
Dua minggu berlalu,
Saat sore hari, setelah jam kerja selesai, Eylaria selalu mengganti roknya dengan celana panjang. Itu membuatnya terasa lebih nyaman saat pulang pergi dengan kendaraan umum.
Arlo melihat Eylaria yang berjalan menyusuri trotoar menuju halte bus. Mobil Arlo berhenti tepat di samping Eylaria sebelum wanita itu tiba di Halte bus.
Tinnn tinn…, bunyi klakson mobil mengagetkan Eylaria. Eylaria hampir saja mengumpat jika ia tidak segera mengenali pemilik mobil.
“Masuklah Ey, aku akan mengantarmu pulang,” Seru Arlo dari dalam mobil.
“Tidak usah, terima kasih Mr. Arlo…,” Tolak Eylaria dengan sopan.
“Masuklah,” Paksa Arlo menaikkan nadanya. Eylaria melihat sekelilingnya, memastikan tidak ada rekan kerja yang melihatnya, kemudian dengan ragu memasuki mobil Arlo.
“Kau tidak perlu mengantarku pulang…,”
“It’s Ok…, kita mampir makan dulu…,” Jawab Arlo tanpa meminta persetujuan Eylaria.
Eylaria hanya menghela nafas, sepertinya bossnya itu memang suka mengambil tindakan sesuka hatinya. Arlo memperhatikan bawahan yang Eylaria gunakan berbeda dengan yang ia gunakan setiap berada di kantor, assisten itu biasanya selalu menggunakan rok.
“Kau tidak usah menggunakan rok jika tidak nyaman di kantor.”
“Tidak. Aku hanya mengganti celana karena naik kendaraan umum.”
“Jadi kau sengaja menggunakan rok untuk menggoda karyawan pria di kantor?” Tanya Arlo bercanda.
“Menggoda siapa? Aku menggunakan rok demi menjaga standar sebagai assisten boss besar seperti mu, agar terlihat lebih baik dan pantas dilihat. Itu saja…,” Bela Eylaria sedikit tidak suka karena merasa Arlo seperti memandang rendah dirinya.
“Tadi beberapa pria di kantor dan juga klienku yang datang, sempat salah fokus karena melihat pahamu yang putih.” Jawab Arlo dengan jujur, membuat Eylaria tersipu malu, tapi Eylaria tidak mengelak karena memang benar hari ini rok yang ia gunakan sedikit sempit dan pendek, sehingga ia tadi sempat menjadi lirikan beberapa pria di kantornya, tapi Eylaria tidak mau ambil hati.
“Baiklah, aku akan merubah pakaianku mulai besok.” Jawab Eylaria mengalah, ia pikir demi kebaikannya juga.
“Aku mengerti, mungkin kau sering melihat Boss-boss besar memiliki sekretaris atau assisten wanita yang menggunakan rok pendek. Itu biasa mereka lakukan untuk menarik client, agar menang tender. Yah, bagaimanapun, pria muda maupun tua tetap pria bukan… Tapi kau tidak perlu melakukannya, karena aku bisa memenangkan tender dengan keahlian ku sendiri, bukan karena penampilan mu…,” Jelas Arlo.
Eylaria hening sesaat, mencerna tiap ucapan Arlo yang awalnya ia rasa baik-baik saja, tapi kenapa akhirnya justru terdengar menjatuhkannya?
Tapi kau tidak perlu melakukannya, karena aku bisa memenangkan tender dengan keahlian ku sendiri, bukan karena penampilan mu…
Bukan karena penampilanmu…
Bukan karena penampilanmu…
Bukan karena penampilanmu…
Eylaria berdecih, jadi Arlo sedang memamerkan kemampuannya dan mengatai penampilannya yang tidak membantu apa-apa dalam hal pekerjaan? Arlo sedang menghina penampilannya yang memang tidak seseksi seperti assisten bos besar lainnya?
