
Dio
"Anak gue baru dua. Namanya Kaifa sama Lubna. Tuh disana," tunjuk Bayu kearah dua anak kecil perempuan cantik yang sedang bermain ayunan.
"Kalau ibunya anak-anak disana," tunjuk Bayu lagi kearah sebaliknya, dimana seorang wanita berkerudung biru sedang tertawa-tawa dengan Anggi di kursi paling ujung.
"Jangan kebalik ya, Yu. Anak udah dua, istri baru satu," seloroh Chris membuat mereka semua tertawa.
"Bukan gue lho yang ngomong," Bayu ikut berseloroh.
Kini mereka berduabelas tengah duduk mengitari meja panjang yang diatasnya penuh berisi hidangan makanan dan minuman khas daerah.
Ada bakpia, geplak, yangko, intip, keripik welut, keripik tempe sagu, wedhang uwuh yang mewakili Jogja. Lalu ada jenang jaket, mendoan hangat lengkap dengan cabe rawit hijau, nopia, gethuk goreng, dawet ayu** mewakili Purwokerto.
Juga ada amplang, bingka kentang, pisang gapit yang kata Rendra tadi mewakili tanah kelahirannya, Balikpapan. Terakhir ada klappertaart dan panada khas Manado.
Benar-benar pesta meriah.
Bahkan Riyadh yang duduk di sebelahnya, yang sedari tadi asyik sendiri menggambar lansekap di atas kertas HVS, namun mulutnya tak pernah berhenti mengunyah panada dan klappertaart secara bergantian.
Sementara ia, sampai saat ini entah sudah menghabiskan berapa buah mendoan hangat plus cabe rawit hijau saking menikmatinya. Definisi dari lupa diri begitu menemukan makanan favorit.
"Silahkan....silahkan....," ujar Rendra demi melihat piring mendoan di hadapannya telah kosong.
"Masih banyak kok," lanjut Rendra sambil mengangsurkan sepiring penuh mendoan hangat ke arahnya.
"Di Tokyo nggak pernah makan yang begini kan?" seloroh Rendra lagi. Sementara ia hanya tertawa.
"Ada sih tempe, tapi bukan mendoan," ujarnya kearah Rendra yang masih sibuk mendekatkan beberapa piring lain berisi panada dan amplang ke hadapannya.
"Oya? Ada yang jual tempe disana?" Rendra mengernyit.
"Ini, siapa tahu mau nyoba panada khas Manado. Anggi sendiri yang bikin main resepnya biar pas di lidah orang Jogja. Hasil ikut kursus masak," lanjut Rendra sambil terkekeh menyorongkan sepiring panada ikan tuna yang masih hangat.
Ia tersenyum dan mengambil sepotong panada yang menggoda, kemudian menggigitnya. Hmmm lezat. Campuran ikan tuna dan pedasnya menyatu hingga mampu memberikan sensasi beda di lidah. Paduan cita rasa gurih tanpa bau amis ikan pada isiannya dan sedikit rasa manis dari kulit semakin menambah kelezatan.
"Berapa harga tempe disana? Mahal pastinya," Rendra ikut mengambil sepotong panada untuk kemudian memakannya.
"Sekitar 300 Yen per 250 gram."
"Empat puluh ribu lebih?"
"Kadang ada yang sampai dijual enam puluh ribuan."
"Wah," Rendra menggelengkan kepala.
"Prospek bagus kan? Mau nyoba bisnis tempe di Jepang?"
Rendra tertawa. "Gua nggak ada kapasitas di bidang kuliner."
"Ini?" ia menunjuk panada keduanya.
"Ini cuma salah satu kegiatan Anggi buat ngisi waktu luang daripada gabut. Baru nerima pesanan dari teman dekat. Belum go public," seloroh Rendra.
"Padahal enak lho, beneran," ia kini mengambil potongan panada yang ketiga. Panada buatan Anggi benar-benar enak. Karena memang enak betulan atau karena Anggi yang membuat jadi terasa enak? Never know.
Awalnya ia sempat merasa ragu ketika anak-anak membahas reuni temu kangen di grup. Karena ia hampir tak pernah pulang ke tanah air. Bahkan ketika hari raya. Karena pulang selalu mengingatkannya pada momen kehilangan orang-orang tercinta yang menyesakkan dada.
Namun sambutan istrinya yang begitu antusias saat ia menceritakan rencana reuni temu kangen dengan anak-anak Romansa, membuat keraguannya perlahan mulai menguap.
