
Rakai
Ia mencoba menghubungi ponsel Zikka, teman tidurnya selama hampir seminggu ini, setelah sebulan yang lalu mereka berkenalan di Goshe saat clubbing.
Nut! Nut! Nut!
Tiga kali menelepon, tiga kali pula ia hanya menjumpai nada sambung. Ah, sialan!
"Kai!" panggil Mas Sada. "Yang bayi udah tidur nih. Yang gede juga kayaknya sebentar lagi. Cepet bawa pulang sebelum nanti di jalan kebangun trus nangis lagi malah repot."
Ia langsung garuk-garuk kepala yang sama sekali tak terasa gatal. "Bentar Mas. Gua panggil temen dulu."
"Nggak pakai lama!"
Ia hanya mendesis sebal sambil melirik pergelangan tangan kiri, 02.10 WIB. Ah, sialan. Mana ada orang masih terbangun di jam segini. Namun karena ia paham betul takkan mampu menghandle Arung dan Saga sendirian, otaknya mulai bekerja cepat.
"Gus?"
"Yaowo Bang....," terdengar suara decakan kesal dari seberang.
"Sori...sori...."
"Jam piro iki (jam berapa ini)?" Bagus terdengar mengomel.
"Gus, lu kan rumahnya depan-depanan sama Mba Suko. Bisa tolong antar Mba Suko ke apartemen gua nggak?"
"Kapan?"
"Dua tahun lagi. Sekarang! Sekarang! Kalau bukan sekarang ngapain gua nelpon lu pagi buta!" teriaknya tak sabar.
"Aduh," Bagus terdengar menjauhkan ponsel dari telinga.
"Bang, ojo ngadi-ngadi (jangan aneh-aneh). Aku saiki lagi turu nang mess, ga mulih (aku sedang tidur di mess, nggak pulang)."
Ia mendecak sebal. "Ya udah, habis Subuh langsung jemput Mba Suko, terus bawa ke apartemen gua."
"Iyo...iyo (iya, iya). Tak usahake (kuusahakan)."
Ia menutup ponsel sambil menghembuskan napas kesal.
"Pulang naik apa?" teriak Mas Sada yang melambaikan tangan dari arah teras.
Dengan setengah berlari ia bergegas menuju teras sambil mendengus sebal, "Mercy Mas, mercykil (mersikil alias sikil atau berjalan kaki)."
Mas Sada ikut mendengus.
"Mobil gua dibawa Rendra buat nganter Anggi ke rumah sakit," lanjutnya lagi.
"Ya udah. Pakai mobil gua," kemudian Mas Sada memanggil seorang rekannya yang berdiri tak jauh dari mereka. "No! No!"
"Siap, Pak."
"Tolong antar Rakai dan anak-anak pulang. Nanti kamu langsung balik lagi kesini."
"Siap."
"Kai, lu diantar sama Wahono," ujar Mas Sada sambil menunjuk rekannya yang sepagi ini sudah berseragam rapi.
Ia pun hanya bisa mengangguk pasrah. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya menengok ke kursi belakang dimana Arung dan Saga tengah tertidur nyenyak di atas baby car seat masing-masing.
"Tolong kerjasamanya anak-anak," desisnya penuh harap. "Jangan bangun dulu sebelum Papi kalian datang. Oke?"
Namun ia sadar jika harapannya terlalu muluk bagai pungguk merindukan bulan. Whatever.
Dengan dibantu Aiptu Wahono, akhirnya ia bisa membawa Arung dan Saga ke unit apartemennya dengan lancar dan damai tanpa kendala apapun alias mereka masih tetap tertidur nyenyak.
"Waduh, terima kasih banyak Pak Wahono," ia benar-benar lega karena kini Arung dan Saga telah terlelap di atas tempat tidur kamar tamunya dengan aman tenteram tanpa kendala seperti yang sempat dikhawatirkan sebelumnya.
"Sama-sama, Mas."
Begitu Aiptu Wahono pergi meninggalkan apartemen, ia langsung mencuci muka dan berniat untuk mengganti baju yang terasa lengket.
"Abang....," desis Zikka pelan. "Udah pulang?" lalu beringsut sambil tangannya memegangi selimut untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
"Ditelepon nggak diangkat!" gerutunya sambil meraih kaos dari dalam lemari kemudian memakainya.
"Masa sih? Nggak kedengeran, aku ngantuk banget," Zikka memasang wajah merajuk.
Namun ia tak menggubris, "Aku tidur di kamar tamu," ujarnya sambil berjalan keluar kamar.
"Kenapa?"
"Nemenin anaknya Rendra."
