Accidently Fall In Love

Accidently Fall In Love
Chapter 9 : Pertemuan keluarga Arlo



Nicolas baru akan mengetuk pintu ruang kerja Eylaria saat ia mendengar suara dari dalam ruangan, ada Arlo di sana. Nicolas mendekatkan telinganya ke pintu, menguping pembicaraan sang boss dengan assistennya.


“Aku hanya menenangkanmu…,”


“Hmm, maaf aku sudah salah paham. Tapi, aku tetap tidak terima, kenapa aku dilarang menggunakan rok, sedangkan karyawan wanita lain berhak menggunakannya dengan bebas?” Tanya Eylaria memprotes.


Arlo menghela nafas, merasa malu mengatakannya, “Sudah ku katakan, kulit putihmu terekspos, bahkan beberapa karyawan pria membicarakan kaki putihmu, apa kau tahu?”


“Aku tidak masalah jika mereka hanya membicarakanku. Aku tidak peduli…,”


“Lantas kau ingin memancing singa yang sedang tertidur?” Tanya Arlo mengernyitkan keningnya, tidak suka Eylaria tidak menurut.


“Singa? Singa apa?” Tanya Eylaria tidak mengerti.


“Lupakan saja…,” Jawab Arlo segera melangkah keluar dari ruangan Eylaria.


“Arhhh…, Nicolas, apa yang kau lakukan di depan pintu?” Tanya Arlo yang kaget dengan penampakan mantan assistennya di depan pintu. Nicolas hanya senyum-senyum menatap Arlo dan Eylaria bergantian.


“Hmm…, tidak, aku hanya mencari singa…,” Jawab Nicolas tersenyum pada Arlo.


“Singa?” Tanya Eylaria semakin kebingungan.


“Jangan pedulikan dia…, kau ke ruangan ku sekarang…,” Ucap Arlo menarik lengan Nicolas agar mengikutinya.


“Tapi aku perlu mencari…., singaaaaa….,” Seru Nicolas dengan sengaja membuat Arlo menggeram kesal dan Eylaria hanya mengernyit kebingungan.


Malam minggu tiba, Eylaria sedang berdiri di depan sebuah restaurant, matanya terus memperhatikan pintu restaurant, menunggu seseorang yang ia tunggu keluar dari sana. Malam ini dia ingin bertemu dengan Dave.


Eylaria menghentak-hentakkan kakinya, ia sudah berdiri selama 20 menit di sana, satpam yang berjaga di dekat situ pun sempat menghampirinya dan mempertanyakan keperluannya berdiri di sana.


Eylaria menghela nafas kasar, ia tahu Dave sedang makan malam bersama dengan atasannya di sana setelah menghubungi salah satu rekan kerja Dave yang ia kenal.


Eylaria kembali menelfon Dave…, ini panggilannya yang ke 7 kali setelah sebelumnya ia terus menelfon tapi tidak diangkat sama sekali.


“Eylaria?” Sapa seseorang mengenalinya. Eylaria menoleh, Arlo yang menyapanya.


“Mr. Arlo?” Sapa Eylaria sedikit terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengan Arlo di sana.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Arlo memperhatikan penampilan Eylaria dari atas sampai bawah, wanita itu tampak manis dengan riasan natural dan terusan berwarna biru muda.


“Aku… menunggu Dave, dia ada di dalam, sedang makan bersama atasannya…,”


“Kenapa kau tidak tunggu di dalam? Bukankah dingin di luar?”


“Tidak nyaman, dan dia tidak tahu kalau aku datang…,”


Arlo mengernyitkan keningnya, menghela nafas kasar, ia merasa kesal karena Eylaria seperti tidak ada harga diri ‘mengemis’ untuk bertemu dengan mantannya.


“Ayo masuklah…,” Ajak Arlo tapi Eylaria tidak bergeming.


“Ayo masuk, aku juga ada janji makan malam di dalam…,” Seru Arlo menarik pergelangan tangan Eylaria.


Arlo menuntun Eylaria melewati ruang tengah restaurant, mata Eylaria menyisir seisi ruangan mencari sosok Dave.


“Di sana…,” Seru Arlo yang sudah dulu menemukannya. Eylaria mengikuti arah yang ditunjuk Arlo, letaknya di meja paling sudut, ada beberapa pria dan wanita di sana.


Eylaria memicingkan matanya, memastikan ia tidak salah lihat. Dave duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang pernah ia kenal sebagai rekan tim kerja Dave, tapi yang tidak wajar adalah tangan Dave merangkul bahu wanita itu dan jarak di antara mereka sangat dekat.


“Hah…, Dasar playboy.” Eylaria berdecih kesal setelah memastikan penglihatannya, pantas saja ia diputus tanpa kejelasan, ternyata Dave lah yang mencari-cari kesalahan padanya. Ia kemudian berbalik, berniat meninggalkan tempat itu, tapi tangannya masih digenggam oleh Arlo.


“Mau ke mana kau? Tidak jadi menghampirinya?” Tanya Arlo.


“Tidak perlu…, pria seperti itu tidak pantas diperjuangkan. Aku pikir aku yang salah, ternyata dia hanya melimpahkan kesalahan padaku…,” Jawab Eylaria dengan tegas.


