Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
41. "Stay With Me, Please...."



"Tunggu disini," begitu kata Rendra. "Jangan kemana-mana."


Namun belum sempat ia merespon, Rendra telah menghilang di balik pintu, mengikuti langkah Rakai yang hendak memeriksa keadaan di luar.


Meskipun suasana sunyi dan hening telah berlangsung cukup lama, tak ada lagi teriakan penuh amarah dan benda dihancurkan, namun tangannya masih gemetar dengan jantung berdebar keras. Menyisakan rasa ketakutan yang sangat.


Siapa orang-orang itu? Apa yang membuat mereka begitu beringas menyerang rumahnya? Apa kesalahan yang telah ia dan Rendra lakukan?


Ia benar-benar tak habis pikir ada sekelompok orang yang tega melakukan perbuatan main hakim sendiri sampai merusak dan mengancam. Ia harus mengkonfirmasi latar belakang kejadian mengerikan yang barusan terjadi ke Rendra. Dan sebaiknya Rendra memiliki alasan paling masuk akal untuk menjelaskan semua.


Namun sebelum itu, ia harus mengamankan anak-anak terlebih dahulu. Dengan penuh kehati-hatian ia menyimpan Saga yang telah terlelap ke atas tempat tidur. Sungguh berharap suara keras yang berasal dari teriakan dan barang dirusak tadi tak sampai membekas di ingatan bayi ini, karena ia telah menutup kedua telinganya rapat-rapat. Semoga.


Setelah Saga terlihat nyaman berada di atas tempat tidur, ia beralih membenarkan posisi Arung yang sejak tadi juga telah terlelap sambil memeluk pinggangnya. Diciumnya pipi montok bayi 1 tahun 5 bulannya itu, sambil membisikkan doa semoga kejadian mengerikan tadi tak sampai terrekam di ingatan bawah sadarnya. Semoga.


Ia menidurkan Arung tak jauh dari Saga, kemudian membatasi posisi mereka berdua dengan sebuah guling, lalu menyelimuti keduanya.


Sambil menyusut sisa tangis yang mulai mengering, matanya memandangi Arung dan Saga secara bergantian. Dua malaikat kecilnya, di usia sekecil ini sudah mengalami hal menakutkan yang bahkan baru ia alami setelah berusia sedewasa ini.


Ia tak dapat membayangkan, kejadian menakutkan apalagi yang akan mereka alami di masa depan. Dengan ritme hidup Rendra yang sejak dulu tak pernah jauh-jauh dari yang namanya emosi, persaingan, kemarahan, dan tindak kekerasan. Sudah, cukup sampai disini. Jangan ada lagi hal menakutkan yang mengikuti kehidupan keluarga mereka. Enough.


Ia masih memandangi wajah dua putra kecilnya ketika mendengar suara orang saling membentak dan berteriak di luar. Ya ampun, apalagi? Bukankah tadi hanya ada Rendra dan Rakai? Apakah sekarang mereka berdua yang bertengkar?


Rasa takut, kesal, sekaligus ingin tahu yang teramat besar membawanya melangkahkan kaki keluar. Setelah menutup pintu kamar rapat-rapat, berharap anak-anak tak terbangun karena suara teriakan dan bentakan semakin kesini semakin keras terdengar. Ia mencoba berjalan mendekati arah suara yang sepertinya berasal dari ruang tamu.


Namun sebelum melangkah, matanya sempat menangkap pemandangan di ruang tengah dan ruang makan yang hancur berantakan. Jendela kaca setinggi langit-langit yang mengelilingi seluruh ruangan pecah berkeping-keping, meninggalkan bekas pecahan kaca dimana-mana. Belum meja yang terbalik, kursi dihancurkan, sofa dirusak, hingga LED TV berinci besar yang layarnya retak akibat sabetan senjata tajam teronggok begitu saja di lantai. Sungguh mengerikan.


Dengan penuh kehati-hatian ia mulai melangkah. Beberapa kali sandal rumahnya menginjak bekas pecahan kaca atau serpihan barang yang rusak.


"Pengkhianat!"


"Bacot lu! Udah ngerusak rumah gua! Nakut-nakutin anak sama istri gua!"