Ia kini tengah bermain-main dengan Arung di halaman belakang rumah Rendra. Mengejar-ngejar kelinci dan hamster yang bersembunyi di balik pepohonan dan tanaman bunga, menangkap capung dan kupu-kupu, memberi makan ikan koi di kolam yang bening, ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil-manggil namanya.
"Abang!"
"Abang!"
Kali ini ia merasa bahunya diguncang dengan cukup keras, "Abang!"
Dalam sekali sentakan ia langsung terduduk, membuat kepalanya pusing karena gerakan yang dilakukan secara tiba-tiba.
"Kenapa?" tanyanya bingung sambil memijat kepala yang pening.
Dilihatnya Zikka berdiri sambil berkacak pinggang. "Ada anak nangis jejeritan masa nggak denger sih?!"
Ia masih berusaha mengumpulkan nyawa yang berceceran entah kemana akibat bangun tidur yang dipaksakan.
"Tuh, dari tadi nangis terus!" gerutu Zikka sambil menunjuk ke arah belakang tubuhnya.
"Huahuahuahuahuahuaaaa....."
"Huakhakhakhakhakhakkkk....."
Tiba-tiba suara tangis bayi yang bersahut-sahutan mampir memekakkan telinganya.
"Huahuahuahuahuahuaaaa....."
"Huakhakhakhakhakhakkkk....."
"Huahuahuahuahuahuaaaa....."
"Huakhakhakhakhakhakkkk....."
Dilihatnya Arung yang telah duduk di bagian kepala tempat tidur dan Saga yang kini tengkurap sama-sama menangis histeris dengan membuka mulut lebar-lebar.
"Huahuahuahuahuahuaaaa....."
"Huakhakhakhakhakhakkkk....."
"Ya ampun," ia menepuk jidat sambil menghela napas.
"Zik, tolong buatin susu dong," tunjuknya kearah pantry dimana ia menyimpan perlengkapan Arung dan Saga termasuk susu.
"Ih," Zikka bergidik. "Ogah ah. Aku ada kuliah pagi. Belum mandi juga," gerutu Zikka sambil berlalu keluar kamar. Tak mempedulikannya sama sekali.
Hih! Ia mendecak sebal. Beginilah kalau bermain-main dengan anak kuliahan manja. Saat ia mendapat masalah tak bisa membantu sedikitpun. Yang ada di pikiran mungkin hanya kuliah, skin care, shopping, ngafe, make love.
Feeling mengarahkannya untuk memeriksa Arung yang menangis di pojokan. Dan benar saja, celananya basah karena mengompol. Pengalaman membuktikan. I got it.
Namun juga membuatnya mendecak sebal karena menyesal, kenapa tadi pagi tak memakaikan Arung pospak. Jadi sekarang kan repot lagi harus cebok dan ganti baju. Mana pakai nangis lagi. Haduh.
Ia pun harus mengatur napas terlebih dahulu sebelum kemudian berkata pada diri sendiri, "Oke, Rakai, elu adalah orang terhebat. Elu bisa, elu pasti bisa!"
Lalu mengulurkan tangan, "Ayo Arung, kita ke kamar mandi."
Sambil terus menangis Arung memegang erat jarinya untuk berjalan menuju kamar mandi. Namun baru beberapa langkah ia justru berteriak panik, "Saga! No no no! Jangan guling-guling nanti bisa jatuh!"
Ia secepatnya melepas genggaman tangan Arung untuk menghampiri Saga yang kini telah berada di ujung tempat tidur hampir terjatuh.
"Thank God," desisnya lega karena berhasil menangkap tubuh Saga sebelum meluncur terjun bebas ke lantai.
"Kalau sampai kamu kenapa-napa, bisa-bisa Amang di kekk," sambil mempraktekkan gerakan memotong leher. "Sama bapakmu."
"Worst thing ever!" gerutunya sebal.
Ia pun buru-buru menyimpan Saga yang sudah tak terlalu menjerit meski masih merengek-rengek ke bagian tengah tempat tidur, yang ternyata basah karena bekas ompol Arung.
"Biar lah," ia sepertinya mulai gila karena dari tadi ngomong sendiri. "Ntar kamu sekalian ganti baju ya."
Kemudian menghalangi masing-masing sisi tempat tidur dengan tumpukan bantal dan guling.
"Tengkurap boleh, tapi no guling-guling oke?" telunjuknya mengarah tepat ke wajah Saga yang kini tengah memelototinya.
"Eits, nggak boleh melotot!" ia menggoyangkan telunjuk tanda tak setuju.
