
Sebuah gedung pencakar langit bertuliskan BLUE SEA menjulang tinggi. Gedung itu memiliki 42 lantai, dengan lapangan helipad di atasnya, dan tentu saja semua itu milik keluarga besar Arlo.
Eylaria tak henti-hentinya terpesona dengan design luar dalam gedung itu, sangat megah dan mewah, itu adalah gedung perkantoran atau istana, ia hanya terpelongok dan memuja dalam hati.
Eylaria sudah berada di lantai 36, di mana ia sedang berada di salah satu ruang meeting perusahaan yang Arlo pimpin. Ia menunggu dengan sabar, karena menurut karyawan yang berjaga di Front Office tadi, Arlo dan Nicolas sedang ada meeting online.
10 menit, 20 menit, hingga 30 menit berlalu…
Eylaria masih sabar menunggu. Ia memang datang tanpa pemberitahuan. Setelah Arlo menawarkan pekerjaan padanya waktu itu, ia hanya mengantungkan jawaban tanpa kepastian, dan di sinilah ia berada, ia sudah memutuskan untuk mencoba bekerja di perusahaan milik Arlo.
“Nico, tolong kamu segera kirimkan kontrak kerjasama kita dengan Mr. Wang ke emailku. Aku memerlukannya segera…,” Pinta Arlo setelah menyelesaikan meeting onlinenya dengan seorang investor asal Tiongkok.
“Baik… Aku akan mengirimkannya padamu sekarang. Oh ya, tadi front office mengabari, ada seorang wanita sedang menunggumu di ruang meeting…”
“Siapa?” Tanya Arlo.
“Katanya wanita itu membawa kartu namamu…,” Jawab Nicolas tersenyum, ia sengaja membuat Arlo menebak-nebak siapa wanita yang ia maksud.
Sudut bibir Arlo menarik ke atas, ia tersenyum, sepertinya ia menangkap siapa yang Nicolas maksud. Arlo segera berdiri dan merapikan pakaiannya.
“Kenapa lama-lama kau semakin mirip dengan Nicole…,” Arlo berjalan melewati Nicolas, pura-pura kesal dan menahan senyum di wajahnya.
Arlo berjalan melewati beberapa ruangan untuk menuju ke ruang meeting. Langkahnya berhenti di Meeting Room 1 di mana wanita itu menunggu. Arlo dengan cepat membuka kenop pintu dan melihat ke dalam.
Yah, tebakannya benar. Mendengar pintu kenop dibuka, wanita itu segera berdiri dari duduknya, dia adalah Eylaria Quinza.
“Apa kau menunggu lama?” Tanya Arlo tidak enak hati, menyapa Eylaria yang jika lebih lama lagi mungkin akan tertidur di ruangan itu.
“Tidak… hanya hampir 1 jam…,” Jawab Eylaria dengan jujur tanpa bermaksud menyindir. Arlo tersenyum, ia selalu suka dengan kejujuran Eylaria yang bicara apa adanya.
“Ayo ikut aku…,” Ajak Arlo.
Eylaria menurut, ia mengikuti Arlo melewati beberapa ruangan kerja karyawan dan tiba di ruangan besar paling ujung, bisa ia tebak, itu adalah ruangan di mana Arlo bekerja, apalagi di perjelas dengan label pada pintu bertuliskan CEO.
Eylaria duduk di kursi di hadapan Arlo, matanya memperhatikan sekeliling ruangan, tidak banyak pernak pernik di sana meskipun ruang kerja itu sangat besar, tapi terdapat sofa dan meja tamu.
“Sementara kau bekerja di sini sampai Nicolas mempersiapkan mejamu…,” Ucap Arlo membuat Eylaria bingung.
“Kenapa?” Tanya Arlo yang melihat Eylaria mengerutkan keningnya.
“Kau tidak akan menginterview ku?” Tanya Eylaria.
“Aku tidak peduli latarmu. Karena tiap perusahaan mempunyai cara yang berbeda dalam melakukan pekerjaannya, menurut ku itu tidaklah terlalu penting dan lagi aku sudah sedikit mengenalmu bukan?”
Eylaria masih mencerna ucapan Arlo, ucapan pria itu terdengar bijak, atau sedang merendahkan dirinya karena tidak peduli dengan pengalaman kerjanya yang hanya biasa saja di mata seorang CEO?
“Lalu, apa posisi ku dan pekerjaanku??” Tanya Eylaria penasaran.
“Kau akan menjadi assistenku, pekerjaanmu adalah mengikuti perintahku.”
JLEB! MAKNYUS!
Eylaria melotot mendengar jawaban Arlo. Bagaimana bisa ia akan menjadi assisten Arlo dan pria itu akan menjadi atasan langsungnya? Tentu saja Eylaria tahu, pekerjaan assisten tidaklah mudah, harus bisa melakukan apa saja dan wajib stand by 24 jam untuk bossnya.
“Bukannya sudah ada Nicolas sebagai assistenmu?” Tanya Eylaria.
“Ia akan segera pindah posisi sebagai Manager Operasional. Jadi aku memerlukan
assisten baru.”
“Tapi, kau tidak mengatakannya dari awal?”
“Lalu posisi apa yang kau inginkan?”
“Apa saja, selain menjadi assisten mu…,” Jawab Eylaria lantang.
“Ada apa? Kau merasa tidak sanggup menjadi assisten ku? Aku kecewa Ey, ku pikir seperti yang Nicole katakan, dia menjamin kau bisa bekerja apa saja dengan sangat baik…,” Ujar Arlo dengan wajah sedikit meremehkan Eylaria.
