
Rendra
Ia sedang memberitahu Amin tentang apa saja yang harus dilakukan selama acara berlangsung ketika sebuah MPV boxy bergaya sporty warna hitam metalik memasuki halaman depan. Diikuti dengan munculnya seorang bertubuh tegap yang beberapa kali pernah dilihatnya muncul di layar televisi.
"Assalamualaikum!" ujar orang tersebut sambil menuntun seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahunan.
"Wa'alaikumsalam!" jawabnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Sugeng rawuh (selamat datang) di gubuk kami!"
Tamu pertama, Inne dan Riyadh -yang sekarang tengah menjabat sebagai Dirjen di salah satu **Kementeri**an - beserta dua anak mereka, Rayna dan Ryden.
"Gubuk kesannya menderita banget nih. Can't relate," Riyadh meninju lengannya sambil tertawa.
"Oh, beda Bang. Kalau yang ini gubuk penuh cinta dan kehangatan," jawabnya disusul derai tawa mereka berdua.
Ini memang bukan pertemuan pertama mereka. Awalnya jelas saat Riyadh hadir di resepsi pernikahannya hampir 8 tahun silam. Namun saat itu mereka hanya sempat mengobrol basa-basi, cukup untuk tahu bahwa leluhur mereka berasal dari daerah yang sama. Ya, ayah Riyadh yang purnawirawan Letjen TNI adalah generasi Dotulong. Sementara ia memiliki darah Kalesaran dari Mama. Torang samua basudara, sama-sama memiliki darah Manado. Membuat mereka seolah memiliki ikatan tersendiri.
Setelah itu, beberapa kali ia kembali bertemu dengan Riyadh di sebuah meeting resmi. Saat masih disibukkan oleh hiruk pikuk ManjoMaju. Dengan posisi Riyadh sebagai staf ahli seseKementerian.
Riyadh pula yang menjadi orang pertama yang mengenalkan ManjoMaju dengan PARA Group. Perusahaan konglomerasi dengan unit usaha di bidang developer, properti, hotel, penyiaran, gaya hidup, hiburan dan otomotif. Lebih karena CEO PARA Group adalah teman sekolah Riyadh. Kebetulan yang menyenangkan bukan? Begitulah, chanel dan link kadang terbentuk begitu saja tanpa perencanaan. Sampai saat ini di era kepemimpinan Rakai, kerjasama ManjoMaju dan PARA Group masih terus berjalan.
"Kami jadi yang pertama nih kayaknya?" seloroh Riyadh demi melihat halaman depan masih kosong, baru terisi oleh kendaraannya.
"Calon pemimpin bangsa memang beda. Selalu terdepan dalam memberi tauladan," ia ikut berseloroh, bersamaan dengan anak-anaknya yang datang berhamburan.
"Jadi kapan dipanggil Pak Presiden buat jadi menteri?" selorohnya yang disambut gelak tawa Riyadh.
"ASAP (As Soon As Possible)," seloroh Riyadh sambil terus tergelak.
"Ayo anak-anak beri salam untuk tamu pertama kita," ujarnya pada anak-anak yang telah berada diantara mereka.
"Wah, ini nih, arti sesungguhnya dari produktivitas," Riyadh menggelengkan kepala saat Arung, Saga, dan Daka menyalaminya.
"Siapa namanya?" tanya Arung saat mengajak Ryden berjabat tangan.
"Aiden...," jawab Ryden sambil tersipu.
"Ryden," ujar Riyadh menegaskan.
"Pi, aku boleh ajak Ryden main bola nggak?" Arung meminta ijin padanya.
"Boleh," ia mengangguk. "Sekarang coba tanya ke Ryden nya mau nggak main bola, terus ijin dulu ke Ayahnya," tunjuknya kearah Riyadh.
"Kamu mau main bola nggak?" justru Saga yang bertanya kearah Ryden.
Ryden mengangguk, "Mau."
"Om, boleh ajak Ryden main bola?" tanya Arung kepada Riyadh.
"Boleh," Riyadh mengangguk.
