Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
47. Feels Like Yesterday



Anggi


Ia sedang menyusui Pingkan sementara Aksa telah terlelap ketika telinganya menangkap langkah kaki Mba Suko berjalan mendekat sambil berbicara dan tertawa dengan seseorang.


"Inne?" serunya girang ketika melihat kemunculan Inne di ruang tengah. Tersenyum lebar sambil menghambur ke arahnya.


Dengan gerakan perlahan ia melepas Pingkan yang telah terlelap, lalu menidurkannnya di atas Bouncer.


"Kangen bangeeeet," ujar mereka hampir bersamaan saat berpelukan.


"Ini hampersnya disimpan dimana Mba Anggi?" Mba Suko yang masih berdiri disana menyela. "Hampers dari Mba Inne."


"Repot-repot segala Ne."


"Spesial buat keluarga Darmastawa," Inne tersenyum. "Semoga kepakai ya."


"Makasih banyak," ia tersenyum haru, kemudian beralih kearah Mba Suko. "Boleh disimpan di meja. Makasih ya Mba Suko."


"Siaaap," Mba Suko beranjak untuk menyimpan hampers.


Kini perhatiannya beralih pada gadis kecil cantik yang sejak tadi mengulum senyum, "Eh, halooo...yang cantik ini pasti Rayna yaaa."


Rayna tersenyum mengangguk sambil meraih tangannya untuk memberi salam.


"Gen Bang Riyadh kuat banget nih. Perpaduan Manado-Padang asli."


"Emang aku cuman buat numpang ngelahirin doang."


"Bentar lagi kalian berdua bakalan pusing punya anak secantik ini."


Inne hanya tertawa, "Lebay ah."


"Udah jangkung banget Rayna. Bukannya dulu jarak kita lahiran nggak beda jauh?"


Inne mengangguk, "Iya selisih dua mingguan sama kamu pas lahirin Arung."


"Kelas berapa sayang?" tanya Anggi kearah Rayna.


"Dua," jawab Rayna.


"Dua SD apa SMP?" selorohnya membuat Rayna tertawa.


"Sama dengan anak Onti yang lagi main bola tuh disana. Tadi udah ketemu belum?"


Rayna menggeleng.


"Tapi kalau sama Onti Anggi masih ingat kan?"


"Kita dulu pernah ketemu di Bandung, di rumah Rayna, waktu Rayna masih segini nih," ia meletakkan tangan setinggi dada.


"Lupa," jawab Rayna sambil meringis. "Rumah aku kan sekarang di Jakarta."


"Oh iya, udah pindah ya," ia menepuk dahi. Kunjungannya ke rumah Inne memang sudah lama sekali, bertepatan waktunya saat menghadiri resepsi pernikahan Bayu.


"Aku lupa tapi tahu kalau wajah Onti ada di foto Bunda," lanjut Rayna yakin.


"Foto?" ia mengernyit.


"Itu, foto kita berenam habis perpisahan sekolah. Kupajang di workshop. Buat pengingat kalau pernah muda," seloroh Inne.


"Oh," ia ber oh panjang. "Aku punyanya foto kita berenam pas pulang ekskul di depan gerbang sekolah," tunjuknya kearah deretan foto yang terpasang di salah satu dinding ruang tengah.


Inne mengernyit sambil beranjak untuk melihat foto dari jarak yang lebih dekat, kemudian berkata, "Wah, yang ini malah aku nggak punya. Mau dong. Masih ada file nya nggak?"


"Masih. Kita barter ya. Aku juga mau foto yang perpisahan."


"Oke."


"Eh, satu lagi mana? Ryden ya?"


"Udah diajak main bola sama anak-anak kamu tuh di lapang."


Lalu mereka berdua tertawa.


"Rayna boleh duduk sini sayang," ia menunjuk deretan sofa di ruang tengah. "Kalau bosan bisa baca-baca buku tuh disana," tunjuknya ke salah satu sudut ruang tengah dimana terdapat rak buku setinggi langit-langit berisi koleksi buku anak-anak.


"Kalau lapar boleh ambil semua yang ada," lanjutnya lagi sambil menunjuk meja yang dipenuhi oleh kue dan snack.


"Atau mau main di halaman belakang juga boleh."


Rayna mengangguk. "Bun, aku mau lihat-lihat buku," sambil menunjuk deretan rak buku.


"Iya sayang," Inne balas mengangguk.


"Kangeen, Ne," ujarnya setelah Rayna beranjak ke mini library.


"Bangeeet," jawab Inne yang kembali memeluknya.