"Nggak sopan melotot sama orangtua. Ah elah, emang gua udah jadi orangtua. Gua kan masih muda," ia terus saja mengoceh sendiri sambil berjalan ke kamar mandi berniat menceboki Arung yang ngompol. Namun baru sampai di depan pintu kamar mandi, justru ia yang melotot,
"ARUNGNGNG!?!?"
Demi melihat Arung sedang tergelak-gelak kegirangan sambil tangannya mengobok-obok air di dalam kloset.
***
Puput
Ia baru selesai menyapu halaman yang kotor akibat helai daun rambutan, jambu biji, dan mangga yang berjatuhan ketika Miko memanggil-manggil dari dalam rumah.
"Mba Put, handphone moni ket mau (Mba Put, handphone nya bunyi dari tadi)."
"Tulung gowo rene (tolong bawa kesini)," ujarnya sambil mendudukkan diri di teras, menyeka peluh yang membasahi leher dan pelipisnya karena menyapu tadi.
"Iki," Miko yang telah rapi memakai seragam sekolah mengulurkan ponselnya yang tiba-tiba menyala.
Bos 2 Calling
Waduh, Bang Rakai, ia mengernyit bingung. Kenapa sepagi ini sudah meneleponnya? Apakah ada laporan yang terlewat atau....
"Halo, Bang?"
"Ke kantor? Bisa...bisa, eng...apa ada laporan yang kurang?"
"Bukan, ke apartemenku."
"Apa?"
"Dengar, aku nggak akan mengulang kalimat. Jadi tolong kamu dengarkan baik-baik."
Ia mengernyit.
"Kamu datang ke apartemenku. Langsung masuk lobby, barusan udah ngasih tahu sekuriti kalau kamu tamuku. Tinggal kasih tunjuk kartu identitas. Kalau bisa sebelum jam tujuh udah sampai disini. Jangan lupa mampir ke supermarket yang udah buka atau pasar atau warung, terserah kamu. Beli semua perlengkapan yang diperlukan bayi umur 1 tahun dan beberapa bulan. Semuanya. Kamu pasti tahu kan perlengkapan bayi seusia mereka apa aja? Nanti reimbursh."
Ia masih mengernyit berusaha mencerna maksud dari sederet kalimat Rakai yang diucapkan dalam sekali tarikan napas ketika sambungan telepon telah terputus.
Klik.
Tut! Tut! Tut! Tut!
Ia masih terbengong-bengong ketika Miko tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya sambil mengulurkan tangan, "Budhal sik, Mba (berangkat dulu, mba)."
Ia menyambut uluran tangan Miko sambil terus memikirkan instruksi panjang Rakai.
"Ngopo to esuk-esuk wis ngelamun (kenapa pagi-pagi sudah melamun)?" tegur Miko demi melihat wajah bengongnya.
Ia hanya meringis, "Lho gasik men to (pagi sekali)?"
"Saiki wis kelas rolas, ben esuk ono pengayaan (sekarang sudah kelas dua belas, setiap pagi ada pengayaan)."
"Oh," ia mengangguk-angguk. "Ati-ati."
Miko balas mengangguk bersamaan dengan beberapa orang teman sekolahnya yang lewat di depan rumah.
"Oi, Mik! Wis nggarap pr rung (sudah mengerjakan pr belum)?"
Miko dan teman-temannya masih bercakap-cakap di depan rumah ketika matanya tak sengaja melihat jam di layar ponsel yang menyala karena ada notifikasi pesan masuk.
Jam 06.15
Waduh, padahal ia sudah harus tiba di apartemen Rakai sebelum jam tujuh. Ia pun buru-buru masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersiap-siap.
Jam 06.55
Dengan sedikit kerepotan karena dua tangannya penuh oleh beberapa kresek berisi hasil belanjaan, ia akhirnya berhasil memencet bel di pintu apartemen Rakai.
Harus menunggu beberapa menit sebelum pintu dibuka oleh seorang cewek berwajah cantik yang hanya mengenakan kaos oblong kebesaran milik Rakai -karena ia pernah melihat bosnya itu memakai kaos tersebut di acara gathering ManjoMaju-.
"Cari siapa?" alis cewek cantik itu mengkerut begitu melihatnya.
"B-bang Rakai ada?" jawabnya gugup demi menyadari cewek itu memperhatikannya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ada. Kamu siapa? Ada perlu apa?"
"Siapa, Zik?" terdengar teriakan Rakai dari dalam.
"Tahu," jawab cewek itu setengah berteriak. "Nih lagi ditanyain."
"Puput bukan? Kalau iya suruh masuk!" Rakai kembali berteriak disusul suara tangis bayi.