"Horeee!" anak-anak berteriak senang. Kemudian semua berlari ke arah lapangan terbuka hijau yang terletak di samping rumah bambu.
"Menerapkan konsep efisiensi sistem integral dalam kehidupan nyata lu, Ren," lanjut Riyadh sambil menggelengkan kepala melihat anak-anak mulai bermain bola di lapangan rumput.
"Ini baru tiga," ia tertawa. "Dua lagi masih sama ibunya di dalam. Silahkan masuk," ujarnya kearah Inne yang baru turun dari mobil sambil membawa sebuah hantaran berpita yang manis, dengan seorang anak perempuan cantik berdiri di sebelahnya.
"Apa kabar Bang," Inne menyalaminya terlebih dulu.
"Baik, alhamdulillah," ia mengarahkan tangan ke rumah. "Masuk aja, Anggi di dalam."
"Kalau gitu Bunda ke dalam dulu Yah," ujar Inne kearah Riyadh yang mengangguk.
"Udah punya anak gadis aja lu Bang!" ia menggelengkan kepala saat Rayna menyalaminya kemudian berlari kecil mengikuti Inne masuk ke dalam rumah.
"Kelas dua SD."
"Wah, sama dengan Arung."
"Oh ya, sama? Arung anak pertama lu?"
Ia mengangguk. "Kayaknya bentar lagi udah mulai pasang tampang serem nih kalau ada ABG cowok main ke rumah."
Riyadh tertawa, "Asal nggak sebrengsek bapaknya waktu muda masih oke lah."
"Loh, justru itu modal krusial," ia ikut tertawa. "Sebagai buaya nggak mungkin dikadalin. Apalagi sama ABG baru meletek."
Mereka kembali tergelak.
"Ya lah," Riyadh menggelengkan kepala. "Jangan sampai anak cewek kita mengalami hal yang sama seperti ibunya."
"Jelas," sahutnya cepat. "Sekarang kita punya peran penting memutus lingkaran setan player."
Riyadh masih menggelengkan kepala sambil tertawa. Lalu menunjuk ke lahan persawahan luas yang tepat berada di seberang halaman rumahnya. "Depan udah kebeli Ren?"
"Udah," ia lalu menerangkan batas-batas tanah miliknya yang membentang dari satu ujung ke ujung lain.
"Rencana mau dibikin apa?"
Ia dengan semangat menggebu mulai menceritakan impian besarnya tentang kawasan one stop learning. "Solution for all education needs."
"Rumah bambu untuk pusat pendidikan based by theory and book. Udah kurang representatif memang karena semakin banyak jumlah anak yang ikut."
Ia lalu menunjuk lahan kosong di sebelah barat rumahnya. "Rencana mau dibuat rumah bambu baru yang lebih besar. Cuma masih on process. Karena kendala bahan baku. Dulu waktu bangun rumah bambu yang ini juga lumayan lama."
"Ada tuh temanku yang concern di material ekologis khususnya perbambuan," ujar Riyadh membuatnya tertarik.
"Punya workshop pribadi yang menjelaskan mulai dari pemilihan jenis bambu, cara dan waktu panen, sampai proses pengawetan dan siap digunakan."
"Dia memang spesialis segala sesuatu berbau green and sustainable building. Prinsipnya reduce, reuse, recycle."
"Mungkin udah kenal sebelumnya? Projectnya sering diliput khusus oleh majalah arsitektur," ujar Riyadh sambil menyebut nama deretan majalah arsitektur terkemuka di tanah air.
"Belum lama ini baru menang sayembara sustainable urban development yang diadain sama pemerintah Diraja Malaysia."
Ia menggeleng, "Belum." Ruang lingkup perkenalannya dengan para arsitek memang belum terlalu luas.
"Dia udah punya link sendiri, langsung ke banyak petani bambu di beberapa daerah. Jadi kendala bahan baku bisa diminimalisir."
"Wah, boleh tuh Bang," ia semakin tertarik.
"Rumahnya di Bandung. Teman kuliah dulu. Nanti kapan-kapan kita buat appointment buat ketemu bertiga."
"Siap! Ditunggu kabar baiknya," ia tersenyum karena merasakan manfaat memiliki link pergaulan dengan orang-orang berkualitas.