"Ini bukti gue nggak pernah main-main!"


"Gua nggak mau ngomong lagi! Kita ketemu di kantor polisi! Lu mesti tanggung jawab!"


"Dasar curang! Pengkhianat!"


"Jim! Ngotak lu ya!"


Krek!


Kakinya tak sengaja menginjak pecahan kaca berpotongan cukup besar. Untung sandal rumah yang sedang dipakainya memiliki sol lumayan tebal, kalau tidak pasti sudah melukai kakinya.


"Ngapain lo mesti repot-repot ngomong sama brengsek macam Rendra?!"


"Ja! Asal lu tahu, polisi lagi jalan kesini!"


Ini jelas suara bentakan Rakai. Ia yang makin penasaran kian berjalan mendekat ke ruang tamu.


"Udah dari dulu harusnya gue bunuh lo!"


"Ja!"


"Ja!"


"Diam lo Jim!"


"Nggak gini caranya!"


"Ja! Polisi bentar lagi nyampai! Lu tolong jangan main-main!"


"Kesepakatan kita nggak gini!"


"Diam lo Jim, dasar pengecut!"


"Brengsek lo!"


"Harusnya udah dari dulu gue bunuh waktu lo masih be go!"


"Naja!!"


"Diam!!! Gue mau ngomong!!"


"Ngomong yang puas! Sebelum polisi datang dan semua omongan lu jadi bukti BAP!"


Ia melihat Rakai berdiri di sisi kanan ruang tamu yang juga hancur berantakan dengan mata nyalang. Disusul Jimmy. Kenapa Jimmy bisa sampai ada disini? Sementara Rendra berdiri agak jauh, memunggungi ruang tengah, berdiri menghadapi Naja yang tengah menodongkan senjata.


Astaga!


Ya ampun!


Tidak!


"Waktu lo masih lebih brengsek daripada gue! Waktu lo masih...."


"Ja!" Rakai menyela. "Semua bisa kita omongin baik-baik!"


Naja tak bereaksi, masih saling melempar pandangan penuh kebencian dengan Rendra.


"Amang Rahmat pasti benci ngelihat ini!" Rakai masih berusaha bicara.


Namun Naja memiliki keputusannya sendiri.


CIU!!


Ia begitu terkejut sampai seluruh tubuhnya menggigil karena ini adalah untuk pertama kalinya ia mendengar suara tembakan secara langsung. Tak terlalu keras seperti yang pernah ia saksikan di film-film action, namun kuat, menakutkan, mengoyak jiwa, sekaligus terdengar berdesing dalam jarak yang sangat dekat.


Matanya langsung menatap khawatir ke arah Rendra yang masih berdiri tegak dengan bertumpu pada forearm. Ketika dalam hitungan sepersekian detik ia merasa seseorang telah melemparkan batu dengan sangat cepat dan berhasil mengenai lengan kanannya.


Ia masih menatap Rendra, merasa sangat ketakutan jika tembakan tadi berhasil mengenai suaminya itu. Ia takkan sanggup memikirkan apa yang akan terjadi jika benar Rendra tertembak. Ia....


"Anggi?!?"


Namun justru Rendra yang terbelalak menatapnya. Disusul Rakai, Jimmy, dan Naja, yang kini juga melihatnya dengan ekspresi terkejut.


Dengan sekali lompatan Rendra langsung menubruk dan merengkuhnya, "Kamu nggak papa?!?"


Justru ia yang harusnya bertanya kepada Rendra, kenapa ini malah terbalik? Mulutnya baru hendak membuka untuk menanyakan hal tersebut, ketika tiba-tiba lengan kanannya terasa basah, panas, pedih, ngilu.


Ia masih bisa melihat Rendra yang matanya mendadak berkilat-kilat penuh amarah sambil berteriak panik memanggil-manggil namanya, ketika dalam waktu bersamaan tiba-tiba tubuhnya terasa seperti tersengat aliran arus listrik dan semua berubah menjadi gelap.


***


Rendra


Ia tak bisa memikirkan apapun. Keadaan yang persis sama seperti saat parasutnya tiba-tiba collapse di udara beberapa waktu lalu. Rasa tegang, takut, marah, khawatir, tak berdaya, menguasai keseluruhan dirinya.