“Ahh, Mr. Arlo, maaf sekali, aku baru ingat, aku ada janji dengan temanku malam ini, boleh kau turunkan aku di depan?” Tanya Eylaria menutupi kekesalannya.
“Tidak bisa kau batalkan janji dengan temanmu?”
“Tidak! Ini janji penting, tolong berhenti di depan…,” Seru Eylaria dengan sikap terburu-buru untuk turun.
“Aku akan mengantarmu, alamatnya?”
“Tidak usah…, aku bisa sendiri, menepi saja di depan…,” Seru Eylaria menaikkan nadanya, Arlo akhirnya mengalah dan menepikan mobilnya, Eylaria segera turun dan membanting pintu mobil dengan setengah tenaga sehingga berbunyi agak kencang.
“Haisssh, kasar sekali dia…,” Geram Arlo yang kaget.
Keesokkan harinya,
Eylaria seperti biasa akan menggantikan celana panjangnya di toilet, tapi kali ini ia tidak menggunakan rok, tapi ia menggunakan terusan dress kerja. Rambutnya yang panjang ia gerai dan bibirnya yang pink ia poles dengan sedikit warna orange.
Ia sengaja memberi warna yang berbeda pada penampilannya, ingin menunjukkan pada Arlo, meskipun tak seksi tapi ia juga bisa menjadi assisten yang cantik.
Hari itu perusahaan mereka akan rapat dengan salah satu perusahaan besar. Eylaria tampak sibuk mondar mandir merapikan ruang meeting dan mempersiapkan materi rapat, tanpa sadar sudah membuat beberapa karyawan pria yang melihatnya terpukau dengan kecantikannya yang tampak natural. Beberapa karyawan yang ikut menghadiri rapat sudah memenuhi kursi masing-masing sebelum Arlo tiba.
“Permisi, Mr. Erick dan teamnya sudah tiba…,” Lapor Ema, salah satu karyawan front office kepada Eylaria yang sedang mensetting laptop di ruang rapat.
“Baiklah, terima kasih Ema…,” Jawab Eylaria dengan sopan kemudian menghampiri pintu di mana client yang dimaksud melangkah memasuki ruang meeting.
Eylaria dengan sopan menyambut client tersebut dan mempersilahkan mereka duduk. Hanya berbeda beberapa detik, Arlo pun tiba di sana. Dengan langkah besar dan cepat ia memasuki ruang meeting yang sudah siap dengan semua orang.
Arlo sedikit terperangah kaget melihat Eylaria yang duduk di sisi kanannya. Wanita itu tampak berbeda hari ini, wanita itu menggunakan terusan berwarna putih, sederhana tapi tampak sangat manis dan berseri.
Arlo tidak bisa terlalu fokus dengan meetingnya. Untungnya ia memang pintar dan terbiasa dengan meeting, sehingga ia bisa menangkap intinya dengan baik. Matanya tidak bisa teralihkan dari penampilan Eylaria yang menarik perhatiannya, jantungnya berdegup kencang hanya dengan melihat Eylaria berkedip dan sesekali tersenyum sopan memperhatikan perwakilan yang sedang presentasi di hadapan mereka.
Meeting itu berlangsung dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti. Dalam hati Arlo memuji Eylaria yang mempersiapkan segalanya dengan sangat baik.
“Terima kasih Arlo. Saya harap kerjasama kita berlangsung dengan baik dan memuaskan.” Seru Mr. Erick tersenyum senang pada Arlo.
“Sama-sama. Ini akan menjadi kerjasama yang menyenangkan.” Jawab Arlo tersenyum puas.
“Oh ya, dia karyawanmu? Aku baru melihatnya…,” Seru Mr. Erick menunjuk Eylaria yang sedang merapikan berkas sisa rapat.
“Iyah, dia assisten baru saya.”
“Wah, kau tidak memperkenalkannya padaku?” Tanya Mr. Erick yang sudah menjadi kolega perusahaan Arlo selama 2 tahun ini.