"Kalau itu apa?" Riyadh menunjuk di kejauhan tepatnya bagian selatan rumah. Dimana beberapa anak usia SMP terlihat tengah menarik-narik kambing keluar dari sebuah bangunan.
"Peternakan kambing. Diurus sama pemuda desa sini. Baru sekitar tiga bulanan lalu anak-anak kampus yang mengelola rumah bambu mengajukan proposal tentang pemberdayaan anak usia sekolah."
"Mereka kerja?" Riyadh mengernyit.
"Oh, bukan," sergahnya. "Anak-anak usia SMP keatas, bagi yang bersedia, bisa mendaftar menjadi member team Indonesia Gemilang."
"Team yang visi misinya fokus mengasah kemandirian dan soft skills anak-anak usia tanggung. Tujuan utama sebenarnya ingin membantu anak-anak sekitar bertumbuh dan mencari jati diri di lingkungan yang kondusif."
"Salah satu tugasnya ya itu, membantu mengurus peternakan."
"Sekarang baru ada ayam, bebek sama kambing. Sapi belum. Sudah ada planning kesana tapi masih banyak kendala."
"Oya, ada pembibitan lele juga. Kalau lele udah jalan dari dulu. Termasuk program awal."
"Lu udah handle birokrasinya?" Riyadh mengernyit. "Aktivitas, meskipun itu positif, namun melibatkan anak-anak terkadang banyak yang menentang dengan alasan masih di bawah umur."
"Udah beres di awal itu Bang. Sebelum acc, gua minta anak-anak melakukan public hearing dulu ke masyarakat."
"Mulai dari menerangkan maksud, tujuan, manfaat dan semua hal yang berhubungan dengan kegiatan Indonesia Gemilang ini."
"Ijin RT, RW, desa, kecamatan, sampai kabupaten semua beres."
Riyadh mengangguk mengerti.
"Sekalian mengajarkan anak-anak organisatoris tentang pentingnya memahami seluk beluk birokrasi pemerintahan. Bisa jadi bekal mereka ke depan. Nggak kayak gua dulu mesti babak belur waktu pertama kali berurusan sama birokrasi," ujarnya tergelak.
Riyadh tertawa. "Pengalaman adalah pelajaran berharga. Baku beking pande."
"Exactly!" ia ikut tertawa.
"Kalau udah on track begini masih ada kendala?" Riyadh ingin tahu.
"Kendala sampai kapanpun pasti ada. Yang membedakan kadarnya. Tapi respon masyarakat sekitar diluar ekspektasi kami semua. Luar biasa. Bahkan ada orangtua yang meminta Indonesia Gemilang jadi semacam program berkelanjutan. Nggak cuma berhenti disini."
"Karena kebanyakan orangtua resah dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin menggerus masa kanak-kanak. Generasi milenial yang menggantungkan hidup pada kotak kecil berisi informasi tanpa filter. Pisau bermata dua, ponsel."
"Para orangtua kebanyakan bingung mencari alternatif pendidikan dan pola pengasuhan yang tepat disaat bersamaan mereka juga harus bekerja agar dapur tetap ngebul."
"Mengikutsertakan anak-anak les dan kegiatan lain di luar sekolah jelas bukan solusi terbaik, karena semua memerlukan biaya yang tak sedikit."
"Jadi tawaran dari kami langsung disambut gembira masyarakat."
"Daripada anak-anak seharian main ponsel terus Mas," ujarnya mengutip kalimat salah satu orangtua yang rajin mengikuti public hearing.
"Mending ikut kegiatan seperti ini," lanjutnya lagi.
"Tapi kami juga punya syarat dan ketentuan."
"Apa?"
"Semua aktivitas ini tak boleh mengganggu prestasi di sekolah. Jadi kalau ada anak yang nilainya malah turun setelah aktif di Indonesia Gemilang, akan kami beri kesempatan untuk break sejenak sebelum bisa aktif kembali."
Ia tertawa, "Belum ada apa-apanya ini Bang. Banyak orang di luaran sana yang lebih bermanfaat bagi banyak orang."