Jika waktu itu ia merasa ketakutan tak bisa melihat Anggi dan Arung lagi, kali ini ia ketakutan Anggi tak dapat melihatnya dan anak-anak lagi.


Tidak.


Jangan.


Tolonglah.


Ia tak sempat mengingat forearm karena terburu-buru mengangkat tubuh Anggi ingin cepat-cepat membawanya ke rumah sakit.


"Kunci!!" teriaknya pada Rakai yang masih berdiri mematung. Lalu dengan setengah berlari sambil terpincang-pincang membopong tubuh Anggi melewati Naja dan Jimmy yang terlolong.


"Kunci!" teriaknya lebih keras kearah Rakai. Namun segera diralat, "Brengsek!" begitu melihat keadaan dua mobilnya justru lebih hancur dibanding rumahnya.


"BRENGSEK!!!!" teriaknya kalap demi merasakan darah Anggi mulai membasahi tangan kanannya.


"BRENGSEEEK!!!!" teriaknya makin keras dengan mata mulai memanas.


"Pakai mobil gua! Pakai mobil gua!" Rakai segera tersadar dengan apa yang sedang terjadi dan mulai berteriak gugup sambil berusaha membuka pintu mobilnya sendiri.


Dengan terpincang-pincang ia berusaha secepatnya berlari menuju mobil Rakai. Melupakan rasa panas dan ngilu yang mendadak menyerang kedua tungkai lalu menjalar hingga ke paha dan pinggang.


Ketika ia tengah berusaha merebahkan Anggi di kursi depan, dari sudut mata dilihatnya Naja dan Jimmy berlari menuju kendaraan masing-masing dan langsung tancap gas. Dasar cemen!


Ia pasti akan mengejar Naja sampai ke ujung dunia sekalipun jika sesuatu yang buruk menimpa Anggi.


"Titip anak-anak!" teriaknya lagi setelah mendudukkan setengah merebahkan Anggi senyaman mungkin di kursi depan.


"Tangannya! Tangannya!" Rakai makin panik menunjuk lengan Anggi yang semakin banyak mengeluarkan darah hingga membasahi sandaran kursi.


"Keatasin! Keatasin! Harus lebih tinggi dari jantung!" dengan tergesa dan gugup Rakai membantu memposisikan Anggi sedemikian rupa agar lengan yang terluka posisinya lebih tinggi.


"Ikat! Ikat!" ia melempar kaos yang awalnya sedang dipakai namun kini baru saja dilepas ke arah Rakai.


"Sobek! Sobek!" teriaknya cepat.


Dengan cekatan Rakai menyobek kaos pemberiannya kemudian mengikatkan di lengan Anggi sebagai usaha untuk menghentikan perdarahan. Entah berhasil atau tidak, minimal mereka telah berusaha semaksimal mungkin.


"Anak-anak!" teriaknya sebelum tancap gas. "Titip anak-anak!"


"Kaos!" namun Rakai menjawab lain. "Ada kaos di jok belakang!" ia masih bisa mendengar suara Rakai meski telah melajukan kemudi.


Sungguh ia takkan sanggup memaafkan diri sendiri jika hal buruk terjadi pada Anggi. Ia tak mampu membayangkan rasa sakit yang akan menghampiri. Takkan bisa memikirkan penyesalan yang pasti mengungkung. Takkan kuat menanggung rasa bersalah sekaligus penyesalan yang akan menghantui seluruh sisa hidupnya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit ia bahkan tak mampu untuk sekedar memaki. Seperti kebiasaan yang tanpa sadar sering dilakukannya ketika mengalami high pressure. Sedari tadi mulutnya bahkan sibuk melantunkan untaian doa paling khusyu dan syahdu untuk pertama kalinya.


Sesekali ia melirik ke samping, memastikan Anggi masih bernapas meski darah sudah membasahi sebagain besar sandaran bahkan hingga ke jok mobil Rakai. Membuat bibir Anggi mendadak terlihat berubah menjadi pucat pasi.


Don't do this to me.


