
Seharian ini Eylaria menghabiskan waktunya dengan Nicole, Bram, Nicolas dan juga Arlo. Mereka berlima berkeliling mengitari tempat wisata sekitar resort, dan saat sore menjelang mereka memutuskan akan ke pantai untuk menikmati matahari terbenam.
Eylaria duduk di pinggir pantai beralaskan kain, hanya memperhatikan teman-temannya yang asik bermain air di tepian pantai, wanita itu merasa lelah karena kurang tidur, jadi ia akhirnya memutuskan untuk berbaring di sana, menggunakan kacamata hitamnya, memejamkan matanya menikmati angin yang sepoi-sepoi.
“Argghhh, serang Arlo, kenapa gue terus yang kenaaa…,” Teriak Nicole pada ketiga pria yang asik menyerangnya dengan percikan air. Serangan itu berbalik menuju Arlo, awalnya Arlo bisa membalas, akhirnya ia berlari dan kabur dari tepian pantai.
Arlo menghampiri di mana Eylaria berada, mengambil sebotol air minum dan meneguknya hingga setengah botol. Mata Arlo tak luput terus memperhatikan Eylaria yang sedang berbaring dengan tenang tanpa terganggu dengan kehadirannya, sepertinya wanita itu tertidur.
Tubuh putih nan montok Eylaria, mengusik pandangan Arlo, apalagi wanita itu hanya menggunakan hotpants dan tanktop. Arlo mengambil kain lain di tas milik Nicole dan menggunakan kain itu menutupi setengah tubuh Eylaria. Ada muncul rasa protektif dalam diri Arlo, meski di sana semuanya menggunakan bikini dan pakaian terbuka, tapi ia tidak suka orang lain melihat keseksian wanita yang sedang tertidur itu.
“Loe lihat kan, boss loe tuh…, kepincut juga sama Ey…,” Ucap Nicole pada Nicolas, mereka bertiga sedang memperhatikan gerak gerik Arlo yang sekarang sudah ikut duduk di samping Eylaria, menjaga wanita itu agar tertidur dengan nyenyak tanpa gangguan.
“Ehem…, kayaknya udah naksir dari pertama ketemu sih…,” Ujar Nicolas agak yakin.
“Ciyusan? Kok loe bisa bilang gitu?”
“Gue gitu lohhh…, udah sekian lama kenal dan deket sama Arlo, apalagi kita sesama laki, ya tahulah gelagatnya. Makanya gue mau bantuin loe deketin mereka, walaupun kasihan kalau Ey beneran naksir Arlo, dia mesti nyakitin Dave…,” Jawab Nicolas yang masih punya rasa kasihan.
“Ahhh itu cowok…, Eylaria aja yang terlalu baik masih mau sama dia. Tuh cowok juga udah berapa kali ketahuan chatting sama cewek lain, masih bocah, keganjenan tau gak. Ey aja sebenarnya udah mau mutusin dia, tapi tuh cowok selalu ngebujuk, ngemis minta maaf. Loe tau sendiri Ey gimana, selalu maafin orang dan ngasih kesempatan kedua, ketiga, keempat tanpa habisnya…,” Celoteh Nicole yang kesal membayangkan wajah Dave.
“Oh ya? Dave begitu? Gue kira mereka lovebirds, soalnya selalu kelihatan manis dan harmonis…”
“Yahh kalo mesra-mesraan mah sama siapa aja bisa, tapi coba kalau ngomong masalah serius, iuhhh, udah deh ribut mereka.”
Tiba-tiba angin bertiup agak kencang, membuat pasir dan debu di sekitar Eylaria berterbangan menerpa wajahnya, wanita itu terbangun dan sedikit kaget melihat ada Arlo duduk di sampingnya. Kenapa ia tidak menyadarinya? Apa ia tertidur tadi? Padahal ia hanya bermaksud memejamkan matanya sebentar.
“Kau sudah bangun?” Tanya Arlo saat Eylaria beranjak duduk.
“Hmm, apa aku tidur lama?”
“Entahlah, mungkin ada lima belas menitan…,” Jawab Arlo memperhatikan jam tangannya.
“Heiii, ayo kita pindah tempat.” Ajak Nicole menghampiri mereka.
Tak lama, mereka sudah tiba di sebuah bar tepi pantai yang memang menyediakan tempat untuk menikmati keindahan pemandangan pantai disertai dengan matahari terbenam.
