Accidently Fall In Love

Accidently Fall In Love
Chapter 11 : Ciuman penasaran



Deg… Deg… Deg…


Eylaria dapat merasakan jantungnya yang melompat-lompat dari rongga dadanya. Ya Tuhan… Apa ini?


Arlo berdiri sangat dekat dengannya, meskipun Eylaria dengan berani menatap mata dan wajah pria setinggi 178 cm itu, tapi dalam hati dan pikirannya sangat kacau.


“Karena aku peduli padamu…,” Bisik Arlo di telinga Eylaria, membuatnya bergidik.


Cup…


Dengan cepat Arlo mengecup pipi Eylaria yang masih terdiam.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Eylaria kaget dan ada sorot mata kesal di sana. Tangan Eylaria akan terangkat ke atas, ia ingin menampar wajah Arlo, tapi dengan gampangnya tangan itu di tahan oleh Arlo.


“Kau marah?” Tanya Arlo peduli.


“Kau sedang melecehkan ku?” Tanya Eylaria dengan nada kesal.


“Oh Shit…,” Batin Arlo. Ia lupa, ia sedang berurusan dengan Eylaria, bukan wanita sembarangan yang akan terima jika diperlakukan manis oleh pria sepertinya.


Setelah sekian lama mengenal dan bekerja bersama Eylaria, Arlo cukup mengerti, Eylaria tidak seperti wanita lain yang rela mendekatinya demi uang dan ketampanan ataupun popularitas. Eylaria berbeda dengan wanita lain, ia justru tidak senang jika diperlakukan special tanpa ada perjelasan.


“Maaf, bukan itu maksudku…,”


“Aku pikir kau sungguh-sungguh ingin ke toilet, ternyata itu hanya siasat busukmu saja hah? Kau tidak jauh berbeda dengan pria-pria yang katamu melirik pahaku…,” Gertak Eylaria sambil berusaha memukul dan menarik tangannya, tapi sekarang justru kedua tangannya sudah terlingkar ke belakang tubuhnya, membuat jarak tubuh mereka semakin tipis.


“Aku sudah memperkenalkanmu pada keluargaku, kepada teman-temanku… Ibuku juga menyukaimu…,” Ucap Arlo berusaha menjelaskan.


“Lalu? Apa hubungannya dengan mereka? Aku tidak peduli…,”


“Apa kau sama sekali tidak peka? Tidak mengerti?” Tanya Arlo menaikkan nadanya, ada kefrustasian di sana.


“Apa?” Teriak Eylaria kesal, ia merasa arah pembicaraan mereka semakin tidak terarah dan tidak jelas.


“Aku menyukaimu Eylaria Quinza…,” Ucap Arlo dengan lantang dan tegas, matanya terus menatap wanita yang sedang marah dan kebingungan di depannya.


“What theee….,”


Cup…


Arlo mengecup lembut bibir Eylaria yang sedari tadi sudah menarik perhatiannya.


“Maaf, aku sudah menahannya, sungguh…” Ucap Arlo berusaha memberikan penjelasan, ia tahu Eylaria marah dan kesal dengan sikapnya saat ini.


“Kau boleh marah dan memukulku sepuasmu setelah ini, tapi sungguh, aku tak kuasa menahannya…,” Ucap Arlo sedikit meringis.


Eylaria masih berusaha mencerna dengan apa yang terjadi. Ia pun mengakui ia tak kuasa menahan pesona Arlo yang berdiri sangat rapat dengan tubuhnya. Jantung dan nafasnya sudah tidak karuan, otaknya ia paksa untuk selalu berpikir jernih, tidak ingin mempercayai semua muslihat Arlo yang ia percaya hanya mempermainkan dirinya, walaupun dalam lubuk hati terdalamnya penasaran apa rasanya bercumbu dengan pria setampan Arlo.


Melihat Arlo meringis, menahan gejolak dalam dirinya, membuat Eylaria merasa tergoda. Pria itu terlalu seksi saat ini. Eylaria mengalihkan wajahnya, tidak ingin larut dalam imajinasinya. Merasakan wajah dan telinganya yang memanas, ia yakin Arlo melihat dengan jelas wajahnya telah berubah merona merah.


“Izinkan aku…,” Desis Arlo, Eylaria dapat merasakan hembusan nafas Arlo yang memburu perlahan mendekati bibirnya.


Cup…


Cup…


Mata Eylaria melongo kaget, merasakan sensasi setruman listrik dari pertemuan bibir mereka yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Dua kecupan itu tak cukup, Arlo melanjutkan aksinya. Ia melakukan lebih dari itu, ***** dengan pelan tapi menuntut balasan.


Ciuman itu semakin menuntut dan menjadi ganas. Eylaria yang mulai kewalahan, akhirnya melemas. Merasa tidak ada perlawanan, Arlo berhenti sesaat, melepaskan panggutannya, memberi mereka berdua waktu untuk bernafas.


