Always Gonna Be You

Always Gonna Be You
40. Life Is Like A Rollercoaster



Gemintang Sagara, putra ketiga kami, lahir dengan sehat dan selamat tanpa kurang suatu apapun melalui proses operasi sectio caesaria pada hari Selasa jam 14.00. Dengan BB/TB 3,3kg/55cm.


Rendra sendiri yang memotong tali pusar, mengadzankan, menemaninya melakukan IMD, juga memeluk tubuhnya erat saat efek obat bius perlahan mulai menghilang berganti dengan rasa dingin menggigit yang membuat tubuhnya menggigil kedinginan.


Untuk kelahiran kali ini ia bisa tersenyum lega, karena Saga terlahir sehat dan montok. Dengan rambut tebal yang hitam, lalu mata, hidung, bibir, dan bentuk muka yang plek ketiplek Rendra. Jadi ia kebagian apanya?


"Terima nasib Nggi, punya dua anak mirip bapaknya semua. Sabar ya," Rakai menggelengkan kepala tak percaya. Seolah berusaha membesarkan hatinya.


Namun Rendra justru terkekeh senang, "Ini bukti konkret man, betapa cintanya gua sama Anggi."


Ungkapan jumawa Rendra di depan banyak orang termasuk Papah Mamah membuatnya mencibir. Somethings never change.


Mungkin karena perasaan bahagia memenuhi hatinya hingga meluap-luap, membuat semua jadi terasa lebih mudah. Hari kedua ia sudah bisa ke kamar mandi sendiri. ASI juga lancar dan langsung melimpah. Jauh berbeda dengan kelahiran pertama dulu.


Hari ketiga ia bahkan sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Disambut Arung yang langsung memeluknya senang karena empat hari tak bertemu.


"Mami....Mami...Ung...Ung....," begitu celoteh Arung sambil menunjuknya lalu memegang dada sendiri. Mungkin kurang lebih Mami Arung sudah pulang, begitu kira-kira.


Malam hari mereka mulai berbagi tugas. Ia tidur bersama Saga, sementara Rendra menemani Arung yang mendadak jadi sering terbangun dari tidur dan menangis keras.


"Abang, kenapa bangun lagi?"


Ia yang sedang menyusui Saga mendengar suara parau Rendra saat Arung menangis untuk yang ke sekian kali. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul 02.15.


"Lapar mungkin," ia mencoba memberi solusi.


"Tapi nggak mau minum susu," suara Rendra terdengar bingung.


"Kepanasan atau kedinginan nggak?"


Dari sudut mata ia melihat Rendra mengecek AC. Namun Arung masih tetap menangis.


"Abang sayang...."


Ia mendengar Rendra mencoba bicara pada Arung yang masih saja menangis meski sudah digendong. Saat melirik ia melihat Rendra sedang memeluk Arung sambil mengelus punggungnya.


"Lemme know what's bothering you buddy?" bisik Rendra namun masih bisa terdengar oleh telinganya.


"I'm here...."


Entah karena kalimat menenangkan Rendra atau memang sudah cape kelamaan menangis, lambat laun Arung mulai terdiam, dan kembali terlelap.


Lalu acara terbangun dan menangis di malam hari pun menjadi agenda rutin Arung selama seminggu berturut-turut. Selama itu pula, Rendra yang sebenarnya tengah ngebut menyelesaikan tesis, mesti menenangkan Arung dengan memeluknya sepanjang malam sambil membisikkan kalimat-kalimat penuh cinta membius perasaan -meski Arung belum sepenuhnya mengerti arti kata-kata tersebut, namun bukankah bahasa cinta itu langsung merasuk di hati?- yang pasti sudah Rendra hapal diluar kepala sebagai master of speak iblis.


Ia jadi tertawa sendiri kalau mengingat hal ini. Rendra yang jago gombal sekarang harus mempraktekkan keahliannya untuk menenangkan anak yang menangis semalaman. Benar-benar peralihan status yang sempurna. Good job, Mr. Darmastawa.


Dan si sela-sela kehectican membantunya mengurus dua bayi, Rendra masih harus melakukan fisioterapi dua kali seminggu, yang semakin hari semakin terlihat hasilnya. Menjadi lebih ringan dan lancar saat melangkahkan kaki. Meski masih harus dibantu dengan menggunakan forearm.