Nicole dan Nicolas yang sudah bekerja sama, sengaja mengatur tempat duduk mereka. Mereka duduk melingkar, Nicole tentu saja duduk bersebelahan dengan Bram, sebelah Bram ada Nicolas. Eylaria juga tentu akan duduk dekat Nicole, sehingga Arlo duduk di antara Eylaria dan Nicolas. Posisi yang sangat sempurna.
“Bagaimana jika kita main truth or Dare??” Tanya Nicole membuka pembicaraan.
“Siapa takut?” Jawab Nicolas lalu menuangkan secara merata sisa bir yang tersisa setengah ke gelas masing-masing.
“Oh No... Gue benci permainan ini...,” Seru Eylaria.
“Kenapa? Takut dengan kejujurannya atau tantangannya?” Tanya Arlo.
“Dua duanya...,” Jawab Eylaria jujur.
“Loe takut rahasia loe bocor?” Tanya Nicole terkekeh.
“Loe udah tahu semua rahasia gue...,” Jawab Eylaria.
“Oke, kita mulai ya...,” Seru Nicolas memutar botol bir yang dijadikan alat untuk penunjuk arah.
Drettttttttt…, botol bir itu berputar dan mengarah ke Nicole.
“Hmm... Ok, loe boleh tanya apa aja...” Seru Nicole pada Nicolas.
“Apa yahh, gak ada yang mau gue tanyain ke loe, gue sama sekali gak penasaran sama hal pribadi loe...,” kekeh Nicolas.
“Loe gak mau? Kalo gitu gue deh...,” Seru Eylaria semangat.
“Apa? Loe mau tanya apa heh?” Tantang Nicole.
“Selama pacaran sama Bram, apa loe pernah cheating sama cowok lain?” Tanya Eylaria dengan lantang.
Wajah Bram menjadi kikuk, ada sedikit rasa bersalah pada diri Eylaria menanyakan hal itu.
“Gampangggg....! Cue Jawab..., GAK PERNAH!” Jawab Nicole dengan yakin.
“Wahhh...,” Seru Nicolas.
“Kau tak percaya? Aku sangat mencintai dan menghormati Bram sejak awal bertemu dengannya...,” Jawab Nicole penuh cinta melihat suaminya.
“Terima kasih sayang...,” Jawab Bram sumringah.
“Iuuuhhh…” Seru yang lain.
“My turn noww...!” Nicole dengan semangat memutar botol bir itu.
“YESSSS!” Seru Nicole senang, botol itu tepat berhasil mengarah ke Eylaria.
“OMG!”
“Truth or dare?” Tanya Nicole dengan senyum isengnya.
“Truth...,” Jawab Eylaria.
“Hmm...” Nicole pura-pura memikirkan pertanyaan yang akan ia lontarkan.
“Kapan loe terakhir kali gituan sama Dave?” Tanya Nicole akhirnya.
“What? Gak ada pertanyaan lain loe?” Protes Eylaria.
“Gak adaaaa! Buru jawab...,” Seru Nicole.
“Gilak loee... Gak akan gue jawab!” Omel Eylaria.
“Ya sudah terima Dare dong...,” Pancing Nicole yang sengaja menyudutkan sahabatnya dan ingin Eylaria memilih Dare.
“Oke... Siapa takut...” Tantang Eylaria akan meraih gelas bir di hadapannya, tapi dihentikan oleh Nicole.
“Gue belom bilang dare dari gue loe mesti minum. Dan lagi ini masih terlalu awal untuk loe mabuk, nanti jadi gak seru...”
“Oke... Jadi apa?”
“Buka tanktop loe...,” Ceplos Nicole dan mendapat geplakan dari Eylaria.
“Enak aja!” Omel Eylaria dengan canda pada Nicole. Ia sudah biasa dengan kejahilan dan keanehan Nicole, wanita itu pasti akan aneh-aneh.
Wajah ketiga pria di meja mereka jangan ditanya, sedikit tersipu malu dan berharap, bagaimanapun tubuh Eylaria memang bagus dengan tinggi 155cm nya, dan lagi mereka adalah pria normal.
“Gue rasa, itu agak berlebihan...,” Bela Arlo, sikap protektifnya muncul, meskipun ia juga penasaran dalam hati.
Nicole menggedipkan mata pada Nicolas. Rencana mereka mendekatkan dua orang itu sepertinya sudah mendapatkan pertanda bagus.