"Kapan lagi, Mas. Sekalian kita memperkenalkan Azami dengan tanah airnya. Mengunjungi keluarga besar."
"Kalau bisa reuninya jadi program rutin tiap tahun, aku mau banget."
Oh, kalau ini sepertinya tak mungkin. Karena mereka berenam telah berkeluarga dan memiliki kesibukan masing-masing. Bahkan mungkin saja reuni kali ini akan menjadi yang pertama sekaligus terakhir. Apalagi sebabnya kalau bukan karena jarak tempat tinggal mereka yang berjauhan. Terpisahkan oleh ruang dan waktu.
"Nanti aku bisa ketemu Anggi disana?"
Pertanyaan terakhir istrinya membuat rasa ragu kembali muncul.
"Kamu nyemangatin aku biar ikut reuni karena ingin aku ketemu teman-teman lama atau karena kamu penasaran pingin ketemu Anggi?"
Istrinya tersenyum malu, "Dua duanya."
"Hanya ingin tahu," ujar istrinya lagi. "Aku tahu kalian sudah lama berpisah. Aku tahu itu hanya masa lalu. Toh kita juga sudah memiliki Azami."
"Haiii, namaku Valdo," lamunannya buyar ketika telinganya menangkap suara khas Fira yang tengah memperkenalkan putranya. Sambil mengangkat tangan anak laki-laki usia empat tahunan kepada semua yang hadir. Namun belum juga mereka membalas lambaian tangan Valdo, bocah lelaki itu sudah keburu menghambur ke lapangan berumput untuk ikut bermain bola dengan anak-anak yang lain.
"Ganteng banget anak lo, Fir," komentar Bayu.
Kali ini ia yakin Bayu sedang bersungguh-sungguh. Valdo memang tampan. Matanya besar dan bersinar serta dihiasi bulu mata tebal. Kesempurnaan bentuk alis, hidung, dan bibir turut membuat wajah Valdo menjadi semakin menawan. Membuat orang tak pernah bosan untuk memperhatikannya.
"Iya dong, plek cetakan bapaknya," seloroh Fira bernada sarkas.
Namun sebelum Bayu dan yang lain kembali menimpali, Chris lebih dulu angkat bicara,
"Sekarang giliran gue. Kalau Bang Riyadh ngasih nama anak semuanya berawalan huruf R, gue besok mau kasih nama anak yang berawalan huruf Z," ujar Chris dengan mimik meyakinkan.
"Biar jadi absen terakhir. Kalau jam pelajaran keburu habis, nggak perlu maju ke depan kelas buat ngerjain soal," seloroh Chris sambil tertawa bangga.
"Yakin anak gue kelak pasti sangat berterimakasih sama gue karena telah memberi nama dengan huruf awal yang sangat menguntungkan."
Ia hanya menggelengkan kepala. Chris yang baru sebulan lalu resmi mengantongi gelar SP.JP, spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah. Sekaligus menjadi direktur di salah satu Rumah Sakit milik Pemerintah. Tapi kalau sudah ngumpul begini bocornya tak pernah hilang. Somethings never change.
"Emang lo udah punya berapa daftar nama berawalan Z?" sela Bayu.
"Zachary, Zared, Zefano, Zimra, Zeonathan, Za...."
"Emang mo punya anak berapa banyak banget?" Fira mengernyit.
"Lho, Anggi aja lima," Chris balas mengernyit. "Gua paling minim juga lima lah. Masa kalah sama cewek."
"Jangan kek Bayu sama Dio. Tinggal aja gaya di luar negeri, permanent resident. Tapi mau punya anak aja pakai mikir-mikir dulu."
"Ntar kalau stok nama inceran lo ternyata udah habis, jangan-jangan anak lo dinamain Zombie atau Zerapah," cibir Bayu.
Namun Chris hanya mencibir, tak berniat meladeni Bayu. Lebih memilih untuk mengatakan, "Dio dong, perkenalan. Perasaan di lihat-lihat dari tadi ngganyem (makan) melulu."
Ia hanya tertawa. "Jangan pakai perasaan. Nanti kecewa."
"Wah, ini nih...," Bayu ikut tertawa. "Ini nih!"
"Come on Prof!" Chris melempar spotlight kearahnya.
"Anak gue baru satu, namanya Azami," akhirnya ia berkata sambil menunjuk putri kecilnya yang tengah duduk di pangkuan Anggi.
"Yang artinya?" sela Chris.
"Azami menurut huruf Hiragana dan Katakana artinya sama, yaitu cantik....."
"Secantik yang punya nama," ujar Chris sambil manggut-manggut.
