggu ini kepada Mamah dan Mba Suko. Sebelum kembali ke rumah sakit untuk menemani Rendra.


***


Selasa, Jam 10.00


Karena kondisi Rendra menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, setelah semalaman berada di ruang ICU, tepat jam 10.00 Rendra bisa pindah ke ruang perawatan.


Semoga ini menjadi awal yang baik.


***


Jam 17.10


Ia baru selesai bercakap-cakap dengan perawat yang mengganti infus Rendra, ketika tiba-tiba pandangan matanya mendadak kabur dengan sengatan listrik di sekujur tubuh yang membuatnya seperti melayang di udara. Tidak. Jangan lagi.


***