“Okeee..., karena Arlo udah bantu belain loe... Loe mesti kiss dia.”
“Apaan Nicole...”
“Dia kan udah bantu belain loe, jadi udah gue ringanin tuh dare loe. Seharusnya loe makasih dong sama dia.” Alasan Nicole.
Eylaria melihat sekilas ke arah Arlo yang bersikap canggung di sampingnya. Pria itu hanya menggelengkan
kepalanya halus.
“Oke... Pipi aja yah...,” Jawab Eylaria akhirnya pasrah daripada terus berkelanjutan.
“Ehem... Oke... Deal…,” Jawab Nicole tersenyum licik.
“Hmm... Maaf...,” Seru Eylaria meminta izin pada Arlo.
“It's Ok...,” Jawab Arlo menegakkan tubuhnya dan mempersiapkan pipinya untuk di kiss oleh Eylaria.
“Cup....,” Dengan cepat Eylaria mendaratkan bibirnya pada pipi Arlo. Wajahnya bersemu merah karena malu. Sedangkan Arlo meneguk ludahnya, sentuhan bibir Eylaria yang mungil dan lembut di pipinya, membuatnya membayangkan yang lainnya.
“YEAH!!” Sorak Nicole diiringin tepuk tangan Bram dan Nicolas.
“Awas loee...,” Ancam Eylaria dengan imut dan mendapat juluran lidah dari Nicole.
Tap tap tap...., derap langkah seorang pria menuju kamar di mana Eylaria menginap, mengendong wanita yang sedang tertidur mabuk dan mengurusnya dengan baik di ranjangnya. Malam itu Eylaria langsung tertidur mabuk setelah meneguk dua gelas kecil bir karena permainan Truth or Dare.
“Kayak kemarin broo,
tolong diurus...,” Bisik Nicole tersenyum licik saat menyerahkan sahabatnya pada Arlo. Tentu saja Arlo tidak menolak, ia ingin memanfaatkan kesempatan itu.
Arlo menyelimuti tubuh Eylaria, lalu memperhatikan wajah Eylaria yang tertidur pulas di kasurnya. Wajahnya tampak polos seperti anak kecil yang tertidur pulas.
Arlo tersenyum kecil, memperhatikan garis wajah wanita gampang mabuk itu. Wajahnya tidak cantik-cantik amat, tapi ia akui manis, tubuhnya pun tidak aduhai atau tinggi menjulang seperti model, hanya kulit seputih susu dan montok di beberapa bagian yang disukai para pria. Wanita itu sebenarnya jauh dari kriteria wanita idamannya, ia menyukai wanita cantik dan berkelas. Arlo menghela nafas panjang setelah puas mengamati, kemudian pergi dari kamar Eylaria.
Keesokan harinya, Eylaria terbangun setelah bunyi ketukan di pintunya digedor berkali-kali dengan sedikit kasar. Siapa lagi jika bukan Nicole yang berani melakukannya.
“Ey, bangun, kalo gak buka gue dobrak nihhh...,” Teriak Nicole dengan keras, bisa membangunkan seisi lorong.
“Ada apa?” Tanya Arlo yang muncul dari kamar sebelah setelah mendengar kamar di sebelahnya terus digedor-gedor.
“Dia belum bangun juga, gue udah telfon berkali-kali.” Seru Nicole terlihat cemas.
“Mau minta kunci ke receptionist atau dobrak?” Tanya Arlo ikut merasa cemas.
Klekkk... Pintu di hadapan mereka akhirnya terbuka, tampak Eylaria sedang berbalutkan handuk di tubuhnya dan air menetes dari rambutnya yang basah.
“Apaan sih Nicole, pagi-pagi udah berisik.” Seru Eylaria yang tidak tahu ada Arlo juga di sana, pria itu langsung membuang muka saat melihatnya hanya mengenakan handuk yang dililit di tubuh putihnya. Eylaria terdiam kaget sesaat kemudian dengan malu kembali ke dalam kamar mandi.
“Lagian loe gak angkat telfon, gue kan cemas pas baca chat loe bilang Dave minta putus sama loe.” Celoteh Nicole segera menyerbu masuk.
Arlo memberi kode dengan tangannya bahwa ia akan kembali ke kamarnya dan Nicole mengganguk.