"Tapi paling nggak lu udah bergerak," ujar Riyadh sambil tangannya menunjuk ke bagian utara rumahnya. "Itu fasilitas outbound?"
"Yap! Lengkap dengan sawah, ladang, dan kebun sayur juga bunga," ia mengangguk.
"Sekarang baru jalan untuk masyarakat sekitar. Belum go public."
"Sekolah-sekolah negeri dari SD sampai SMU di Kecamatan....," sambil menyebut nama Kecamatan tempat tinggalnya. "Rutin kegiatan outing disini. For free."
"Kalau TK hampir semua. Malah dari luar kecamatan sudah banyak yang memanfaatkan fasilitas pendidikan dan outbond disini."
"Dengan catatan, untuk sekolah yang memiliki kondisi keuangan stabil, kami kenakan biaya. Nggak besar memang. Yang penting cukup untuk subsidi silang."
"Nggak munafik lah, kami juga memerlukan dana untuk biaya perawatan dan lain-lain."
Riyadh mengangguk-angguk. "Nggak nyoba cari rekanan? CSR nya PARA kayaknya masih ada slot."
"Sekarang belum," ia menggeleng. "Nggak tahu ke depannya."
"Gua masih punya idealisme konsep. Kalau gandeng rekanan khawatir terlalu banyak ikut campur yang ujung-ujungnya melenceng dari visi awal."
Ketika mereka masih membicarakan keseluruhan lingkungan rumahnya, sebuah MPV premium berwarna putih perlahan memasuki halaman.
"Wah, ini dia bos kita," ujarnya begitu Rakai dan istri beserta dua anak mereka keluar dari dalam mobil sambil tersenyum lebar.
"Saya ke Mba Anggi dulu Bang," pamit istri Rakai sambil menuntun Anwa setelah bersalaman dengannya dan Riyadh.
"Iya masuk masuk, udah nunggu dari tadi di dalam," ia mengangguk. Sementara Rakai tengah bersalaman dengan Riyadh sambil menggendong Diga yang baru berusia 7 bulan.
"Tamu agung udah sampai duluan ternyata," seloroh Rakai. "Makin segar aja Abang kita yang satu ini."
Riyadh terbahak sambil menggeleng, "Ini nih!"
Mereka kembali bercakap-cakap, kali ini tentang proyek terbaru ManjoMaju yang berhubungan dengan Kementerian tempat Riyadh bernaung.
"Ke depannya bakal banyak proyek transformasi lahan terlantar perkotaan untuk dijadikan ruang publik," ujar Riyadh.
"Karena pemerintah sedang gencar-gencarnya meningkatkan bentuk pelayanan publik pada masyarakat."
"Minimal memfungsikan kembali lahan-lahan terlantar yang banyak bertebaran di penjuru kota. Yang biasanya cuma jadi tempat buangan brangkal atau malah tempat sampah tak resmi. Biar lebih bisa dirasakan manfaatnya oleh warga secara cuma-cuma."
"Kemarin kami baru dapat project revitalisasi kawasan bersejarah...," Rakai menyebut nama sebuah kawasan bersejarah yang terletak di daerah Jawa Tengah.
"Oya, program Kemenpar?" tebak Riyadh.
Rakai mengangguk, "Sebenarnya ada tiga yang masuk, cuma bisa keambil satu. Yang dua di luar Jawa. Belum sanggup."
"Banyak target memang....," sambil menyebut nama Kementerian diluar tempat Riyadh bernaung. "Termasuk revitalisasi kawasan wisata di beberapa daerah. Lalu ada juga re-design kawasan dan bangunan tertentu."
Mereka bertiga masih tenggelam dalam percakapan yang cukup serius ketika Anggi datang dari dalam rumah.
"Permisi Bapak-bapak," sapa Anggi sambil tersenyum.
"Wah, ini nyonya rumah baru keluar," seloroh Riyadh kemudian bersalaman dengan Anggi. Sementara Rakai hanya mengangkat tangan dan menyapa, "Hai, Nggi?"
"Abang, kenapa nggak masuk? Malah panas-panasan di luar?" Anggi mengernyit ke arahnya.
