Accidently Fall In Love

Accidently Fall In Love
Chapter 12: Terkucilkan



Sudah seminggu berlalu sejak Arlo dan Eylaria berciuman di apartemennya, sejak hari itu pula Arlo tidak terlalu memperdulikan Eylaria. Ia hanya akan berbicara dengan wanita yang dengan menolaknya itu jika menyangkut hal pekerjaan. Di luar itu, tidak ada obrolan lain di antara mereka.


Sikap dingin dan cuek itu tentu saja memberi rasa tidak nyaman dan tamparan halus pada Eylaria, tapi, bukankah itu memang lebih baik, karena ia harus fokus bekerja.


Tringgg… Tringgg…


“Hallo…, ya Nico, baik, saya segera ke sana…,” Jawab Eylaria menjawab telfon kantornya yang berdering.


Itu adalah panggilan dari Nicolas yang memintanya datang ke ruangan Arlo, Eylaria melamun sesaat, kenapa tidak Arlo yang langsung menelfonnya? Apa Arlo sebenci itu padanya hingga tidak ingin sering berkomunikasi dengannya? Pikiran negatif itu terus terlintas di kepalanya sembari ia berjalan menuju ruang kerja Arlo.


Eylaria mengetuk pintu ruang kerja Arlo, samar-samar ia bisa mendengar suara obrolan dan tawa dari dalam sana, ada suara pria dan juga wanita.


“Masuklah Ey…,” Seru Nicolas yang menjawab, Eylaria pun segera membuka pintu.


Sedikit canggung melihat ekspresi bahagia ketiga orang yang sedang duduk di sofa di sana. Mereka pasti sedang membicarakan hal yang menyenangkan, karena Eylaria melihat dengan jelas Arlo tersenyum lebar menanggapi apa yang seorang wanita cantik di sampingnya ucapkan.


Arlo bahkan tidak menoleh saat Eylaria memasuki ruangan dan mendekati mereka.


“Kau sudah datang Ey, perkenalkan, ini Megan…,” Ucap Nicolas yang duduk di sebrang Arlo.


Wanita yang disebut Megan segera menoleh dan berdiri, tersenyum dengan cantik dengan gayanya yang elegan, sangat memukau. Tangannya mengulur untuk berjabat tangan dengan Eylaria.


“Perkenalkan aku Megan…, kau pasti Eylaria kan, pengganti Nicolas…,” Ucap Megan dengan percaya diri.


Eylaria tersenyum kikuk, seketika merasa minder dan tak percaya diri. Pikirannya berkecamuk, memikirkan kemungkinan besar Megan adalah kekasih Arlo. Dadanya terasa membuncah.


“Perkenalkan, aku Eylaria…,” Jawab Eylaria menyambut jabat tangan Megan. Tangan itu terasa halus dan sangat terawat. Kukunya dipoles dan di nail art dengan sangat rapi.


Eylaria mengepalkan kedua tangannya, malu dengan kuku-kukunya yang polos tanpa perawatan.


“Megan adalah Manager Pemasaran perusahaan kita. Dia sudah bekerja di sini selama 5 tahun. Dan dia baru saja kembali dari pekerjaan di Itali…,” Jelas Nicolas pada Eylaria.


“Wahhh…,” Respon Eylaria yang merasa takjub.


“Senang bertemu dengan mu Ey…, ku harap kita bisa akrab. Apa kau betah bekerja dengan Arlo? Dia sangat menyebalkan bukan?” Ucap Megan dengan ramah, bermaksud berbasa-basi.


“Ahhh tidak, Mr. Arlo sangat ba…,”


“Kenapa kau tiba-tiba menyerang ku heh? Baru 3 bulan kau di Itali, yang kau lakukan pertama kali adalah mencari-cari kesalahanku heh? Sombong sekali kau sekarang…,” Potong Arlo, pura-pura memprotes pada Megan.


Eylaria yang merasa Arlo sengaja memotong perkataannya hanya berusaha memberikan senyuman ramah. Ia tahu Arlo tidak memberinya kesempatan berbicara di sana.


“Kau yang mengirim ku ke sana…, kau lupa?” Protes Megan balik.


Eylaria dapat melihat interaksi mereka yang tampak sangat akrab. Kehadirannya bahkan sepertinya hanya patung di sana.


“Dia masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan sore ini Nico, apa kau membiarkannya hanya berdiri di sana?” Tegur Arlo pada Nicolas dengan gerakan kepala yang tertuju pada Eylaria.


“Maaf… Aku lupa karena kita keasikan bicara. Eylaria, kau boleh kembali melanjutkan pekerjaanmu…,” Ucap Nicolas tersenyum pada Eylaria.


“Baiklah, aku permisi dulu…,” Ucap Eylaria tersenyum dan menunduk sopan sebelum meninggalkan ruang kerja Arlo.