“Gue gak mau pusingin dia... Pala gue masih pusing karena semalem.” Jawab Eylaria yang sudah keluar dengan bathrobenya, melihat sekeliling kamar, tidak ada Arlo di sana, hanya ada ia dan Nicole.
“Loe nangis semaleman?” Tanya Nicole memperhatikan mata sembab Eylaria.
“Gue bangun jam 3 pagi, dan baca chat dia. Gak mungkin gue gak nangis, gue kan manusia biasa punya hati. Tapi gue udah siap kapanpun, karena gue udah tahu dia gak serius sama gue.” Jawab Eylaria jujur.
Nicole merentangkan tangannya, Eylaria pun mendekatinya dan memeluknya. Eylaria kembali menangis tersedu-sedu di pelukan sahabatnya.
Meski Nicole prihatin dengan Eylaria yang diputusi Dave tanpa sebab, tapi hati terdalamnya berteriak senang, karena kini ia bisa dengan lancar menjodohkan Arlo dengan Eylaria.
“Sabar Ey..., nanti akan ada yang lebih baik kok... Contohnya yang di kamar sebelah mungkin...,” Ucap Nicole mendapat pukulan ringan dari Eylaria, sempat-sempatnya temannya itu bercanda di atas kesedihannya.
Eylaria tidak mood seharian, ia hanya menghabiskan waktunya berjalan-jalan di tepi pantai dan berbelanja baju di sekitar resort. Ia sudah meminta izin pada Nicole, ia ingin me time, dan yang lain memahaminya.
“Ini bukan ulahmu kan?” Tanya Nicolas pada Nicole dengan penuh selidik.
“Apa? Mereka putus?”
“Emhh,”
“Yah bukanlah! Gue gak sejahat itu kali, meskipun gue dari dulu gak suka sama Dave, tapi gue maunya mereka pisah baik-baik.” Seru Nicole merasa tertuduh.
“Yahh, kan kirain loe bertindak sejauh itu...,” Ucap Nicolas dengan wajah polos.
Malam tiba, Eylaria ikut makan malam bersama dengan yang lainnya. Semua tampak hening, ikut merasakan Eylaria yang patah hati, wanita itu tak banyak bicara dan terlihat murung, tapi sesekali ia tersenyum saat mereka membahas hal yang lucu.
“Apa gue boleh tahu, alesan Dave mutusin loe?” Tanya Nicole di tengah makan mereka.
“Loe inget pas gue cerita tentang Jeffrey Go?” Tanya Eylaria.
“Jeffrey Go.... Jeffrey Go..., ahhh, yang loe cerita dia ngrangkul pinggang loe pas di pesta nikahan kakak loe?” Tanya Nicole memastikan.
Siapa lagi Jeffrey Go? Pikir Arlo cemas.
“Yups..., dia ngpost foto dia ngrangkul gue, dan ngtag ke medsos gue...,” Jelas Eylaria menunjukkan halaman medsos yang dimaksud.
“Cuma perkara ini doang?”
“Yess... Dave cemburu dan bilang gue cheating...,”
“Loe gak ngjelasin?”
“Loe tahu sendiri, dia lebih muda 2 tahun dari gue dan emosi dia suka berlebihan ke mana-mana....,”
“Masih bocah sihhh...,” Ringis Nicole.
“Gue akan nemuin dan jelasin langsung ke dia pas ketemu di Jakarta. Gue males ribut di telefon, cuma nguras energi gue aja...,” Lanjut Eylaria lagi.
“Jadi, ada kemungkinan kalian balikan?” Tanya Nicolas yang seakan-akan mewakili pertanyaan dalam isi pikiran Arlo.
“Ntahlah...,” Jawab Eylaria mengedikkan kedua bahunya.
“Kalau gue saranin loe jangan balikan, pasti gue jahat ya?? Soalnya gue males lihat loe ngalah mulu sama bocah itu. Kapan dia dewasanya?” Ujar Nicole dengan jujur. Eylaria tersenyum kecut, ia mengerti maksud baik sahabatnya, tapi bagaimanapun ia menghabiskan waktu yang tidak sedikit bersama dengan Dave. Tapi Eylaria selalu siap untuk berpisah, karena sejak mengawali hubungan mereka, ia tidak berharap terlalu jauh, apalagi mereka bertengkar dan Dave sering meminta putus bukan hanya sekali dua kali.
.
.
.
.
.
To Be Continue~