"Ini calon menteri lagi sidak," selorohnya diikuti gelak tawa Riyadh.
"Tertarik mau nginvest kayaknya," selorohnya lagi, kembali diikuti gelak tawa Riyadh yang semakin keras.
"Ada apa?" bisiknya kearah Anggi. Menghampiri pasti karena ada maksud.
"Itu Diga jadwalnya emam (makan)," ujar Anggi sambil menunjuk kearah Diga yang mulai rewel. Sepertinya karena bosan sejak tadi hanya diajak berdiri oleh Rakai.
"Oya, sini Diga, ikut Bi Anggi dulu," ia mengulurkan tangan kearah Diga yang hanya diam sambil menautkan alis. Bermaksud mengambil Diga dari tangan Rakai untuk kemudian diserahkan ke Anggi.
"Nggak mau ikut Amang?" ia pura-pura mencibir.
Rakai tertawa, "Nggak tahu nih anak gua yang ini sebel banget sama lu Ren."
"Iya," ia ikut menautkan alis. "Nggak pernah mau kalau diajak. Ayolah Diga, jangan jual mahal."
"Curiga ngidamnya sebel sama lu Ren," kelakar Riyadh, diikuti tawa mereka bertiga.
"Bisa jadi," ia manggut-manggut sekaligus menggelengkan kepala lalu sedetik kemudian ikut tergelak.
"Yuk sama Bibi yuk," kini giliran Anggi yang mengulurkan tangan dan dalam sekejap langsung disambut Diga dengan senang hati.
"Wah, diskriminasi nih Diga," ia pura-pura menggerutu. Sementara Rakai dan Riyadh tertawa senang.
"Mari bapak-bapak, saya masuk dulu, anak kicik mau makan," Anggi pamit untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Rakai dan Riyadh mengangguk.
"Abang, ajak tamunya masuk ke dalam," ujar Anggi sebelum melangkah pergi. "Biar bisa sambil ngopi."
Ia mengangguk. Namun pada kenyataannya mereka bertiga kembali membicarakan hal menarik lain.
"Sebelah sana masih kosong?" tunjuk Riyadh ke arah deretan ladang jagung dan kacang tanah.
"Masih."
"Kenapa nggak bikin villa Ren? Di tempat semenarik ini pasti banyak pengunjung yang berminat. Tinggal ngepush promosi di media. Bisa subsidi silang program one stop learning."
Ia menggeleng, "Kalau villa belum. Terlalu komersil. Gua malah pingin bikin sekolah sejenis sekolah alam," ujarnya sambil menunjuk lahan persawahan yang luas membentang di depan rumahnya.
"Cuma masih dikaji lebih dalam sama team. Teman-teman disini lagi banyak studi banding ke sekolah-sekolah berkualitas. Mungkin satu atau dua tahun lagi udah bisa keluar proposalnya Bang, kalau mau jadi investor," lanjutnya sambil tertawa.
"Sekolah berbasis alam malah lebih komersil Ren," Riyadh menggeleng. "Terlalu segmented. Cuma orang-orang dengan kemampuan ekonomi tertentu yang bisa sekolah di tempat plus plus begini."
"Oh, kami beda," ia ikut menggeleng. "Goal kami jelas pendidikan untuk semua. Tak berhubungan dengan tanda kutip 'biaya mahal'."
Ucapannya membuat Rakai mencibir, "Elu Ren, semangat mahasiswa masih dibawa ke dunia nyata."
"Berat, Ren," Riyadh menggeleng. "Pendidikan bagus berfasilitas prima berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan."
"Iya makanya ini masih di godok," ia kembali menjelaskan tentang apa yang sedang dilakukan teamnya untuk mewujudkan pendidikan berkualitas bagi semua. Ketika dua buah MPV sejenis seperti milik Rakai perlahan merapat ke halaman depan rumahnya.
Mobil yang sangat dikenalnya, karena saat membeli ia sendiri yang memilih jenis dan modelnya atas permintaan Rakai.
Ya, beberapa waktu lalu saat merancang acara reuni temu kangen ini, Anggi sempat membicarakan hal ini padanya.
