Accidently Fall In Love

Accidently Fall In Love
Chapter 7 : Gosip



Saat jam kerja sudah tiba, Nicolas membawa Eylaria berkenalan dengan para staff secara sekilas. Eylaria yang sudah punya pengalaman bekerja sama sekali tidak merasa gugup dan canggung, hanya saja ia juga bisa membedakan beberapa sorot mata karyawan yang menatap sinis tidak suka padanya.


“Apa cantiknya diaaa?” Gosip salah satu karyawan wanita.


“Kita tidak mendengar loker assisten di kantor, jalur orang dalamkah??” Bisik yang lainnya.


“Dari yang ku dengar dari HRD, sepertinya Mr. Arlo sendiri yang merekrutnya.”


Desas desus dan gosip menyebar dengan cepat di dalam kantor, entah itu yang positif ataupun negatif.


“Oh ya, sebagai assisten Arlo, lebih baik kau tidak terlalu sering berteman dengan karyawan. Ini untuk menghindari kita terlalu terbuka pada mereka dan tidak usah menanggapi gosip yang terdengar di luaran sana. Privacy Boss yang utama, ku rasa kau paham…,” Pesan Nicolas.


“Hmm, aku mengerti…” Jawab Eylaria tegas.


Setengah hari berlalu, Eylaria belum melakukan pekerjaan yang berarti, hanya melanjutkan apa yang sebelumnya Nicolas kerjakan. Arlo pun masih memberinya pekerjaan yang ringan.


Jam makan siang tiba, Eylaria berniat membeli makanan di kantin gedung. Suasana kantin siang itu lumayan ramai. Eylaria membeli ayam goreng dan nasi untuk menu makan siangnya. Ia lalu memilih tempat duduk yang tidak terlalu mencolok, apalagi ruang tengah kantin sudah penuh terisi.


Seorang wanita muda menghampiri Eylaria saat ia akan segera selesai.


“Boleh aku duduk di sini?” Tanyanya, Eylaria mengganguk mempersilahkan kursi di depannya yang memang kosong.


“Kau Eylaria kan?” Seru wanita di depannya.


“Aku Celia…,” Jawab wanita itu cepat saat melihat Eylaria menatapnya bingung.


“Yaa…, apa kita satu kantor? Aku belum terlalu mengingat teman-teman di kantor…,” Jawab Eylaria jujur.


“Ahh tidak, aku dari lantai 22. Aku mengenal mu karena ada berita assisten baru Mr. Arlo di grup obrolan kantor. Aku langsung mengenalimu dari pakaian yang kau pakai.”


Eylaria sedikit kaget dengan jawaban Celia, itu artinya ada fotonya di dalam grup obrolan kantor?


“Maksudmu, apa ada fotoku saat berpakaian dengan yang ku pakai sekarang?” Tanya Eylaria memastikan.


Celia mengganguk, “Tentu saja, foto tadi pagi saat Nicolas berkeliling memperkenalkan mu di ruangan karyawan.” Celia membuka handphonenya dan menunjukkan foto Eylaria.


“Owhhh…,” Jawab Eylaria singkat, setelah memastikan ternyata itu benar adalah foto dirinya dan seseorang sudah mengambil fotonya secara diam-diam.


Eylaria tidak masalah jika ia difoto, tapi sepertinya benar kata Nicolas, dirinya akan menjadi bahan gosipan karyawan lain, entah itu baik atau buruk.


“Apa aku boleh bertanya?”


“Apa?” Tanya Eylaria singkat.


“Aku penasaran, bagaimana rasanya menjadi assisten Mr. Arlo? Dan lagi bagaimana kau mendapatkan posisi itu?” Tanya Celia dengan polos.


Untung saja Eylaria sudah menghabiskan makanannya, jika tidak ia pasti tersedak karena mendengar pertanyaan Celia yang terkesan sedang mengali informasi dari dirinya. Eylaria kembali mengingat ucapan Nicolas, privacy boss adalah yang utama, termasuk mengenai dirinya.


“Celia, terima kasih sudah mengenaliku. Sepertinya aku harus segera kembali, masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan…,” Pamit Eylaria dengan tegas tanpa menoleh ke belakang walaupun Celia memanggilnya.


