
Eylaria merapikan barang-barangnya, berniat segera pulang dan berniat fmerapikan apartemennya yang berantakan setelah beberapa hari belum sempat ia bersihkan.
“Kau sudah mau pulang?” Tanya Arlo membuka pintu ruang kerjanya tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Eylaria sedikit kaget, tidak menduga pria itu tumben-tumbennya menghampiri dan berbicara ramah, selain urusan pekerjaan.
“Hmm, apa ada yang harus ku kerjakan?” Tanya Eylaria, mengingat Arlo adalah atasannya.
“Tidak, mari pulang bersama, aku akan mengantarmu.” Jawab Arlo dengan santai, Eylaria melotot menatapnya.
“Ada apa dengannya?” Desis Eylaria keheranan.
“Aku bisa mendengarmu Ey, langsung tanyakan saja pada pria di depanmu, tidak usah mendesis seperti itu…,” Goda Arlo tersenyum lembut.
“Tadi aku bilang, tidak usah mengantarku pulang, aku bisa sendiri.” Jawab Eylaria ketus, membuat Arlo berpikir sejenak.
“Hmm, baiklah. Aku beri dua pilihan, pertama kau berjalan sendiri ke mobilku, atau kau ingin aku yang menggendongmu dari sini sampai masuk mobil?”
“Apa-apaan, itu bukan pilihan, tapi ancaman!” Jawab Eylaria menatap kesal.
“Jadi, pilihanmu…,” Arlo mengulum senyumnya.
“Baiklah…, aku bisa jalan sendiri. Dasar bossy!” Geram Eylaria akhirnya mengalah. Bukan tidak mungkin Arlo yang nekad itu akan menggendongnya ke parkiran, apalagi mereka masih di kantor, bertepatan saat jam pulang kerja yang ramai dengan karyawan.
Eylaria plenga plengo melihat seisi parkiran, takut mereka akan bertemu dengan karyawan lain dan menjadi gosipan. Sebelumnya saja, Eylaria berusaha menjaga jarak saat menunggu dan memasuki lift VIP bersamaan dengan Arlo.
“Apa yang kau cemaskan?” Tanya Arlo melihat tingkah laku Eylaria seperti seorang maling.
“Jangan sampai ada yang melihat kita…,”
“Memang kita kenapa Ey?” Tanya Arlo bertanya, seakan tidak mengerti. Eylaria seketika menyadari apa yang sedang ia lakukan, kenapa ia harus sembunyi-sembunyi? Ia segera memasuki mobil dengan kesal.
“Jadi, kau sudah mengakui hubungan kita?” Tanya Arlo memastikan sambil menyalakan mesin mobilnya.
“TIDAK!!” Jawab Eylaria panik.
“Lalu, kenapa kau takut dilihat yang lain?”
“Karena kita satu mobil…,” Jawab Eylaria dengan cepat.
“Apa yang salah dengan hal itu? Kau adalah assisten ku, apa aneh jika kita satu mobil?” Tanya Arlo tersenyum menggoda Eylaria.
“Kenapa kau begitu menyebalkan hari ini Arlo?”
“Yaaaa??” Tanya Arlo yang semakin senang menggoda Eylaria.
“Haishhh…”
“Panggil lagi, panggil lagi…,” Pinta Arlo.
“Apa???” Tanya Eylaria tidak mengerti.
“My name…,” Jawab Arlo masih dengan senyum di wajahnya.
“Kau kekanakan sekali…,” Geram Eylaria mengalihkan wajahnya keluar jendela mobil.
“Turunkan aku di lobby saja…,” Pinta Eylaria saat mereka sudah akan tiba di apartemennya.
“Tidak, aku ingin ke tempatmu…,” Jawab Arlo sembari mengarahkan kemudinya ke tempat parkir.
“Kauuuu…, Haishhh…,” Geram Eylaria yang seharian dibuat bingung dengan sikap Arlo hari itu.
“Buka pintunya…,” Perintah Arlo saat mereka tiba di depan pintu apartemen Eylaria.
“Tidak mau, kau pulang sekarang…,” Jawab Eylaria kekeh menyilangkan tangannya.
“Ayo, buka…,” Pinta Arlo dengan santai.
“Tidak!”
Arlo tersenyum melihat perdebatannya dengan Eylaria, ia pun dengan sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Eylaria.
“Sepertinya kau ingin sekali aku goda?” Tanya Arlo tersenyum manis.
Deg…
Deg…
Deg…
“Maaf, berantakan, aku berniat membersihkannya hari ini…,” Ucap Eylaria sembari membereskan beberapa barangnya yang berserakan.
“Mari ku bantu…,”
“Apa?” Tanya Eylaria kaget. Seorang Arlo mau membantunya membersihkan kamarnya yang berantakan, ia tidak salah dengar?
Arlo tidak menjawab lagi, ia segera bergerak ke sana kemari, memunguti barang-barang yang tidak pada tempatnya dan merapikan letak-letak perabotan milik Eylaria.