"Kalau istri yang mana?" Bayu bertanya tanpa melihat kearahnya.
"Awas jangan salah tunjuk, ntar pecah world war 3," lanjut Bayu lagi dengan suara sedikit dikecilkan namun masih tetap bisa didengar oleh semua yang ada disana.
Ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum getir karena memang istrinya duduk tepat di sebelah Anggi.
"Bayu nih temen lucknut," gerutu Fira sambil melototi Bayu yang memasang watados, wajah tanpa dosa.
"Mulut lo kek rawon setan," Fira masih menggerutu.
"Lho, ya emang," Bayu mengangkat bahu tak merasa bersalah. "Ntar kalau salah tunjuk kan bisa berabe."
Ia masih menggelengkan kepala ketika sebuah tangan menepuk bahunya lumayan keras.
"Udah setua ini apa sih yang dicari. Ye nggak?" Rendra terkekeh sambil terus menepuk bahunya. Sementara di seberang sana istrinya hanya tersenyum simpul.
"Wah, aura wise Kajur (kepala jurusan) kuat banget nih," seloroh Chris. "Eh, Kajur bener kan Nggi?" Chris beralih kearah Anggi yang juga sedang mencibir sebal kearah Bayu. Tak memperhatikan pertanyaan Chris.
Obrolan diselingi saling cela masih berlanjut, sementara ia kembali disibukkan dengan memakan cemilan yang ada di atas meja. Sambil sesekali ngobrol dengan Rendra dan Riyadh yang terus saja asyik menggambar.
"Nih, udah jadi," Riyadh menggeser kertas HVS yang sejak tadi digambarinya tepat di hadapannya. Sepertinya berniat memperlihatkan kepada Rendra. Ia pun sedikit menggeser kertas tersebut agar bisa dilihat dengan jelas oleh Rendra.
"One stop learning, solution for all education needs," ujar Riyadh lagi.
Ia jadi ikut tertarik untuk melihat lansekap hasil gambar Riyadh di atas kertas HVS tersebut.
"Memenuhi standar green and sustainable building. Reduce, reuse, recycle."
"Lokasi tanah lu ini ideal banget. Bisa kita maksimalkan untuk membuat bangunan yang memenuhi unsur estetis, kuat secara struktur, namun fungsional dan tetap memperhatikan sisi kenyamanan."
"Ini semua bambu?" Rendra memperhatikan gambar design bangunan di tengah lansekap dengan seksama.
"Yes."
"Atap tinggi, jendela besar di tiap sisi, memenuhi syarat hemat energi. Lu nggak perlu penerangan listrik kalau siang. Karena cahaya matahari bisa masuk dengan maksimal."
"Shading ini akan membuat sinar matahari yang masuk nggak bikin silau atau panas."
"Terus gua rekomendasi penggunaan panel surya."
Ia baru tahu, Rendra memiliki rencana besar yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya. Memaksimalkan potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk memajukan sekitar. Pemikiran luar biasa sekaligus mulia.
"Sisi lansekap dan bangunan oke nih udah ada ahlinya," seloroh Rendra kearah Riyadh. "Sekarang tinggal matengin konsep."
"Mereka bisa menghasilkan SDM yang pintar, sopan, jujur, pekerja keras, efisien."
"Menurut lu sistem mereka bisa kita adaptasi disini nggak sih?"
"Bisa. Tapi mungkin memerlukan waktu untuk proses adaptasi."
Ia kemudian mencoba menceritakan sekelumit pengetahuan tentang pendidikan orang Jepang.
"Mereka percaya kalau tujuan utama dari tiga tahun pertama di sekolah bukan nilai akademis yang bagus."
"Mereka lebih mementingkan sikap yang baik."
Ia menjelaskan bagaimana siswa diajarkan untuk menghormati orang lain, memperlakukan hewan dan alam dengan baik, berlaku dermawan, berempati, punya rasa kasih sayang. Juga diajarkan untuk memiliki kedisiplinan, kemandirian, keberanian dan pengendalian diri.
Tak lupa ia menceritakan contoh kecil yang sering dialaminya, yang menurutnya buah dari kedisiplinan dan rasa kasih sayang yang dipupuk sejak dini. Yaitu saat anak-anak usia sekolah dasar akan menyeberangi jalan raya, maka semua pengendara akan berhenti dan memberi kesempatan pada mereka. Bahkan meski anak-anak tersebut jaraknya masih cukup jauh, beberapa pengendara lebih memilih untuk berhenti dan menunggu anak-anak lewat.