"Huakhakhakhakhakhakkkk....."
"Iya, saya Puput," ujarnya cepat.
"Oh, oke....," cewek itu membuka pintu lebih lebar. "Jangan lupa tutup pintunya," perintah cewek itu sambil melenggang lebih dulu masuk ke dalam.
Ia harus meletakkan kresek belanjaan yang lumayan berat ke atas lantai, sebelum akhirnya menutup pintu.
"Siapa?" terdengar suara Rakai kembali bertanya, kali ini tak lagi berteriak.
"Tuh, baby sitternya udah datang," jawab cewek itu sambil menunjuk kearahnya.
"Oh, Put, akhirnya," dengan wajah gembira Rakai yang tengah menggendong seorang bayi yang sedang menangis menjerit-jerit sambil menghentakkan kaki menghampirinya.
"Masuk...masuk...Sori nih jadi ngerepotin kamu. Tadi subuh Bagus udah jemput Mba Suko tapi ternyata lagi rewang di rumah saudaranya di Delanggu apa mana gitu. Jadi nggak bisa kesini," ujar Rakai yang penampilannya kali ini terlihat jauh berbeda dibanding waktu mereka biasa bertemu di kantor. Saat ini Rakai hanya memakai celana pendek di atas lutut dan kaos tanpa lengan dengan rambut acak-acakan yang membuat poninya jatuh menutupi dahi.
Sebelum ia mampu meloloskan diri dari keterpanaan, Rakai lebih dulu kembali bersuara, "Nah....Saga.....ada siapa tuh datang....ingat nggak sama Tante Puput?" sambil mengarahkan telunjuk padanya.
"Huakhakhakhakhakhakkkk...."
Otomatis ia memperhatikan wajah bayi yang sedang digendong Rakai, dan terkejut begitu menyadari, "I-ini Saga nya Bang Rendra?!"
"Tuh, kakaknya juga disini," tunjuk Rakai ke arah dalam dimana ia bisa melihat Arung tengah mengacak-acak rak berisi ratusan action figure superhero sambil sesekali memukul-mukulkannya ke salah satu sisi rak.
"Ampun dah!" Rakai spontan menepuk dahinya dengan wajah memelas demi melihat tingkah Arung yang kini bahkan sedang tertawa terbahak-bahak sambil terus memukul-mukulkan action figure superhero favorit sejuta umat ke sudut rak.
"Hancur koleksi gua," keluh Rakai sambil membuang muka dari tawa Arung yang semakin tergelak.
"K-kok mereka bisa ada disini?" ia masih mengernyit bingung tak mengerti.
"Ceritanya panjang," desis Rakai dengan wajah sebal. "Sekarang kamu cuci tangan dulu. Terus pegang Saga nih dari tadi nangis terus nggak tahu minta apa," lanjut Rakai menunjuk Saga yang terus saja menjerit di gendongan Rakai.
"Huakhakhakhakhakhakkkk....."
Dengan tergopoh-gopoh ia berjalan menuju pantry, berniat mencuci tangan di tempat cuci piring. Namun Rakai mencegahnya.
"Ke kamar mandi aja Put. Biar sekalian cuci kaki yang bersih. Ntar bisa-bisa gua diomelin Rendra kalau yang megang anaknya nggak higienis."
Ia pun menurut pergi ke kamar mandi, eh tapi dimana kamar mandinya? Ini baru pertama kali ia masuk ke dalam apartemen Rakai. Biasanya cuma sampai lobby untuk menyerahkan dokumen.
"Di sebelah TV," tunjuk Rakai seolah mengerti isi kepalanya. "Kamar mandi disana."
Ia bergegas menuju kamar mandi yang ditunjuk Rakai, melewati kamar utama yang pintunya terbuka lebar. Dimana tanpa sengaja ia melihat cewek cantik yang tadi membukakan pintu untuknya sedang tidur-tiduran di atas tempat tidur berukuran besar sambil memainkan ponsel dengan mengangkat sebelah kaki. Memperlihatkan long legs nan indah yang bahkan tak tertutup apapun.
Glek.
Pemandangan itu serta merta membuatnya menelan ludah. Ia bukannya tak tahu dua pentolan ManjoMaju, Rendra-sebelum berkeluarga- dan Rakai, memiliki gaya hidup bebas ala metropolis. Namun melihat kenyataan dengan mata kepala sendiri tetap saja membuatnya terkaget-kaget.
"Kamu beli apa aja Put, banyak amat?"
