
“Ini siapa Erick?” Tanya seorang pria saat melihat Eylaria tersenyum dan duduk di kursi sebelah Erick. Pria itu sedikit buncit, usianya terlihat tidak jauh dari Mr. Erick, dan terlihat lebih berantakan.
“Kenalin, ini Boss Bon, ini Eylaria. Assisten client…” Jawab Mr. Erick singkat dan tersenyum.
“Ohh, hoohoo…,” Jawab Boss Bon tersenyum genit.
“Ini, minuman mu…,” Mr. Erick menyodorkan segelas jus jeruk pada Eylaria. Eylaria hanya tersenyum dan bersikap sopan dengan menerimanya.
Eylaria memperhatikan sekeliling restaurant. Ini bukan tempat aman, bukan tempat baik-baik, itulah kesan yang terlintas di pikirannya.
Pengunjung restaurant itu rata-rata orang yang akan berkunjung ke Motel, terlihat dari pakaian dan gerak gerik mereka yang tidak biasa.
“Mr. Erick, dokumen kontraknya, apa boleh dicek sekarang?” Tanya Eylaria memberanikan diri.
“Eylaria, tunggu makan malam selesai baru kita bahas, oke?” Jawab Mr. Erick sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Eylaria, wanita itu hanya tersenyum paksa berusaha bersabar.
Beberapa makanan tersajikan di atas meja, Eylaria merasa lapar, tapi ia juga merasa tak pantas jika ikut mencicipi.
“Makanlah Ey…,” Ajak Mr. Erick.
“Iyahh ayo makan-makan…,” Ajak Boss Bon.
“Hallooooo…,” Sapa seorang pria yang lebih buncit dengan kalung dan cincin emas di leher dan jari tangannya. Ia sedang merangkul seorang wanita muda berpakaian minim menghampiri meja di mana mereka makan.
“Ahh, ini Big Boss kita… Kenalin Eylaria, ini Big Boss Matt…,” Seru Mr. Erick dengan bangga.
Eylaria seketika merasa ia sedang dikelilingi banyak setan. Ia tersenyum pada pria dan wanita yang baru datang.
“Tambah lauknya…, biasa hari ini gue yang traktir…,” Seru Boss Matt dengan gaya angkuh dan terkekeh.
“Kau tidak makan?” Tanya Boss Matt pada Eylaria.
“Ahh tidak usah Boss...,” Jawab Eylaria berusaha menjawab dengan sopan.
“Eylaria Eylaria…, gimana kita mau bahas dokumen kontrak, kalau kamu gak sudi makan bersama denganku?” Sindir Mr. Erick menyudutkan Eylaria.
“Bukan itu maksud saya…,” Bela Eylaria dengan cepat.
“Kau makan, setelah itu kita cek dokumen…,” Ucap Mr. Erick menjanjikan.
Eylaria mengalah, demi tanda tangan dan pekerjaan, ia akhirnya memberanikan menyuap nasi dan makanan yang ada di meja. Bukan tanpa alasan, Eylaria tidak berani menyentuh makanan dan minuman di sana karena ia tidak yakin semuanya tersaji dengan higines.
“Semoga saja aman…,” Doa Eylaria dalam hati sembari menyuap beberapa makanan ke mulutnya.
“Broo, Boss Matt kan udah ada pasangan… Loe gak keberatan dong kalau berbagi sama guee…?” Tanya Boss Bon pada Mr. Erick, matanya menuju pada Eylaria.
“Tentu dong bro, sejak kapan gue sungkan berbagi sama loee…,” Jawab Mr. Erick tanpa ragu.
“Gitu dongg…,” Jawab Boss Bon senang.
“Kalau enak, bagi gue yahh…,” Sambung Boss Matt.
Eylaria yang mengerti pembahasan tiga pria hidung belang itu, langsung tersedak dan menggapai minuman di dekatnya. Eylaria meneguk jus jeruk yang sedari awal disodorkan padanya.
“Kau baik-baik saja Eya?” Tanya Mr. Erik menyentuh pergelangan tangan Eylaria.
“Aku baik-baik saja Mr. Erick…,” Eylaria segera menjauhkan tangannya dari sentuhan Mr. Erick.
Eylaria merasa was-was, ia harus segera pergi dari sana. Ini tidak aman, persetanlah dengan kontrak kerjasama perusahaan, seharusnya ia tidak mengikuti Mr. Erick dari awal, tapi, bukannya sedikit lagi? Hanya tanda tangan, please…
Kegalauan menghantui pikiran Eylaria. Dia sedang berpikir keras bagaimana untuk kabur dari sana. Ia kembali meneguk jus jeruk untuk menyegarkan pikirannya.
Mr. Erick yang menyadari itu kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Eylaria.
“Eyaa…, mana dokumen kontraknya? Akan saja tanda tangani sekarang…,” Ucap Mr. Erick tiba-tiba.
Eylaria sedikit kaget, dan dengan terburu-buru segera mengeluarkan dokumen yang ia bawa dari dalam tasnya. Setelah ini ia bisa pulang, Yesss! Batinnya.
Mr. Erick melihat dengan sekilas isi kontrak itu dan segera menandatanganinya.
“Terima kasih Mr. Erick.” Sambut Eylaria dengan sumringah, memastikan dokumen itu resmi tertandatangani, perjuangannya tidak sia-sia.
Eylaria yang sudah menyimpan dengan baik dokumen berharga perusahaannya itu, sedang menimbang-nimbang kapan waktu yang tepat untuk ia berpamitan pulang.