Nafas mereka berdua memburu, jantung mereka saling berdegup kencang. Eylaria dapat merasakan tubuhnya menginginkan lebih dari itu, meskipun isi kepalanya menolak.


Arlo kembali menautkan bibir mereka, tidak memberi celah pada Eylaria untuk mengelak.


Arlo mendelik kaget saat Eylaria membalas panggutannya. Dengan pelan tapi pasti, kali ini wanita itu yang memanggutnya. Arlo melonggarkan genggaman tangannya, melepaskan kedua tangan Eylaria yang sedari tadi ia genggam. Tangannya kini bergerak di punggung Eylaria, menyusuri lekuk tubuh wanita beraroma rose itu.


Eylaria melepaskan panggutannya, memberi jeda pada mereka untuk menghirup nafas, tapi Arlo tidak melepaskan pelukannya.


“Apa sudah cukup?” Tanya Eylaria dengan sedikit ketus.


“Apa?” Tanya Arlo menyadari nada suara Eylaria yang tidak ramah.


“Kau hanya ingin merasakan berciuman dengan wanita seperti ku kan? Anggap saja kita impas…,” Jawab Eylaria menyimpulkan.


“Aku tidak…,”


“Kau pikir aku akan percaya jika kau mengatakan kau sungguh jatuh cinta pada wanita sepertiku? Aku tidak bodoh… Melihat aku yang lebih dulu inisiatif mencari Dave, kau pasti mengira aku adalah wanita yang mudah dipermainkan, apalagi dalam situasi aku sedang putus cinta dan terluka, pasti akan lebih mudah untuk diperdaya…,”


“Apa kau sungguh berpikir aku sebrengsek itu?” Tanya Arlo kecewa dengan tanggapan Eylaria pada dirinya.


“Aku tidak mengatakan kau brengsek, kau bebas melakukan apapun yang kau suka. Hanya saja aku tidak bersedia menjadi korbanmu…,”


Arlo menghela nafas kasar, sebenarnya ia mengerti Eylaria tidak akan mudah menerima kehadirannya, ini terlalu tiba-tiba. Ia harus bersabar jika ia memang menyukai wanita itu, terlebih Eylaria baru saja patah hati. Dan lagi, perbedaan budaya dan pandangan Eylaria dan dirinya pasti akan menjadi kendala. Tapi tetap saja, ia juga bisa merasakan kekecewaan. Ia pikir Eylaria sudah membuka hati dan melihat ketulusannya.


Bukan tanpa alasan, ia memanfaatkan kesempatan malam itu untuk memperkenalkan Eylaria pada keluarga dan teman dekatnya, untuk membuat wanita itu mengenal kehidupan pribadinya.


“Sepertinya, aku yang terlalu terburu-buru di sini… Baiklah, mari kita anggap ciuman tadi permu…,” Arlo ingin mengalah dan memberi waktu untuk mereka berdua, tapi kata ‘permulaan’ yang ingin ia katakan, tidak terucap karena sudah terpotong oleh Eylaria.


“Aku mengerti, mari kita anggap tidak terjadi apa-apa. Ciuman tadi, hanyalah sebuah kesalahan. Aku tidak akan menuntut apapun darimu…,” Sela Eylaria tanpa menunggu Arlo menyelesaikan ucapannya.


“Kau senang sekali memotong ucapan orang lain heh? Aku bahkan belum menyelesaikan apa yang ingin ku katakan…” Protes Arlo mulai kesal.


“Aku lelah…, kau pulanglah…,” Eylaria benar-benar tidak memberi Arlo kesempatan untuk berbicara. Wanita itu seperti menutup rapat hati dan dirinya dari Arlo.


Eylaria menarik Arlo dan membuka pintu kamar, mendorong pelan pria itu keluar pintu.


“Maaf, mungkin aku kasar dan tidak sopan. Tapi ini lebih baik…,” Ucap Eylaria sebelum menutup pintu, mengusir Arlo yang menatap kesal padanya.


Setelah Arlo pulang, Eylaria segera menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air. Ia menarik nafas panjang, berusaha menetralkan detak jantungnya yang terus berdetak kencang jika bersama dengan Arlo.


Eylaria memang sengaja mengusir Arlo, jika tidak, ia yakin mereka akan melakukan lebih dari itu. Tubuh dan hatinya menginginkan Arlo, tapi otaknya masih berpikir jernih dan menolak kehadiran Arlo dalam kehidupan pribadinya.


Eylaria akui, Arlo adalah pria idaman setiap wanita. Tapi ia tidak implusif yang dengan polosnya menerima ucapan suka dari pria tampan seperti Arlo. Ia hanya wanita biasa yang tidak menarik, mana mungkin ia percaya jika Arlo sungguh menyukainya. Untuk itu, Eylaria ingin membatasi dirinya dengan Arlo, tidak ingin terjebak dalam permainan pria-pria kaya nan tampan.


.


.


.


.


.


To Be Continue~