“Kau duduk saja…, tidak usah, aku saja. Itu juga tidak usah, aku saja, kau duduk saja…,” Eylaria berusaha menghentikan aktifitas Arlo, tapi pria itu sama sekali tidak peduli.
Wanita itu tertegun sesaat, hatinya berdesir melihat Arlo yang tanpa ragu menyentuh barang-barang kotor miliknya, pria itu juga mencuci perabotan makan milik Eylaria yang belum sempat ia cuci tadi pagi.
“Kau begitu telaten, bukan karena sedang menjaga pencitraan kan?” Tanya Eylaria menghampiri Arlo yang sedang membilas piring.
“Aku sudah terbiasa melakukannya. Saat di Jerman aku mengerjakan apa saja, menjadi waitress, pencuci piring, office boy, bellboy, setiap ada pekerjaan part time yang datang padaku, aku coba melakukannya.” Jawab Arlo menerangkan.
“Serius? Keluargamu kan kaya? Apa kau tidak mendapatkan uang jajan?” Tanya Eylaria takjub. Arlo terkekeh mendengarnya.
“Yang kaya itu Papa, aku tidak…,” Jawab Arlo tersenyum, mengelap tangannya ke kain serbet yang disodorkan Eylaria.
“Ku kira semua anak orang kaya akan sama, manja dan sombong…,”
“Kebanyakan iya…, tapi karena Papa pembisnis yang berusaha dari nol, ia ingin anak-anaknya juga merasakan kerja keras, jadi saat jatuh suatu hari, mereka bisa bangkit sendiri…,” Jawab Arlo.
Eyalaria menatap takjub, ia mengancungkan dua jari jempolnya, “Papamu keren…,” Serunya.
Mendengar Eylaria memuji Papanya, Arlo tiba-tiba mengurung Eylaria, kedua lengannya bersandar pada porselen.
“Lalu, apa aku tidak keren?” Tanya Arlo. Eylaria segera memalingkan wajahnya, menjadi salah tingkah.
“Yaaaaaaa… lumayan…”
“Kau yakin lumayan?” Tanya Arlo menyipitkan matanya, wajahnya semakin menunduk, sengaja menipiskan jarak di antara mereka.
Eylaria mendorong dada Arlo dengan kedua tangannya saat pria itu semakin mendekat, tapi percuma, dorongannya sama sekali tidak terasa bagi tubuh Arlo yang tinggi dan kekar.
Cup…
Eylaria melotot saat pria itu tersenyum karena berhasil mengecupnya. Belum sempat Eylaria memprotes, Arlo kembali meraup bibir wanita di depannya, tangan satunya menahan tengkuk dan tangan satunya lagi memeluk pinggang Eylaria dengan kencang.
Arlo tidak peduli Eylaria mengizinkannya atau tidak, ia melakukannya dengan perlahan, tapi menuntut balasan. Eylaria seperti terhipnotis, ia tidak menolak, ia justru ikut membalas ciuman itu dengan perlahan, tangannya bergerak melingkar di leher Arlo. Arlo tersenyum kecil, wanita itu kini tidak melawan dan menolaknya.
Ciuman mereka semakin intens. Arlo yang merasa sudah mendapat lampu hijau, melanjutkan serangannya. Ia mengecup pelan pipi dan leher Eylaria, membuat wanita itu meremang. Jantung mereka saling berdegup kencang, bertalu-talu, tubuh dan hati mereka menginginkan lebih dari itu, pikiran mereka pun sudah berkelana entah ke mana.
Arlo menghentikan aktifitasnya sesaat, tangannya menangkup wajah Eylaria, membuat mata mereka saling bertatapan.
“May I…?” Tanya Arlo berdesis, menahan gairah dalam dirinya.
Eylaria bukan tidak mengerti maksud pertanyaan dan sorot mata penuh gairah yang menatapnya frustasi dan penuh harap. Eylaria terdiam seperkian detik, mengatur nafasnya.
“Yes…,” Jawab Eylaria singkat, mengikuti keinginan hati dan tubuhnya malam itu.
Tak menunggu lama, Arlo segera ***** bibir Eylaria. Tangannya bergerak membuka kancing terusan milik Eylaria, tidak sabaran, tangannya meraba ke bawah dan mengelup paha mulus wanita di depannya.
Eylaria tersipu malu, Arlo begitu mendominasi dan beringas. Ia berusaha menyesuaikan, tangannya tidak tinggal diam, ia berusaha membuka satu per satu kancing kemeja yang Arlo gunakan.
“Biar aku saja…,” Ucap Arlo dengan cepat melanjutkan membuka sisa kancing kemejanya yang baru terbuka 2 oleh Eylaria.
Arlo melemparkan kemejanya ke sembarang arah di lantai. Kaki Eylaria melingkar di pinggang Arlo saat pria itu menggendongnya, membawanya berjalan menuju tempat tidurnya.
Dengan perlahan Arlo membaringkan wanita yang akhirnya bisa ia taklukkan itu. Melihat dengan seksama wajah manis dan imut wanita yang sekarang berada di bawah kukungannya, kemudian melanjutkan apa yang ingin ia lakukan.
.
.
.
.
.
To Be Continue~