"Dan gue nggak akan pernah ngijinin anak gue yang masih SD jalan kaki sendiri pulang sekolah lewat pinggir jalan," ujar Chris yakin.
"Ngeri bo bisa-bisa diseruduk mobil sejuta umat yang supirnya ugal-ugalan. Atau malah kena todong senpi," lanjut Chris lagi.
"Ah elah, yang ditodong senpi kan bocah SMA. Lagian itu di Jekardah dan by case," cibir Bayu. "Lah elo kan tinggal di kota kecil."
"Intinya oh tak mungkiiin ada pengendara yang mau nungguin anak SD lewat. Ada sih, cuma bisa dihitung sama jari," cibir Chris.
"Tapi lo terlalu idealis nggak sih, Ren?" Bayu mengernyit.
"Nah itu dia!" Rakai ikut angkat bicara. "Hari gini mau ngasih fasilitas premium tapi for free. Nggak masuk," Rakai menggelengkan kepala.
"Pendidikan bagus itu jelas berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan," ujar Bayu lagi.
"It's all about money," tambah Bayu yakin.
"Rendra kalau ada maunya pasti hajar bleh," seloroh Riyadh.
"Tapi ntar lo keteteran sendiri," Bayu tetap menggeleng. "Habis waktu ngurus hal teknis."
"Intinya mesti punya sistem pendanaan yang kuat," sambung Riyadh.
"Nah, kalau begini lain lagi ceritanya," timpal Bayu.
"Nah," Chris ikut menyela. "Lo sebagai orang oil company banyak dong link sosialita kelebihan duid buat dialokasikan ke program ini."
"Chris...i adore you!" tunjuk Rendra kearah Chris senang.
"Ah, gue mah cuma level cungpret," Bayu mencibir.
"Cungpret world wide pasti beda lah," sela Chris lagi.
"Tapi gue yakin lo bisa wujudin ini, Ren," ujarnya ketika Bayu dan Chris masih sibuk meributkan tentang pendidikan bagus dan biaya mahal.
"Memang butuh waktu, tapi suatu saat impian lo ini bakal terwujud," ia kemudian menyoroti aktivitas di sekitar kawasan rumah Rendra yang bisa menjadi sumber penghasilan agar bisa mandiri.
"Daripada bingung soal teknis kayak begini, mending lo terjun langsung sebagai perumus kebijakan. Iya nggak sih?" Bayu masih tetap tak yakin.
"Maksudnya?" Rendra mengernyit.
"Lo terjun langsung lah di pemerintahan. Nyalon bupati kek, jadi anggota dewan kek."
"Birokrasi is a cruel world," Rendra terbahak sambil menggeleng.
"Padahal lo punya modal," Bayu mengkerut. "Jaringan luas. Dari pengusaha sampai akademisi. Oh, come on."
"Enggak Yu," Rendra masih tertawa. "Jadi orang pemerintahan not my type."
"Lho, daripada yang duduk di sana orang-orang yang sama sekali nggak kompeten, nggak punya kapabilitas, lama-lama bisa hancur kita," kali ini mimik Bayu berubah serius.
"Gua masih duduk disini nih," seloroh Riyadh.
"Sori bos," Bayu memberi tanda hormat. "Except you."
"Politic is a dirty shit," Chris menggeleng. "Not recommended, Ren."
"Persepsi itu!" Bayu tak mau kalah. "Yang kotor bukan politiknya tapi orang-orangnya."
"Sama aja toh," Chris mengendikkan bahu.
"Soe Hok Gie bilang politik barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor," desisnya pelan.
"Nah!" Chris menunjuknya senang. "Totally agree."
"Heiiii, bapak-bapak!" panggil Fira dengan suara kesal. "Anak-anak udah mulai cranky nih. Kalian lagi ngobrol apa sih sampai lupa anak istri?!?"
Disusul Anggi yang mendekati Rendra, "Bang, makan dulu. Anak-anak udah pada lapar."
Rendra tersenyum mengangguk, "Oke."
Sementara ia dan Anggi yang sempat tak sengaja bersitatap, hanya bisa saling melempar senyum kaku.
"Silahkan....silahkan.....," Rendra mempersilahkan mereka semua menuju tenda yang terletak di sisi kolam renang. Dimana sebuah meja panjang berisi aneka macam hidangan telah menyambut mereka.
Ada nasi Gudeg tentu saja, Pecel, Soto Sokaraja -my favorite, batinnya senang-, kepiting saos Padang, Rendang, pesmol ikan mas, nasi liwet lengkap dengan lauknya, juga beberapa makanan lain yang pastinya disukai oleh anak-anak.