Rendra juga berhasil menyelesaikan tesis. Sedikit molor memang dari target wisuda bulan Februari. Namun masih bisa mengikuti wisuda di bulan Mei, lebih cepat dibanding dirinya yang semester genap ini mengajukan cuti akademik.


Dan sambil menggendong Saga yang baru berusia 4 bulan, untuk yang kedua kalinya di gedung dan suasana yang sama namun dalam waktu berbeda, ia kembali mendengar nama Syailendra Darmastawa dipanggil oleh MC agar maju ke atas panggung.


Seperti baru kemarin. Pun ketika mereka tak sengaja berpapasan dengan Dekan Filsafat yang dulu pernah menggoda Rendra di wisuda sarjana, dengan tawa terkembang mengatakan, "Waduh, kamu lagi Ren? Bahaya nih jangan-jangan sebentar lagi kita jadi rekan."


Yang hanya ditanggapi Rendra dengan senyum simpul, "Sepertinya Pak."


Namun yang sama sekali tak ia sangka adalah keantusiasan Rendra, saat malam ini mereka sedang candle light dinner di ruang makan.


--Haha, ya tentu, status memiliki dua anak batita membuat mereka akhirnya memutuskan untuk makan malam romantis di rumah saja. Toh sejatinya kebahagiaan itu bukan dimana, tapi dengan siapa.--


"Aku langsung lanjut doktoral."


Ia tentu tak dapat menyembunyikan senyum bahagia karena Rendra benar-benar telah kembali menjadi Rendra yang biasanya. Full of energy.


"Aku juga udah masukkin applyan untuk tenaga pendidik."


"Doain lancar ya."


"Kayak yang telat banget nggak sih baru nemuin jalan di usia segini. Udah ada anak dua," Rendra terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Anak tiga ding," ralat Rendra.


"Empat malah bentar lagi nyusul," lanjut Rendra sambil mengerling kearahnya.


Namun ia tak menggubris, lebih suka membahas hal lain, "Nggak ada kata terlambat. Tapi apa Abang udah siap sama dunia baru?"


"Beda sama dunia Abang yang biasanya."


Rendra tersenyum, "Aku nggak lepas total dari ManjoMaju yang bisa bikin aku jadi kayak sekarang ini. Cuma beda prioritas."


"Tapi kalau boleh jujur aku lebih seneng Abang yang sekarang," ia ikut tersenyum.


Mata Rendra seolah mengatakan 'why?'


"Lebih adem," jawabnya sambil masih tersenyum. "Lebih bikin aku tenang nggak khawatir."


"Karena aku kadang masih suka khawatir kalau Abang lagi ikut tender atau ngurus proyek yang nilainya gede dan menyangkut banyak orang....," kali ini ia tak sanggup menatap manik Rendra.


"Aku takut kejadian kayak dulu terulang lagi."


"Sementara sekarang keadaan kita udah beda. Udah ada anak-anak yang masih bergantung sama kita. Aku...."


Rendra meraih tangannya lalu meremasnya lembut.


"Ya tapi aku juga tahu kalau Abang nggak bisa dipisahkan sama dunia bisnis," ia mengangguk mengerti. "Aku tahu Abang punya kemampuan besar disana."


"Cuma kalau boleh minta....," ia memberanikan diri menatap manik Rendra. "Sekarang cari aman aja Bang."


Rendra mengulurkan tangan untuk mengelus pipinya lembut, "Aku tahu. Kamu nggak usah khawatir."


Apa yang terjadi?


Ia pergi ke kantor dengan gelisah. Meski Rendra berusaha menenangkannya dengan mengatakan, "Nggak ada apa-apa. Kamu tenang aja."


Namun ekspresi salah tingkah Rakai dan Bang Leo saat melihatnya justru semakin membuatnya gelisah.


"Ada apa?" tanyanya tak sabar ketika malam ini ia memergoki Rendra masih asyik menelepon di ruang kerja padahal Arung sudah sejak tadi menunggu kedatangan Rendra untuk membacakan cerita sebelum tidur.


"Nggak papa," Rendra jelas berusaha tersenyum. "Tolong kamu yang bacain cerita buat Arung dulu, ntar aku nyusul."


Namun Rendra tak kunjung menyusul. Hingga akhirnya ia tahu Rendra tertidur di ruang kerja. Membuatnya sadar, sesuatu pasti telah terjadi.