Eylaria kembali ke ruangannya dengan perasaan kesal, dadanya masih membuncah, ada rasa sakit di sana.


“Aku bahkan tidak dilihat sama sekali, untuk apa memanggilku jika hanya menjadikanku penonton mereka? Hah…,” Gerutu Eylaria kesal. Tak terasa matanya berkaca-kaca.


“Kenapa rasanya sesak dan ingin menangis?” Batin Eylaria membenamkan wajahnya ke lipatan tangannya di meja.


“Wanita seperti itulah yang pantas mendampingi pria sekelas Arlo…,” Batin Eylaria merasa terintimidasi.


“Ahhhh…, kenapa tidak mau berhenti…,” Sesal Eylaria pada dirinya sendiri karena tangisannya semakin menjadi-jadi.


Eylaria memutuskan ke toilet untuk melegakan pikirannya. Ia berjalan melewati ruangan menuju lorong toilet dengan wajah menunduk agar tidak terlihat yang lain.


“Kau mau traktir makan apa Arlo? Aku rindu makan nasi goreng di Restaurant August, atau kita ke sana saja?” Pembicaraan itu mengalihkan perhatian Eylaria, ia mendongak memastikan, ada Megan dan Arlo di sana, sedang berdiri menunggu lift saat ia menuju lorong toilet.


“Terserah kau saja…,” Jawab Arlo dan tak sengaja menoleh, melihat dengan jelas wajah Eylaria yang memerah dengan mata berkaca-kaca. Eylaria segera menundukkan kepalanya dan mempercepat langkahnya menuju toilet.


“Ayukkk, buru masuk…,” Seru Megan yang sudah terlebih dahulu memasuki lift dan kebingungan sesaat melihat Arlo yang tak bergeming.


“Kau ada masalah?” Tanya Megan melihat ekspresi Arlo yang terdiam dan seperti berpikir keras.


“Tidak, hanya tiba-tiba teringat sesuatu…,” Jawab Arlo dengan asal.


Eylaria menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang kerja, ia meletakkan dokumen yang Arlo perlukan di ruang kerja Arlo. Eylaria melihat jam tangannya, sudah akan pukul 17.30, sebentar lagi jam kerja usai, dan Arlo masih belum kembali.


“Mereka pasti sedang menikmati waktu berdua…,” Batin Eylaria. Ia sedang merasa cemburu.


Eylaria memutuskan sepulang kerja untuk berjalan-jalan di taman sebelah gedung kantornya. Ia mengitari taman itu tanpa terasa langit sudah semakin gelap.


Pikiran dan hati Eylaria sedang luluh lantak, terasa perih dan masih terasa sesak. Sejak ia mengusir Arlo malam itu, Eylaria sudah tahu jika ia akan mengalami perasaan sakit hati dan cemburu seperti saat ini. Ia sudah menebak


Arlo tidak mungkin terima mendapat perlakuan seperti itu. Tapi di pikiran Eylaria, jika pria itu serius menyukainya, pasti ia akan berusaha mendekatinya, bukan justru mendinginkannya seperti ini. Dan saat ini, Eylaria yakin Arlo pasti sedang menertawakan keterpurukannya karena sudah menolak pria sehebat dirinya.


“Lagipula, kau hanya wanita biasa Ey, jangan pernah berani berharap lebih. Sudah bisa bekerja dengan baik saja sudah syukur…,” Nasihat Eylaria pada dirinya sendiri, berusaha bangkit dari ketidakpercayaan dirinya.


Keesokkan harinya, Eylaria bangun dengan mata sedikit sembab. Ia sudah mengompres panas dingin panas dingin untuk membuat matanya kembali normal, tapi hasilnya matanya tetap masih terlihat sembab.


“Ini dokumen tambahan yang Mr. Arlo minta…,” Ucap Eylaria menyerahkan pekerjaannya.


Arlo menoleh sesaat mengamati wajah Eylaria, wanita itu mengalihkan pandangannya.


“Kau habis menangis?” Tanya Arlo to the point.


“Hmm,”


“Kenapa?” Tanya Arlo penasaran.


“Biasa, wanita, habis menonton drama sedih…,” Jawab Eylaria asal, ia tidak peduli apa pandangan Arlo pada dirinya.


“Aku membayar mu untuk bekerja, bukan menonton di kantor.” Tegur Arlo terdengar tegas.


“Aku tidak bilang aku menonton di kantor, aku menontonnya setelah sepulang kerja…” Bela Eylaria yang tidak ingin mengakui, ia yakin Arlo melihatnya menangis saat bertatapan dengannya kemarin.


“Terserah apa katamu…,” Jawab Arlo tidak puas dengan jawaban Eylaria. Mana mungkin Eylaria mau mengakui jika ia menangis karena cemburu melihat Arlo dan Megan begitu akrab.


.


.


.


.


.


To Be Continue~