
Setelah menikah, kehidupan Arlo dan Eylaria menjadi semakin berwarna dan manis. Rasa cinta dan aura pengantin baru sangat terlihat di wajah bahagia mereka. Arlo memperhatikan Eylaria dengan sangat baik, terlebih wanita itu sedang mengandung.
“Kau bisa resign jika mau…,” Ucap Arlo sembari memeluk Eylaria dari belakang yang sedang memoleskan lipstiknya, mereka sedang bersiap-siap pergi ke kantor.
“Tidak, aku belum mau resign…,” Jawab Eylaria tersenyum manis.
“Kau takut aku berselingkuh di kantor?” Canda Arlo.
“Betul sekali, bisa saja kau menggoda bawahan mu di kantor, seperti apa yang sudah kau lakukan padaku…,” Jawab Eylaria mengelus perutnya yang masih rata.
“Ahh, aku tidak bisa nakal lagi…,” Jawab Arlo sengaja memanasi.
“Ehhh, tuh kan, ketahuan, kau suka genit…,” Ucap Eylaria pura-pura bete.
Arlo tertawa melihatnya, tangannya memeluk erat tubuh istrinya yang baru ia nikahi minggu lalu itu.
“Ayo kita berangkat, meskipun aku merasa sangat malas dan masih ingin di rumah saja…” Ucap Arlo merasa tidak rela.
“Aku tidak percaya kau bisa semanja ini…,”
Arlo mengecup pelan bibir Eylaria, “Aku bisa lebih manja dari ini…,” Ucapnya sembari menuntun Eylaria untuk keluar kamar.
“Aku tahuuu… hentikan kegenitanmu…,” Eylaria mendorong tubuh Arlo yang merangkul tangannya dengan erat. Sejak menikah pria itu menjadi over protektif.
Saat mobil yang Arlo kendarai mendekati gedung kantor, Eylaria meminta Arlo untuk menurunkannya di depan gedung kantor sebelahnya.
“Kau yakin mau turun di sini? Kita bisa turun di parkiran dan jalan bersama, aku tidak masalah…,” Protes Arlo tidak menyukai ide Eylaria untuk menutupi hubungan mereka. Pernikahan mereka dilakukan secara tertutup, selain Nicolas, di kantor tidak adastaff ataupun kolega yang tahu jika mereka berdua sudah menikah.
“Untuk sementara ada baiknya kita rahasiakan Arlo, tidak baik untuk citra kita berdua…,” Jawab Eylaria menyarankan.
“Hmm, baiklah, aku tidak memaksa. Hanya satu pintaku, kau harus lebih berhati-hati oke? Kau tidak lagi jalan sendiri, melainkan ada anak kita dalam rahimmu…,” Tegas Arlo.
Eylaria tersenyum dan menganjungkan jempolnya, “Okeeee…,” Jawabnya tersenyum manis.
Eylaria memasuki lobby kantor, menunggu lift dan beraktifitas seperti biasanya. Saat memasuki ruangan kantornya, para staff menyapanya.
“Pagi Eylaria…,”
“Pagi…,” Sapa Eylaria tersenyum bahagia.
“Ceria banget, habis dinas keluar kota, kayaknya beda banget.” Sapa staff yang hanya tahu alasan Eylaria dan Arlo tidak berada di kantor selama seminggu karena dinas keluar kota, padahal mereka sedang menikmati masa honeymoon mereka.
“Iyah nih, lebih berisi dan terlihat happy, pasti banyak makan nih yah…,” Timpal yang lain.
“Masa? Aku gendutan? Oh Nooo…,” Jawab Eylaria menanggapi basa basi staff yang tanpa curiga mengomentari tubuhnya yang kini lebih berisi dari biasanya.
“Iyah Ey…, abis dari mana aja sama Mr. Arlo, kayaknya happy banget dinasnya?”
“Happy lah, kan dinasnya dinas malam…, Opss…,” Jawaban itu terlintas dengan sendirinya di pikiran Eylaria yang sedang tersenyum geli.
“Hmm…, kalian sedang membicarakan apa?” Tanya Arlo yang tiba-tiba muncul di belakang mereka. Semua terdiam, tidak berani berkutik.
“Kenapa? Kalian gak mau jawab? Tadi aku dengar kalian bahas-bahas dinas?” Tanya Arlo lagi dengan tersenyum ramah, membuat staff di sana yang melihatnya merasa heran, sejak kapan Arlo, boss dingin nan tegas mereka itu menjadi ramah dan ingin berbasa basi dengan staff?
“Tidak ada apa-apa, kami hanya berbincang-bincang,” Jawab Eylaria berusaha meleburkan suasana yang tiba-tiba kaku karena kehadiran suaminya itu.