“Eylaria, kemari…,” Panggil Arlo. Eylaria pun segera menghampiri di mana Arlo dan Mr. Erick beserta teamnya sedang berdiri.
“Ada apa Mr. Arlo?” Tanya Eylaria sopan.
“Perkenalkan, ini kolega lama perusahaan kita, Mr. Erick dan teamnya…,” Ucap Arlo.
Sebenarnya Eylaria sudah mengetahuinya, tapi memang ia belum memperkenalkan diri secara langsung karena saat mereka tiba, rapat akan segera dimulai, jadi ia tidak sempat memperkenalkan diri.
“Hallo Mr. Erick dan team, saya Eylaria…,” Ucap Eylaria sopan mengulurkan tangannya. Mr. Erick yang berusia sekitar 40 tahunan itu segera menyambut tangan Eylaria dan menggunakan tangan satunya untuk menepuk-nepuk tangannya yang sedang digenggam oleh Mr. Erick.
“Senang mengenalmu…, jujur saya terkesan dengan anda…,”
“Maaf?” Tanya Eylaria tidak mengerti.
“Anda cantik sekali.” Ucap Mr. Erick terus terang.
Senyum manis Eylaria berubah menjadi senyum kecut, dasar pria genit! Arlo menghela nafas kasar.
“Eylaria, kau masih harus merangkum hasil rapat tadi bukan?” Tegur Arlo dengan sopan. Eylaria mengerti Arlo sedang menyelamatkannya, ia berusaha menarik tangannya yang masih digenggam.
“Maaf, saya masih harus bekerja Mr. Erick…,” Pamit Eylaria terburu-buru saat tangannya sudah berhasil lepas.
“Sure, silahkan.” Jawab Mr. Erick tersenyum kagum tanpa melepaskan tatapannya melihat Eylaria.
Drap Drap Drap….
Langkah cepat dan besar milik Arlo berjalan menuju ruang kerja Eylaria. Tanpa mengetuk pintu, pria itu membuka pintu, membuat Eylaria sedikit kaget dan segera berdiri saat melihat Arlo yang berjalan memasuki ruang kerjanya.
“Mr. Arlo…,” Desis Eylaria sedikit bingung kenapa Arlo tergesa-gesa memasuki ruang kerjanya dengan raut wajah tampak kesal.
Bossnya itu berjalan mendekatinya, berdiri dengan sangat dekat dengannya. Eylaria memundurkan langkahnya satu langkah, membuat kursi duduknya terdorong dari posisi awal.
“Aku menjadikanmu assistenku, bukan untuk merayu pria di perusahaanku…,” Tegur Arlo tidak suka. Eylaria tercengang melihat Arlo yang tampak lagi-lagi tidak suka dengan penampilannya.
“Aku… apa aku melakukan kesalahan?” Tanya Eylaria yang bingung dengan kemarahan Arlo.
“Aku sudah peringatkan, jangan gunakan rok, dan terusan seperti ini lagi!” Tegur Arlo dengan tegas. Eylaria menundukkan kepalanya, memperhatikan terusan yang ia gunakan, apa salahnya? Terusan itu melewati 2 cm batas lututnya dan bahkan sama sekali tidak seksi.
Arlo berbalik, akan meninggalkan ruangan itu, “Jika kau tidak suka denganku, jangan jadikan pakaianku sebagai alasan.” Jawab Eylaria dengan suara bergetar, air matanya sudah menumpuk di sudut matanya. Ia mengepalkan tangannya dengan erat, tiba-tiba ia merasa kesal pada Arlo.
Arlo berbalik, kembali menghadap Eylaria yang masih menundukkan kepalanya.
“Jika dari awal tidak suka dan tidak ingin menerimaku bekerja di sini, tidak usah berpura-pura baik.” Ujar Eylaria, kali ini ia mengangkat wajahnya, menatap Arlo dengan mata berkaca-kaca. Arlo tersentak, bukan itu yang ia maksud, sepertinya ia sudah membuat Eylaria salah paham.