"Wah, ini sih hajatan ya Nggi?" seloroh Chris.
"Atau syukuran sunatan nih jangan-jangan?" selidik Bayu. "Arung!" panggilnya kearah anak sulung Anggi yang sedang bercerita dan tertawa-tawa dengan anak-anak lainnya.
"Iya Om?" Arung mendekat.
"Arung habis disunat?" tanya Bayu.
"Udah lama waktu kelas satu," jawab Arung.
"Saga malah waktu masih TK bareng sama aku," tunjuk Arung kearah adiknya.
"Ya udah sana main lagi," Bayu tersenyum sambil mengusap kepala Arung.
Sambil menikmati hidangan mereka kembali ngobrol. Kali ini ia kebagian duduk di sebelah Chris yang berbisik pelan, "Anak lo lengket banget sama Anggi. Dari tadi perasaan gue lihat dipangku Anggi melulu."
Ia hanya mendesis sambil lalu.
"Like father like daughter nggak sih?" lanjut Chris lagi. "Sama-sama me...."
Ia buru-buru mengangkat sendok lalu diarahkan ke wajah Chris sambil mendecih sebal.
Membuat Chris terkekeh, "Ah elah, sensi banget bro. Tuh lihat istri lo juga dari tadi bisik-bisik terus sama Anggi. Curiga nggak sih lo kalau mere....."
Ia kembali mengangkat sendok untuk mengancam Chris agar menutup mulut.
"Rendra juga dari tadi mepetin lo terus," namun Chris benar-benar bebal, terus saja bicara.
"Jangan-jangan ini konspirasi mereka berdua, Rendra sama istri lo. Sama-sama mepetin lo sama Anggi biar kalian berdua nggak ada kesempatan unt...."
"Menurut lo siapa yang paling berpotensi kena serangan jantung?" tanyanya sebal.
"Orang-orang dengan perilaku da...."
"Nah!" ia semakin mendesis sebal.
"Sialan!" gerutu Chris tak kalah kesal lalu memakan kepiting saos Padang yang ada di atas piringnya dengan lahap.
Sambil menghabiskan Soto Sokaraja di dalam mangkok, dari tempatnya duduk jelas terlihat istrinya yang kini sedang mengawasi Azami makan buah-buahan di atas high chair. Sambil bercakap-cakap dengan Anggi yang tengah membuai salah satu anak kembarnya yang baru berusia empat bulan.
Sesekali dua wanita itu saling berbisik dan tertawa kecil. Sepertinya sedang membahas hal yang sangat menarik. Pemandangan menyenangkan yang membuatnya tersenyum sendiri.
"Kayaknya mereka berdua lagi ngomongin elo deh," kali ini Bayu yang mendekat sambil menunjuk kearah istrinya dan Anggi yang kini sedang tertawa bersama.
Ia tertawa getir sambil mengangkat bahu.
"Serem nggak sih lihat mereka berdua akrab begitu," kini Bayu mengernyit. "Hati-hati lo, ntar pulang dari sini bisa-bisa di....kkekk," sambil mempraktekkan gaya leher dipotong.
Namun ia hanya menggelengkan kepala sambil mendesis sebal.
Meski begitu hatinya merasa sangat lega, karena melihat Anggi sekarang yang begitu bahagia. Kamu memang harus bahagia, Nggi. You deserves it all.
***
Keterangan :
Lansekap. : tata ruang di luar gedung
Hiragana. : huruf yang digunakan untuk menulis kata-kata yang berasal dari Jepang asli
Katakana. : huruf yang digunakan untuk menulis kata-kata yang berasal dari luar bahasa Jepang atau kata-kata serapan
Misalnya kalau kita (orang Indonesia) ingin menulis nama dalam huruf Jepang, maka kita menggunakan huruf Katakana.
Tapi, kalau orang Jepang asli, mereka akan menuliskan nama mereka dengan menggunakan huruf Hiragana.
Panel Surya. : adalah alat yang terdiri dari sel surya yang mengubah cahaya menjadi listrik
Cungpret. : kacung kampret, pegawai biasa
**Dawet ayu adalah minuman khas Banjarnegara, sebuah Kabupaten di Jawa Tengah, yang juga termasuk eks Karesidenan Banyumas bersama Kab. Banyumas (dengan ibukota Kabupaten adalah Purwokerto), Kab. Banjarnegara, Kab. Purbalingga, dan Kab. Cilacap