“Kau sudah makan?” Tanya Arlo, Eylaria menggelengkan kepala.


“Ayo, temani aku makan…,” Ajak Arlo kemudian menarik Eylaria menuju sebuah ruang VIP tak jauh dari sana tanpa menunggu persetujuan dari Eylaria.


Arlo membuka pintu ruang VIP 2, terdengar suara dari dalam. Eylaria terkesiap kaget, sepertinya itu adalah acara makan malam keluarga dengan 1 meja bundar dan lagi terdapat kue ulang tahun di tepi ruangan yang muat untuk sepuluh orang itu. Eylaria menarik tangannya dari genggaman Arlo, menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh tinggi Arlo dan setengah berbisik.


“Ikut makan dulu…,”


“Ini acara keluargamu…” Jawab Eylaria ingin segera pergi dari sana, apalagi beberapa tatapan mata memperhatikan sedari mereka memasuki ruangan.


“Tidak apa…,” Jawab Arlo, lalu menarik Eylaria berjalan ke kursi kosong yang masih tersisa di sana. Eylaria yang tak kuat menahan tenaga Arlo, tentu saja terpaksa mengekor dengan mengembangkan senyum terpaksa di bibirnya.


“Yo yo yo… Arlo bawa cewek Mom…,” Seru seorang wanita muda nan cantik dan modis. Wajahnya sekilas mirip dengan Arlo, Eylaria tebak itu adalah adik Arlo.


Satu-satunya orang yang Eylaria tahu di sana adalah Papa Arlo, yang sempat ia temui saat bermalam di apartemen Arlo. Eylaria tersenyum menyapa canggung pada pria itu yang juga hanya tersenyum sekilas padanya.


“Dia teman baik Nicole Mom…” Jawab Arlo.


Nicole? Eylaria baru ingat, seharusnya Nicole dan Nicolas juga hadir di sana bukan, Eylaria mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan, tapi tidak ada sosok kedua orang itu di sana.


“Jika kau mencari Nicole dan Nicolas, mereka tidak hadir…,”


“Kenapa?”


“Ini acara private keluargaku…,” Mendengar jawaban Arlo hanya membuat Eylaria menghela nafas kasar.


“Aku harus pergi…, tidak pantas berada di sini…,” Tekan Eylaria pada Arlo yang duduk di sampingnya.


“Siapa namamu?” Tanya wanita paruh baya yang tadi Arlo panggil Mom, wanita itu berkulit putih dan berambut pirang, jelas seorang bule.


“Eylaria tante…,” Jawab Eylaria tersenyum canggung.


“Dilihat dari wajah terpaksamu, apa kakakku menyeretmu kemari?” Tanya wanita yang Eylaria tebak adik Arlo itu.


Eylaria tersenyum canggung mendengarnya, apa tampak begitu jelas?


“Arlissa…,” Geram Arlo, ternyata Arlissa nama wanita muda itu.


“Aku…, sepertinya harus pergi Om Tante…” Seru Eylaria berniat pamit, tapi tangannya masih ditahan oleh Arlo.


“Arlo sudah membawamu ke sini, makanlah dulu.” Ucap Papa Arlo.


“Iyah, makanlah bersama… Arlo pasti membawamu karena ingin memperkenalkanmu pada kami…,” Sambung Mama Arlo tersenyum ramah.


“Tapiii…,”


“Menurutlah, kau susah sekali patuh…,” Tegur Arlo mulai kesal karena Eylaria terus menerus ingin pergi.


Eylaria makan dengan perlahan, ia merasa canggung makan di tengah keluarga Arlo, tidak banyak yang hadir, hanya ada Papa, Mama, adik Arlo dan juga dua wanita bule lainnya. Eylaria menebak kedua wanita itu adalah saudara perempuan Mama Arlo, terlebih karena wajahnya mirip dan Arlo-Arlissa memanggil mereka dengan sebutan aunty. Kedua wanita itu berbicara bahasa asing yang Eylaria tidak mengerti dan hanya tersenyum pada Eylaria sesekali saat mereka bertatapan mata.


Eylaria menelan makanannya dengan susah payah, tubuhnya terasa gugup dan tidak nyaman, sedangkan Arlo tidak sungkan terus membantunya mengambilkan makanan.


“Sudah, jangan diambil lagi…,” Tolak Eylaria merasa malu pada keluarga Arlo yang sesekali memperhatikan mereka.


“Kau hanya makan sedikit, mana kenyang?” Omel Arlo menatap Eylaria dengan tegas hingga terdengar yang lain, sadar mereka menjadi pusat perhatian, Eylaria segera menundukkan kepalanya karena malu.


Seusai makan malam, mereka masih melanjutkan ke acara puncak, menyanyikan lagu ulang tahun dan memotong kue.


“Tante, happy birthday, aku tidak tahu Tante berulang tahun…, aku tidak membawa hadiah apapun…,” Ucap Eylaria menyelamati Mama Arlo, wanita itu tersenyum, wajahnya tampak lembut dan anggun.


“Tidak apa sayangku…, kehadiranmu adalah hadiah untukku…,” Jawab Mama Arlo mengelus tangan Eylaria dengan lembut, ia bahkan memeluk Eylaria, membuat wanita itu merasa nyaman berada di sana.


.


.


.


.


.


To Be Continue~