Please, don't.


Anggi, stay with me....


Stay with me, please....


Dan detik-detik paling menegangkan saat menunggu dalam cekaman ketakutan di depan IGD akhirnya usai, tatkala dua pintu kaca terbuka dari dalam.


"Pasien atas nama Anggi?" seorang petugas berpakaian hijau menyapukan pandangan ke seantero ruang tunggu.


"Silahkan, pasien sudah bisa ditemui."


Matanya membulat, "Istri saya nggak papa Dok? Lukanya bagaimana? Apa sudah sadar?"


Petugas itu tersenyum, "Nanti akan dijelaskan oleh dokter Rinaldi."


Ia harus memejamkan mata untuk menguatkan diri sebelum mulai melangkah memasuki ruang IGD. Melalui deretan tirai yang tertutup rapat. Beberapa sepi, mungkin pasien sedang tertidur karena pengaruh obat.


Namun saat kakinya melewati tirai deretan tengah, terdapat dua orang wanita menangis setelah perawat menyibak tirai, meninggalkan sesosok wajah tertutup kain yang terbujur kaku di atas hospital bed. Membuat ketakutannya memuncak hingga kedua mata memanas.


Petugas masih terus mengajaknya berjalan hingga ke sudut ruangan, karena ternyata Anggi dirawat di tempat tidur paling ujung.


Help me, please.


Ia hampir tak punya nyali untuk masuk ke dalam tirai yang telah disibak oleh petugas, ketika matanya bertautan dengan manik lembut yang selalu mengisi relung hatinya.


Disana, Anggi tengah duduk sambil menyandarkan punggung di kepala hospital bed. Telah memakai baju seragam rumah sakit yang digunting bagian lengan kanannya karena diperban. Dengan wajah pucat pasi namun justru membuat hatinya tiba-tiba menghangat. Demi menyadari Anggi tercintanya ternyata baik-baik saja.


Begitu melihat dirinya masuk, seulas senyum terkembang.


Alhamdulillah.


She's fine.


Alhamdulillah.


Ia tak mampu berkata apapun selain memeluk istri tercintanya itu. Meloloskan setetes air jatuh membasahi pipi. Tak mau cepat-cepat melepas, ingin selama mungkin memeluk belahan jiwa yang begitu berharga.


Sreeek!


Tirai pembatas semakin terbuka lebar oleh seorang perawat, "Maaf ya, dokternya sudah datang."


Dengan enggan ia melepas pelukan, sempat menghapus buliran air yang juga jatuh berderai di pipi Anggi, sebelum akhirnya berdiri karena dokter telah masuk ke dalam tirai.


"Masih pusing Mba?" tanya perawat ke arah Anggi sambil memeriksa cairan infus dan transfusi. Sementara ia sedikit mundur ke belakang untuk bicara dengan dokter.


"Bersyukur Mas, cuma keserempet," terang dokter sambil menepuk bahunya sebelum ia sempat bertanya.


"Nggak ada peluru yang masuk ke dalam tubuh. Hanya serpihan saja. Cukup dijahit, tanpa perlu dioperasi."


"Tapi tadi sempat pingsan Dok?!" tanyanya khawatir.


"Oh, ya, pingsan akibat shock. Reaksi spontan."


"Normal. Nggak ada masalah."


"Tapi karena darah yang keluar cukup banyak, jadi harus menunggu proses transfusi selesai, baru bisa pindah ke ruang perawatan."


"Baik," ia mengangguk. "Terima kasih banyak Dok."


Setelah dokter dan perawat pergi menemui pasien lain di tirai sebelah, ia kembali duduk di sisi tempat tidur Anggi. Diraihnya tangan mungil yang terasa sedingin es itu, lalu digenggamnya penuh kelembutan.


"Aku kayaknya udah terlalu sering ngomong begini," ujarnya merasa sangat bo doh sambil menggelengkan kepala tak percaya.


"Apa?" Anggi tersenyum campur mengernyit.


"Aku minta maaf," ujarnya sambil menghembuskan napas berat. Merasa marah pada diri sendiri karena terlalu sering mengulang-ulang kalimat bo doh tersebut di depan Anggi. Keledai bahkan tak terjebak di lubang yang sama sebanyak dua kali. Sementara dirinya?