“Eylaria, kau segera ke ruanganku…,” Pinta Arlo dengan lembut dan tersenyum kecil.
“Baik…,” Jawab Eylaria dengan sopan.
“Ada apa dengan Mr. Arlo? Tiba-tiba begitu ramah, dia bahkan tersenyum…,” Seru staff yang langsung berdesas desus saat Arlo sudah berjalan menjauh.
“Lagi falling in love kali yahhh…,” Timpal yang lain dan disambut tawa.
“Tahu tuh Ey, boss kita kenapanyaaa??”
Eylaria bergegas menuju ruangan CEO milik Arlo, pria itu segera berdiri saat melihat Eylaria masuk, sudah menunggu kedatangan sang istri tercinta.
Arlo tersenyum dan segera memeluk pinggang Eylaria yang memukulnya dadanya pelan, “Kenapa kau tiba-tiba ikut nimbrung tadi? Staff yang lain lama-lama bisa curiga…,” Protes Eylaria.
“Memangnya kenapa? Aku juga ingin tahu istri ku sedang membicarakan apa, tersenyum merona dengan sangat cantik di pagi hari, membuat aku tidak bisa mengalihkan mata dari wajah manismu ini…,” Gombal Arlo dengan mesra.
Eylaria mengernyitkan wajahnya, masih belum terbiasa dengan kecentilan suaminya itu.
“Lain kali jangan begitu, mereka pasti akan langsung curiga...,”
“Sebenarnya apa yang kau pusingkan Ey? Kita memang pasangan dan kita sah, cepat atau lambat mereka pasti tahu, apalagi nanti perutmu akan semakin membesar…,”
“Aku tahu, tapi… aku baru masuk bekerja di sini, aku assistenmu dan tiba-tiba saja kita menikah. Sebelumnya saja mereka sudah membicarakan mengenai kau merekrutku secara pribadi…,”
“Bukankah dulu kau tak peduli tentang hal itu Ey?” Tanya Arlo.
“Hmm, dulu aku tidak peduli, sekarang aku peduli. Citra kita berdua bisa jelek di mata orang lain…,”
“Hmm, aku tidak peduli Ey…, atau kau mau resign dan menjadi istriku sepenuhnya, menemani aku di sini…,” Tawar Arlo tersenyum nakal.
“Tidak mau, aku masih ingin bekerja dan punya uang sendiri.”
“Kau takut aku tidak menafkahimu? Aku kan sudah memberikan black cardku padamu bahkan sebelum kita menikah…”
“Aku tahu, tapi aku tidak ingin bergantung padamu…,” Jawab Eylaria jujur.
“Ey…, jangan terlalu mandiri, jangan terlalu bekerja keras sendirian, sekarang kau ada aku, dan kau harus menjaga baby kita. Aku tidak ingin kau kecapekan, stress ataupun merusak kebahagiaanmu…,” Nasihat Arlo dengan lembut.
Sejak hamil, ia merasa Eylaria lebih sensitive dan suka berpikir yang tidak-tidak, mungkin saja itu karena pengaruh hormon kehamilannya.
Eylaria memanyunkan bibirnya dan mengganguk dengan pelan seperti anak kecil.
“By the way, kamar di ruangan ini belum pernah kita pakai…,” Ucap Arlo menunjuk ke arah pintu yang terletak di belakang meja kerjanya, memang ada satu ruang kamar tidur di sana, yang sengaja Arlo jadikan tempat tidurnya saat harus bekerja lembur dan tidak pulang ke rumah.
Eylaria mendelik mendengar ucapan Arlo, ia tentu saja mengerti maksud suami bulenya itu.
“Jaga nafsumu, ini masih pagi, dan banyak pekerjaan yang tertunda selama seminggu kemarin…,” Tolak Eylaria mengoceh.
“Ahhhh…, aku malas bekerja…,” Rengek Arlo seperti anak kecil.
“Arlo…, Aku lebih baik kembali ke ruangan ku. Jika tidak aku mungkin akan semakin gemas padamu…,”
“My baby, cmon…,” Rengek Arlo lagi.
“Heii, kau, sadarlahhh…,” Ucap Eylaria tertawa menepuk-nepuk pipi pria tinggi di depannya dengan lembut.
“Ayoooo…,” Ucap Arlo merajuk.
“Nanti kita gunakan oke, tapi not today…,” Jawab Eylaria berbisik menggoda di telinga Arlo, membuat pria itu meremang dan ingin memeluknya, tapi Eylaria segera melangkah pergi keluar dari ruangan.
.
.
.
.
.
To Be Continue~