"Bang, kayaknya kita perlu memfasilitasi kendaraan dari hotel menuju ke sini deh. Daripada harus rental ke tempat lain."
"Oke," ia menyanggupi. "Sempat kepikir juga apa teman-teman kamu perlu kita fasilitasi transportasinya selama di Jogja."
"Paling dari hotel ke tempat kita Bang. Atau untuk yang mau keliling kota. Kalau dari bandara ke hotel dan sebaliknya udah ada fasilitas dari pihak hotel," terang Anggi yang memang menghandle reservasi hotel untuk dua temannya yang kini menetap di luar negeri.
"Oke, jadi berapa kendaraan yang mesti kita sediakan?"
"Paling perlu dua dulu. Buat keluarga Bayu sama.....Dio. Yang lain menyusul, nunggu kabar."
Ia mengangguk, "Nanti kubilang Rakai biar siapin semuanya."
Dan inilah mereka, tamu selanjutnya, Bayu dan Dio beserta keluarga masing-masing mulai keluar dari kendaraan.
Begitu turun, dua anak perempuan Bayu langsung berlari-lari kecil mengitari halaman depan. Dan kehadiran rombongan tamu baru langsung menarik perhatian para cowok kecil yang tengah bermain bola. Bahkan tanpa harus menunggu lama, Arung and the gank sudah ikut berkumpul bersama mereka di halaman depan.
"Wah, wah, wah," Bayu tersenyum lebar. "Udah pada ngumpul nih," sambil menyalami Rakai, Riyadh, terakhir memeluk dan menepuk punggungnya keras.
"Ini elo Ren?" seloroh Bayu. "Kirain siapa. Makin berisi aja."
Ia tertawa, "Iyalah serah, apa sih yang nggak buat yang udah dapat green cardnya US," ia balas berseloroh.
Bayu, sejak kejadian memukulinya sampai babak belur sembilan tahun silam, telah melunak dan tak lagi mengibarkan bendera permusuhan dengannya. Terlebih setelah ia dan Anggi menghadiri pernikahan Bayu sambil membawa Arung dan Saga.
Saat sesi bersalaman dengan mempelai, bukannya ia yang mengucapkan selamat atas pernikahan yang terjadi, namun justru Bayu yang berkata sambil meninju lengannya, "Sukses bikin Anggi bahagia nih sekarang!" kemudian menunjuk Anggi yang tengah menuntun Arung sambil tertawa-tawa kecil dengan mempelai wanita.
Di belakang Bayu dan istrinya menyusul Dio, sambil menggendong batita perempuan cantik di lengannya.
"Dio!" spontan mereka berpelukan sambil saling menepuk punggung.
"Wah, siapa namanya?" sapanya kepada anak perempuan di lengan Dio, yang diluar dugaan langsung meraih tangannya untuk salim.
"Wah," ia menggeleng campur takjub. "Pinter sekali Ade."
"Namanya Azami, baru mau dua tahun bulan depan," terang Dio sambil tersenyum memandangi putrinya.
"Halo Azami?" ia kembali menyapa Azami yang disambut dengan senyum terkembang batita cantik itu.
"Ayo kita langsung masuk, daripada panas-panasan di luar," lanjutnya kepada semua yang tengah berdiri di halaman. Di awali Rakai yang berjalan terlebih dahulu. Kemudian disusul oleh yang lain.
Ketika ia baru hendak melangkah, Dio lebih dulu berkata, "Anggi mana? Istriku pingin ketemu."
***
Keterangan :
Baku beking pande : filsafat hidup masyarakat Manado, yang artinya berbagi kepintaran dengan orang lain
Green & sustainable building : prinsip dasar dalam rancang bangun yang diciptakan untuk mengurangi pengrusakan lingkungan sehingga dapat selaras dengan alam.
Sustainable Urban Development : pembangunan kota berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan kualitas kehidupan kota dan warganya tanpa menimbulkan beban bagi generasi yang akan datang akibat berkurangnya sumberdaya alamĀ (Urban21 Conference, Berlin, July 2000)