"Banyaak cerita," matanya mendadak menghangat demi mengingat 7 tahun perjalanan pernikahannya yang naik, turun, terhempas, seperti sedang menaiki wahana Halilintar.


"Aku jugaa," Inne menggenggam tangannya erat. "Eh, Fira jadi datang kan?"


"Jadi lah. Kali ini kita full team berenam," ujarnya sambil tersenyum.


"Fira baru berangkat Subuh dari rumah. Masih ada kerjaan sampai tadi malam katanya. Padahal udah kubilang biar nginap disini."


"Fira udah nerima kerjaan?"


Ia mengangguk, "Kenapa gitu?"


"Dulu kita berdua sering telepon-teleponan habis kejadian itu, dia bilang mau nyoba hal lain buat proses healing," Inne mengernyit heran. "Kok sekarang udah nerima kerjaan lagi?"


"Iya, Fira lama diam di rumah habis kejadian itu. Wajar lah, siapapun juga bakal trauma kalau jadi Fira."


"Untung yang sekarang jadi suaminya paham betul siapa Fira. Kalau bukan karena support suaminya, berat sih."


"Ini dia juga maksain. Katanya buat ngisi waktu luang sama ngasah skill gambar biar nggak gabut-gabut amat."


Inne mengangguk mengerti, untuk kemudian menerawang, "Pernah mikir nggak sih kalau menjalani hidup tuh ibarat kita dilepas ke hutan belantara. Cuma punya bekal keyakinan, tekad, dan akal sehat. Tanpa tahu di depan bakal ketemu apa atau siapa. Semua masih misteri."


Ia juga mengangguk, "Iya, nggak ada satupun manusia di dunia ini yang bisa tahu, apa yang akan dialami, bahkan satu detik ke depan."


"Meski satu sisi kita dibekali akal untuk memilih jalan terbaik," lanjut Inne. "Tapi tetap aja, setelah kita memilih jalan yang menurut kita adalah yang terbaik, semua masih misterius."


"Kita nggak pernah tahu apakah pilihan kita memang yang terbaik, sampai ketemu tantangan lain."


"Kita baru tahu bahwa yang kita pilih adalah yang terbaik, saat kita bisa menghadapi tantangan lain itu, bukannya lari atau terpuruk."


Ia tersenyum, "Hidup jelas nggak pernah mudah. Kadang malah membosankan."


"Bosan hidup?" seloroh Inne.


"Bosan dengan rutinitas hidup," ralatnya sambil tertawa kecil. "Iya nggak, kamu pernah ngerasa nggak? Bosan dengan ritme hidup yang muter begituuu terus kayak lingkaran."


"Ini curcol bukan sih," Inne tertawa.


Ia ikut tertawa, "Dikiiit."


"Rendra masih bermasalah sama keluarga besarnya?"


"Masalah pasti ada. Kadarnya yang berbeda."


"Tapi....kalian aman kan?"


Ia mengangguk, "Udah nggak seekstrim dulu. Apalagi dua tahun terakhir, meski belum semua tapi sebagian besar anggota keluarga mulai melunak. Mungkin udah membuktikan dengan mata kepala sendiri kalau Rendra bisa bertindak adil."


"Syukurlah. Sekarang kamu bisa tenang besarin anak-anak yang segambreng itu."


Ia tertawa, "Ya pastinya tiap ngerasa cape, ada aja tantangan baru. Gitu terus sambil berusaha jadi versi terbaik diri kita."


"Tapi bukan hal mudah, Nggi. Perlu banyak input positif dan tekad kuat."


"Iya juga sih, yang penting terus berusaha jadi orang baik."


"Baik without standard** seringnya bikin nyesek, Nggi. Sekarang banyak orang-orang mati rasa yang nggak tahu malu."


Ia tertawa, "Ya baik yang gimana dulu. Kalau hak kita dilanggar ya action dong."


"Eh sebentar, kita lagi ngomongin hal yang sama bukan sih?"


Ia kembali tertawa, "Kenapa? Banyak yang gangguin Bang Riyadh?"


Inne mendesah, "You know me so well."


Kali ini ia tergelak, "Jadi yang dimaksud misteri itu cewek-cewek di luaran sana yang godain Bang Riyadh?"


"Tapi kalian baik-baik aja kan?"


Inne mengangguk, "Sejak Rayna lahir, terus disusul Ryden, Abang yang terbaik. Bener-bener belajar dari masa lalu."


Ia tersenyum lalu menggenggam tangan Inne, "Bahagia selalu, Ne. Perjalanan kalian berdua selalu jadi inspirasi buat aku sama Fira."


Inne ikut tersenyum, "Kita saling doa ya."