"Very sorry....really sorry.....," lanjutnya lagi sambil menelungkupkan wajah ke tangan mereka berdua yang masih bertautan.


Menyadari selama hampir empat tahun memasukkan Anggi ke dalam alur hidupnya, telah membawa begitu banyak luka, kekhawatiran, ketakutan, dan ketidaknyamanan pada gadis paling unik yang pernah ia temui, gadis paling susah didapat yang sekarang telah menjadi ibu dari anak-anaknya itu.


Sungguh prestasi terburuk dalam mentreat orang tercinta. Padahal sejak awal Anggi telah mengatakan padanya jika dia tak menyukai kejutan, terutama kejutan yang menakutkan. Menginginkan suasana yang tenang, settle, under control. Sementara apa yang ia berikan? Justru situasi penuh ketakutan dan kekhawatiran. Damaged!


Ia masih merasakan kelembutan telapak tangan mungil beraroma vanila itu ketika sebuah tangan mungil lain terasa mulai membelai kepalanya.


"Abang nggak papa?"


Ia mengangkat wajah yang kembali basah karena air mata, lagi-lagi mengatakan hal paling bo doh. "Harusnya aku yang nanya, kamu nggak papa?"


Anggi tersenyum dan menggeleng dalam satu waktu, dengan tangan kanan mengusap tulang pipinya.


"Kamu mau maafin aku?" sepertinya ia memang lebih dungu daripada keledai.


Anggi tetap tersenyum, namun mengalihkan arah pembicaraan, "Anak-anak sama siapa?"


Membuat dirinya semakin menyadari jika Anggi telah berada di ambang batas kesabaran. Dan itu langsung menohok ulu hati, menimbulkan rasa sedih sekaligus marah pada diri sendiri. Apakah Anggi mulai lelah berada di sampingnya? Apakah Anggi merasa menyesal telah memilih bersamanya? Apakah Anggi me....


"Abang?" Anggi masih tersenyum sambil terus mengusap tulang pipinya. "Anak-anak di rumah sama siapa? Biasanya jam segini Abang Arung bangun kepingin pipis. Ade Saga juga jadwalnya nen."


***


Rakai


"Pis...pispis....pispis....," Arung sejak lima menit yang lalu terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang.


"Pis...Mang......pispis....," jari Arung menunjuk-nunjuk kearahnya dengan mulut meletot seperti menahan sesuatu.


Padahal sejak lima belas menit lalu ia tengah berusaha keras menenangkan Saga yang meraung-raung entah menginginkan apa, "Huakhakhakhakhakhak...."


"Huakhakhakhakhakhak...."


"Huakhakhakhakhakhak...."


"Arung, sebentar ya....," ia harus mengatur pernapasan sebelum kembali bicara.


"Amang sama adik Saga dulu."


"Arung tunggu disana ya anak baik."


"Huakhakhakhakhakhak...."


"Huakhakhakhakhakhak...."


Ia sangat yakin sebentar lagi kepalanya akan meledak hancur berkeping-keping saking peningnya mendengar lengkingan tangis Saga.


"Kenapa Kai?" Mas Sada muncul dari balik pintu kamar. Sepertinya mulai merasa terganggu dengan jeritan tangis bayi sementara para petugas tengah melakukan olah TKP.


"Aduh, Mas, bawa polwan nggak kesini? Ini nih anak si Rendra dari tadi nangis nggak tahu kenapa?!?" ia menggerutu sambil mengangkat Saga yang masih menangis menjerit-jerit.


Kemudian menunjuk ke arah Arung, "Tuh yang gede juga mulutnya udah meletot begitu. Ampuni gua Mas! Ampun Mas!" ia meratap-ratap seperti orang bo doh.


Mas Sada mendecak sambil mendekati Arung yang memasang wajah hendak menumpahkan tangis.


"Ya ampun, pantesan rewel, ini anak ngompol," tunjuk Mas Sada kearah pantat Arung yang kini telah sukses menjerit.


"Huahuahuahuahuahuaaaa......."


