Accidently Fall In Love

Accidently Fall In Love
Chapter 19: Kasmaran



Eylaria tertidur pulas, memeluk pinggang Arlo yang tidak mengenakan busana. Semalam entah berapa kali mereka saling menggempur dan melampiaskan hasrat masing-masing, saat terbangun tengah malam, mereka melakukannya lagi dan lagi seakan tidak ada hari esok.


Drrtttt… Drrttttt….


Alarm handphone Eylaria berbunyi, sudah pukul 05.45 pagi, ia harus bersiap-siap ke kantor. Tangannya menggapai nakas, mengambil handphone dan membuka matanya yang masih sangat berat.


“Ngantuk sekali…,” Keluh Eylaria yang merasa sangat lelah.


“Tidur lagi lah, cuti setengah hari…,” Jawab pria di sebelahnya yang juga masih memejamkan mata.


Eylaria seketika tersadarkan, pikirannya mengulang kembali apa yang sudah ia lakukan semalam dengan Arlo. Kantuknya mendadak hilang. Ia segera beranjak dari baringnya dan melihat tubuh Arlo yang terbaring di sampingnya dan mereka berdua sama-sama tanpa busana.


“Ya ampunn…,” Ucap Eylaria panik.


“Kenapa?” Tanya Arlo menyipitkan matanya yang masih mengantuk.


“Maaf, kita tidur bersama…,” Ucap Eylaria membuat Arlo membukakan mata dan menatapnya kebingungan.


“Apa maksudmu?”


“Aku seharusnya mengendalikan diriku. Sungguh, aku tidak berniat tidur denganmu, tapi, aku juga tidak tahu kenapa aku melakukannya semalam, seharusnya aku menahannya, menahanmu, menahan diriku…,” Ucap Eylaria penuh penyesalan.


“Apa yang sedang kau bicarakan heh?”


“Aku tidak pantas untuk berada seranjang denganmu, kau pasti menyesalkan…?” Tanya Eylaria ragu-ragu. Arlo yang cepat mengerti, segera memahaminya, wanita itu sedang tidak percaya diri.


Arlo segera memeluk Eylaria, membenamkan kepala wanita itu ke dadanya.


“Apa yang kau pikirkan heh? Jangan bodoh! Semalam itu luar biasa…,” Ucap Arlo bersungguh-sungguh.


“Aku tidak menyesal. Kita melakukannya dengan perasaan sama-sama suka… Oke?” Ucap Arlo menenangkan Eylaria. Wanita itu hanya mengganggukkan kepala halus, ada rasa aman dan percaya saat pria itu memeluk dan mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.


Hari-hari pun berlalu, Arlo dan Eylaria melewati masa-masa kasmaran mereka seperti sepasang sejoli yang saling jatuh cinta lainnya.


“Where are you my honey?” Tanya Arlo melalui telfon kantornya.


“In my office Boss…,” Jawab Eylaria tersenyum.


“Come here…,” Perintah Arlo dengan lembut. Ini bukan sekali dua kali Arlo memanggil Eylaria ke ruangannya untuk menghabiskan waktu kerja sambil bermesraan bersamaan.


“Staff akan curiga jika kalian begini terus… ckckck…,” Tegur Nicolas pada saat melihat Eylaria dan Arlo yang bekerja bersama di meja kerja milik Arlo. Arlo tersenyum menanggapi, sedangkan Eylaria tersipu malu.


“Kenapa tidak kita pindahkan saja meja kerjamu ke sini Ey…,” Saran Nicolas.


“Nicolas, inilah kenapa aku menyukaimu…, good idea, sangat bagus. Segera, pindahkan meja kerjanya ke ruanganku…,” Saut Arlo dengan semangat dan sangat setuju.


“Tidakkah itu berlebihan?” Protes Eylaria tidak enak hati.


“Arlo yang sedang dimabuk cinta, apa sih yang enggak buatmu Ey?” Ledek Nicolas tertawa, ia turut senang melihat Arlo dan Eylaria akhirnya bersama.


“Oh ya, undangan pesta Sabtu ini, kau tidak lupa kan?” Nicolas memperingatkan.


“Aku hampir melupakannya jika kau tidak mengungkitnya…,” Jawab Arlo jujur.


“Kau akan pergi dengan Megan atau Ey?” Tanya Nicolas memastikan pada Arlo. Eylaria melihat Arlo dan Nicolas.


“Apa kau mau ikut Ey?” Tanya Arlo pada Eylaria.


“Undangan apa? Kenapa aku tidak tahu?” Tanya Eylaria.


“Undangan dari keluarga Becker…,” Jawab Nicolas.


“Aku tidak terbiasa dengan pesta…,” Jawab Eylaria ragu.


“Aku akan ke sana dengan Megan, jika kau berubah pikiran, beritahu Nicolas, Oke?” Ujar Arlo tanpa memperhatikan perubahan raut wajah Eylaria yang mendadak tidak senang.


“Hmm…,” Jawab Eylaria singkat kemudian mengikuti Nicolas yang keluar dari ruangan.


“Aku akan ikut denganmu…,” Ucap Eylaria.


“Baiklah… Kabari aku jika kau sudah siap dijemput…,” Jawab Nicolas.


“Hmm…, trima kasih Nico…,” Jawab Eylaria tersenyum, kemudian segera meminta bantuan Nicole untuk memesan salon dan gaun untuknya.