Mereka kemudian kembali berbagi cerita tentang keluarga, anak-anak, sekolah, sampai hal-hal lucu masa sekolah yang membuat mereka terpingkal-pingkal.


Saat tengah asyik membicarakan Bayu dan Dio yang kini menetap di luar, seseorang memasuki ruang tengah.


"Halo Mba," sapa istri Rakai.


"Eh, Anwa....sini sayang," ia melambai kearah Anwa yang berjalan di sebelah istri Rakai.


"Kenalin ini istrinya Bang Rakai, sepupu Rendra," ujarnya kearah Inne.


"Sengaja diajak gabung karena Bang Rakai ada perlu sama suami kamu katanya," lanjutnya lagi membuat Inne ber oh panjang. "Masalah kerjaan biasa."


"Iya ih gabung aja. Biar tambah rame," Inne lalu berpelukan dan cipika cipiki dengan istri Rakai.


"Jadi seru kan. Yang penting jangan kaget aja lihat kita-kita pada absurd kalau udah ngumpul," seloroh Inne.


Namun ia menggeleng, "Sekarang pada jaim kayaknya, Ne. Terutama cowok-cowok. Ada istri masing-masing soalnya. Ntar kalau terlalu heboh bisa nggak dikasih jatah."


Membuat mereka bertiga tergelak. Kemudian obrolan ngobrol ngidul khas emak-emak pun berlanjut. Apalagi kalau bukan tentang anak dan printilannya.


"Eh, cowok-cowok masih pada di luar?" ia mengernyit heran menyadari suasana halaman belakang rumah tempat diadakannya acara masih sepi. Hanya terlihat Amin dan beberapa anak ManjoMaju yang sesekali lewat.


"Tahu tuh masih pada ngobrol," jawab istri Rakai. "Padahal jadwal Diga makan cemilan jam segini."


"Oh, ya udah, biar aku aja yang ambil Diga," tawarnya diikuti anggukan setuju istri Rakai.


"Abang kalau nggak diingatin pasti asyik ngobrol kalau udah ketemu orang nih," ujarnya menggelengkan kepala sambil beranjak keluar.


Ia hanya sebentar diluar, mengingatkan Rendra untuk membawa para tamu masuk ke dalam, sekaligus mengambil Diga dari buaian Rakai.


"Sini biar aku aja yang nyuapin Diga," ujarnya seraya mengambil mangkok berisi biskuit bayi yang telah dilumatkan dari tangan istri Rakai.


Kemudian ia mulai menyuapi Diga yang beberapa kali melakukan GTM (gerakan tutup mulut).


"Kayaknya nggak suka biskuit yang ini kali ya Mba?" heran istri Rakai. "Tiap dikasih pasti GTM. Padahal kalau pure apa nasi tim lahap banget."


Membuat mereka bertiga akhirnya kembali membahas menu makanan yang paling disukai oleh anak-anak.


Ia masih menyuapi Diga yang acara makannya lumayan memakan waktu, sementara Inne dan istri Rakai masih ngobrol tentang tumbuh kembang anak ketika tiba-tiba suara Rendra mampir di telinganya.


"Nggi, ada yang nyari nih. Tamu jauh."


Refleks ia menoleh ke belakang, dimana Rendra tengah berjalan menghampirinya dengan senyum terkembang. Diikuti oleh sepasang suami istri yang juga tersenyum kearahnya.


Tak salah lagi, itu Dio.


Dengan kacamata khas tanpa bingkai, wajah yang masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu.


--Kapan dan dimana ya terakhir kali mereka bertemu? Apa di Stasiun Tugu saat Dio memutuskan hubungan mereka?


Oh, bukan, mereka masih sempat bertemu di resepsi pernikahannya. Tapi di resepsi pernikahan ia tak memiliki kesempatan berdua dengan Dio. Hanya sesekali sempat melihat sekelebatan bayangan Dio yang sedang ngobrol dengan Adit di salah satu sudut ballroom.


Lalu saat resepsi pernikahan Bayu, Fira, dan Chris, Dio tak pernah sekalipun hadir karena masih studi di US, tak bisa pulang.


Jadi kapan terakhir kali ia bisa melihat wajah Dio sejelas ini?


Apakah benar di Stasiun Tugu? Dan itu sudah lebih dari 10 tahun berlalu. Tapi kenapa wajah Dio masih tetap sama? Tak ada yang berubah.


Sekarang meski telah menggendong seorang batita cantik di lengan kanan, Dio lebih pantas dianggap Om dari batita tersebut dibanding menjadi ayahnya--


"Kok malah bengong," seloroh Rendra yang telah berdiri di sebelahnya.