“Bukan itu yang aku maksud,” Ucap Arlo, tapi Eylaria tidak ingin memperdulikannya, ia justru membereskan peralatan kerjanya, memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam tas dengan asal dan berniat meninggalkan ruangan itu.
Arlo dengan cepat menangkap lengan Eylaria, mencengkram kedua lengan wanita yang sudah meneteskan air mata di wajahnya itu dengan kuat. Hati Arlo terasa sakit melihat Eylaria menangis.
“Kau salah paham…,” Ucap Arlo berusaha menjelaskan.
“Aku mengerti, aku tidak memiliki kualitas sebagai assisten boss besar sepertimu. Aku akan mengundurkan diri…,”
“Heii, dengarkan aku dulu…,” Seru Arlo frustasi.
Air mata Eylaria tak henti menetes, mata dan hidungnya memerah, bibirnya tampak manyun, menatap kesal pada Arlo.
“Ya Tuhannn…,” Seru Arlo yang tak tahan melihatnya, menarik Eylaria ke dalam pelukannya dan mengelus pelan rambut wanita yang sudah menangis bombai itu.
“Lepaskan…,” Rontah Eylaria dengan kesal mendorong Arlo, tapi tubuh kekar pria itu sama sekali tidak terusik.
“Berhentilah menangis lagi, ok?”
Arlo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia dibuat pusing oleh Eylaria yang menangis tersedu-sedu selama hampir lima belas menit, menunggu wanita itu untuk bisa berbicara dengan tenang.
“Kau bekerja dengan baik Ey, bahkan sangat baik…”
“Lantas kenapa kau tidak menyukaiku?” Tanya Eylaria yang terisak seperti anak kecil.
“Aku tidak, tidak menyukaimu… Aku hanya memintamu untuk tidak menggunakan rok atau apapun itu yang mengekpos kaki putihmu…,”
“Kenapa? Dari kemarin dan hari ini, kau terus membahas rok dan pakaianku. Apa karena aku tidak berpenampilan secantik assisten boss lainnya?” Tanya Eylaria bingung.
“Tidak Ey, justru karena kau terlalu cantik dan membuat pria-pria ingin menggodamu. Seperti Mr. Erick tadi yang bersikap genit padamu…,” Jelas Arlo menghela nafas kasar, ia kesal saat mengingat bagaimana Mr. Erick mengelus dan menepuk tangan Eylaria.
“Hanya karena itu??” Tanya Eylaria meyakinkan, wajahnya sedikit tersipu mendengar Arlo menyebutnya cantik.
“Hmm…,” Jawab Arlo menggangukkan kepalanya.
“Bukan karena kau membenciku?” Tanya Eylaria lagi.
“Aku tidak membencimu…,” Jawab Arlo dengan tegas, sebenarnya ia bingung kenapa Eylaria menggangap dirinya membenci Eylaria.
Eylaria berpikir sesaat, jika benar masalah penampilannya membuat fokus para pria terganggu, maka percuma Eylaria menangis hingga menyebabkan matanya sembab dan hidungnya memerah.
Eylaria menundukkan kepalanya, lagi, Arlo merengkuh kepalanya, menyandarkan ke dadanya dan mengelus rambutnya. Eylaria seketika sadar, Arlo sedari tadi melakukan hal itu untuk menenangkannya.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Eylaria pada Arlo, mengangkat kepalanya, menatap bingung pada Arlo yang juga menatap lembut matanya.
“Apa??” Tanya Arlo salah tingkah kemudian melepaskan pelukannya.
“Aku hanya menenangkanmu…,” Jawab Arlo beralasan. Eylaria memundurkan tubuhnya, baru menyadari jika sejak tadi mereka sudah sedekat itu.
.
.
.
.
.
To Be Continue~