Saat ia kembali dari kamar mandi dilihatnya Rakai telah duduk sila di atas karpet depan TV. Dengan Saga yang sudah tengkurap di sebelahnya meski masih merengek-rengek. Dan Arung yang mulai tertarik untuk nimbrung membongkar kresek belanjaannya.
"No Arung! No!" cegah Rakai ketika melihat Arung mengambil minyak telon dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.
"Itu bukan makanan!" dengan mendengus sebal Rakai berusaha mengambil minyak telon dari tangan Arung, namun justru semakin membuat Arung gigih mempertahankannya.
"Arung!" suara Rakai mulai meninggi.
Membuatnya buru-buru mengambil alih, "Arung sayang.....sini sama Tante....," ia mengulurkan tangan kearah Arung. Yang langsung menyambutnya dengan tawa tergelak.
"Hufffft!" demi melihat Arung mau melepaskan minyak telon dan kini duduk manis di pangkuannya, Rakai langsung menghembuskan napas lega.
"Nyerah gua Put, ngadepin anak-anak Rendra," gerutu Rakai sambil menggelengkan kepala. Lalu merebahkan diri di atas karpet.
Ia hanya tertawa, "Arung sama Saga lucu kok Bang," sambil meperhatikan Arung yang kini tengah asyik memainkan kardus berisi biskuit dengan memukul-mukulkannya ke karpet. Sementara Saga yang tengkurap masih sedikit merengek, membuatnya meraih tubuh bayi montok itu.
"Saga kenapa sayang? Haus? Iya?"
"Hekhekhekhek.....," mulut Saga meletot-letot sambil merengek.
"Susu dan lain-lain ada di pantry Put," tangan Rakai mengulur kearah pantry dengan mata terpejam.
Ia mengangguk langsung beranjak ke pantry berniat membuat susu untuk Saga. Namun ia mendadak teringat sesuatu, "Saga bukannya masih ASI Bang? Ada ASI perah nggak?"
Namun yang ditanya tak kunjung menjawab, telah terlelap ke alam mimpi.
"Bang Rakai?" panggilnya lagi. Khawatir salah bisa-bisa malah diare Saga nya.
Mungkin karena mengetahui Rakai tak merespon meski ia terus memanggil, Arung berinisiatif untuk membantunya dengan membangunkan Rakai. Namun cara yang dipakai ajaib, antimainstream.
"Aduh! Aduh!" teriak Rakai keras ketika Arung menarik-narik bulu halus yang banyak terdapat di sepanjang kaki bosnya itu.
"Eh, Arung?" ia pun terkejut mendapati Arung terkekeh-kekeh senang sambil tangannya terus mencubit sekaligus menarik-narik bulu yang banyak terdapat di sepanjang kaki Rakai.
"Aduh! Sakit Arung!" mau tak mau Rakai bangkit dan bergerak menjauh agar lolos dari serbuan cubitan Arung.
"Lama-lama gua bisa stres!" gerutu Rakai sambil bangkit.
"Bang," ia tak mau kehilangan momen. "Ini Saga bukannya masih ASI? Emang boleh minum susu formula?"
"Takutnya jadi diare," sambungnya masygul.
"Bukannya sama-sama susu?" Rakai justru balik bertanya.
Oke, fixed Rakai tak tahu apa-apa tentang bayi dan anak-anak. Jadi percuma juga ia terus bertanya.
"Udah deh, kasih apa aja terserah kamu," lanjut Rakai akhirnya. "Yang penting anaknya diam, nggak nangis. Udah sujud syukur gua."
Ia hanya meringis. "Tapi Bang...."
Rakai yang sudah beranjak jadi mengurungkan langkah. "Apalagi?"
"Jam sembilan ada meeting sama supplier baru. Lanjut ketemu sama Pak Gatot. Khawatir Abang lupa. Ini reschedule jadwal seminggu lalu. Bisanya cuma di hari Sabtu. Tapi Abang udah setuju waktu itu," jawabnya sekaligus berusaha memberi penjelasan sambil terus meringis merasa tak enak.
Rakai melenguh sambil memperhatikan jam digital yang terpasang di atas televisi. Sekarang tepat pukul 07.34.
"Jam sembilan kan?" ulang Rakai.
Ia mengangguk.
"Aku tidur sebentar. Kalau jam delapan lewat lima belas nggak keluar kamar, tolong bangunin," ujar Rakai cuek lalu beranjak memasuki kamar. Meninggalkannya bertiga dengan Arung dan Saga yang kini tengah asyik bermain sendiri.
***
Keterangan :
Aiptu. : ajun inspektur polisi satu, pangkat dalam kepolisian
Reimbursh : penggantian dana