"Apakabar Dio?" justru Inne yang menyapa lebih dulu. Bersalaman dengan Dio dan istrinya.


"Wajah kamu masih tetap sama dari dulu nggak berubah," seloroh Inne diikuti tawa renyah Dio.


Tuh kan, Inne juga berpendapat sama sepertinya, kalau Dio sama sekali tak berubah secara fisik. Hmm, apakah tingkat kecerdasan seseorang berbanding terbalik dengan pertambahan usia. Semakin kecerdasan bertambah, justru semakin muda penampilan fisiknya.


Atau tingkat kebahagiaan yang berbanding lurus dengan kondisi fisik seseorang. Semakin bahagia, semakin fresh pula orang tersebut. Bahagia lahir bathin.


Membuatnya tersenyum senang, syukurlah kamu bahagia Dio. Karena kamu memang harus bahagia.


Setelah menyerahkan mangkok berisi biskuit lu mat milik Diga kepada istri Rakai, ia pun berdiri lalu berjalan mendekati Dio dan istrinya.


"Jauh-jauh dari Tokyo ke Jogja, cuma mau ketemu sama kamu lho," seloroh Rendra yang kini telah merengkuh bahunya lembut.


"Ah, masa?" ia mengernyit. Namun Dio dan istrinya tersenyum mengangguk.


"Apakabar, Nggi? Kenalin ini istriku....."


Ia lalu bersalaman dengan istri Dio yang cantik, lembut, dan terlihat menyenangkan. Diam-diam ia kembali bersyukur dalam hati, Dio telah menemukan kebahagiaannya sendiri. You deserves it, Dio.


"Kalau yang cantik ini siapa namanya?" ujarnya beralih kearah batita cantik yang sedari tadi menggelayut di lengan Dio.


"Azami," jawab Dio sambil tersenyum memandangi putrinya.


"Halo Azami, ikut sama Tante yuk," ia mengulurkan tangan. Diluar dugaan Azami langsung menyambut ajakannya dengan senang hati.


"Wah, Azami cantik dan pintar ya," ujarnya senang karena ajakannya disambut gembira oleh batita cantik itu.


"Suka cokelat nggak? Tuh Tante punya banyak cokelat," ujarnya sambil menunjuk kearah meja yang di penuhi oleh kue dan snack.


"Eh, boleh makan cokelat nggak?" ia mendadak teringat sesuatu lalu melihat kearah Dio dan istrinya bergantian, meminta persetujuan.


"Boleh," jawab istri Dio sambil tersenyum. Diikuti anggukan kepala Dio.


Ia ikut tersenyum, "Asyiiik, Azami boleh makan cokelat. Yuk kita pilih yang mana yang Azami suka."


"Atau mau biskuit?"


Saat ia tengah menawarkan snack kepada Azami yang berbinar-binar, Rendra berkata,


"Oke, gua lihat ke belakang dulu. Sepertinya ada tamu yang baru datang," sambil menunjuk ke arah halaman belakang yang jelas terlihat dari tempat mereka berdiri. Menampakkan Chris yang tengah bersalaman dengan semua orang sambil tertawa-tawa.


"Aku juga," Dio menyusul Rendra.


Kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju halaman belakang sambil saling menonjok lengan. Diakhiri dengan rangkulan Rendra ke bahu Dio.


Pemandangan paling aneh yang membuatnya hampir tertawa. Feels like yesterday.


Sambil membantu Azami memilih snack yang diinginkan, angannya melayang pada suatu waktu di masa silam,


"Wah, udah siap?" Dio tersenyum. "Lama nunggunya?"


Ia tersenyum sambil menggeleng, berusaha mengabaikan Rendra yang jelas-jelas sedang memelototi Dio dari atas sampai bawah.


"Kamu....lagi ada tamu?" Dio menyadari kehadiran Rendra yang masih memelototinya tanpa ampun.


"Enggak....udah mau pulang kok," ia kembali mencoba tersenyum, bingung harus melakukan apa.


"Siapa bilang, gua baru aja nyampai," sahut Rendra cepat dan tajam, membuatnya berdecak sebal. No no no.


Tanpa sadar pandangan matanya mengarah ke halaman belakang, dimana Rendra dan Dio tengah sama-sama tergelak diantara yang lain. Seolah tak pernah ada hal menyakitkan yang terjadi diantara mereka. Semua terlihat baik-baik saja.


'Because we had some good times,


But they don't last forever


We seemed to grow apart,


It never got much better


Oh it's good to see your face,


But I know things won't change


Though you seem so far away


Feels like yesterday'


(American Authors, Feels Like Yesterday)


***