Sabtu malam pun tiba, Eylaria yang sudah berdandan cantik dijemput oleh Nicolas disebuah butik.


“Kau cantik sekali Ey…,” Puji Nicolas saat melihat penampilan Eylaria malam itu.


Tepat pukul 18.50 sebelum acara inti di mulai, mereka sudah tiba di ballroom Hotel. Di sana banyak tamu kelas atas yang hadir, pengusaha bahkan ada beberapa artis dan model juga. Eylaria terperangah melihat kemeriahan acara ulang tahun itu.


“Undangan atas nama Nicolas, PT. BLUE SEA,” Nicolas sedang mengabsen Namanya di daftar tamu pada staff yang bertugas.


“Silahkan ke meja nomor 5 ya Pak…,” Jawab staff wanita itu tersenyum melihat ketampanan Nicolas.


“Hmm… Hmm…, sepertinya bukan hanya aku yang cantik, kau juga tampan sekali Nico. Staff wanita itu sampai tersipu melihatmu…,” Goda Eylaria pada Nicolas yang sudah ia anggap adik sendiri itu. Nicolas hanya tersenyum membalas candaan Eylaria.


Mereka masuk menuju meja nomor 5, letaknya ada di dekat panggung. Mata Eylaria mencari sosok Arlo yang seharusnya sudah tiba di sana, tapi masih belum terlihat.


“Oh ya, mari kita sapa Mr. Becker dulu…,” Ajak Nicolas saat melihat yang berulang tahun ada di dekat panggung tak jauh dari tempat duduk mereka. Eylaria pun membuntuti ke mana Nicolas melangkah.


“Mr. Becker, Happy Birthday…,” Sapa Nicolas pada pria tua berusia 68 tahun yang sedang berulang tahun.


“Ahhh… Terima kasih terima kasih…,” Jawab Mr. Becker dengan ramah.


“Mr. Becker, Happy birthday to you. Ini, ada hadiah kecil untuk anda. Meskipun tidak seberapa, semoga anda menyukainya…,” Eylaria mengulurkan sebuah kotak persegi kecil.


Semua yang di sekitar mereka kaget mendengar Eylaria mengulurkan hadiah pada Mr. Becker, termasuk Nicolas yang tidak menyangka.


“Diaaa…?” Tanya seorang pria muda yang sedari tadi mendampingi Mr. Becker.


“Dia assisten baru Mr. Arlo. Perkenalkan, Eylaria, ini Mr. Shaun…,” Jawab Nicolas. Eylaria tersenyum menunduk sopan pada pria yang disapa Mr. Shaun itu.


“Hadiah apa yang sudah kau persiapkan Nak?” Tanya Mr. Becker mengulurkan tangannya tapi segera ditahan oleh Mr. Shaun.


“Maaf, tapi kami tidak menerima hadiah secara langsung. Kau bisa menitipkannya di meja depan.” Ucap Mr. Shaun dengan tegas.


“Ahh, maaf, saya tidak tahu.” Jawab Eylaria segera menurunkan tangannya.


“Tunggu…,” Mr. Becker menyela.


“Aku ingin lihat, hadiah apa yang sudah anak ini siapkan. Bisakah kau membukakannya?” Tanya Mr. Becker pada Eylaria, wanita itu tersenyum dan membuka kotak yang ia pegang. Terdapat gelang giok berwarna hijau dan berlambang naga emas di sana, semua terperangah, semakin tidak menyangka dengan isi hadiah itu.


“Ini…?” Tanya Mr. Becker.


“Ini adalah gelang giok, warna hijaunya melambangkan kesehatan. Meskipun bukanlah barang asli, tapi saya sungguh mendoakan anda untuk berumur panjang dan sehat selalu…,” Jelas Eylaria tanpa ragu, ia pun tidak malu meskipun memberi barang palsu.


Tak disangka, Mr. Becker tersenyum dan tertawa kecil mendengarnya.


“Anak ini, aku menyukainya…,” Ucap Mr. Becker dengan lantang.


“Pakaikan untukku…,” Pintanya lagi.


“Ah?” Eylaria kaget dengan permintaan Mr. Becker. Nicolas dengan cepat mengambil kotak giok itu dari tangan Eylaria.


“Cepat, pakaikan untuknya…,” Bisik Nicolas tersenyum senang dengan kebaikan hati Eylaria yang diterima baik oleh Mr. Becker.


“Hmm, baik…,” Jawab Eylaria dengan gugup dan memakaikan gelang itu ke tangan kanan Mr. Becker.


“Terima kasih…,” Ucap Mr. Becker tersenyum senang.


Eylaria dan Nicolas sudah duduk di mejanya, mereka tersenyum-senyum membahas apa yang barusan terjadi.


“Kau gila, aku sama sekali tidak menyangka kau membawa hadiah, dan bahkan berani memberikannya langsung.” Seru Nicolas.


“Aku hanya teringat pada kakekku…,” Jawab Eylaria tersenyum tulus.


“Kau tidak mencari Arlo?” Tanya Nicolas.


“Aku tidak tahu dia di mana…,” Jawab Eylaria dengan jujur.


“Dia di sana…,” Tunjuk Nicolas ke arah kanan kiri mereka, Eylaria mengikuti arah yang Nicolas tunjuk, Arlo di sana, di sampingnya ada Megan yang menggunakan terusan maroon off shoulder yang meliuk di tubuh indahnya.


.


.


.


.


.


To Be Continue~