Tangis Arung bahkan lebih keras dibanding Saga. Sungguh mengerikan! Jujur ia lebih suka menghadapi cewek cranky daripada harus menenangkan dua monster kecilnya Rendra. Ia sungguh tak pernah mengira, Arung yang selalu terlihat lucu dan menggemaskan ternyata tak lebih dari monster yang terperangkap dalam tubuh seorang bayi. Menakutkan!


Ia pura-pura tak mendengar ucapan Mas Sada yang kini tengah menuntun Arung ke kamar mandi. Masih mencoba menepuk-nepuk pantat Saga agar berhenti menangis. Namun yang ada justru Saga semakin melengking tangisannya.


Haduh, tobat! Tobat!


"Yang itu lapar kali, Kai!" teriak Mas Sada dari dalam kamar mandi. "Coba kasih susu!"


"Mana susunya?"


"Carilah!" teriak Mas Sada setengah membentak. Membuat matanya buru-buru menyisir seluruh ruangan kamar berusaha menemukan you name it susu atau botol susu.


Ia masih belum berhasil menemukan susu ataupun botol susu ketika Mas Sada telah keluar dari kamar mandi sambil membopong Arung yang telanjang bulat.


"Lu apain anak Rendra, Mas?" kernyitnya heran.


"Ngompol sampai basah sebaju-bajunya," Mas Sada menggelengkan kepala sambil mendudukkan Arung yang kini sudah bertepuk tangan dengan gembira di atas tempat tidur.


"Baju bersih dimana?" tanya Mas Sada.


Ia hanya mengangkat bahu, "Susu aja belum nemu," gerutunya sambil memicingkan mata karena Saga masih konsisten menjerit.


Mas Sada kembali berdecak, "Lu belum punya anak sih ya, jadi ribet gini!"


Ia langsung tersulut, "Gua emang belum punya anak Mas, tapi udah pro!"


Mas Sada yang sedang membuka-buka laci berwarna putih kembali menggelengkan kepala, "Nih, lu yang cari baju trus pakaiin ke Arung. Biar gua yang nyari susu."


"Dari tadi kek," sungutnya sebal sambil menyerahkan Saga yang masih terus menangis untuk digendong Mas Sada.


"Dimana baju kamu?" tanyanya kearah Arung yang kini sedang berusaha turun dari tempat tidur.


"Eh, eh, jangan turun!" pekiknya mencoba mencegah. Namun ia kalah cepat. Arung telah berhasil menjejakkan kaki ke lantai. Untuk kemudian bertepuk tangan dan tertawa kearahnya.


"Nggak! Nggak!" gelengnya dengan wajah sebal. "Gua nggak mau ketawa!"


"Hakhakhakhakhak.....," Arung terus tertawa sambil menekuk-nekuk lututnya seperti orang sedang berjoget.


Membuatnya memutar bola mata. "Dimana sih bajunya?"


"Ju...ju...ju....," tunjuk Arung kearah laci sebelah kanan. "Rung....aju.....aju...."


"Pinter juga lu," desisnya sebal saat menemukan baju yang diinginkan tepat di laci yang Arung tunjuk.


Saat ia masih bersusah payah memakaikan baju ke Arung yang terus saja berlarian kesana kemari, Mas Sada masuk ke kamar sambil membopong Saga yang kini tenang mengenyot botol susu.


"Nyerah gua Mas! Nyerah!" ia mengangkat tangan sambil menunjuk Arung yang justru sedang tertawa sambil berlari mengelilingi kamar.


Mas Sada mendecak sambil menggelengkan kepala. "Nih," lanjut Mas Sada sambil mengangsurkan Saga yang mulai mengantuk namun kedua tangannya tetap memegang botol susu erat-erat.


Tanpa menunggu lama Mas Sada berhasil memakaikan baju ke Arung. Membuatnya berdecak kagum, "Bener ya pengalaman berbicara."


Mas Sada hanya mencibir. "Habis ini lu bawa pulang anak-anak Rendra. Biar olah TKP lebih maksimal."


"Apa? Bawa pulang?" matanya mendadak melotot. "Ampun Mas, nggak bakal sanggup! Mau nyiksa gua?!"