Eylaria kembali ke kantornya, tapi sebelumnya ia terlebih dahulu menuju pantry untuk menyeduh segelas kopi. Eylaria melewati beberapa karyawan yang sedang duduk di meja bar dan bersantai sambil berbincang. Terdengar ada yang berdesus saat mereka melihat kedatangannya, Eylaria hanya tersenyum membalas tatapan mereka.


“Hai Miss Assisten…,” Sapa salah satu karyawan wanita di sana dengan gaya centil dan tatapan sinisnya, drama queen, tebak Eylaria.


“Hai juga…,” Jawab Eylaria berusaha ramah.


Wanita ‘drama queen’ itu memainkan mata, memberi kode kepada salah satu pegawai pria untuk mendekati Eylaria.


“Eylaria…,” Jawab Eylaria cuek, sambil menyibukkan tangannya pada racikan kopi yang akan ia seduh.


“Namaku Richard…, jika kau butuh bantuan di kantor ini, kau bisa meminta bantuanku…,” Ucap Richard dengan gaya dibuat-buat dan sok ramah.


“Maaf Richard, Eylaria sudah ada aku yang membimbingnya secara langsung…,” Seru suara yang tiba-tiba mengintrupsi mereka, Arlo sedang berdiri tegak di sana dengan kedua tangan di dalam saku, menatap tajam pada mereka. Semua yang di sana seketika menegakkan badan dan berubah menjadi tegang.


“Eylaria, tolong segera ke ruanganku.” Perintah Arlo.


“Baik Mr. Arlo…,”


“Ahh…, tolong buatkan aku 1 juga…,” Ucap Arlo menunjuk gelas yang sedang Eylaria pegang kemudian segera berbalik dan meninggalkan mereka semua.


Helaan nafas lega terdengar saat bayangan Arlo sudah menjauh. Eylaria ingin sekali tertawa melihat ketegangan sesaat itu, tapi ia menahannya, bibirnya tersenyum kecil agar tidak terlihat.


“Wahhh… untung tadi kita tidak bicara aneh-aneh… Kalau terdengar Mr. Arlo, bisa mampus kita…,” Seru salah satu wanita di sana.


“Memang apa yang mau kalian bicarakan? Aneh-aneh?” Tanya Eylaria tanpa ragu dan mendapat tatapan sinis dari yang lain karena Eylaria terkesan berani dan menantang.


“Kau pasti menggunakan jalan pintas untuk menjadi assisten Mr. Arlo… Assisten Mr. Arlo tidak bisa sembarangan orang, apalagi wanita tanpa pengalaman sepertimu…,” Seru wanita drama queen tanpa menyaring ucapannya.


“Dari mana kau tahu aku tidak berpengalaman?” Tanya Eylaria dengan berani.


“Aku sudah memeriksa semua media sosial dan CV mu…,” Jawabnya lagi dengan nada tidak suka.


“Stella…, jaga ucapanmu…,” Seru teman-temannya yang merasa tidak enak hati.


“Aku tahu kau tidak menyukaiku. Tapi aku hanya bekerja di sini. Jadi, permisi…,” Jawab Eylaria sambil membawa 2 gelas kopi di tangannya.


Setiba di ruangan kantor Arlo, Eylaria meletakkan satu gelas kopi milik Bossnya itu, sebelumnya ia sudah meletakkan miliknya ke ruangannya.


“Ada apa Mr. Arlo?” Tanya Eylaria sopan.


“Ini, tolong revisi kontrak Mr. Edward. Sore ini sudah harus ku kirimkan kembali.” Perintah Arlo sembari menyodorkan dokumen pada Eylaria.


“Baik…,”


“Oh ya, ku harap kau tidak terlalu menanggapi gosip yang beredar di kantor.”


Eylaria pun hanya menggangukkan kepala pada Arlo, sembari melangkah keluar dari ruangan itu.


Eylaria sempat merasa bingung pada Arlo, gosip apa yang dimaksud, apa seorang Boss besar seperti Arlo juga menanggapi gosip di kantornya? Ia saja tidak peduli dengan gosip yang beredar, terlebih ia sudah biasa menjadi bahan omongan saat di kantor lama mengenai hubungannya berpacaran dengan Dave yang berusia 2 tahun lebih muda darinya. Tak sengaja terpikirkan tentang Dave, Eylaria seketika teringat ia belum menghubungi mantannya itu sejak kembali dari Bali untuk membahas permasalahan apa yang membuat Dave memutuskannya melalui chat.


.


.


.


.


.


To Be Continue~