“Mr. Erick, aku harus pulang sekarang…,” Pamit Eylaria akhirnya.
“Ada apa Eya? Kau baik-baik saja? Setelah mendapatkan tanda tanganku, kau langsung pergi begitu saja?”
“Tidak…, aku merasa kurang enak badan…,” Jawab Eylaria memberi alasan, ia kembali menguap dan menggunakan satu tangannya untuk menopang kepalanya.
Ini bukan mabuk, tapi kenapa rasanya sangat lelap dan tak tertahankan.
“Eylaria…,” Sebuah suara pria yang ia kenal memanggilnya dengan lantang. Eylaria menoleh, itu Nicolas.
Nicolas segera berlari menuju restaurant saat ia tiba. Ia menatap kaget saat menyadari Eylaria sedang duduk cukup dekat di samping Mr. Erick dengan satu tangan menopang kepalanya. Dari gerak gerik badan Eylaria yang agak lunglai, Nicolas dapat menebak dengan cepat ada yang tidak beres dengan sahabat baik Nicole itu.
“Maaf mengganggu Mr. Erick…,” Sapa Nicolas mendekati mereka.
“Ohh, Nicolas?” Tanya Mr. Erick yang kaget dengan kedatangan Nicolas.
“Nicolassss….,” Panggil Eylaria dengan lega, tersenyum senang, ia terselamatkan.
“Aku harus membawa Eylaria pulang sekarang…,” Izin Nicolas dengan sopan, bagaimanapun Mr. Erick adalah kolega perusahaannya, ia tidak ingin gegabah dan bersikap yang merugikan mereka semua.
“Owhhh… Silahkan… Eya sangat betah di sini, sayang sekali ia sudah harus pulang.” Jawab Mr. Erick yang berusaha menjaga muka, sempat-sempatnya ia menepuk pundak Eylaria sebelum wanita itu beranjak bangun dari duduknya.
“Eya??” Tanya sebuah suara geram dari belakang Nicolas. Arlo baru saja tiba saat Nicolas menghampiri mereka, sehingga mereka tidak memperhatikan kehadiran Arlo yang mendekati mereka dan Arlo melihat dengan jelas Mr. Erick yang berani-beraninya menyentuh Eylaria.
“Mr. Arlo? Kenapa bisa ke sini?” Tanya Mr. Erick tergagap.
“Siapa kau memanggilnya Eya? Dan kenapa kau berani menyentuhnya?” Tegur Arlo menatap tajam pada Mr. Erick.
“Ahh, itu panggilan akrab untuk Eya… Dia sudah ku anggap sebagai temanku sendiri…,” Elak Mr. Erick mencari alasan.
Arlo berdecih mendengarnya, merasa jijik dengan setiap kata yang keluar dari mulut Erick.
“Aku mau pulang…,” Rengek Eylaria yang masih bersandar di tubuh Nicolas.
Arlo yang menyadari Eylaria bersandar di tubuh Nicolas mendadak merasa gerah dan risih, apalagi Nicolas masih menggunakan singlet gym nya. Melihat kulit Eylaria dan kulit Nicolas bersentuhan langsung, membuat Arlo semakin mendidih.
“Biar aku saja…,” Ucap Arlo menarik Eylaria ke arahnya. Ia akan mencari perhitungan dengan Mr. Erick setelah memastikan Eylaria baik-baik saja.
“Aku mau pulang sama Nicolas…,” Rengek Eylaria yang masih setengah sadar, meskipun ia merasa semakin terlelap, tapi ia masih bisa membalikkan tubuhnya ke arah Nicolas.
Nicolas menyengir, tersenyum tidak enak hati pada Arlo yang menatapnya kesal. Nicolas terpaksa menerima Eylaria dan memapah wanita itu keluar dari restaurant.
Saat berada di luar restaurant, Nicolas menghentikan langkahnya sebentar.
“Aku harus membawanya ke mana?” Tanya Nicolas yang tentu paham dengan niat Arlo. Arlo mengerakkan kepalanya, matanya menunjuk ke arah mobilnya yang terparkir bersampingan dengan mobil Nicolas.
Nicolas menurut, ia memapah Eylaria masuk ke dalam mobil Arlo. Eylaria yang mengira ia akan di antar pulang oleh Nicolas, hanya semakin terlelap dan mulai memasuki alam tidur.
“Apa yang sudah mereka berikan padanya?” Tanya Arlo pada Nicolas.
“Sepertinya obat tidur dosis tinggi. Jika saja kita tidak tiba tepat waktu, jika Nicole tidak menghubunginya, entah apa yang terjadi pada Eya…,”
Arlo mendesis membayangkan hal buruk yang terjadi pada Eylaria jika mereka tidak tahu apa yang terjadi pada wanita itu.
“Aku berhutang banyak pada Nicole. Dan kau, jangan ikut-ikutan memanggilnya Eya…,” Omel Arlo yang merasa jijik dengan sebutan manis itu. Nicolas terkikik geli melihat sikap protektif Arlo.
“Aku akan memantaunya dan menghubungi Dr. Bella. Kau pulanglah, terima kasih Nico…,” Ucap Arlo bersungguh-sungguh.
“Sudah seharusnya ku lakukan, apalagi dia adalah sahabat baik Nicole.” Jawab Nicolas tersenyum memaklumi kekhawatiran Arlo.
.
.
.
.
.
To Be Continue~