“Aku…, aku tidak ada pengalaman menjadi assisten Boss…,” Jawab Eylaria ragu-ragu.
Eylaria menggigit bibirnya ragu, Arlo tersenyum licik, ia rasa ia tahu apa yang akan membuat Eylaria menyetujui untuk menjadi assistennya, apalagi jika bukan uang?
“Pekerjaannya tidak sulit, bahkan gajinya lumayan, selama probation kau bisa mendapatkan gaji 15 juta, setelah itu jika aku puas dengan kinerja mu, aku akan menaikkan sesuai dengan yang kau pinta…,” Ucap Arlo membuat Eylaria tercengang.
“Benarkah??? Aku ingin gaji 25 juta sebulan, apa kau menyanggupinya?”
“Tentu, jika pekerjaanmu bagus.”
“Hmm.., 50 juta sebulan.” Ceplos Eylaria tidak percaya Arlo akan menyanggupinya.
“Tidak masalah, tapi jika kau ingin gaji segitu, kau harus bekerja extra dan meliputi banyak jobdesk, mungkin kau juga akan mengerjakan pekerjaan manager, HRD, finance, dan kau tidak ada waktu libur. Apa kau sanggup?”
Eylaria terdiam, apa yang sedang ia lakukan, ia sedang bernegosiasi dengan seorang pembisnis, hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
“Baiklah, aku akan menjadi assistenmu, dan aku ingin gaji 25 juta sebulan, jika aku lulus dan bekerja dengan baik. Deal?” Tanya Eylaria mengulurkan tangannya. Arlo menjabat tangan wanita manis di hadapannya.
“Deal!” Jawab Arlo tegas.
Nicolas membawa Eylaria berkeliling kantor, memperkenalkan setiap beluk isi kantor yang terdiri dari 2 lantai, lantai 35 dan lantai 36. Eylaria sendiri akan berada satu lantai dengan Arlo dan ruang kerjanya bersebelahan.
“Kantin gedung ini ada di lantai 20. Buka dari pagi pukul 6.30 hingga pukul 5 sore. Helipad ada di lantai 42, jika keadaan genting dan darurat, kau bisa request menggunakannya, lebih baik kau request sebelum pukul 4.30 sore, karena di atas jam itu, staff-staffnya akan bersiap pulang, kecuali Arlo sendiri yang mengendarainya.”
“Ia bahkan bisa mengendarai helicopter?” Tanya Eylaria takjub.
“Tentu saja, ia mempunyai license semua jenis kendaraan.”
“Wahh…, orang kaya memang berbeda…,” Seru Eylaria. Nicolas tersenyum mendengarnya.
“Itu ia lakukan untuk mempermudah dirinya dalam bekerja, karena terkadang staff sudah pulang dan tidak lagi standby…,” Jawab Nicolas memberikan penjelasan. Eylaria mengganguk-anggukkan kepalanya.
“Cukup sampai di sini penjelasanku, besok kau sudah bisa menempati ruanganku. Jika ada yang kau tidak mengerti, kau boleh bertanya padaku atau bertanya langsung pada Arlo…,”
“Baiklah… Terima kasih untuk hari ini Nicolas…,” Jawab Eylaria lalu izin pamit.
Keesokan harinya, Eylaria sudah berada di kantor barunya. Ia tiba pukul 7 pagi, sedangkan jam kerja akan dimulai pukul 8. Eylaria yang menggunakan celana panjang, berjalan menuju salah satu bilik toilet yang masih sepi. Ia kemudian mengganti celananya dengan rok kerja di atas lutut. Sesudahnya, ia pun menuju ruang kerjanya, meletakkan tasnya dan memasuki ruang kerja Arlo.
Ruang CEO itu masih tampak kosong, sepertinya Arlo belum datang. Eylariamerapikan dokumen yang berserakan di meja kerja, kemudian merapikan alat tulis dan juga letak semua peralatan kerja pada tempatnya, ia juga merapikan letak kursi duduk empuk milik Arlo.
Eylaria baru akan melangkah pergi saat pintu ruang kerja dibuka oleh empunya. Matanya terbelalak kaget melihat Arlo yang menggunakan tshirt olahraga tanpa lengan, menampilkan ototnya yang kekar, apalagi keringat menetes di sekujur tubuhnya.
“Maaf…,” Ucap Eylaria menundukkan kepalanya. Arlo tersenyum, pagi itu terasa sangat indah.
“Apa yang kau lakukan sepagi ini di ruangan ku?” Tanya Arlo melihat jam tangannya.
“Ini hari pertamaku bekerja, tentu aku tidak ingin telat, dan lagi aku harus merapikan meja kerja CEO setiap pagi…”
“Siapa yang meminta mu merapikan mejaku setiap pagi?” Arlo mengernyitkan dahinya, matanya memperhatikan mejanya yang sudah tertata rapi.
“Nicolas yang mengatakannya.” Jawab Eylaria tanpa curiga.
Arlo tertawa geli dalam hatinya, bocah itu bisa saja mengada-ada, biasanya saja Nicolas tidak pernah merapikan mejanya, sekarang justru ia menugaskan Eylaria untuk merapikan mejanya setiap pagi.
“Hmm, baiklah. Kau boleh keluar…,” Perintah Arlo.
Eylaria menundukkan kepalanya, dengan sopan melangkah keluar dari ruang kerja milik Arlo.
.
.
.
.
.
To Be Continue~