Sesuatu entah apa yang membuatnya khawatir dan merasa takut terbukti beberapa hari kemudian.


Di hari Jum'at malam, saat mereka hanya tinggal berempat di rumah, karena jadwal Mba Suko libur. Ia tengah membuat susu untuk Arung ketika mendengar suara decitan ban mobil dari arah halaman depan rumah.


Membuat Rendra yang sedang menimang Saga berteriak panik, "Anggi! Masuk ke kamar!!"


Ia yang tak mengerti maksud dari teriakan Rendra masih berdiri di pantry berusaha menutup kaleng susu ketika terdengar suara keras dari arah ruang tamu.


PRANGNGNG!!!


Keterkejutan membuat botol susu yang dipegangnya jatuh ke lantai. Bertepatan dengan Rendra yang meraih bahunya agar segera beranjak dari pantry.


PRANGNGNG!!!


BRAKKKK!!!!


BRAKKKK!!!!


Suara-suara keras yang sepertinya berasal dari kaca dan benda yang dihancurkan membuat tubuhnya menggigil gemetaran.


Rendra hanya menggelengkan kepala sambil buru-buru menutup pintu kamar kemudian menguncinya dan mendorong meja serta sofa untuk menghalangi pintu.


PRANGNGNG!!!


"RENDRA!!! DIMANA KAU?!?"


DAG! DAG! DAG! DAG!


Ia semakin menggigil ketika pintu kamar mereka digedor dengan tenaga yang sangat kuat. Sementara Arung dan Saga mulai menangis karena kaget. Spontan ia berusaha menutup kedua telinga Arung dan Saga agar tak mendengar keributan yang terjadi.


DAG! DAG! DAG! DAG!


DAG! DAG! DAG! DAG!


"RENDRA! JANGAN JADI PENGECUT KAU!!"


Rendra menariknya untuk masuk ke kamar Arung.


"So sorry," ujar Rendra dengan wajah berkilat marah sambil meletakkan Arung yang masih menangis bingung ke atas tempat tidurnya.


"Tunggu disini."


"Abang mau kemana?!"


"Sebentar."


"Hekhekhekhekhek...," dengan tangan gemetaran ia buru-buru menyumpal Saga yang menangis dengan nen. Sementara tangan kanannya memeluk Arung yang tak lagi menangis namun tengah memeluk pinggangnya erat dengan wajah bingung. Selama itu pula ia berusaha meminimalisir ketakutan dengan menutup telinga anak-anak.


DAG! DAG! DAG! DAG!


"RENDRA!!"


Gedoran di pintu semakin keras terdengar. Rendra dengan terhuyung memakai forearm berusaha secepat mungkin pergi ke ruang kerja. Tak sampai dua menit kemudian telah kembali sambil membawa ponsel. Kemudian menutup pintu kamar Arung dan menguncinya.


DAG! DAG! DAG! DAG!


DAG! DAG! DAG! DAG!


DAG! DAG! DAG! DAG!


"KELUAR KAU PENGECUT!!"


Rendra mendudukkan diri di sebelahnya. Dengan tergesa mengetikkan sesuatu di dalam ponsel.


DAG! DAG! DAG! DAG!


"RENDRA! AKU TAHU KAU ADA DI DALAM!!!"


"Aku nggak akan keluar," Rendra menggelengkan kepala sambil terus mengetikkan sesuatu di dalam ponsel.


"Bisa mati konyol kalau keluar."


Ia tak mampu bahkan untuk sekedar bertanya. Lebih memilih memeluk erat Saga dan Arung.


Entah berapa lama ia meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk anak-anak. Mendengarkan suara-suara keras akibat kaca yang dipecahkan dan barang-barang yang dirusak dalam suasana mencekam. Sementara Rendra memeluknya erat sambil mencium rambutnya dalam-dalam.


Namun lambat laun teriakan marah dan suara barang-barang yang dihancurkan mulai menghilang. Berganti dengan suasana sunyi. Disusul oleh suara teriakan panik Rakai, "REN??"


Bersamaan dengan ponsel yang menyala, Rendra berjalan kearah pintu untuk membukanya. Diikuti kemunculan Rakai dengan wajah pias.


"Kalian nggak papa?" sambil melihat kearahnya yang masih memeluk anak-anak.